Permasalahan Seputar Kerukunan Umat Beragama

umat-beragamaDalam perjalanan sejarah bangsa, kerukunan umat beragama bukan merupakan sesuatu yang stagnan dan final, ia terus mengalami perubahan, kadang sangat sederhana tetapi pada kondisi tertentu sangat kompleks.[1] Keharmonisan umat beragama akan selalu menyesuaikan kondisi dan akan mengalami terpaan yang kurang menguntungkan ketika berhadapan dengan iklim sosial yang kurang kondusif bagi umat beragama. Hal ini disebabkan karena sebuah budaya selalu berhadapan dengan situasi, kondisi dan dinamika masyarakat yang berkembang. Tantangan terhadap kerukunan ternyata tidak semakin berkurang seiring dengan kondusifnya suasana kerukunan itu sendiri, melainkan justru makin bertambah.

Selain permasalahan seputar rumah ibadat, penyiaran agama, penodaan agama, secara nyata masyarakat dapat menyaksikan maraknya berbagai paham keagamaan yang berpengaruh terhadap wajah kerukunan. Seperti adanya beberapa kasus di Jakarta yang disebabkan karena kecenderungan mementingkan kelompok agamanya, dan juga kurangnya komunikasi baik antar tokoh agama setempat maupun dengan pemerintah. Kurangnya pengetahuan mengenai aturan-aturan pemerintah seperti misalnya pendirian bangunan ibadah, dapat menimbulkan kesalahpahaman dan akibatnya umat Islam menyikapinya dengan adanya kristenisasi sehingga timbullah konflik.

Adanya kerusuhan atau konflik agama terjadi karena tidak ada dialog dan komunikasi antar umat beragama atau antar tokoh agama. Sebenarnya agama bukanlah pemicu konflik. Kerusuhan terjadi tidak berdiri sendiri karena faktor kerukunan, tetapi karena adanya faktor lain. Oleh karena itu, tidak ada kerusuhan karena faktor agama, sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Hery Faturochman selaku Kasubag TU PKUB bahwa semua agama pada prinsipnya sama-sama menanamkan ajaran kedamaian dan cinta terhadap sesama manusia. Masing-masing kita memliki kearifan lokal yakni keterikatan budaya lokal, artinya masing-masing daerah punya bahasa-bahasa bersatu.[2] Sebenarnya, masyarakat Indonesia sudah memahami perbedaan agama, karena perbedaan agama memang sudah jelas. Hanya karena faktor sensitif, misalnya diantaranya:

  1. Faktor Ekonomi, disebabkan karena pergesekan ekonomi antara satu dengan yang lain sehingga itu bisa memunculkan kerusuhan. Kehadiran penduduk pendatang di satu daerah sering menimbulkan kesenjangan ekonomi, sebab mereka lebih ulet dan terampil bekerja dibandingkan dengan penduduk asli. Kondisi itu sering menimbulkan kecemburuan sosial dan dapat memicu konflik.
  2. Faktor Sosial Budaya, kerusuhan terjadi di tempat yang memang rentan dalam hal apapun itu, sehingga kerusuhan mudah disulut. Demikian pula perbedaan nilai budaya juga dapat menjadi penyebab konflik bila suatu komunitas yang kebetulan menganut agama tertentu mengalami ketersinggungan karena perilaku atau tindakan pihak lain yang kebetulan menganut agama berbeda, kurang memahami atau kurang menghargai adat istiadat atau budaya yang mereka hormati.
  3. Faktor Politik, adanya tokoh yang tidak sepaham, bisa mempengaruhi kerusuhan. Munculnya suatu kelompok politik seringkali juga dipengaruhi oleh misi keagamaan dari para elit kelompok politik tersebut. Ketegangan atau konflik di antara elit politik tersebut lalu pada gilirannya dilihat sebagai pertikaian antar kelompok politik yang berbeda agama.

Dalam kondisi kehidupan umat beragama yang harmonis, ketahanan sosial masyarakat diperkuat melalui peran dan komunikasi para tokoh agama yang menjadi medium bagi penyelesaian berbagai isu yang muncul dan menjadi pemersatu wujudnya komunitas yang solid. Oleh karena itu, persoalan kerukunan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, namun juga  merupakan agenda bersama yang keberhasilannya sangat menentukan arah dan masa depan masyarakat Indonesia yang damai, rukun, sejahtera dan bermartabat. Selain itu, diperlukan kader-kader kerukunan yang rencananya akan dibentuk dengan landasan harmonisasi umat yang berperan membimbing, membina keharmonisan kehidupan kehidupan keagamaan yang sekaligus sebagai mitra pemerintah dalam mendorong keterlibatan aktif umat membangun bangsa dan negara. [Hikmah]

[1]Achmad Gunaryo, Kebijakan Kementerian Agama dalam Pembinaan Kerukunan Umat, (http://www.antarasultra.com/berita/264132/kebijakan kementerian -agama-dalam-pembinaan-kerukunan-umat), diakses 27 Desember 2015.

[2]Wawancara dengan Informan 1 (Bapak Hery Fathurochman, Kasubag Tata Usaha PKUB) pada 8 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s