Peran Tokoh Agama dalam Kerukunan Hubungan Antar Umat Beragama (Wawancara bersama Bapak Ahmad Syafi’i Mufid, Ketua FKUB DKI Jakarta)

Wawancara bertempat di Ruang Tunggu Gedung The Sultan, Semanggi - Jakarta

Wawancara bertempat di Ruang Tunggu Gedung The Sultan, Semanggi – Jakarta

Salah satu aktor atau yang terlibat dalam kerukunan hubungan antar umat beragama di masyarakat adalah tokoh agama. Ia adalah yang menjadi panutan dan pembina dalam masyarakat. Karenanya, tokoh agama memiliki kedudukan dan status sosial lebih tinggi dalam masyarakat. Posisi tokoh agama dalam masyarakat adalah sebagai pemimpin, kepemimpinannya bukan hanya dalam wilayah agama tetapi meliputi seluruh kehidupan sosial kemasyarakatan. Keterikatan antara tokoh agama dan masyarakat haruslah terjalin dengan kuat agar tercapainya kerjasama untuk mencapai kehidupan yang damai dan tentram sebagaimana yang diinginkan bersama. Dalam hal ini, kriteria bagi tokoh agama sangatlah menentukan bagaimana wujud kerukunan hubungan umat beragama yang dapat dilihat dalam masyarakat.

Dewasa ini persoalan-persoalan yang muncul dalam hubungan antar agama tentu masih menjadi perhatian dan sorotan penting sejalan dengan perkembangan dunia global yang turut mewarnai kehidupan masyarakat dan kehidupan beragama. Dalam kondisi ini, pemimpin atau tokoh agama menjadi sorotan penting dalam setiap permasalahan kerukunan hidup beragama. Peran dan komunikasi para tokoh agama sangat diperlukan sebagai medium bagi penyelesaian berbagai isu yang muncul untuk mencapai kondisi kehidupan umat beragama yang harmonis. Namun, berbicara mengenai beberapa konflik sosial yang berlatar belakang agama di Indonesia yang memang dipicu oleh perilaku tokoh agama yang bersangkutan, tentu inilah yang menjadi pertentangan terhadap definisi dan hakikat adanya tokoh agama dalam masyarakat.

Oleh karena itu, yang menjadi persoalan disini adalah bagaimana pandangan dalam mendefinisikan pelaku tokoh agama itu sendiri. Sebagaimana ungkap Ketua FKUB DKI Jakarta, Bapak Syafi’i Mufid bahwa adanya problem dalam penyebutan tokoh agama, yakni problem yang pertama, selama ini banyak yang menyebut tokoh agama itu belum tentu tokoh agama. Kemudian problem yang kedua, yang disebut tokoh-tokoh itu tidak punya kapasitas sebagai tokoh yang belum memahami persoalan. Banyak orang yang mengaku tokoh agama tapi apakah dia mengajarkan agama.[1] Karenanya bahwa memang cara mengeneraliasikan penyebutan tokoh agama haruslah dipahami dengan benar. Hal ini berhubungan dengan adanya beberapa kasus yang melibatkan tokoh agama sebagai faktor pemicu konflik agama tersebut.

Jika pada kenyataannya orang yang disebut tokoh agama itu benar adanya telah menjadi pemicu konflik, tentu ia tak layaklah disebut tokoh agama yang menjadi panutan bagi masyarakat setempat. Padahal yang definisi tokoh agama sebagaimana telah diungkapkan, tokoh agama ialah orang yang jadi panutan oleh masyarakat setempat. Panutan dalam hal cara berbicara, panutan dalam bersikap, panutan dalam bertindak. Oleh karena itu, jika ada yang disebut tokoh agama tidak bisa menjadi panutan masyarakat patut dipertanyakan tingkat ketokohannya. Tentunya pemberdayaan secara mendalam bagi tokoh agama sangatlah diperlukan untuk mengantisipasi adanya masih minimnya kapasitas sebagai tokoh agama dalam menangani kerukunan umat beragama. Komunikasi harus dibuka dan dibiasakan oleh para tokoh agama untuk mencegah terjadinya konflik.

Selama ini kapasitas tokoh agama yang dibutuhkan adalah bagaimana tokoh-tokoh agama mampu memahami realitas. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Ketua FKUB DKI Jakarta Bapak Syafi’i Mufid bahwa pemberdayaan tokoh agama dilakukan karena tidak berdayanya tokoh agama dalam memahami realitas. Ketika tokoh-tokoh agama itu sudah memahami realitas, mampu menganalisis realitas, dan mampu mengambil sikap terhadap realitas, itulah yang namanya berdaya. Adapun beberapa di antara daya-daya yang harus dimiliki bagi seorang pemimpin atau tokoh agama, yakni pertama, berdaya dalam hal intelektual, artinya mampu menghimpun data, menganalisis data, kemudian bisa mengambil keputusan-keputusan. Kedua, berdaya dalam hal komunikasi, artinya mampu memiliki kemampuan, untuk  menyampaikan gagasan-gagasannya dengan baik. Ketiga, berdaya dalam hal ekonomi, artinya jika yang disebut dengan tokoh agama tidak berkemampuan dalam hal bidang ekonomi, orang ini akan terkooptasi dengan kepentingan-kepentingan ekonomi.[2]

Oleh karena itu, dalam masyarakat tentu sangatlah membutuhkan peran tokoh agama yang berdaya untuk mencapai terjalinnya kerukunan hubungan antar umat beragama yang harmonis. Jadi, patutlah digarisbawahi bawah untuk mencapai kualitas hubungan antar umat beragama dapat ditinjau mulai dari pemahaman akar pemicu konflik, artinya masyarakat harus jeli dalam menilai realitas dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak pemicu konflik termasuk tokoh agama yang belum tentu dapat disebut sebagai tokoh agama yang mengajarkan agama dalam kerukunan masyarakat. Dengan demikian, daya kepemimpinan sangatlah diperlukan bagi tokoh agama agar mampu menangani setiap permasalahan dan konflik yang mengatasnamakan agama dalam masyarakat. Melalui kegiatan pemberdayaan tokoh agama inilah, tentu sebagai upaya pemerintah untuk memaksimalkan peran tokoh agama sebagai cara peningkatan kualitas kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Dengan demikian, pentingnya pemerintah dalam memberdayakan peran tokoh-tokoh agama agar mampu memahami akar rumput persoalan-persoalan agama dan membiasakan komunikasi yang terbuka.

[1]Wawancara dengan Informan 2 (Bapak Ahmad Syafi’i Mufid, Ketua FKUB DKI Jakarta) pada 21 Desember 2015.

[2]Wawancara dengan Informan 2 (Bapak Ahmad Syafi’i Mufid, Ketua FKUB DKI Jakarta) pada 21 Desember 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s