PEMIMPIN INDONESIAKU: “PANCASILA HIDUP” DI BUMI PANCASILA

Oleh: Hikmah Khusnul .K.

Lihatlah hiasan dinding yang terpajang di setiap kantor pemerintahan

Simbol-simbol Burung Garuda begitu gagahnya mengawasi segala aktivitas di ruangan itu

Simbol yang tak sembarang simbol

Akankah ia hanya hiasan dinding yang tak bermakna?

Adalah Pancasila, simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tetap berdiri kokoh menjadi dasar negara satu-satunya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia memiliki lima sendi utama sebagaimana arti katanya, “panca” yang berarti “lima” dan “sila” yang berarti “prinsip” atau “asas”. Pancasila yang lahir pada 1 Juni 1945 ini, tak hanya sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan rakyat Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila berakar dari budaya Bangsa Indonesia, dan dengan pengamalan Pancasila merupakan sebagai wujud strategi pertahanan budaya yang mengantarkan pada kemajuan Bangsa Indonesia sendiri.

Sebagai dasar negara yang memuat budaya dan moralitas bangsa, tentu Pancasila menjadi acuan karakter yang sangat prinsipiil dalam jiwa seorang pemimpin indonesia. Berbicara dalam konteks kepemimpinan, tentu menjadi permasalahan yang sangat pelik jika nilai-nilai luhur Pancasila tak lagi menyentuh moralitas dan mempengaruhi mentalitas para pemimpin bangsa. Jika dahulu Rasulullah Muhammad SAW diberi julukan “Al-Qur’an Hidup” atau “Al-Qur’an berjalan” karena dalam diri Rasulullah adalah gambaran pengaplikasian dari Al-Qur’an. Maka begitupun seluruh pemimpin di Indonesia selayaknya harus mengaplikasikan Pancasila dalam setiap tingkah laku hidup dan kepemimpinannya, sehingga jika dimungkinkan rakyat Indonesia pun akan menjuluki para pemimpinnya sebagai “Pancasila Hidup” atau “Pancasila Berjalan”.

Menjadi suatu yang ironis jika Pancasila hanya sebagai hiasan dinding yang tak memiliki makna. Ia seolah tak memiliki pengaruh apa-apa di tengah derasnya ancaman keterpecahan bangsa dan tergerusya moralitas para pemimpin kita. Bagaimana tidak, kita lihat di setiap ruangan para pejabat tinggi terlihat lambang burung Garuda yang selalu mengawasi segala aktivitasnya, namun di sisi lain mereka berani menandatangani perjanjian korupsi yang jumlahnya miliaran rupiah tanpa memperdulikan nasib rakyatnya. Mereka sekedar asyik bersila menikmati kursi pemerintahan yang begitu mewah berkipas uang rakyat. Jika demikian, bukankah pancasila hanya sekedar hiasan dinding belaka yang tak bermakna? Dimanakah peran pancasila yang sebagai perekat kekuatan moral para pemimpin kita?

Di bumi pancasila, pancasialis adalah syarat mutlak bagi pemimpin Indonesia. Ia adalah pemimpin yang mengamalkan seluruh sila pancasila dalam berbangsa dan bernegara. Berkaitan dengan itu semua, al-Qur’an pun berbicara mengenai karakter seorang pemimpin yang harus dipilih secara selektif, kita lihat dalam QS. Al-Qashash: 26:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَئْجَرْتَ القَوِىُّ الأَمِيْنُ ﴿٢٦﴾

Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu tunjuk untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan amanah”.

 

Merujuk pada surah al-Qashash ayat 26 tersebut, seorang pemimpin adalah seorang yang kuat dan dapat memegang amanah dari rakyatnya. Inilah yang menjadi karakter utama bagi seorang pemimpin, yakni kuat dan amanah. Kuat dalam arti ia tak hanya kuat jasmaninya, namun ia harus kuat imannya, kuat pikiran, serta kuat prinsipnya. Juga sejalan dengan pancasila, karakter yang paling utama bagi sosok pemimpin sebagaimana tujuan kesejahteraan dalam sila pancasila adalah yang selalu memperhatikan nasib rakyatnya, tidak mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyatnya. Maka, pemimpin yang pancasilais adalah pemimpin yang teguh memegang kuat prinsip Pancasila dengan mengedepankan kepentingan rakyat daripada kepentingan-kepentingan yang lain. Jika seorang pemimpin memiliki karakter kuat dan amanah, maka segala butir-butir pancasila akan ia tanamkan dengan amalan yang sempurna.

Ia juga yang memiliki jiwa religiositas sesuai dengan sila pertama Pancasila, bersikap toleran dan terbuka sebagai jalan untuk mempersatukan semua unsur perbedaan yang ada, selalu bijak dalam pengambilan keputusannya, dan selalu menanamkan jiwa-jiwa keadilan dalam setiap aspek kepentingan. Inilah karakter pemimpin yang kita butuhkan di Bumi Pancasila ini. Karakter Pancasila menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin dan seluruh nilai luhur Pancasila akan kokoh dalam dirinya dengan sikap kuat dan amanah. Bumi Pancasila tidak akan kokoh jika tidak ada tonggak Pancasila yang kokoh pula. Tonggak Pancasila itulah yang harus ditancapkan oleh pemimpin kita agar Pancasila tetap hidup sebagai karakter manusia di Bumi Pancasila. Jika pemimpin kita adalah “Pancasila Hidup”, maka rakyatnya pun akan hidup dengan cerminan Pancasila dan melahirkan generasi pemimpin yang berkarakter Pancasila pula. Salam Pancasila! [Hikmah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s