MENELISIK SISI SPIRITUALITAS ASIYAH ISTRI FIR’AUN

Dalam sejarah peradaban dunia, Islam memberikan peran sumbangsih dan perhatian yang begitu besar terhadap kedudukan, kehormatan, dan kemuliaan bagi kaum perempuan. Islam hadir ditengah-tengah kondisi kaum perempuan yang tengah terancam atas kekejaman dan kekejian masa Jahiliyyah yang buta akan moral dan akhlak. Makhluk yang sangat lembut ini dipandang memiliki posisi sebagai makhluk yang rendah dan kotor sehingga tak heran banyak para ayah rela membenamkan bayi perempuannya ke bumi karena menganggap keberadaan perempuan sebagai simbol ketercelaan bagi keluarga. Dalam kondisi ini, Islam datang sebagai cahaya terang untuk melepas belenggu kezaliman terhadap kedudukan perempuan. Kita lihat bagaimana al-Qur’an menuangkan surah dan ayat khusus yang ditujukan pada perempuan baik berkenaan dalam hal spiritualitas, pendidikan, akhlak, cara hidup, dan nilai-nilai moralitas lainnya.

Menjadi pembahasan yang penting dan patut dikaji, perempuan tak pelak lagi telah menjadi sorotan utama dalam kaca mata dunia melihat kedudukan mereka yang harus dimuliakan sebagaimana hak mereka. Di zaman sekarang inipun, perkara yang masih tak pernah lepas adalah kebrobrokan akhlak perempuan dan hal-hal yang disebabkan oleh perempuan. Masalah akhlak dan peran perempuan di tengah masyarakat telah terjangkit tren tradisi modern yang dipandang terus menggerus kehormatan dan kedudukan kaum perempuan. Kita dapat lihat bagaimana kebanyakan gadis-gadis lebih bangga berlomba-lomba mengikuti tren penampilan dan pergaulan hingga rela menanggalkan hijabnya, bahkan kebanyakan dari mereka tidak lagi mengindahkan kesucian dan kehormatan mereka sebagai perempuan.

Melihat adanya banyak kebrobrokan kaum perempuan yang terus menjalar dan kebebasan perempuan yang semakin memprihatinkan, tentunya perempuan kini harus memulai menggali semangat baru untuk memulai kebangkitan. Perempuan yang tak hanya sebagai perhiasan dunia yang indah dipandang, namun juga sebagai panutan pendidikan bagi seluruh anak-anaknya tentu membutuhkan seorang figur perempuan yang harus dihidupkan kembali untuk membangkitkan jiwa kehormatan perempuan. Maka, menjadi saat yang tepat untuk menghidupkan kembali spiritualitas dari seorang perempuan yang patut menjadi figur terhadap kehidupan manusia hingga saat ini, dialah Asiyah binti Muzahim, seorang istri Fir’aun pejuang di tengah kezaliman. dengan spiritualitasnya yang begitu tinggi ia mampu menegakkan kebenaran di tengah kesesatan dan kezaliman yang merajalela. Untuk dalam makalah ini penulis akan mencoba mengulas bagaimana sosok figur Asiyah istri Fir’aun dari sisi spiritualitasnya yang patut menjadi panutan.

Mengenal Asiyah istri Fira’un

Asiyah binti Muzahim, istri raja Fir’aun yang dijadikan simbol sebagai seorang istri penyabar adalah sosok wanita yang patut diteladani, dengan segala keteguhan dan kesabarannya, meski telah mendapat perlakuan buruk dari sang suami. Semula Asiyah adalah satu-satunya wanita yang sangat dicintai oleh raja Fir’aun. Meski Fir’aun dikenal sebagai raja kejam yang tak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap siapa saja yang menentangnya, namun terhadap wanita ini, Fir’aun sepertinya masih ada perasaan “bertekuk lutut”nya. Kepada wanita ini Fir’aun rela mempersembahkan apa saja sebagai bukti rasa cintanya, termasuk salah satunya mengangkat Musa sebagai anak angkat atas permintaan Asiyah, yang sebenarnya kelak akan menjadi musuhnya sendiri.

Dikisahkan bahwa Asiyah sebenarnya mulai meyakini ajaran agama yang dibawa oleh Musa, anak angkatnya. Sejak Musa bersama Harun berusaha untuk meyadarkan Fir’aun, diam-diam Asiyah mulai sadar bahwa Tuhan yang sesungguhnya bukanlah suaminya, melainkan Dzat yang menciptakan bumi berserta isinya. Dan puncak dari ketabahan Asiyah hingga ia harus menerima siksaan dari Fir’aun adalah ketika Fir’aun menerima kekalahaan atas Musa pada saat pertarungan adu kekuatan antara ahli sihir Fir’aun dengan kekuatan mu’jizat yang diberikan Allah kepada Musa.

Asiyah memang seorang wanita yang begitu cantik. Kecantikan wajah yang dimiliki juga diimbangi dengan keluhuran budi yang mulia. Maka tak heran jika Fir’aun mau memberikan segalanya kepada istrinya itu. Bahkan konon Fir’aun membangun sebuah istana kecil di pinggir sungal Nil yang khusus dipersembahkan kepada Asiyah, istri tercintanya.

Di awal-awal kehidupan berumah tangga tentu Asiyah masih bisa merasakan kebahagiaan sebagai istri seorang raja. Namun kebahagian itu tidak bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Sejak Fir’aun mengaku diri sebagai Tuhan, sekaligus memaksa kepada semua rakyatnya untuk menyembahnya, sejak itu pula tekanan batin mulai dirasakan Asiyah. Paksaan Fir’aun supaya disembah dan diakui sebagai Tuhan tidak hanya berlaku bagi semua rakyat, namun juga terhadap Asiyah, istri Fir’aun sendiri. Dalam posisi seperti itu Asiyah tidak bisa berbuat banyak kecuali harus menuruti apa yang dipaksakan suami, meski dalam hati ia berontak.[1]

Kepribadian-kepribadian Asiyah istri Fir’aun

Pada pembahasan ini, penulis akan memaparkan secara lebih spesifik dan eksplisit berkenaan dengan kepribadian yang tercermin dalam diri Asiyah bint Muzahim sebagaimana yang telah terekam dalam sejarah:

  1. Memiliki Rasa Kasih Sayang yang Tinggi

Berangkat dari kisah ketika Asiyah sedang di kamarnya; kamar khusus selaku salah satu istri Fir’aun. Kamar yang posisinya sangat strategis untuk menikmati panorama indah salah satu anak sungai Nil di ibukota Biramsis. Tanpa diduga putrinya, Ist Navaret, masuk diiringi beberapa orang budak, membawa sebuah peti yang mereka temukan di dekat membawa sebuah peti yang mereka temukan di dekat sebatang pohon tepi sungai.

Begitu dibuka, Asiyah melihat sesosok bayi laki-laki. Wajahnya bercahaya. Asiyah bahagia luar biasa. Ke celah hatinya yang intan itu Allah menyelipkan rasa cinta kepada si bayi. Bayi yang mengecup jari karena kelaparan, tetapi wajahnya tetap secerah sinar. Menatap raut si bayi, ada sejuta rasa bahagia mengalir ke liang hati Asiyah. Maka ia putuskan untuk merawat dan membiarkan bayi itu hidup. Ia bertekad menjaganya sepanjang hayat.

Asiyah tahu bagaimana perlakuan suaminya kepada setiap bayi laki-laki yang lahir. Tetapi, ia bersumpah akan melakukan apa pun untuk menjaga dan melindungi bayi itu. Diberinya ia nama Musa. Tak kan sudi ia dipaksa siapa pun, tak kan menyerah ia kepada Fir’aun suaminya. Ia bertekad untuk mempertahankan hidup bayinya itu hingga titik darah penghabisan.

Ketika Fir’aun dan anak buahnya akan membunuh bayi tersebut, dengan rasa cemas Asiyah berkata kepada Fir’aun dan anak buahnya, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudah ia berguna untuk kita atau kita ambil ia sebagai anak”. (QS. Al-Qashash [28]: 9).[2]

 

  1. Memiliki Kecerdasan yang Tinggi

Kecerdasan yang begitu tinggi terlihat pada sosok Asiyah sebagaimana sejarah menuliskan ketika Yokabed yang tak lain adalah Ibu kandungnya sendiri itu menawarkan untuk merawat si bayi di rumahya sendiri, Asiyah langsung setuju. Ia tahu, dengan begitu, si bayi terhindar dari sentuhan dan tatapan langsung Fir’aun, serta lebih terjamin keselamatan hidupnya. Betapa bahagia Asiyah, karena berhasil meloloskan bayi kecintaannya dari mata pedang para penjagal.

Asiyah tak kuasa menahan diri. Ia sangat cemas akan keselamatan Musa. “Jangan bunuh bayiku, jangan rampas ia dari kehidupanku”. Asiyah berusaha sekuat tenaga menahan suaminya yang kalap. Dijelaskannya bahwa Musa masih kanak-kanak, masih belum mengerti apa pun yang ia perbuat. Untuk meyakinkan, Asiyah memanggil beberapa orang budak, menyuruh mereka mengambil sebutir buah dan sebutir bara api yang menyala, lalu diletakkan di depan Musa. Musa menjulurkan sebelah tangannya ke arah api yang menyala. Api diambil lalu hendak dimasukkan ke mulut, seolah berusaha memakannya. Begitulah dengan kecerdikannya Asiyah berhasil meyakinkan sang suami kalau Musa masih kanak-kanak yang belum mengerti apa-apa tentang perbuatannya Fir’aun. Fir’aun tak berkutik, dan Musa selamat dari mata pedang penjagal.[3]

 

  1. Memiliki sifat Berani dan Tekad Kuat

Asiyah juga memiliki sifat keberanian yang tinggi dan tekad yang kuat. Kita lihat dalam sejarah ketika Musa beranjak baligh, Musa hidup di Madyan. Mungkin Asiyah tahu ke tempat mana Musa lari dari Mesir demi menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun. Begitulah sampai akhirnya Asiyah kehilangan Musa selama lebih dari sepulun tahun. Asiyah berharap sang buah hati kembali ke Mesir dan mendapat pengampunan dari Mornabath, putra yang tengah bertahta menggantikan sang ayah. Tetapi, rupanya terlalu lama Musa di negei asing.

Musa kembali ke mesir ketika periode Ramses II dan putranya, Mornabtah, pun berakhir dan digantikan oles Siti II yang dikenal keras dan sangat membenci Bani Israil. Saat dalam perjalanan kembali ke Mesir, di Sina Musa diangkat sebagai Rasul. Ia diutus Allah kepada Fir’aun. Tiba di Mesir, Musa langsung menuju kamar ibu angkatnya, Asiyah. Musa mengabarkan kalau dirinya diutus oleh Allah untuk mengajak Fir’aun menyembah kepada Zat Yang Maha Esa dan tidak mengaku sebagai tuhan. Dialah satu-satunya Zat yang menciptakan manusia dan semesta jagat raya dengan segala isinya. Saat itu juga Asiyah langsung menyatakan beriman. Ia sadar pengakuan Fir’aun sebagai tuhan tak lain hanyalah bualan, sama sekali tidak benar. Lalu dinasehatilah Musa agar hati-hati terhadap Fir’aun yang terkenal bengis dan kejam. Suatu nasihat yang membuka kesadaran Musa akan fakta seputar Fir’aun dan bagaimana strategi menghadapinya.[4]

 

  1. Memiliki sifat Sabar

Sifat sabar terhadirkan pada diri Asiyah ketika Asiyah telah menyatakan dirinya beriman kepada Tuhan Musa, dan menolak bertuhan kepada Fir’aun. Fir’aun memusuhi Musa, lebih-lebih lagi kepada Asiyah. Ia dikurung di kamar sempit dan gelap. Dilarang berhubungan dengan siapa pun di istana, disiksa, tidak diberi makan dan minum kecuali sekedar untuk menyambung nyawa. Di balik jeruji yang penuh ujian dan siksaan. Asiyah hanya bisa pasrah dan menjerit dalam doa. “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (QS. Al-Tahrim [66]: 11).

Allah mewujudkan doana, ia jadikan satu diantara pemimpin wanita surga sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw dalam hadis: “Cukuplah bagi kalian wanita-wanita dunia: Maryam bint Imran, Khadijah bint Khuwailid, Fathimah bint Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, 3981, Ahmad, 3/135, dan al-Hakim, 3/1.[5]

Meneladani sisi spiritualitas dari sosok Asiyah binti Muzahim

Telah diuraikan sebelumnya mengenai beberapa kepribadian-kepribadian agung Asiyah istri Fir’aun yang ditelisik dari peristiwa-peristiwa sejarah, dapat menjadikan contoh agung yang patut untuk diteladani. Asiyah memiliki kepribadian mulia yang identik dengan apapun yang dinilai al-Qur’an sebagai terpuji dan berharga pada diri perempuan. Kehadiran Asiyah menjadikan sumber cinta bagi pergerakan kebangkitan kaum perempuan dan mengangkat harkat dan martabat suatu umat. Cinta dan kasih sayang dari sosok Asiyah merupakan sebagai cahaya terang terhadap segala problema dan kebrobrokan akhlak kaum perempuan saat ini. Ia menunjukkan cintanya kepada Allah yang terwujud pada kepribadiannya yang lembut sekaligus berani. Lihat saja bagaimana Asiyah sabar menghadapi keburukan sikap dari sang suami. Meski suami terus memperlakukan buruk, namun tetap saja ia berusaha untuk sabar dan tabah menghadapi cobaan derita tersebut. Begitu sabar dan tabahnya sikap Asiyah, sampai-sampai ia mau berkorban nyawa menghadapi perlakuan suaminya itu. Ia juga menunjukkan cintanya kepada Allah yang terwujud pada kepribadiannya yang lembut dan berani.

Dengan demikian, berkaca dari keteladanan Asiyah, meskkipun ia hidup di lingkungan yang zalim, ia tetap bersikukuh untuk membela kebenaran. Adalah hal yang paling utama sebagai seorang ibu bagi Asiyah untuk melindungi Musa dengan penuh kasih sayang. Ia rela mengorbankan dirinya untuk tetap berada dijalan Allah. Ia tetap membela Musa meski ia harus dibenci dan disiksa oleh Fir’aun karena ia memiliki tekad dan keberanian yang sangat kuat dalam membela kebenaran dan imanna kepada Allah.

Inilah yang menunjukkan bahwa Asiyah memiliki spiritualitas yang tinggi. Ia tetap beriman kepada Allah meskipun ia dirundung mara-bahaya. Dengan tekadnya ia yakin bahwa kebenaran pasti akan mengalahkan kezaliman dan Allah pasti akan menolong hamba-hambanya yang menegakkan kebenaran. Keimanannya yang begitu tinggi terlihat dari bagaimana cara Asiyah dengan segera beriman kepada Tuhan Musa tanpa syarat dan paksaan apapun karena ia memang tidak percaya dengan sikap Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan dan ia percaya bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata dan memiliki Maha Kebesaran atas Alam Semesta ini.

Peran kaum perempuan sangatlah berpengaruh pada nasib kemajuan umat di masa mendatang. Inilah yang harus diterapkan sebagai langkah awal kebangkitan perempuan. Kaum perempuan harus mengenyam pendidikan akhlak agar tidak dicap rendah dan tidak bermoral dalam kehidupan bermasyarakat. Ia harus menjadi contoh yang baik; tekun beribadah, menjaga kesucian dan kehormatan, bersikap sederhana, tidak pengecut membela kebenaran, serta berani menunjukkan kebenaran dan kebajikan sebagaimana yang diterapkan oleh Asiyah bin Muzahim. Karena itu, sebagai penentu pendidikan generasi muda, seorang perempuan (ibu) harus menerapkan kepribadian yang berbudi luhur agar dapat menjadikan contoh yang baik sebagai seorang figur bagi anak.

Dalam prosesnya, ia harus mendidik dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, bertutur kata yang lembut serta sabar. Dengan demikian akan melahirkan semangat cinta bagi sang anak untuk menerapkan ibadah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ia harus meneguhkan sikap keberanian untuk tetap berpegang di jalan Allah dalam keadaan apapun dan kapanpun agar Islam tetap berdiri tegak dalam mencapai kemajuan umat. Perempuan tak hanya sebagai perhiasan dunia yang indah dipandang, namun juga sebagai panutan pendidikan bagi seluruh anak-anaknya sehingga inilah yang menjadikan peran wanita sebagai penentu nasib generasi selanjutnya. Kerusakan atau kebaikan suatu masyarakat berakar dari kerusakan atau kebaikan perempuan dalam masyarakat itu. Sebagaimana dalam Ali Hosein Hakeem (2005: 145) mengatakan bahwa seorang perempuan adalah makhluk unik yang mempunyai tanggung jawab luar biasa membesarkan anak-anak dan menanamkan nilai-nilai konstruktif dalam diri mereka.[6]

Tentunya, curahan cinta kebaikan dan kesalehan terpatri oleh semangat tanpa akhir dalam kepribadian Asiyah. Ia benar-benar perempuan yang sangat inspiratif yang Allah ciptakan dan cahayanya bersinar menerangi umat manusia. Cinta dapat meruntuhkan kesombongan karena cinta sebagai sumber kekuatan dan pemusatan perhatian, melembutkan, menghilangkan pamrih, menjadikan orang dermawan, dan penuh pemaafan.[7] Dan sebagaimana perkataan Jawadi Amuli bahwa pelajaran cinta tidak akan bermanfaat bagi orang-orang yang hatinya keras dan selalu menunjukkan sikap keras.[8]

Sikap kelembutannya mampu menciptakan kedamaian dan kesenangan bagi siapapun yang berada dihadapannya termasuk menaklukan Fir’aun, suaminya yang memiliki sikap kejam dan bengis. Ia bersikap lembut dengan mencurahkan kasih sayangnya sehingga akan tercipta ketentraman dalam hatinya sebagaimana Allah SWT berfirman berkenaan dengan peran perempuan (QS ar-Rûm [30]: 21). Dengan sikap keberaniannya, ia tujukan dan tunjukkan perkataan dan perbuatannya dengan menolak bertuhan kepada Fir’aun hanya untuk membela kebenaran.

Inilah sisi spiritualitas yang patut kita tiru sebagai generasi muda dari sosok perempuan al-Qur’an, Asiyah bint Muzahim. Melihat kecerahan hidup yang ditawarkan Asiyah dengan kepribadian agungnya, kiranya kita harus bangkit menghidupkan cahaya spiritual Asiyah ke dalam diri kita. Dengan semangat berjuang menegakkan agama Allah, akan membentuk kepribadian diri yang lembut dan berani sebagaimana perannya melawan kezaliman. Dengan kecintaan diri, kita akan sadar bahwa kehormatan adalah satu-satunya permata dalam dirinya. Dengan iman dan spiritualitasnya yang tinggi, kita akan senantiasa menjaga diri, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan dalam mencapai keridhaan Allah swt dan mencapai derajat spiritual yang tinggi sebagai hamba Allah. [Hikmah]

[1]https://buletinmitsal.wordpress.com/sosok/asiyah-binti-muzahim/, (diakses 20 April 2015 pukul 07.19 WIB.

[2]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’yhi, Wanita-wanita al-Qur’an, Terj. Asy’ari Khatib, (Jakarta: Zaman, 2010), 203.

[3]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’yhi, Wanita-wanita al-Qur’an, Terj. Asy’ari Khatib, (Jakarta: Zaman, 2010), 205.

[4]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’yhi, Wanita-wanita al-Qur’an, Terj. Asy’ari Khatib, (Jakarta: Zaman, 2010) (Jakarta: Zaman, 2010), 208.

[5]Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’yhi, Wanita-wanita al-Qur’an, Terj. Asy’ari Khatib, (Jakarta: Zaman, 2010), 210.

[6] Ali Husein Hakeem et. Al, Membela Perempuan, Terj. A. H. Jemala Gembala, (Jakarta: al-Huda, 2005). 145.

[7]Haidar Bagir, Islam Risalah Cinta & Kebahagiaan, (Jakarta: Mizan Publika, 2013), 42.

[8]Ayatullah Jawadi Amuli, Keindahan & Keagungan Perempuan, Jakarta: Sadra Press,

2011, 182

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s