MEMBENTUK “KELUARGA ISLAM”

Kali ini, saya akan menghadirkan sekelumit beberapa kalimat mengenai topik “keluarga Islam” dari sisi realita dan tindakan yang harus ditempuh dalam permasalahan berkeluarga. Mungkin sedikit ekstrim jika dibicarakan oleh orang yang belum pernah berkeluarga atau membina rumah tangga seperti saya, hehe. Namun, tak ada salahnya jika kita terlebih dahulu mempelajari dan mengenal tentang “keluarga” disertai dengan pengamatan realita yang sering terjadi dalam berkeluarga. Tentu, hal ini sangat penting sebagai pedoman kita untuk persiapan membina rumah tangga atau berkeluarga kelak. Karenanya, berbicara mengenai permasalahan dalam berkeluarga tidaklah harus untuk kalangan orang yang telah merasakan kehidupan rumah tangga, namun kita harus belajar dari pengalaman orang-orang yang telah berkeluarga terlebih dahulu agar kita tahu apa yang harus kita lakukan dan pahami.

Pembahasan menikah atau berkeluarga menjadi pembahasan yang menarik baik untuk kalangan yang sedang akan mempersiapkan ke jenjang pernikahan maupun untuk kalangan yang sudah berkeluarga. Yang menjadi pokok utama yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana menjaga keharmonisan dan menghadapi permasalahan berkeluarga. Tentu, mengenal permasalahan dalam keluarga adalah poin utama yang harus diselesaikan untuk membentuk keluarga islam. Keluarga islam adalah keadaan dimana nilai-nilai dan prinsip-prinsip islam terealisasikan dalam sebuah keluarga. Keluarga dikatakan berhasil jika ada ketenangan didalamnya, saling memahami yang dilandasi dengan cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang haruslah terefleksikan dengan perbuatan yang nampak, tidak hanya secara lisan.

Menikah bukan akhir dari kehidupan, tidak lantas setelah menikah kita begitu melegakan nafas karena berada di penghujung penantian. Namun, menikah adalah awal dari sebuah kehidupan, awal dimana disinilah kita benar-benar menghadapi permasalahan kehidupan yang mengguncang dalam bahtera rumah tangga dan disinilah awal kita belajar memimpin orang lain setelah terlebih dahulu kita memimpin diri sendiri. Keluarga adalah amanah, menjaga keutuhannya adalah suatu hal yang niscaya dengan mematuhi landasan ajaran Islam. Menikah bukan hanya menuruti hawa nafsu tapi harus mempersiapkan segala persiapannya. Modal persiapannya tidak hanya direncanakan untuk resepsi pernikahan saja tapi yang terpenting adalah modal persiapan setelah berlangsungnya sesi akad pernikahan.

Kebanyakan permasalahan yang terjadi dalam berkeluarga adalah masalah kurangnya saling memahami karakter masing-masing. Ternyata terdapat persamaan dan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan yang harus dipahami. Persamaan karakter dalam hal ini adalah bentuk persatuan diantara keduanya dan tidak ada kata berpisah, sebagaimana dalam QS. Ar-Ruum [30]: 21:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari dirimu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Pada ayat tersebut dikatakan “Dia menciptakan istri-istri dari dirimu sendiri” bahwa istri adalah bagian dari suami dan menjadi satu kesatuan bagian yang tidak dapat berpisah. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menyatukan karakter yang berbeda. Perbedaan diantara laki-laki dan perempuan tidak lantas menjadi pemecah belah namun justru menjadi saling melengkapi dan menyatukan diantara keduanya.

Ada suatu perbedaan yang ada pada setiap karakter masing-masing laki-laki dan perempuan. Tentu, perbedaan ini tidak lantas untuk memecah belah, namun sangat baik dalam keberlangsungan keluarga. Pahami karakter pasangan dengan selalu mencari positifnya, tidak hanya negatifnya. Perempuan memang lebih banyak berbicara, karena ia cenderung lebih banyak mengungkapkan perasaaannya secara mendetail. Sedangkan laki-laki lebih diam, ia cenderung lebih banyak berpikir secara universal untuk memecahkan permasalahan keluarga. Sebagai ilustrasi dalam percakapan, sang suami berkata, ”kamu ini banyak bicara”, begitupun sang istri berkata, ”kamu selalu diam saja”. Selain itu, menjadi karakter bagi perempuan bahwa ia lebih peduli terhadap suatu yang mendetail, lebih lembut dan lebih memahami tugas-tugasnya sebagai istri dan rela mengalihkan kesenangannya demi mendengar suara suami. Sebagai contoh, sang istri lebih paham dengan dekorasi rumah, kenyamanan rumah, penampilan pakaian yang sepadan, mengasuh anak, menjadi tempat sharing bagi laki-laki, dll. Sedangkan karakter laki-laki cenderung tidak peduli, bahkan ia tidak mau meninggalkan hiburan sepak bola di tv misalnya jika sang istri sedang ingin didengarkan segala keluh-kesahnya. Walaupun demikian, seorang laki-laki lebih kuat dalam keputusannya dan memiliki tekad yang kuat untuk menyelesaikan permasalahan keluarga.

Pondasi utama yang harus terbina dalam berkeluarga adalah kepercayaan yang dilandasi dengan mawaddah. Artinya, segala pengungkapan/perbuatan harus dilandasi dengan saling percaya diantara keduanya. Misal, ketika istri memperingatkan suami, janganlah dianggap sebagai bentuk kelemahan suami/istri, tapi anggaplah untuk melengkapi suami. Misalnya sebagai cerita ilustrasi, jika sang suami berkendara mengebut, kemudian istri memperingatkan suami agar tidak ngebut, lalu suami begitu emosi dengan peringatan istri. Sebenarnya peringatan sang istri janganlah dipandang sebagai tanda kekurangan suami, namun pandanglah sebagai tanda untuk melengkapi keadaan suami, inilah posisi istri yang harus dipahami dalam keluarga.

Hubungan antara suami dan istri yang baik menjadi pondasi dalam keberlangsungan keluarga yang utuh. Hubungan suami dan istri yang harmonis tentu sangat mempengaruhi kondisi anak mereka. Jika hubungan diantara mereka berdua rusak, maka kondisi mental anak pun rusak. Jika dibandingkan, seorang anak tidak akan sebahagia dari hubungan suami-istri yang menjaga utuh keharmonisan. Hubungan yang harmonis termasuk dalam langkah mendidik anak karena orang tua menjadi panutan pada sikap anak mereka. Setiap anak tentu memiliki hak dari orang tua mereka, yakni hak untuk dididik, hak untuk dijaga dan dilindungi. Jika tidak ada penanganan dari kedua orang tua yang harmonis, maka hak-hak anak pun terabaikan dan disinilah letak terjadinya permasalahan keluarga. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis juga menghadirkan cara-cara mendidik anak dalam lingkup membentuk keluarga Islam.

Meskipun tidak secara detail dan terperinci, sesungguhnya al-Qur’an memberikan jawaban terhadap permasalahan-permasalahan anak yang ada. Pola pendidikan terhadap anak yang ditulis dalam al-Qur’an hanyalah berupa indikator-indikator yang berkaitan dengan segala sesuatu seputar proses keberlangsungan kehidupan berkeluarga dalam kaitannya dengan keberadaan seorang anak. Misalnya seruan agar orang tua senantiasa memerintahkan anaknya untuk berbuat baik ada pada QS. Luqman: 13, 17, dan 18; mengajarkan anaknya agar hidup mandiri pada QS. Al-Anbiya: 78-79; menanamkan sikap adil terhadap anak pada QS. Yusus: 8; mengajarkan anak beribadah pada QS. Al-Baqarah: 132-133, QS. Luqman:17 serta QS. At-Tahrim: 6, dan lain sebagainya.

Anak merupakan titipan ilahi, yang harus dibesarkan, disayangi, dididik. Suatu Negara akan baik jika anak sebagai generasi didalamnya diberikan bimbingan moral dan ditanamknan nilai agama sedini mungkin. Berawal dari  permasalahan anak cukup banyak mencuat di media massa dan di dalam lingkungan kita sendiri yang diakibatkan karena terabaikannya berbagai hak-hak anak dan konsekuesinya seorang anak yang seharusnya menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain dan mendapatkan pendidikan dan kasih sayang justru malah terbalik. Realita ini cukup membuat kita sadar, seperti kasus penyiksaan anak, pedovil, dan pemaksaan anak untuk ikut mencari nafkah yang belum cukup umur, wa naudzubillah.

Harus diakui bahwa setiap manusia ialah seorang anak. Ia lahir dari rahim seorang ibu yang kemudian tumbuh dan berkembang dalam satu lingkungan yang di dalamnya terjadi interaksi dinamis dalam mengikuti alur proses pendidikan yang kemudian membentuk menjadi orang dewasa. Al-Qur’an menyebut anak dengan menggunakan redaksi kata yang beragam, sebagaimana halnya dalam menyebut manusia. Sekedar contoh, untuk menyebut manusia, al-Qur’an tekadang menggunakan redaksi kata al-insan, al-basyar, an-nas, al-ins, bani adam, dan sebagainya. Beragam redaksi kata yang digunakan tersebut tentu bukanlah tanpa maksud. Masing-masing kata memiliki pengertian tersendiri sesuai dengan konteksnya.Dalam menyebut istilah yang menunjukkan makna anak, al-Qur’an menyebutnya dengan beragam redaksi kata atau istilah dengan beragam derivasinya. Istilah tersebut di antaranya zurriyyah, ibn, walad, athfal, thifl, nasl, rabaib, ghulam, asbath, aqrab, dsb. Sebagaimana halnya istilah manusia, beberapa istilah anak tersebut pun pastinya memiliki konteks pengertian yang berbeda satu sama lain, meskipun merujuk pada satu maksud yakni anak.

Dalam mendidik anak tentu terdapat tahapan sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. Ketika anak masih dalam periode usia dini atau kanak-kanak sayangilah ia sebagaimana raja, lalu ketika beranjak besar latihlah ia sebagaimana budak, kemudian ketika telah beranjak remaja dampingi dan bimbinglah ia sebagaimana teman atau sahabat. Patut diketahui pula, dalam memenuhi atau mengabulkan permintaan anak haruslah diselektif mungkin. Upayakan dan latih anak sedini mungkin agar ia berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebagai contoh, ketika anak meminta dibelikan sepeda, latih ia kerja terlebih dahulu dengan pekerjaan yang ringan seperti bantu-bantu mencuci piring, dengan imbalan uang yang harus ia tabung untuk membeli sepeda. Hal ini akan membiasakan anak bekerja keras dan akan bangga untuk mendapatkan sesuatu dari hasil kerja sendiri. Tentu, ini akan berefek ketika anak telah dewasa kelak agar tidak secara instan dalam memperoleh hasil.

Demikian hasil tulisan yang saya rangkum dari hasil seminar dan presentasi kelas dan saya ramu dengan bahasa yang mudah dipahami.

Selamat membentuk keluarga Islam!

Semoga bermanfaat🙂

[Hikmah KK]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s