KARAKTERISTIK TAFSIR SURAH AL-QADR IMAM KHOMEINI

Siapa yang tak kenal dengan sosok tokoh revolusi yang mengguncangkan dunia, yakni Imam Khomeini. Sayyid Ayatullah Ruhollah Imam Khomaeini lahir di Khomein, Provinsi Markazi pada 24 September 1902 dan meninggal di Tehran, Iran pada 3 Juni 1989. Beliau-lah sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran tahun 1978. Dalam hidupnya, Imam Khomeini sebagai ulama yang mempelajari dan menekuni berbagai ilmu yakni masalah politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Sehingga tak heran semasa hidupnya diisi dengan perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam. Ia dipandang memiliki citra yang begitu melekat dan dikenal oleh dunia luas dengan segala pemikiran dan pergerakan yang dilancarkannya. Pemikiran dan pergerakannya dilakukan dalam rangka membuktikan bahwa Islam dapat berperan secara aktif dalam berbagai bidang kehidupan.

Imam Khomeini adalah seorang sufi yang ajaran kesufiannya mampu mengembangkan sistem tatanan negara di bawah payung hukum Islam yang pernah gemilang. Khomeini berhasil menjadikan syari’at Islam sebagai landasan bernegara dan berbangsa. Meskipun dikenal sebagai seorang sufi, ia tidak pernah menjauhkan diri dan meninggalkan kehidupan dunia. Ia justru memiliki banyak pengaruh demi menegakkan peradaban Islam yang gemilang. Ia banyak mengucapkan pidato untuk menghidupkan kembali Islam. Dari banyak buku karya-karyanya, telah lahir buku-buku bertajuk tasawuf . Ini menandakan bahwa tingkat penguasaan Imam Khomaeini begitu tinggi dalam aspek sufistik yang disertai dengan penerapan yang nyata dalam kehidupannya.

Karya-karya yang beliau hadirkan tak hanya berkaitan dengan pergerakan sosial dan politik dalam negara. Namun, secara fokus ia juga memiliki karya yang berhubungan dengan al-Qur’an secara khusus. Meskipun, ia tak menafsirkan seluruh ayat, namun tafsir surah pilihan yang ia hadirkan cukup memberikan keilmuan Islam yang luas dalam kondisi adanya respon terhadap modernitas. Adapun penafsiran Imam Khomaeini terdapat 3 surah yakni tafsir al-Fatihah, al-Ikhlas, dan al-Qadr. Ketiga surah ini tentu menjadi surah pilihan bagi beliau dan tentu banyak memiliki keutamaan didalamnya.

Oleh karena itu, dalam tulisan secara khusus akan mengkaji naskah tafsir al-Qur’an Imam Khomaeini pada surah al-Qadr. Tentu ini menjadi kajian yang sangat penting berkenaan dengan keutamaan-keutamaan yang tinggi didalamnya, apalagi ditinjau dari aspek sufistik sebagaimana latar belakang beliau yang fokus sebagai pengkaji tasawuf. Meskipun telah banyak para penafsir yang telah meninjau surah al-Qadr dari sisi sufistik, namun kali ini akan banyak ditemukan kelebihan yang terkandung dalam penafsiran Imam Khomaeini mengingat ia sebagai seorang tokoh sufi yang dihadapkan pada masa modernitas.

 

A.     Tinjauan Naskah Penafsiran Surah al-Qadr

Pada penafsiran surah al-Qadr Imam Khomeini ini didahului dengan pendahuluan yang berbicara tentang keutamaan-keutamaan dalam membaca surah al-Qadr. Keutamaan membaca surah al-Qadr pada bagian awal ini dikaitkan dengan dua hal; pertama bacaan dalam shalat, kedua bacaan diluar shalat. Dalam hal yang lebih rinci, dalam shalat diutamakan membaca “inna anzalna hu fi lalilatil qadr” dan yang kedua membaca “qul huwa allahu ahad”. Untuk diluar shalat, dikala kita ziarah kubur membaca surah al-Qadr. Dalam hal ini Imam Khomeini menggunakan pendekatan tekstual/naqli dan normatif yakni dengan pendekatan-pendekatan yang sudah ada.

Surah al-Qadr ini termasuk bagian dari khazanah-khazanah rahmat. Imam Khomeini mengatakan bahwa ayat ini bukanlah tulisan yang mati tapi tulisan yang berbicara karena berhubungan dengan al-Ismu al-A’dham. Inilah yang menandakan bahwa alam semesta ini luar biasa. Sebagaimana manusia diciptakan dengan sangat sempurna dimana Allah meniupkan ruh sehingga menjadi makhluk yang luar biasa dengan segala potensi yang Allah anugerahkan. Ruh ini berasal dari Baitul Makmur (menurut riwayat, rumah Allah yang dikelilingi oleh malaikat, jadi yang pertama kali tawaf itu adalah para malaikat). Al-Qadr adalah bagian dari tiang-tiang arsy, dan seribu malaikat tawaf disetiap tiang-tiangnya itu sampai hari kiamat. Dapat dikatakan bahwa ayat ini adalah mukjizat yang luar biasa dan mungkin ayat ini dibawa pada seribu malaikat.

Imam Khomaeini juga menyebutkan bahwa Surah al-Qadr bila dibaca akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Imam Baqir meriwayatkan: “dengan membaca ini juga kalian akan selalu bersama dengan Nabi Adam, ini adalah sunnah”. “Bersama” dalam hal ini bukanlah berada pada satu fisik, namun dimanapun kita berada, kita harus merasa selalu bersama dengan Allah. Siapapun yang menghidupkan sunnah Nabi dengan membasahi kedua bibir dengan dzikir, dia-lah yang dinamakan “selalu bersama dengan Allah”.

Keutamaan lain dari surah al-Qadr adalah ketika al-Qadr dibacakan dengan air akan memberikan khasiat. Adapun langkah-langkahnya; Pertama, baca surah al-Qadr dengan membawa air yang bersih kemudian diberikan untuk keluarga yang sakit. Selain itu, juga dapat mengobati diri sendiri dengan cara membaca al-Qadr itu dengan tartil sebanyak 30 kali, kemudian wudhu dan diusapkan pada yang sakit. Pada hari yang ketiga Allah akan menyembuhkan penyakit kita. Dan semua itu tergantung pada keikhlasan.

Dicantumkan pula mengenai riwayat dari Nabi mengatakan bahwa akan diberikan pahalanya seperti berpuasa pada bulan ramadhan jika membaca “inna andarna fi lailatil qadr”. Puasa bulan ramadhan bertepatan dengan malam lailatul qadr, dapat dua keutamaan dari Allah. Selain itu, Imam Khomaeini juga mengatakan bahwa siapa saja yang membaca surah al-Qadr itu sebanyak 15 kali setelah shalat Isya, maka Allah akan menjaga orang tersebut pada setiap malam dan untuk siapa saja yang membaca surah al-Qadr itu tiap malam sebanyak 7 kali, maka Allah akan menjaga orang tersebut pada malam-malam tersebut sampai terbitnya fajar. Kemudian dari siapa yang membaca surah al-Qadr itu setiap sehari malam sebanyak 76 kali maka Allah akan ciptakan 1000 malaikat untuk dia yang menulis pahala orang tersebut selama 36 tahun.[1]

Menariknya, Imam Khomaeini memberikan analogi yang begitu indah bagi orang yang mendapat keutamaan dari surah al-Qadr, yakni; “Maka Allah akan menciptakan baginya cahaya, yang itu cahaya luasnya seluas udara baik luasnya maupun panjangnya sampai batasnya udara atau tirai-tirai cahaya yang ada dibawah Arsy. Dan setiap arsy dari pada bacaan itu Allah beri seribu malaikat dan setiap malaikat ada seribu lisan setiap lisan ada seribu bahasa semuanya beristigfar untuk yang membacanya sampai tergelincirnya malam. Kemudian Allah meletakkan cahaya itu pada jasad orang yang membacanya sampai hari kiamat. Siapa yang membaca sebanyak 23 kali diwaktu dia bangun maka dia akan memenuhi lahut dengan pahala.”

Terlihat jelas bagaimana Imam Khomaeini memberikan uraian penjelasan mengenai keutamaan-keutamaan surah al-Qadr. Bahwa semua keutamaan dari surah al-Qadr tidak kembali kepada yang membacanya dan bukan pula kembali kepada siapa yang membaca jikalau pembaca tidak mengetahui tentang hakikat membaca. Keutamaan ini akan diberikan pada orang yang mengetahui bukan hanya mengamalkan, dengan kata lain bagi orang yang membacanya, mamahami dan mengamalkannya. Jadi, betul-betul menempatkan al-Qur’an kepada kadarnya dan mengaktualisasikan ayat-ayat-Nya dalam kehidupan. Jika kita mampu ber-tadabbur dan memahami apa isi kandungannya serta beriman dan mengamalkan dengan amal yang soleh maka kita akan mengetahui bahwa pada dasarnya ada seluruh keutamaan ayat al-Qur’an. Apabila surah al-Qadr disertai dengan bagaimana mendekatkan diri pada Allah, maka akan membangkitkan pengetahuan seseorang. Oleh karena itu, mari kita telisik lebih mendalam mengenai penafsiran surah al-Qadr dari ayat 1 hingga ayat 5.

  • Penafsiran surah al-Qadr ayat 1

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Kandungan:

  • Dalam ayat di atas, mengandung persoalan-persoalan yang bernilai luhur atau tinggi. Tentu, membahas persoalan yang terkandung dalam ayat ini ada manfaatnya. Adapun persolaan tersebut adalah sebagai berikut[2]: Pertama, pada ayat ini dan begitu juga ayat yang lain menisbatkan pewahyuan al-Quran kepada Zat suci Allah SWT. sesuai dengan firmanNya: (ad-Dukhan: 3) dan (al-Hijr: 9). Begitu juga ayat-ayat yang lainnya. Namun, di ayat lain pewahyuan dinisbatkan juga kepada malaikat Jibril (Ruh al-Amin) dalam firmaNya: as-Syuara; 193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Kedua, kata ganti jamak “kami menurunkan” merupakan maqam Allah dalam mewahyukan sebagai kejamakan yang merujuk pada nama-nama dan sifat-sifatNya. Karenanya al-Quran adalah citra dari Keesaan Tuhan (Ahadiyah) yang memperkenalkan nama-nama dan sifat-sifatNya. Maka layak mengatakan al-Quran sebagai nama teragung layaknya insan kamil. Ketiga, kata ganti (hu), “kami mewakyukannya” maksudnya bahwa tahapan-tahapan dari keesaan Tuhan yang turun dengan mulai dari rahasia ghaib sampai lahiriah atau dari batin ke zhohir berdasarkan nama-nama dan sifat-sifatNya[3].

 

  • Penafsiran surah al-Qadr ayat 2

Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?

Kandungan:

  • Maksud kalimat yang diutarakan sebagai pertanyaan tersebut adalah sebagai penghormatan dan memuliakan hal yang dibicarakan, baik pembicara maupun yang diajak bicara. Meskipun pembicara adalah Allah dan yang diajak bicara adalah Rasulullah menandakan bahwa sulit mewadahi apa yang disampaikan dengan kata-kata.
  • Menurut Imam Khomeini mengatakan bahwa terkandung masalah yang sangat besar pada ayat ini. Hingga ia mengatakan memiliki makna batin, sehingga hanya orang-rang yang punya hati, pendengarannya, dan ia menyaksikan pula.
  • Penafsiran surah al-Qadr ayat 3

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

  • Kandungan:
  • Jika kita lihat dari sisi penampakan dunia dari sisi bentuk eksternal malam Qadar, kita akan menyadari bahwa kebaikannya (malam Qadar) lebih banyak daripada seribu bulan yang tak memiliki malam Qadar di dalamnya. Atau disini Imam Khomaeni memberi kiasan bahwa malam Qadar dan amal-amal ibadah didalamnya adalah lebih baik daripada seribu bulan disaat Bani Israil biasa mengangkat senjata mereka dan berperang demi Allah (berjihad). Ia juga memberi kiasan lain bahwa Malam Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan yang tak ada Malam Qadar pada pemerintahan Bani Umayyah sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat-riwayat.
  • Dalam hakikat malam Qadar, Seribu bulan adalah isyarat kepada semua maujud, karena “seribu” adalah bilangan yang lengkap. Karena seribu bulan itu mencakup semua maujud, maka yang dimaksud dengan “bulan” adalah jenis maujud. Artinya, dari pernyataan ini dapatlah diambil maknanya bahwa konstitusi Muhammadi yang terhormat yakni manusia sempurna yang diangkat pada malam Qadar itu lebih baik daripada seribu jenis yang mencakup semua maujud (seribu bulan), sebagaimana yang telah dikatakan oleh sebagian kaum arif.
  • Selain itu, terdapat sisi lain dari penafsiran Imam Khomaeini, yakni: Malam qadar juga merupakan isyarat kepada manifestasi Nama teragung (al-ism al-a’dzam), yakni cermin Nabi Muhammad SAW yang lengkap, dan seribu bulan adalah manifetasi dari nama-nama lain. Artinya, Allah SWT kan memiliki seribu satu Nama dan satu Nama secara khusus tersembunyi di alam Ghaib, dan malam Qadar itulah yang tersembunyi. Sehingga malam Qadar dari konstitusi Nabi Muhammad adalah juga nama yang tersembunyi.

 

Catatan Irfan:

  • Nabi Muhammad SAW adalah yang dimaksud dalam Malam Qadar itu, karena Nabi SAW adalah wali sempurna dan penutup Para Nabi karena interioritas pribadi Nama Teragung ada dalam dirinya dan segala yang tersembunyi (ihtijab)nya al-Haqq dalam semua urusan ada dalam diri Nabi Muhammad. Dengan demikian, Nabi Muhammad disebut pula Hari Qadar.
  • Nabi Muhammad SAW diibaratkan sebagai kemunculan matahari dimana hakikat dan proyeksi seluruh Nama itu muncul dari ufuk individuasinya. Karena itu, Hari kebangkitan adalah juga pribadinya. Singkatnya, zat suci itu adalah Hari dan Malam Qadar, serta Hari Kebangkitan adalah juga Hari Qadar.
  • Dari semua fenomena suci dan lengkap sebagaimana yang terdapat pada ayat ini, mengapa merujuk pada “malam”? Tentu terdapat keistimewaan dari “malam: tersebut. Imam Khomaeini menyebutkan bahwa karena awal bulan-bulan adalah malam sebagaimana halnya satu adalah awal bilangan. Dengan demikian, Nama Teragung adalah awal dari nama-nama lain.
  • Dalam individuasinya dan dzatnya yang tak berubah, dia adalah akar dari “Pohon Baik”.

 

  • Penafsiran surah al-Qadr ayat 4

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kandungan:

  • Pertama adalah berkenaan dengan pangkat atau tingkatan-tingkatan malaikat dan hakikat mereka secara umum. Ada perdebatan antara kalangan hadis dan kaum filosof, namun menurut Imam khomeini kebenarannya sesuai dengan akal dan tekstual, artinya malaikat-malaikat Allah memiliki jenis dan tipe-tipe yang berbeda.
  • Kedua berkenaan dengan turunnya malaikat. Dijelaskan bahwa malaikat memiliki tingakatan dan menempati pisisinya sesuai dengan tingkatannya. Sehingga mereka tidak akan meninggalkan maqam-maqam mereka dan naik turun layaknya jasad-jasad immaterial yang bisa menembus demensi tingkatan-tngkatan alam. Namun ketika mereka turun atas perintahNya, mereka akan menyerupai keserupaan layaknya yang ada di dunia.
  • Ketiga bahwa malam Lailatul Qadar merupakan pengungkapan kepada Rasulullah dan para Imam pemberi petunjuk. Dijelaskan mereka diungkapkan pada malakut gaib yang tersingkap segala urusan, baik duniawi atau catatan mereka dalam setahun atau sesaat.

 

  • Penafsiran surah al-Qadr ayat 5

Damai dan sejahteralah malam ini sampai terbit.

Kandungan

  • Malam ini merupakan malam yang penuh berkah dan selamat dari kejahatan-kejahatan setan, malapetaka, dan kecelakaan hingga terbit fajar.

Catatan irfan

  • Malam Qadar adalah al-Haqq, yakni Allah terhijab dari keesaanNya dan sifat-sifatNya. Mereka Rasulullah dan para Imam merupakan individuasi dan konstitusi dari wali sempurna dalam kehidupan dan pembawa petunjuk. Tabir individuasi adalah ‘fajar’ dari kebangkitan, karenanya sejak terbenam hingga terbit, tertampaknya para wali yang sempurna.
  • Malam itu tak sama sekali tanpa kedamaian jika malam tersebut menganggap malam-malam Bani Umayyah dan orang-orang seperti mereka, mereka hanya orang-orang yang tidak memiliki kedamaian dalam semua konsep.

 

B.     Karakterisktik Penafsiran Imam Khomaeni

Adanya kekhususan metode tafsir Imam Khomaeni:[4]

Pertama: memasukkan unsur dakwah riwayat-riwayat tentang kemaksuman Ahl Bait as dalam menjelaskan pemahaman tujuan al-Qur’an dan Hadits. Perintah yang mengindikasikan bahwa pendalaman pemahaman doa-doa yang diperintahkan Ahl Bait tetapi sesungguhnya jelas dalam pelajaran lima dari pelajaran-pelajaran tafsir yang terjemahan terdahulu untuk para Qori’ Arab dengan ajakan menafsirkan al-Qur’an.

Kedua: keutamaan kedua dari metode Imam Khomaeni dalam tafsir al-Qur’an disandarkan pada unsur perenungan (membaca berulang-ulang) dan berkomuniaksi (ber-tadabbur) sehingga tidak memberatkan dalam memahami al-Qur’an. Dalam merespon amalan berdasarkan teks al-Qur’an dan teks hadits dakwah dengan perenungan menggunakan akal dalam memahami al-Qur’an. Dengan tafsiran-tafsiran yang memudahkan untuk memahami al-Qur’an dilihat dari aspek budaya dan berdasarkan orang yang berpengetahuan dari sumber Ilahi yang Bijaksana. Inilah keutamaan yang menjadikan metode Imam Khomaeni yang menambah kreatif dalam ber-tadabbur­ dengan al-Qur’an dan ungkapan keutamaan dari hakikat yang tidak akan pernah habis.

Ketiga; transendennya metode tersebut dengan pengaktualisasian secara fisik untuk meningkatkan batin Qur’aniah yang ditambah dengan kejelasan dan pentajallian. Penafsirannya mengandung risalah pendidikan untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW. Ia menghilangkan penafsiran batiiyah yang terlalu luas namun tidak memotong tingkatan pada dasarnya.

Keempat; menguatkan sikap toleransi. Pada metode penafsiran ini disertai dengan dalih-dalih (penjelasan) secara syari’ yang dapat menjawab pembahasan dan mendorong pemahaman batin dan akhirat. Penjelasan al-Qur’an disertai dengan penegasan dengan menghilangkan hal-hal negatif yang dapat menghalangi pikiran dan menutup pintu tadbir. Secara tidak langsung, keistimewaan ini menjadikan metode untuk melihat hakikat ilmiah secara lebih jauh dengan menggunakan logika qur’aniah.

Kelima; ketransendenan metode tafsir Imam Khomaeni ini dengan karakter Irfani atau makna batini yang jelas. Akan tetapi tidak mengesampingkan pandangan selain para Ahli Irfan. Hal ini menjadikan metode Imam Khomaeni ini mencakup berbagai macam sudut pandangan. Dari karakter irfani ini adalah karakter amali secara luas yang utama dan tidak murni ilmiah. Dari sini kita dapat amati ketransendenan pada tafsir Imam Khomaeni disertai dengan pendidikan yang sangat berpengaruh penting bagi pelajar.

Adapun karakter penafsiran surah al-Qadr ayat satu sampai lima, lebih condong kepada karakter irfani, sebagaimana kita lihat diatas tafsiran makna dari setiap katanya mengandung makna batini dan ketransendenan. Kata-kata seperti al-Qur’an, Malam Qadar, Nabi Muhammad, Bulan, Malaikat dijelaskan dengan makna secara batini. Seperti pada ayat pertama, dimana al-Quran adalah citra dari Keesaan Tuhan (Ahadiyah) yang memperkenalkan nama-nama dan sifat-sifatNya. Pada ayat tiga, kita menemukan makna Malam qadar berarti isyarat kepada manifestasi Nama teragung (al-ism al-a’dzam), yakni cermin Nabi Muhammad SAW yang lengkap, dan seribu bulan adalah manifetasi dari nama-nama lain. Nabi Muhammad SAW dalam ayat ini diibaratkan sebagai kemunculan matahari dimana hakikat dan proyeksi seluruh Nama itu muncul dari ufuk individuasinya. Kemduian pada ayat keempat, berkenaan dengan pangkat atau tingkatan-tingkatan malaikat dan hakikat mereka secara umum. Malaikat-malaikat Allah memiliki jenis dan tipe-tipe yang berbeda. Malaikat memiliki tingkatan dan menempati pisisinya sesuai dengan tingkatannya. malakut gaib yang tersingkap segala urusan, baik duniawi atau catatan mereka dalam setahun atau sesaat. Dan pada ayat kelima, Malam Qadar diibaratkan sebagai al-Haqq, yakni Allah terhijab dari keesaanNya dan sifat-sifatNya. Sedangkan Rasulullah dan para Imam merupakan individuasi dan konstitusi dari wali sempurna dalam kehidupan dan pembawa petunjuk. Inilah beberapa penjelaskan yang dihadirkan oleh Imam Khomeini yang memang memiliki pengaruh yang luar biasa. Karenanya, makna-makna batiniah dalam setiap ayatnya akan mudah tercerap dalam setiap batin manusia mencernanya.

[1] Hasil Rekaman Mata Kuliah Studi Naskah Tafsir 3 oleh Dosen Dr. Umar Ibrahim di Kelas Tafsir 2011 pada 1 November 2014 pukul 08: 30 WIB.

[2] Imam Khomeini, Tafsir al-Fatihah, al-Ikhlash, dan al-Qadr: Perspektif Irfan, Jakarta: Nur al-Huda, 2014.

[3] Ibid, hal 153-154

[4] Hasil Rekaman Mata Kuliah Studi Naskah Tafsir 3 oleh Dosen Dr. Umar Ibrahim di Kelas Tafsir 2011 pada 1 November 2014 pukul 08: 30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s