Zakat dan Khumus dalam al-Qur’an

Zakat dalam Islam merupakan salah satu dalam rukun agama Islam. Ia merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim, apabila mereka telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan syara’. Al-Qur’an sudah merumuskan dalam konteks mengeluarkan zakat dari sebagian rezeki, memberikan hak-hak orang-orang yang meminta, orang miskin dan orang terlantar dalam perjalanan dan rumusan-rumusan lainnya. Memang al-Qur’an belum secara tegas mewajibkan kepada orang-orang beriman pada periode Mekah untuk mengeluarkan zakat, tetapi kepada mereka dianjurkan untuk mengeluarkan sebagian dari nikmat yang mereka terima untuk membantu fakir miskin. Karenanya, Islam menyeru manusia untuk menginfakkan sebagian harta mereka.

Terdapat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang zakat baik yang berkaitan dengan hukum zakat, fungsi-fungsi zakat, orang yang dinyatakan berhak menerima zakat, maupun harta benda yang wajib dizakati. Firman Allah tentang seruan zakat tercantum dalam QS. al-Baqarah ayat 43. Ini yang menjadi landasan bahwa zakat sebagai rukun Islam yang harus ditunaikan. Ayat lain yang mengungkapkan tentang orang-orang fakir yang mempunyai hak bagi harta benda orang-orang kaya seperti yang diungkapkan pada surat al-Dzariyaat ayat 19.

Selain hukum zakat, dalam Islam juga terdapat hukum khumus. Meskipun hukum khumus lebih khusus dikaji pada mazhab Imamiyah namun kajian ini dirasa perlu karena berkaitan pula dengan perbandingan terhadap pandangan kaum Ahlusunnah terhadap khumus. Khumus merupakan salah satu hukum Islam yang memiliki peranan penting dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Dasar yang sering kita dengar tentang hukum khumus adalah ketika membahas tentang pembagian ganimah (rampasan perang) sebagaimana tertera pada QS. al-Anfal ayat 41, dan akan diketahui lebih lanjut mengenai penjelasan tentang ganimah.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini lebih khusus difokuskan kepada pembahasan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan zakat dan khumus dengan tinjauan kajian tafsirnya pula. Adapun ayat-ayat yang akan dikupas mengenai zakat dan khumus antara lain; al-Baqarah ayat 43, at-Taubah 103 dan 60, adz-Dzariyaat ayat 19, al-Anfal ayat 41.

Menurut bahasa kata “zakat” adalah bentuk mashdar dari kata (زَكَاةٌ) yang berarti “berkat, tumbuh, bertambah, berkembang, bersih, baik. Persoalan zakat ada kaitannya dengan pengertian “bersih” dan “suci”, membersihkan dan menyucikan, karena kata zakat mengandung pengertian istilah yang ada kaitannya dengan persoalan membersihkan diri dan harta benda. Seseorang yang telah mengeluarkan zakat, berarti dia telah membersihkan diri, jiwa dan hartanya. Dia telah membersihkan jiwanya dari penyakit kikir dan membersihkan hartanya dari hak orang lain yang ada dalam hartanya itu. Orang yang berhak menerimanya pun akan bersih jiwanya dari penyakit dengki, iri hati terhadap orang yang mempunyai harta. Sedangkan menurut terminologi, zakat adalah kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan syarat tertentu.

Terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para pakar berkenaan dengan persoalan zakat ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zakat ialah nama bagi hak Allah SWT yang dikeluarkan untuk para fakir dan miskin. Dinamakan zakat, karena didalamnya terdapat harapan untuk memperoleh kesenangan/ketenangan, untuk membersihkan jiwa, dan menumbuhkan dengan berbagai kebaikan.

Zakat itu dbagi ke dalam dua bagian, yaitu zakat harta benda dan zakat badan. Ulama mazhab sepakat bahwa tidak sah mengeluarkan zakat kecuali dengan niat. Adapun syarat-syarat wajibnya, yakni:

  1. Berakal dan baligh, menurut madzhab Hanafi dan Imamiyah syarat ini diwajibkan dalam mengeluarkan zakat. Menurut Hanafi, berakal dan baligh tidak berlaku dalam zakat tanaman dan buah-buahan. Sedangkan Maliki, Syafi’i, Hambali, berakal dan baligh tidak menjadi syarat. Maka dari itu, harta orang gila dan harta anak-anak wajib dizakati, walinya harus mengeluarkannya.
  2. Zakat hanya diwajibkan pada muslim (Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Namun menurut Imamiyah dan Maliki, zakat jugadiwajibkan pada non-muslim.
  3. Zakat yang diberikan itu adalah milik penuh. Para ulama madzhab menyimpulkan milik penuh dalam arti orang yang mempunyai harta itu menguasai sepenuhnya terhadap harta bendanya, dan dapat mengeluarkannya dengan sekehendaknya. Maka harta yang hilang tidak wajib dizakati, juga harta yang dirampas dari pemiliknya, sekalipun tetap menjadi miliknya.
  4. Cukup satu tahun berdasarkan hitungan tahun qomariyyah untuk selain biji-bijian, buah-buahan dan barang-barang tambang.
  5. Sesuai dengan ketentuan wajib zakat (nisbah)

 

  1. Penjelasan ayat al-Qur’an tentang Zakat

Kata “zakah” dengan kata turunannya disebut 59 kali di dalam al-Qur’an. Penyebutan tersebut tersebar dalam berbagai surat dan ayat. Dilihat dari segi bentuk kata yang digunakan maka kata zakat dengan segala bentuk turunannya disebut 13 bentuk. Kata “zakah” yang merupakan bentuk mashdar disebut 32 kali, tersebar 19 surat.[1] Sementara, kata-kata “zakah” yang dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut semuanya diartikan sebagai zakat yang harus dikeluarkan untuk para orang-orang yang berhak menerimanya.

  1. Hukum Zakat

Perintah menunaikan zakat dapat dilihat pada QS. a-Baqarah ayat 43:

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qãèx.ö‘$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (al-Baqarah: 43)

Penjelasan ayat:

Penyebutan perintah shalat dan zakat secara berbarengan terdapat pada 82 tempat di dalam al-Qur’an. hal ini berarti bahwa hubungan dengan Allah dengan sesama manusia tidak boleh diabaikan, kedua ibadah shalat dan zakat adalah turut sebagai penentu arah kehidupan manusia, sesudah mengucap dua kalimat syahadat.[2]

Kewajiban menunaikan zakat mulai diperintahkan kepada kaum mukminin pada periode Madinah, yaitu pada bulan Syawal tahun kedua Hijrah, setelah diturunkan oleh Allah perintah untuk berpuasa dalam bulan ramadhan dan mengeluarkan zakat. Ini menandakan bahwa zakat disini adalah zakat harta, sedangkan zakat fitrah sebelumnya sudah lebih dahulu diperintahkan untuk dikeluarkan.[3]

Pada hukum zakat fitrah, menurut empat madzhab zakat fitrah diwajibkan kepada setiap orang Islam yang kuat, baik tua maupun muda. Maka bagi wali anak kecil dan orang gila wajib mengeluarkan hartanya serta memberikannya kepada orang fakir. Menurut Imamiyah, orang yang mampu adalah orang yang mempunyai belanja untuk satu tahun, untuk diri dan untuk keluarganya, baik memperolehnya dengan bekerja maupun dengan kekuatan, dengan syarat ia dapat mengembangkannya (menghasilkan buah) atau dengan perusahaan yang menjadi mata pencaharian.[4]

  1. Fungsi Zakat

Zakat pada hakikatnya adalah usaha dari masyarakat yang memiliki untuk mengangkat derajat dan tingkat kehidupan masyarakat yang tidak memiliki, seperti fakir miskin. Hal ini merupakan sebagai upaya sebagai perwujudan rasa, solidaritas sosial, ukhuwah, dan kesetiakawanan yang timbul berdasarkan keimanan dan ketakwaan dan sebagai perwujudan kepedulian terhadap para fakir miskin. Dengan demikian zakat dapat mengikis sifat-sifat kikir, kotoran-kotoran kebatilan, egois, tamak, dan rakus dalam jiwa seseorang, sebagaimana Allah berfirman:

õ‹è{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y‰|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.t“è?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgø‹n=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y™ öNçl°; 3 ª!$#ur ìì‹ÏJy™ íOŠÎ=tæ ÇÊÉÌÈ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. at-Taubah: 103)

 

Penjelasan ayat:

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya dan semua orang yang bertugas memimpin umat sesudah beliau untuk memungut zakat dari kekayaan mereka untuk membersihkan dan menyucikan diri mereka dari sifat kikir dan cinta mereka yang berlebihan terhadap harta mereka.

Para ahli tafsir, diantaranya al-Thabarsi menjelaskan bahwa min yang terdapat pada kata minamwalihim menunjukkan arti “sebagian”, dan ini berarti bahwa yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya hanyalah sebagian dari seluruh kekayaan yang dimiliki. Kata amwalihim menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya meliputi berbagai jenis harta kekayaan, dan kata him yang terdapat pada kata amwalihim itu menunjukkan pada “seluruh kaum muslimin”.[5]

 

  1. Mereka yang Berhak Menerima Zakat

* $yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym ÇÏÉÈ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (at-Taubah:60)

Penjelasan ayat:

Kata as-sadaqat adalah jamak dari kata sadaqah, dari sadaqayasduqusidqan, dari akar kata saddal ­– ­qaf artinya kekuatan pada sesuatu, baik perkataan atau lainnya. Sadaqah (sedekah) adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain dengan niat yang ikhlas. Disebut demikian karena dia membenarkan janji Allah yang akan membalasnya di Hari Akhirat. Istilah sedekah juga dapat berarti zakat, kata as-sadaqat yang disebutkan dalam surah at-Taubah ayat 60 adalah bermakna zakat atau sedekah wajibah.[6]

Ayat ini menyangkut tentang kelompok-kelompok yang berhak mendapat zakat. Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya zakat-zakat, bukan untuk mereka yng mencemoohkan itu, tetapi ia hanyalah diibagikan untuk anak-anak fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, yakni yang mengumpulkan zakat, mencari dan menetapkan siapa yang wajar menerima lalu membaginya, dan diberikan juga kepada para mu’allaf yakni orang-orang yang dibujuk hatinya serta untuk memerdekakan para hamba sahaya, dan orang-orang yang berhutang bukan dalam kedurhakaan kepada Allah, dan disalurkan juga pada sabilillah dan orang-orang yang kehabisan bekal yang sedang dalam perjalanan. Semua itu sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Mengetahui siapa yang wajar menerima dan Dia Maha Bijaksana dalam menerapkan ketentuan-ketentuan-Nya.

Para ulama mazhab sependapat bahwa golongan yang berhak menerima zakat termasuk juga zakat fitrah itu ada delapan yakni, orang miskin, orang fakir, orang-orang yang menjadi amil zakat, para mu’allaf, Riqab (orang yang memerdekakan budak), orang yang mempunyai hutang, orang yang berada dijalan Allah, dan Ibnu Sabil. Dan semuanya sudah disebutkan dalam Surat al-Taubah ayat 60 tersebut. Dalam berbagai ayat banyak ditemukan bahwa perintah menunaikan zakat selalu digandengkan dengan perintah mendirikan shalat. Jarang sekali, zakat disebut tanpa shalat. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kedua kewajiban ini. Dari sini Abdullah ibn Mas’ud berkata, “Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak membayar zakat berarti tidak ada arti shalatnya baginya. Semenatar Ibn Zaid berkata: “Shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak terpisah-pisah. Shalat tidak akan diterima tanpa zakat.[7] Untuk zakat fitrah, disunnahkan untuk diberikan kepada kerabat yang dekat dan yang sangat membutuhkannya, kemudian tetangga.

  1. Harta Benda yang Wajib Dizakati

Al-Qur’an al-Karim mengungkapkan tentang orang-orang fakir, bahwa mereka betul-betul suatu kelompok yang mempunyai hak bagi harta-harta benda orang-orang kaya, seperti yang diungkapkan surat al-Dzarriyat ayat 19:

þ’Îûur öNÎgÏ9ºuqøBr& A,ym È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãóspRùQ$#ur ÇÊÒÈ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (al-Dzarriyat: 19)

Penjelasan ayat:

Ayat ini tidak membedakan antara harta pertanian, pertukangan (pabrik atau buruh), dan perdagangan. Dari itu, ulama mazhab mewajibkan binatang ternak, biji-bijian, buah-buahan, uang dan barang tambang untuk dizakati.

Para ulama madzhab berbeda pendapat tentang definisi (ketentuan) bagian-bagian diatas, baik dari segi jumlah nishbah-nya antara satu dengan yang lain maupun pembagian dalam memberikan kepada fakir miskin. Imamiyah: mewajibkan satu perlima atau dua puluh persen dari laba dalam harta dagangan. Empat mazhab; mewajibkan dua setengah persen dari harta dagangan. Tetapi dalam harta tambang wajib seperlimanya (20 %) menurut Hanafi, Imamiyah, dan Hambali, sedang madzhab yang lain mewajibkan 2,5 %.[8]

Dalam zakat fitrah, para ulama mazhab sepakat bahwa jumlah yang diwajibkan dikeluarkan untuk setiap orang adalah satu sha’ (satu gantang), baik untuk gandum, kurma, anggur kering, beras, dan seterusnya yang menjadi kebiasaan makanan pokoknya, selain Hanafi. Menurut Hanafi, cukup setengah gantang saja untuk satu orang dan satu gantang diperkirakan tiga kilogram.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

[1] Hal. 191.

[2] Hasan M. Ali, Masa’il Fiqhiyah, Ed. Revisi. Cet. 4, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 4.

[3] Tim Penulis, Kajian Tematik al-Qur’an tentang Fiqih dan Ibadah, Ed. Azyumardi Azra, (Bandung: Penerbit Angkasa, 2008), hlm. 209.

[4] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali; Perj. Masykur A.B., Afif Muhammad, Idrus al-Kaff; Penyunting, Faisal Abudan, Umar Shahab, Cet. 27, (Jakarta Selatan: Lentera, 2011), hlm. 195.

[5] Syekh Abu Ali al-Fadl ibn al-Hasan al-Thabarsi, Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, 10 jilid, cetakan ke-1, Dar Iha al-Turas al-Arabi Bairut, 1986, hlm. 164 dalam Tim Penulis, Kajian Tematik al-Qur’an tentang Fiqih dan Ibadah, Ed. Azyumardi Azra, (Bandung: Penerbit Angkasa, 2008), hlm. 214.

[6] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 137.

[7] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali; Perj. Masykur A.B., Afif Muhammad, Idrus al-Kaff; Penyunting, Faisal Abudan, Umar Shahab, Cet. 27, (Jakarta Selatan: Lentera, 2011), hlm. 212.

[8] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali; Perj. Masykur A.B., Afif Muhammad, Idrus al-Kaff; Penyunting, Faisal Abudan, Umar Shahab, Cet. 27, (Jakarta Selatan: Lentera, 2011), hlm. 180

[9] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali; Perj. Masykur A.B., Afif Muhammad, Idrus al-Kaff; Penyunting, Faisal Abudan, Umar Shahab, Cet. 27, (Jakarta Selatan: Lentera, 2011), hlm. 198.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s