Wujud Rabith dan Mustakil

Adanya kelanjutan teori Tasyqiqul Wujud yang memunculkan adanya wahdah dan kasrah sebagaimana yang dicetuskan oleh Mulla Sadra, sehingga memunculkan pembagian wujud ke dalam mustaqil dan rabith. Pada pembagian ini, Mulla Sadra berupaya untuk menjelaskan adanya unitas dan pluralitas wujud yang disebabkan karena adanya ketidakpuasan pada klarifikasi kaum Paripatetik mengenai isu ini dalam karya-karya mereka. Pada pembahasan ini, Mulla Sadra akan menyelesaikan relasi antara unitas dan pluralitas yang berujung dan berkaitan pada relasi Tuhan dan makhluknya. Dari unitas dan pluralitas ini, ada yang sebagai sebab dan akibat sekaligus yang bergantung dan yang digantungi. Inilah yang menjadi sebab dan melibatkan munculnya wujud wujud mustaqil dan wujud rabith.

Makna wujud rabith adalah wujud aksidental yang realitas yang eksistensinya bergantung pada eksistensi lain/tidak mandiri. Sedangkan makna wujud mustakil yakni eksistensi yang mandiri/berdiri sendiri/independen sehingga tidak bergantung pada yang lain. Wujud mustakil merupakan sebagai realitas yang ada pada dirinya dan bagi dirinya. Dari kedua terma ini, terdapat dua ekspresi yang harus dipahami yakni mengenai kopula dan aksidental. Pertama, dalam proposisi logis terdapat 3 elemen, yakni subjek, kopula dan predikat. Contoh : Buku adalah Ilmu. Buku di sini adalah konsep nominal dan merupakan konsep non-kopulatif, dalam arti ia dapat dibayangkan secara mandiri dan dipahami tanpa perlu terikat dengan konsep “Ilmu”. Begitu pula dengan konsep “Ilmu”. Sementara “adalah” disini merupakan konsep verbal yang tidak bisa dipahami secara mandiri, pada konsepnya sendiri ia hanya dapat dipahami dalam konteks kalimat. Inilah yang disebut sebagai kopula.

Kedua, yang mana terma ini diterapkan pada objek-objek realitas eksternal yang keberadaannya bergantung pada realitas lain. Objek tersebut memang dependen, namun secara konseptual ia bermakna independen. Dikatakan independen, karena punya makna nominal yang dapat kita pahami tanpa harus menambahkan subjek dan predikat padanya. Contoh konsep-konsep aksidental ini diantaranya adalah konsep mengenai garis atau konsep warna (hijau, misalnya). Secara konseptual ia dapat dipahami secara independen, namun jika pada realitas eksternal, ia membutuhkan atribut bagi objek yang ia tempeli. Contoh: “Merah” memiliki makna mandiri, namun dalam realitas eksternal ia tidak dapat ditemukan kecuali dengan menempel pada objek lain agar dapat teralisasi, misalnya pada Bunga Mawar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s