Tasyqiqul Wujud menurut Mulla Sadra

Adanya gradualitas menjadikan sesuatu bergradasi yang memiliki asumsi kesatuan, ada perbedaan yang disatukan oleh satu hakikat. Sebagaimana Mulla Sadra yang menganggap bahwa eksistensi adalah realitas tunggal tetapi memiliki gradasi yang berbeda, seperti tangga, setiap tangga bambu, bila terpisah hanyalah sebongkah bambu, inilah adanya tasyqiq. Dalam teorinya tentang Tasyqiqul wujud ini, dengan mengutip entitas cahaya dari Suharawardi, Mulla Sadra menggambarkan bahwa eksistensi seperti cahaya yang satu tetapi berbeda dalam kualitas, seperti cahaya matahari, cahaya lampu, cahaya lilin, yang membedakannya hanyalah kualitas cahaya sedangkan cahayanya satu. Begitu pula yang terjadi pada eksistensi: ada eksistensi Tuhan, Malaikat, Semesta, manusia, binatang, dan sebagainya. Semuanya satu eksistensi dengan perbedaan kualitas. Gradasi ini hanya terjadi pada eksistensi dan tidak ada pada entitas. Dengan demikian, pendapat ini mengangkat konsep wahdatul wujud sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Arabi.

Dari konsep wahdatul wujud ini dapat dipahami bahwa dalam “kesatuan” terdapat “pluralitas (katsrah)” atau “sebaliknya” dalam keragaman terdapat “kesatuan”. Kesatuan dan pluralitas adalah dua yang berbeda akan tetapi tidak bisa dipisahkan. Ketika menekan pada kesatuan sedangkan tidak mengakui pluralitas, maka itu adalah omong kosong, demikian juga mengakui pluralitas dan tidak mengakui adanya kesatuan adakah pandangan yang persial dan sempit. Dengan demikian, jika wahdatul wujud harus dipahami dalam satu gradasi atau hirarki, maka di dalam wujud yang mempunyai kesatuan tersebut pada dasarnya ada hirarki dan tingkatan-tingkatan yang kemudian membentuk wujud secara keseluruhan. Hirarki atau gradasi ini menurut Sadra mulai dari tingkatan atau hirarki yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Dan masing-masing tingkatan yang lebih tinggi mencakup tingkatan yang lebih rendah darinya demikian seterusnya sehingga sampai kepada prinsip kesatuan secara mutlak.

Dalam ashalatul wujud, wujud didalamnya dilihat dari sisi kebadihian, univokasi, dan perbedaan konsep wujud dan mahiyah. Menurut Mulla Sadra bahwa yang fundamental secara ontologis adalah wujud dan bukan mahiyah. Wujud memiliki aksiden yakni mahiyah. Wujud-lah yang sebenarnya riil atau nyata, sedangkan kuiditas atau mahiyah adalah hasil dari abstraksi pikiran. Dengan demikian, wujud sebagai sesuatu yang ada secara hakiki. Akan tetapi wujud menurut Mulla Shadra harus dilihat sebagai satu kesatuan yang di dalamnya terdapat gradasi atau hirarki. Adanya hirarki memunculkan keberagaman, namun hirarki dan keragaman tersebut harus dilihat sebagai satu kesatuan yaitu sebagai Wujud Yang Universal.

Bagi Mulla sadra eksistensi adalah realitas tunggal tetapi memliki gradasi yang berbeda dengan mengutip entitas cahaya dari Suhrawardi, Mulla Sadra menggeambarkan bahwa eksistensi seperti cahaya yang satu tetapi berbeda dalam kualitas; ada cahaya matahari, ada cahaya lampu dan ada cahaya lilin, perbedaan ketiganya hanyalah pada kualitas cahaya sedangkan cahayanya satu, begitu pula yang terjadi pada eksistensi; ada eksistensi Tuhan, Malaikat, semesta, manusia, binatang, dsb. Semuanya satu eksistensi dengan berbeda kualitas. Gradasi ini hanya terjadi pada eksistensi dan tidak pada entitas. Tasykik wujud yang dikemukakan Mulla Sadra, meskipun berbeda namun telah memberikan penopang bagi konsep Wahdatul Wujud yang dikemukakan Ibn Arabi, karena pada prinsipnya bahwa eksistensi adalah satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s