Realitas Jiwa menurut Mulla Sadra

Pembahasan jiwa menjadi salah satu bagian mendasar sehingga perlu mengkajinya lebih mendalam secara filosofis. Oleh Filosof Mulla Sadra, Jiwa ini menjadi kajian tersendiri dengan uraian yang begitu luas argumentasi pembuktiannya baik dari sisi definisi, ragam, daya, gerak, substansi, dsb hingga pada unsur-unsur keilahian. Jiwa merupakan gambaran dari substansi yang secara zatnya nonmateri, tetapi terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Jiwa merupakan forma manusia yang muncul secara fisik dan abadi menjadi ruhani. Pembuktian jiwa yang dilontarkan oleh Mulla Sadra memberikan keyakinan bahwa manusia benar-benar diciptakan dengan sempurna dari penciptaan zat yang paling utama dan paling sempurna. Adana jiwa-lah yang memberikan elemen yang menggerakkan aktualisasi pada wujud ciptaan-Nya.

Bukti adanya substansialitas jiwa yakni adanya beragama efek seperti tumbuh, bergerak, dsb dari beragam makhluk baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan maupun manusia. Tentu hal ini tidak disebabkan oleh sesuatu diluar dirinya melainkan berasal dari diri makhluk, namun diri yang dimaksud bukanlah raga akan mengeluarkan efek eksternal. Karena itu, jiwa sebagai substansi bagi beragam efek. Mulla Sadra membuktikan substansialitas jiwa melalui ilmu hudhuri. Sebagaimana Mulla Sadra menjelaskan dalam mempersepsikan diri dimana persepsi terhadap diri adalah persepsi yang tidak pernah lepas dari diri seseorang, karena setiap orang pasti bisa mempersepsi dirinya, dan dia tidak membutuhkan ruang tertentu untuk mempersepsi dirinya itu. Dengan demikian Mulla Sadra membuktikan bahwa keberadaan jiwa tidaklah menempel pada sesuatu yang lain, melainkan pada dirinya.

Yang dimaksud Mulla Sadra dengan kebaruan jasmani dan keabadian jiwa adalah proses terjadinya jiwa yang bersifat baru dan berasal fisik atau materi, dan selanjutnya mengalami proses kesempurnaan melalui gerakan transubstansial dan kemudian menyempurna menjadi ruhani serta tetap abadi pada kondisi tersebut. Bagi Mulla Sadra, jiwa terjadi bersamaan dengan terjadinya fisik dan sama-sama berasal dari materi. Ketika materi pertama terbentuk, ada dua unsur utama yang membentuk materi tersebut, yaitu forma dan dasar materi. Perkembangan forma inilah yang kemudian teraktualisasi menjadi jiwa sedangkan materi dasar teraktualisasi menjadi raga. Dzat jiwa inilah yang dihasilkan pada dzat yang berdiri sendiri pada dzatnya sehingga ia tetap menempel pada diri manusia sebagai substansi yang transenden.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s