Mengenal Hikmah Muta’aliyyah

Diantara padanan-padanan Indonesia untuk Hikmah Muta’aliyyah adalah; Filsafat Transenden, Theosophia, Hikmah Agung, Theosophy Transenden, Metafilsafat, Filsafat Hikmah. Namun, padanan yang paling tepat menurut saya adalah Theosophy Transenden, karena menunjukkan kebijaksanaan Ketuhanan yang benar-benar tinggi atau transenden. Telah kita ketahui bahwa kata Hikmah sendiri dalam pengertian menurut Mulla Sadra menunjukkan ilmu atau kebijaksanaan tentang ketuhanan. Dengan demikian jika ditambahkan dengan kata ‘muta’aliyyah maka lebih tepatnya diartikan dengan ‘transenden’, sehingga Hikmah Muta’aliyyah sepadan dengan padanan kata Thesophy Transenden.

‘Muta’aliyyah’ sendiri sebagai kata sifat dari ‘Hikmah’ yang memiliki arti ‘tinggi’ atau ‘transenden’. Kata “مُتَعَليَّة” berasal dari kata ”عالى“ yang artinya ‘tinggi’. ‘Hikmah’ sendiri memiliki arti ‘kebijaksanaan’ atau ‘falsafah’. Kita sendiri tahu bahwa hikmah sudah memiliki arti suatu ilmu yang sangat tinggi dan dicari-cari. Namun, jika disandingkan dengan dengan kata ‘muta’aliyyah’, maka menjadi suatu hikmah yang sangat-sangat tinggi mencapai ‘ketransendenan’. Al-Hikmah al-Muta’aliyat fi al-asfar al-aqliyat al-arba’at (Kearifan Puncak dalam Empat Tahap Perjalanan Akal) merupakan Magnum Opusnya Mulla Sadra. Dalam karya ini terangkum Hikmah Gnostik, Ontologi, Ketuhanan, Psikologi, Eskatologi, Telelologi, Epistemologi dan juga merupakan rangkuman dari berbagai aliran pemikiran baik itu Paripatetik, Iluminasi, Gnostik, Ayat-ayat al-Qur’an, Hadits Nabi dan Ucapan Ali bin Abi Thalib kesemuanya terangkum di dalamnya dalam upaya mewujudkan satu bangunan baru filsafat.

‘Hikmah Muta’aliyyah’ dalam filsafat Mulla Shadra berupaya memperoleh kebijaksanaan melalui ketransendenan yakni pencerahan rohani dengan disajikan secara rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional atau sebaliknya pengetahuan-pengetahuan rasional ditransendensikan agar bisa mencapai pencerahan spiritual. Dalam karya ini memiliki istilah safar yang berarti perjalanan atau petualangan rohaniah. Sebagaimana judulnya perjalanan ini terdapat empat jenis, yakni:

  1. Perjalanan dari dunia ciptaan (al-khalq), yakni dunia kasat mata, menuju dunia pencipta, dunia kebenaran sejati (al-Haqq). Perjalanan ini ditempuh dengan cara melakukan “observasi empirik” terhadap fenomena natural. Melalui observasi terhadap dunia natural yang serba beragam, akal sampai kepada sesuatu yang mempersatukan keragaman itu.
  2. Perjalanan dalam kebenaran yang sejati (al-Haqq) melalui pengetahuan yang sejati. Inilah fase transendensi: tahap melampaui keragaman alam natural, dan tenggelam dalam Ketunggalan Mutlak yang tak mengenai kepelbagaian aksidental (‘aradl).
  3. Perjalanan dari Yang Maha Sejati menuju kepada dunia ciptaan, melalaui pengetahuan sejati yang diperoleh pada tahap kedua di atas. Inilah adalah empirisme kedua yang sudah mengalami transformasi radikal. Sebab, keragaman dilihat bukan sebagai keragaman pada dirinya sendiri, tetapi sebagai manifestasi dari Ketunggalan Mutlak.
  4. Perjalanan bersama dengan Yang Maha Sejati dalam dunia ciptaan. Perbedaan antara tahap keempat dan ketiga ialah: pada tahap ke-3, yang kita jumpai adalah perjalanan menuju (ila) kepada dunia ciptaan, sementara pada tahap keempat, kita berjumpa dengan perjalanan di dalam (fi) dunia ciptaan itu sendiri. Dengan kata lain, pada tahap keempat inilah terdapat puncak petualangan, di mana akal tenggelam di dalam alam ciptaan, tetapi memandangnya dengan ilmu sejati (al-Haqq). Akal menjadi bagian dari dunia, tetapi juga sekaligus berjarak dari dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s