TAFSIR SYI’AH KURUN KETUJUH SAMPAI KESEMBILAN HIJRIAH

Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada manusia sebagai anugerah untuk dijadikan sebagai pedoman dalam hidupnya. Al-Qur’an senantiasa mengiringi dan mengajak manusia agar beribadah hanya kepada-Nya. Dengan keindahan ayat yang penuh dengan segala rahasia-rahasia-Nya menuntut manusia untuk berusaha menyelami ayat-ayat al-Qur’an sehingga dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan besar manusia untuk mendalami makna al-Qur’an, membuat penafsiran al-Qur’an mulai muncul disetiap abadnya. Munculnya banyak para tokoh mufassir di setiap zaman dengan berbagai karya kitabnya, tentu memberikan metode penafsiran dan corak yang berbeda-beda.

Penafsiran al-Qur’an dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW dimana beliaulah sebagai penerima wahyu sekaligus mufassir pertama yang memahami wahyu ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan. Kemudian penafsiran al-Qur’an juga berlanjut pada masa setelahnya yakni masa Sahabat, Tabi’in, abad ketiga sampai kelimabelas, hingga masa kontemporer sekalipun. Penafsiran pada setiap abadnya tentu memberikan kontribusi yang penuh terhadap penafsiran selanjutnya dan inilah menjadi kajian yang sangat penting untuk mengenal perkembangan tafsir masa lalu sebagai langkah untuk menghasilkan penafsiran al-Qur’an yang berkembang abad ini.

Beragamnya penafsiran al-Qur’an dengan metode dan warna corak yang berbeda-beda di setiap abadnya, disebabkan oleh kondisi kebutuhan yang terjadi pada suatu zaman juga dilihat dari latar belakang sang mufassir dari pendidikan maupun madzhab yang diyakininya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengkaji tafsir-tafsir di kalangan Syiah secara khusus pada kurun keenam sampai kesembilan. Tentu, tafsir-tafsir pada abad ini memiliki karakter yang khas dibanding tafsir-tafsir abad-abad sebelumnya juga akan berpengaruh bagi abad selanjutnya. Pada abad ini adalah masa-masa naiknya khilafah Abbasiyyah dalam pemerintahan, tentu keadaan ini berpengaruh bagi perkembangan tafsir pada kurun abad tersebut.

Pada abad keenam sampai kesembilan, kalangan orang Syi’ah tak begitu banyak menuliskan tafsir. Hal ini disebabkan karena keadaan politik yang kacau balau dan situasi tidak aman bagi mereka. Salah satunya karena naiknya khilafah Abbasiyah dalam pemerintahan. Namun demikian, ada beberapa kitab tafsir yang muncul pada abad ini dengan metode dan corak khusus pada penafsirannya.

  1. Kitab Tafsir dan Mufassir Syi’ah pada kurun Abad ke-6 sampai ke-9 H

Diantara kitab tafsir syi’ah kurun ketujuh sampai kesembilan, seperti:[1]

  1. البلابل القلاقل

Kitab ini muncul pada abad ketujuh oleh Abu Makarim Mahmud bin Muhammad Hasani Waidzun. Tidak diketahui pasti tahun wafatnya, hanya tercantum bahwa beliau wafat pada abad ke-7 H. Kitab tafsir ini berbahasa Arab, berjumlah tiga jilid. Adapun cara penafsirannya banyak menggunakan riwayat-riwayat dan bercorak kalami.

  1. المحيط الأعظم

Kitab ini muncul pada abad kedelapan oleh Sayyid Haidar Alawi Amuli. Beliau wafat pada 787 H. Beliau adalah seorang sufi dari kalangan Syi’ah dan juga seorang filosof. Beliau hidup diawal masa teosofi Persia dan sebagai salah satu komentator unggul pada pemikiran filsafat dan tasawuf Ibn Arabi. Haidar Amuli termasuk pada keturunan Hussaini Sayyid dari kota Amol di Mazandaran yang terletak di sebelah utara Iran, perbatasan Laut Kaspia. Penduduk kota Amol ini dikenal sebagai penduduk yang mayoritas sebagai Syi’ah Muslim. Di masa mudanya, beliau mulai mempelajari kepada Imam Syi’ah dan mengikuti sekolah fiqih madzhab dimana ia berbakti setia paada Sufi, hingga sampai pada umur 30 tahun.

Awalnya, Haidar Amuli belajar di kota Amul, kemudian ia pindah ke Astabarad yang terletak di dekat Mazandaran, setelah itu ke Isfahan yang terletak di pusat kota Iran. Sekitar umur dua puluhan, Sayyid Haidar Amuli kembali ke Amul dan menjadi orang yang dipercaya sebagai wakil dan dewan di masa Bavandid Hasan II di Tabaristan. Amuli juga menulis karyanya “Inner Secrets of the Path” di masa itu. Karya-karya yang lain seperti; Asrār al-šarīʿa wa aṭwār al-ṭarīqa wa anwār al-ḥaqīqa, Jāmeʿ al-asrār wa manbaʿ al-anwār, al-Masāʾel al-āmolīya, Resālat al-woǰūd fī maʿrefat al-maʿbūd, al-Moḥīṭ al-aʿẓam. Kitab al-Moḥīṭ al-aʿẓam berjumlah 2 jilid, namun dalam versi lain penulis menemukan ternyata terdapat 7 volume. Kitab ini kitab tafsir maudhu’i dengan menggunakan bahasa Arab

  1. جلائ الأحزان

Kitab ini ditulis oleh Abdul Muhasin Husain bin Hasan Jarjani (wafat di abad ke-8). Beliau hidup di tahun 722 H sebagai seorang ulama imamiyyah, mutakallim, muhaddits, dan Mufassir yang sangat terkenal. Berjumlah menulis kitab tafsir ini sebanyak 10 jilid. Adapun kitab tafsir ini, beliau banyak menjelaskan ayat-ayat batin atau ayat-ayat ilahi menggunakan bahasa Farsi. Cara penafsirannya dengan ijtihadi namun tetap bersandar pada riwayat Ahlul Bait as. Corak penafsirannya menggunakan corak kalami dan adabi.[2]

  1. نهج البيان عن كشف معانى القران

Tafsir ini berjumlah 5 jilid dengan menggunakan bahasa Arab.Kitab Nahjul Bayan ditulis oleh Muhammad bin Hasan Syibani. Beliau seorang Bapak Hukum International Muslim dan beliau adalah penganut Abu Hanifah. Muhammad bin Hasan lahir di Irak pada tahun 750 H, kemudian beliau pindah ke Kufa, sebuah tempat kelahiran Abu Hanifah, dan beliau pun hidup disana. Syaybani memulai belajar di Kufa sebagai murid Abu Hanifah. Kebersamaan Syaybani terhadap Abu Hanifah hanya selama dua tahun. Syaybani banyak menciptakan karya tentang hukum-hukum Islam.

Adapun pada abad ke 9, disebutkan bahwa yang menjadi prioritas pada abad ini adalah bercorak fikih. Keunikannya di abad ini adalah ilmu fikih diketahui sebagai ilmu yang berharga. Buku-buku irfan ditulis, seperti tafsir Syoh Nikmatullah Wali Karemoni (w. 834 H). Diantara kitab-kitab yang muncul pada abad ke-9 ini diantaranya seperti:

  1. An-Nihayah fi Tafsir Khomsu miah Ayah dari Ahmad bin Abdullah bin Said Mutuj, terkenal dengan nama Ibn Mutuj (w. 800 H).
  2. 2. Kanz al-Irfan fi Fiqh al-Qur’an oleh Miqdad bin Abdullah bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad al-Suri atau Jamal al- Din Miqdad bin Abdullah (w.826 H). Beliau merupakan salah satu ulama’ Imamiah Atsna Asy’ariyah. Dalam tafsirnya Kanz al-Irfan fi Fiqh al-Qur’an beliau menafsirkan ayat-ayat ahkam saja sehingga ia tidak menafsirkannya dari setiap surah dalam tartib mushaf. [3]
  3. Kamaludin Hasan bin Muli Syamsudin Muhammad bin Hasan Ustur Obodi (w. 891 H). beliau menulis kitab الاحکام معارج السوءول
  4. Tafsir آیات الاحکام oleh Abu Nashir Syeikh Ahmad bin Abdullah bin Hasan Mutawij Baharoni (w. 820 H) dan kitab Nasikh wa Mansukh min al-Quran juga dinukil darinya.
  5. تفسیر دیلمی oleh Abu Fadhl Dilmi (w. 800 H). Setelah beliau menyebutkan beberapa ayat, lalu beliau menafsir dan mentawilkannya. Beliau menulis tafsir untuk mempertahankan mazhab Ahlul Bait dan menjelaskan keutamaan-keutamaan beliau as.

 

 

  1. Tinjauan Metode Penafsiran Abad 6-9 H
  2. Metode penafsiran kitab Nahj Bayan
  • al-Isra’: 78 (Hal 245 jilid 3)

قوله- تعالى-: أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلى‏ غَسَقِ اللَّيْلِ وَ قُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كانَ مَشْهُوداً (78(

قال ابن عبّاس- رحمه اللّه- و ابن مسعود: «الدّلوك» الغروب و قال الحسن و مجاهد و قتادة: «الدّلوك» الزّوال. و روي ذلك عن أبي جعفر و أبي عبد اللّه- عليهما السّلام- .

………….

قوله- تعالى-: «إنّ قرآن الفجر كان مشهودا» أي: صلاة الفجر في أوّل وقتها تشهدها ملائكته اللّيل و ملائكته النّهار، فيكتب القبيلان له ثوابها من اللّه- تعالى. جاء ذلك في أخبارنا عن أئمّتنا- عليهم السّلام- ………………….

و قوّوا استدلالهم على وجوب المبادرة إلى الصّلاة الحاضرة في أوّل وقتها بقوله : حافِظُوا عَلَى الصَّلَواتِ وَ الصَّلاةِ الْوُسْطى‏

  • al-Nur: 35 (hal 44, jilid 4)

 

قوله- تعالى-: اللَّهُ نُورُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ أي: منوّرهما و مدبّرهما.عن ابن عبّاس [- رحمه اللّه-] ».و قال الزّجّاج: مدبّرهما بحكم بالغة ».قوله- تعالى-: مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكاةٍ أي: ككوة غير نافذة، بلغة الحبش. عن الكلبيّ قوله- تعالى-: فِيها مِصْباحٌ الْمِصْباحُ فِي زُجاجَةٍ الزُّجاجَةُ يعني: الّتي فيها النّور.كَأَنَّها كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ:من قرأ بضمّ «الدّال» نسبه إلى الدّرّ. و من قرأ بكسر «الدّال» أراد: أنّه مضي‏ء و قيل: «الكوكب» هاهنا، هو الزّهرة

…………………..

قوله- تعالى-: «يوقد من شجرة مباركة» يريد- سبحانه- بالشّجرة هاهنا:إبراهيم- عليه السّلام-. لأنّه من ذريته، و على دينه و منهاجه.قوله- تعالى-: «لا شرقيّة و لا غربيّة» أي: لا يهودّية تصلّي إلى المغرب،و لا نصرانيّة تصلّي إلى المشرق. بل كان حنيفا مسلما يصلّي إلى الكعبة و يحجّ إليها، على ملّة جدّه إبراهيم- عليه السّلام-.

قوله- تعالى-: «نور على نور» أي: نور نبيّ مرسل يعني: إسماعيل- عليه السّلام- من نبيّ مرسل، و هو إبراهيم- عليه السّلام-. و إبراهيم من نوح- عليه السّلام-. و نوح من آدم- عليه السّلام-

 

Uraian:

Pada penafsiran surah al-Isra ayat 78 dalam tafsir Nahjul Bayan tertera diatas bahwa banyak menggunakan riwayat-riwayat dalam menjelaskan makna ayat seperti riwayat dari Ibn Abbas, al-Hasan, Mujahid, Qatadah, Abu Ja’far bin Abdullah dan banyak ditemukan riwayat-riwayat terutama dari kalangan Ahl Bait lainnya. Penjelasan ayatnya cenderung singkat dan tidak terlalu menguraikannya secara panjang lebar. Karakter sufinya terlihat pada penjelasan pada kalimat “Pada awal waktu (fajr) kita akan menyaksikan malaikat malam dan malaikat siang dan pada keduanya terdapat banyak ganjaran pahala didalamnya”.

Selain itu, kita juga dapat lihat pada penafsiran surah al-Nur ayat 35, bagaimana ciri penafsiran Muhammad bin Hasan Syibani ini begitu mencolok karakternya dengan corak sufistik meskipun dengan penjelasan yang tidak begitu luas. Dalam penafsirannya ketika menjelaskan “Allah adalah cahaya langit dan bumi” diartikan bahwa “Allah penerang dan pengatur langit dan bumi”.

Jika kita telisik pada riwayat-riwayat yang digunakan dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, riwayat-riwayat banyak dari kalangan Ahl Bait meskipun tidak menjelaskan sanadnya secara lengkap. Penjelasan dalam riwayatnya pun terdapat unsur israiliyyat tertera pada kalimat “قوله- تعالى-: «لا شرقيّة و لا غربيّة» أي: لا يهودّية تصلّي إلى المغربbahwa kaum Yahudi tidak sholat menghadap ke arah kiblat waktu itu. Sehingga dapat dikatakan pada penafsiran kurun abad ini masih banyak terpengaruh dengan kepercayaan agama samawi lainnya. Selain riwayat-riwayat sahabat dan Ahl Bait, dalam penafsirannya juga terdapat munasabah antar ayat meskipun tidak banyak digunakan, seperti dalam QS. al-Isra ayat 78 tersebut yang menjelaskannya dengan surah al-Baqarah ayat 238: حَافِظُوْا عَلى الصَّلاةِ وَ الصَّلاةِ الوُسْطَى.

Dengan demikian, secara umum ciri-ciri penafsiran Nahjul Bayan, yakni:

  1. Menggunakan metode penafsiran bil ma’tsur. Riwayat-riwayat yang digunakan adalah riwayat-riwayat dari Ahl Bait dan beberapa riwayat Sahabat.
  2. Menggunakan metode tahlili, yakni penafsiran dengan kata per-kata dengan penafsiran secara sederhana (singkat).
  3. Bercorak sufi
  4. Tartibi mushafi.

 

  1. Metode penafsiran kitab “al-Muhith al-A’dhom” (hal. 18 jilid 3)

 

Uraian:

Metode penafsiran dalam tafsir al-Muhith al-a’dhom menggunakan metode maudhu’i. Penafsir menghadirkan tema-tema sufistik dengan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan suatu tema. Tema-tema yang dihadirkan dalam tafsir ini ialah seperti tentang perjalanan spiritual manusia, manusia sempurna, kenabian, tauhid dll. Penjelasan ayatnya pun tidak begitu terurai secara luas, hanya bersifat global tertuju pada penjelasan tema tersebut. Dalam tafsir ini selain disertai dengan uraian penjelasan ayat terhadap suatu tema, juga disertai dengan riwayat-riwayat yang mendukung terutama dari hadits-hadits Nabi.

Namun, dari penelitian penulis, hadits-hadits yang diambil dari tafsir tidak disertai dengan sanad yang lengkap. Seperti yang kita lihat pada pembahasan tema tentang maqam fana’ diatas bahwa pengetahuan tentang hakikat dan penyaksian dzat yang muthlaq tidak mungkin dicapai kecuali dengan cahaya-Nya yang hakiki sebagaimana perkataan Nabi SAW: “Kamu mengenal Tuhan dengan perantara Tuhan dan melihat Tuhan dengan perantara Tuhan”. Hadits Nabi ini sebagai penjelasan berkenaan dengan tema yang sesuai meskipun tanpa disertai dengan sanad yang lengkap. Inilah kelemahan dari tasfir ini yakni pembaca tidak bisa secara langsung memastikan keshahihan hadits yang digunakan dalam penafsirannya. Selain dari riwayat hadits Nabi, juga terdapat riwayat-riwayat dari para Imam, mungkin Imam yang dimaksud disini Imam Ahl Bait karena penafsir sendiri tidak mencantumkam nama Imam yang meriwayatkan, seperti kita lihat pada tema tentang “Arti Timur dan Barat secara Maknawi dan Shuri” diatas.

Dengan demikian, secara umum dari ciri-ciri penafsiran “al-Muhith al-A’dham”, ialah:

  1. Dengan metode tafsir maudhu’i. ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dikumpulkan dalam satu judul pembahasan tasawuf atau irfan.
  2. Bercorak sufi. Tema-tema yang digunakan banyak mengenai pembahasan tasawuf atau irfan.
  3. Menggunakan riwayat-riwayat Ahl Bait.

 

  1. Metode Penafsiran kitab Kanz Irfan fi Fiqh al-Qur’an
  • Contoh penafsiran dari QS. al-Baqarah ayat 183 (hal 200 jilid 1)

و هنا آيات:

الاولى يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ «1».

كتب أي فرض عليكم و الّذين من قبلنا هم الأنبياء و أممهم من لدن آدم عليه السّلام إلى عهدنا «لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ» أي تتّقون المعاصي فإنّ الصوم يكسر الشهوة كما جاء في الحديث عنه صلّى اللّه عليه و آله «من لم يستطع الباه فليصم فإنّ الصوم له و جاء» أو لعلّكم تنتظمون في زمرة المتّقين فانّ الصوم شعارهم و هنا فوائد:

في قوله «يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا» تنبيه على عدم الوجوب على الصبيّ و المجنون و المغمى عليه إذ الإيمان هو التصديق و الإذعان بعد تصوّر الأطراف و ذلك لا يحصل إلّا من عاقل.

حيث إنّ الصوم تشبّه بالملائكة و حسم لمادّة الشيطان و كسر للقوّة الشهوية الحيوانيّة و نصر للقوّة العاقلة الملكيّة كتب علينا كما كتب على الّذين من قبلنا من الأنبياء و الأمم الماضين.

قيل إنّ النصارى كتب عليهم شهر رمضان فأصابهم موتان فزادوا عشرا قبله و عشرا بعده فصار صومهم خمسين يوما و قيل كان وقوعه في الحرّ الشديد أو البرد الشديد فشقّ عليهم في أسفارهم و معايشهم فحوّلوه إلى الربيع و زادوا فيه عشرين يوما كفّارة للتحويل و عن الباقر عليه السّلام «إنّ شهر رمضان كان واجبا على كلّ نبيّ دون أمّته و إنّما وجب على امّة محمّد صلّى اللّه عليه و آله محبّة لهم»……..

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلى‏ نِسائِكُمْ هُنَّ لِباسٌ لَكُمْ وَ أَنْتُمْ لِباسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتابَ عَلَيْكُمْ وَ عَفا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَ ابْتَغُوا ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَ كُلُوا وَ اشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيامَ إِلَى اللَّيْلِ وَ لا تُبَاشِرُوهُنَّ وَ أَنْتُمْ عاكِفُونَ فِي الْمَساجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آياتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ «البقرة: ۱۸۷».

قرئ شاذّا أحلّ على البناء للفاعل و نصب الرفث و القراءة الصحيحة أحلّ على البناء للمفعول و رفع الرفث فقيل هو الفحش من القول عند الجماع و الأصحّ أنّه الجماع لقوله تعالى فَلا رَفَثَ وَ لا فُسُوقَ وَ لا جِدالَ فِي الْحَجِّ «البقرة: ۱۹۷» و هو المراد هنا و عدّاه بإلى لأنّه ضمّنه معنى الإفضاء و تسمية كلّ من الزوجين لباسا استعارة لما بينهما من الشبه فإنّ اللباس ما يواري البدن و العورة و كلّ من الزوجين يواري بدنه و عورته بصاحبه عند غيره فإنّه لولاه لانكشف عورته عند غيره.

 

Surah al-Maidah ayat 6 (hal. 6 jilid 1)

و أمّا الآيات،

فالأولى يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُؤُسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا وَ إِنْ كُنْتُمْ مَرْضى‏ أَوْ عَلى‏ سَفَرٍ أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ فَلَمْ تَجِدُوا ماءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْدِيكُمْ مِنْهُ ما يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَ لكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ «2».

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ»: الأمر حقيقة في الوجوب على قول الأكثر و تحقيقه في الأصول أي أمرّوا الماء على وجوهكم، و فيه دلالة على عدم جواز التولية بل المباشرة. و لا حاجة إلى الدلك خلافا لمالك و الوجه اسم لما يقع به المواجهة فلا يجب تخليل الشّعور الكثيفة عليه بخلاف الخفيفة فإنّ المواجهة تقع بما تحتها.وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ» قيل: إلى بمعنى مع كما في «مَنْ أَنْصارِي إِلَى اللَّهِ» فيدخل المرفق ضرورة و قيل: إلى على حقيقتها و هو انتهاء الغاية، فقيل بدخول المرفق أيضا لأنّه لمّا لم يتميّز الغاية عن ذي الغاية بمحسوس وجب دخولها و الحقّ أنّها للغاية و لا يقتضي دخول ما بعدها فيما قبلها و لا خروجه لوروده معهما أمّا الدّخول فكقولك: حفظت القرآن من أوّله إلى آخره و منه سُبْحانَ الَّذِي أَسْرى‏ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى …….

Uraian:

Metode penafsiran dari kitab “Kanz Irfan” ini memiliki karakteristik yang berbeda dari penafsiran abad sebelumnya. Penafsiran pada setiap ayatnya cenderung lebih luas dengan menggunakan tartib mushafi. Meskipun menafsirkan ayat secara tartib mushafi, tetapi tidak ditafsirkan ayatnya secara menyeluruh dari surah al-Fatihah sampai an-Nas, melainkan penafsir hanya menafsirkan ayat-ayat ahkam yakni ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum Islam saja. Inilah yang menjadi karakteristik pada kitab pada abad ke-9 ini yang lebih kepada corak fiqhi.

Dalam penafsirannya banyak menggunakan riwayat-riwayat Ahl Bait seperti kita lihat pada penafsiran di atas pada surah al-Baqarah ayat 18 mengenai puasa ramadhan dimana Imam Baqir mengatakan bahwa “Puasa di Bulan Ramadhan adalah wajib bagi seluruh nabi dan umatnya terutama wajjib bagi umat Nabi Muhammad SAW”. Selain itu, metode penafsiran dalam kitab tafsir ini juga dengan penafsiran kata per-kata dalam mengungkapkan maksud ayat. Seperti kita lihat pada penafsiran QS. al-Baqarah ayat 183 yang berbicara mengenai puasa bahwa kata “كتب” yang dimaksud adalah فرض”” yakni diwajibkan berpuasa bagi orang-orang sebelum para nabi dan umatnya sejak Nabi Adam as. Kemudian kata “لعّلكم تتّقون” berarti mencegah dari segala maksiat maka sesungguhnya puasa dapat mencegah nafsu syahwat, kemudian dijelaskan dengan riwayat hadits Nabi SAW dan riwayat Imam Ahl Bait.

Adapun mengenai munasabah ayat dalam tafsir kitab ini tidak terlalu ditekankan. Penafsir hanya fokus pada penjelasan kata per kata dari sebuah ayat ahkam yang dibantu dengan penjelasan dari riwayat-riwayat Nabi dan Ahl Bait. Sama seperti kitab sebelumnya bahwa riwayat-riwayat yang digunakan tidak dicantumkan sanadnya secara lengkap. Terdapat pula munasabah ayat yakni hubungan antar ayat al-Qur’an seperti yang kita lihat pada penafsiran QS. al-Baqarah 187 diatas yang ditafsirkan dengan tambahan penjelasan QS. al-Baqarah ayat 197, karena kedua ayat ini berhubungan mengenai “menggauli istri”.

Kemudian corak sufi juga terlihat dapa penafsiran kitab ini. Kita lihat pada penafsiran QS. al-Maidah ayat 6 dimana ayat ini diuraikan secara sufistik. Seperti kata “وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرافِقِ” di umpamakan dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Dengan demikian, secara umum ciri-ciri penafsiran pada kitab Kanz Irfan, yakni:

  1. Tartib mushafi, namun hanya menafsirkan ayat-ayat ahkam.
  2. Penafsiran ayat-ayat ahkam disertai dengan corak sufi.
  3. Penafsiran disertai dengan riwayat-riwayat Ahl Bait.
  4. Terdapat munasabah ayat al-Qur’an

[Hikmah]

[1] Husein Alawi Mehr, Osyenoyi bo torikh tafsir wa mufasiron, cetakan ke empat, (Qum : Markaz baina milal tarjumeh wa nasyre al-Musthafa, 1431 H), Hal. 283.

[2] http://www.maarefquran.org

[3]Muhammad Husain Ad-Dzahabi, Al-Tafsir wal Mufassirun, (Kairo: Dar al-Hadith, 2005), hal. 408.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s