RUMUSAN ILMU HUSHULI DAN ILMU HUDHURI MULLA SADRA

Oleh: Hikmah KK

Dalam kajian epistemologi filsafat Mulla Sadra, terdapat pembahasan mengenai ilmu hushuli dan ilmu hudhuri. Dua pembahasan dalam teori pengetahuan ini merupakan suatu yang sangat fundamental dalam filsafat Sadrian. Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli merupakan klasifikasi pengetahuan berdasarkan ada tidaknya perantara yang memisahkan subjek yang mengetahui dari objek yang diketahui. Ilmu Hushuli adalah pengetahuan yang hadir melalui perantara, sedangkan Ilmu Hudhuri adalah pengetahuan yang hadir tanpa melalui perantara. Pengetahuan yang tergolong pada Ilmu Hudhuri seperti pengetahuan seseorang tentang keberadaan dirinya, perasaannya dan pikirannya, sedangkan pengetahuan yang tergolong Ilmu Hushuli seperti pengetahuan seseorang tentang wujud eksternal di luar dirinya baik lewat indera, inferensi/kesimpulan logis, ataupun informasi dari pihak lain. Ilmu Hushuli menurut Mulla Sadra adalah pengetahuan yang didapat berdasarkan proses korespondensi atau konsepsi yang terjadi antara subjek internal dengan objek eksternal, sehingga keduanya merupakan eksistensi independen yang berbeda satu sama lain. Sementara ilmu Hudhuri diperoleh secara langsung dari Tuhan tanpa adanya pemisahan dua objek internal dan eksternal, sehingga ia terbebas dari dualisme kebenaran dan kesalahan.[1]

Ilmu hushuli bisa dibagi ke dalam dua jenis: 1. Tashowwur (konsepsi); 2. Tashdiq (asensi). Tashawwur dan tashdiq keduanya sama-sama pengetahuan. Namun yang membedakannya, tashawwur merupakan pengetahuan yang tidak berpenilaian, sedangkan tashdiq merupakan pengetahuan yang berpenilaian. Dengan kata lain, yang membedakan keduanya adalah adanya penghukuman/keputusan (hukm) terhadap konsep yang hadir di benak itu. Oleh karena itu, tashdiq adalah pengetahuan yang disertai penghukuman, sedangkan tashawwur tidak. Contoh: Mirdamad adalah guru Mulla Sadra. Hadirnya makna kalimat tersebut di benak saja disebut tashawwur. Sedangkan jika makna kalimat tersebut hadir di benak disertai dengan keputusan kita bahwa makna yang terkomposisi dalam terma subjek dan predikat itu sesuai, maka itu disebut tashdiq.

Dalam komposisi terma hubungan antara subjek dengan predikat, bahwa predikat memberi ketetapan pada subjek. Dalam proposisi terdapat komposisi terma subjek, predikat, dan relasi sebagai penghubung antara terma subjek dan predikat. Predikat bersifat menetapkan terlepas apakah predikat benar-benar terdapat pada subjek ataupun tidak. Dengan demikian, untuk memastikan benar ataupun salahnya dalam proposisi, butuh proses penghukuman/penilaian. Jika telah disertai dengan penghukuman/penilaian, sebagaimana telah disebut dimuka, maka disebut tashdiq.

[1] http://e-journal.stainkudus.ac.id

2 thoughts on “RUMUSAN ILMU HUSHULI DAN ILMU HUDHURI MULLA SADRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s