Predikasi dan Ta’rif

PREDIKASI

By: Hikmah KK

Predikasi (predikat) atau “predicate” dalam ilmu mantiq dapat disebut dengan ‘Mahmul’ atau ‘Hamlun’. Mahmul (predikat) termasuk kedalam pembagian qadhiyyah atau proposisi. Untuk mengetahui definisi dari predikat, ada baiknya kita telisik terlebih dahulu pengertian qadhiyyah itu sendiri dimana dari qadhiyyah memunculkan pembagian ‘predikat’ itu sendiri. Qadhiyyah dalam ilmu mantik adalah jumlah (mufidah) dalam Ilmu Nahwu. Qadhiyyah adalah rangkaian kata-kata yang mengandung pengertian atau pernyataan sempurna yang isinya mengandung kemungkinan benar dan salah atau dapat dikatakan juga kalimat berita yang sempurna.

Dalam pembagiannya, qadhiyyah memiliki 2 bagian; [1] 1) Qadhiyyah Hamliyyah (categorical proposition) dan 2) Qadhiyyah Syarthiyyah (hypothetical proposition). Qadhiyyah Hamliyyah yaitu proposisi yang menetapkan sesuatu pada sesuatu yang lain, atau menafikan sesuatu dari sesuatu yang lain. Sedangkan Qadhiyyah Syarthiyyah yaitu proposisi yang menetapkan hubungan antara satu proposisi dengan proposisi yang lain, menafikan hubungan antara satu proposisi dengan proposisi yang lain. Dalam Qadhiyyah Hamliyyah lah terdapat ketentuan predikasi karena Qadhiyyah Hamliyyah memiliki tiga unsur; 1) maudhu’ (subjek), 2) mahmul (predikat), dan 3) rabithah (penghubung). Maudhu’ (subjek), dalam ilmu nahwu disebut mubtada’, fa’il atau na’ibul fa’il atau mahkum alaih jika dilihat dari segi proses pengambilan kerputusan. Mahmul (predikat) dalam ilmu nahwu disebut khabar atau fi’il, disebut pula al-mahkumbih jika dilihat dari segi pengambilan keputusan. Rabith (penghubung), berupa kata ganti (dhamir al-fashl) byang menghubungkan antara subjek dan predikat. Contoh: Buku itu rusak. Berarti ‘buku’ sebagai maudhu’, ‘rusak’ sebagai mahmul, dan ‘itu’ sebagai rabithah.

Dalam proses predikasi, predikat (mahmul) dalam suatu qadhiyyah dapat dipandang dalam beberapa sisi. Dilihat dari sisi ada atau tidaknya mahmul pada maudhu’, terdapat qadhiyyah yang mahmul-nya ada atau terdapat pada maudhu’ (mujibah), dan terdapat qadhiyyah yang mahmul-nya tidak ada atau tidak terdapat pada maudhu’ (salibah). Contoh qadhiyyah hamliyyah mujibah: Bali adalah pulau terindah di Indonesia; maka ‘pulau terindah’ menjadi mahmul pada ‘Bali’. Contoh qadhiyyah hamliyyah salibah: Surabaya bukanlah kota kecil, maka ‘kota kecil’ tidak ada atau tidak terdapat pada ‘Surabaya’.

Berhubungan dengan predikasi pula, kita dapat melihat pembagian qadhiyyah hamliyyah dilihat dari sisi maudhu’-nya, antara lain;[2] 1) Syakhshiyah, 2) Muhmalah, 3) Kulliyah, dan 4) Juz’iyyah. Qadhiyyah syakhshiyyah (singular proposition, individual proposition), yaitu proposisi yang subjeknya partikular. Contoh: Jakarta itu ibukota Indonesia. Qadhiyyah muhmalah (indefinite proposition, ambiguous proposition), yaitu proposisi yang subjeknya universal, tetapi mahmul-nya belum tentu ada atau terdapat pada semua atau sebagian satuan maudhu’, contoh: Mahasiswa yang rajin akan lulus. Qadhiyyah kulliyah yaitu qadhiyyah yang maudhu’-nya lafazh kulli dan mahmul-nya ada atau melekat kepada seluruh satuan maudhu’, contoh: Seluruh Nabi diutus oleh Allah. Qadhiyyah juz’iyah yaitu qadhiyyah yang maudhu-’nya lafazh kulli, sedang mahmul-nya ada atau terdapat pada sebagian dari satuan maudhu’ itu saja, contoh: Sebagian mahasiswa orang yang tidak mampu.

Dari beberapa pembagian qadhiyyah diatas, tentu kita dapat pahami mengenai predikasi itu sendiri yakni bagaimana kedudukan predikat (mahmul) pada subjek (maudhhu’)-nya. Predikat (mahmul) dapat menetapkan subjek (maudhu’)-nya terlepas dari baik ada atau tidaknya predikat tersebut pada subjek. Oleh karena itu, tertetapkannya predikat pada subjek tidak keluar dari tiga keadaan;[3]

  1. Ketetapan predikat pada subjek bersifat mustahil(mumtani’). Contohnya; angka 3 itu lebih besar dari angka 4.
  2. Tertetapkannya predikat pada subjek itu bersifat pasti (dharuri). Contohnya; 2 itu adalah 1/2 dari 4.
  3. Tertetapkannya predikat pada subjek bersifat tidak mustahil sekaligus tidak pasti. Contohnya; matahari berada di atas kepala kita.

Predikat memberi gambaran pada subjek dimana prediket bersifat menetapkan terlepas apakah predikat benar-benar terdapat pada subjek maupun tidak. Inilah yang sebagaimana diuraikan di muka bahwa qadhiyyah merupakan pernyataan yang mengandung kemungkinan benar atau salah. Dengan demikian, butuh penilaian dan teknik tersendiri dalam logika dalam memastikan benar ataupun salahnya.

 

 

TA’RIF (DEFINISI)

By: Hikmah Khusnul Khotimah

Terkadang kita memiliki kecenderungan masalah dalam pemahaman suatu kata atau makna. Sering kita temui beberapa orang memiliki pemahaman yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tentunya, perbedaan inilah menjadi awal titik terjadinya kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penarikan kesimpulan. Setiap kata memiliki definisi (ta’rif) tersendiri, dimana definisi ini bersifat menerangkan sesuatu yang belum diketahui atau merinci yang sudah diketahui. Dalam ilmu mantik, ta’rif berperan amat mendasar karena berhubungan dengan penarikan kesimpulan. Tentu ta’rif berhubungan dengan kata-kata yang dipakai untuk menyusun qadhiyyah-qadhiyyah (kalimat-kalimat). Jika ta’rif lafazh tidak jelas, maka kesimpulan yang dihasilkan akan keliru atau salah.

Secara lughawi, ta’rif[4] adalah memperkenalkan, memberitahukan sampai jelas dan terang tentang sesuatu. Secara mantiki, ta’rif adalah teknik menerangkan baik dengan tulisan maupun lisan, yang dengannya diperoleh pemahaman yang jelas tentang sesuatu yang diterangkan/diperkenalkan. Secara sederhana, ta’rif yaitu menjelaskan hakikat sesuatu atau menerangkan maknanya. Dalam bahasa Indonesia, ta’rif diungkapkan dengan perbatasan atau definisi.

Syarat-syarat ta’rîf (definition), yaitu:

  1. Ta’rif harus jami’-mani’, artinya ta’rif tidak boleh lebih umum atau lebih khusus dari yang dita’rifkan.
  2. Ta’rif harus lebih jelas dari yang dita’rifkan.
  3. Ta’rif harus sama pengertianya dari yang dita’rifkan.
  4. Ta’rif bukan dengan sesuatu yang bertentangan dengan yang dita’rifkan.
  5. Ta’rif itu dengan menggunakan kata-kata yang berbeda dengan yang dita’rifkan.
  6. Ta’rif tidak boleh berputar-putar.
  7. Ta’rif tidak boleh memakai kata-kata majaz (kiasan/metaforik).
  8. Ta’rif tidak boleh menggunakan kata-kata musytarak (mempunyai lebih dari satu arti).

Pembagian Ta’rif

Dalam pembagiannya, terdapat ta’rif had dan ta’rif rasm. Kedua jenis ini memiliki perbedaan yang mendasar dalam pendefinisian. Dilihat dari pengertiannya, had merupakan definisi yang menyebutkan hakikat, contoh; Manusia adalah hewan berpikir. sedangkan rasm adalah definisi yang menjelaskan dengan sifat, contoh; Manusia adalah hewan yang tertawa. Secara sederhana, had berarti batasan substansial/esensi, sedangkan rasm berarti batasan aksidental/ciri eksternal. Berikut penjelasan yang lebih luas pada pembagian ta’rif.

Ta’rîf (definition) dibagi menjadi:[5]

  1. Ta’rif Had: ta’rif yang menggunakan rangkaian lafazh kulli jins dan fashl. Ta’rif Had ada 2 macam; Ta’rif Had Tam dan Ta’rif Had Naqish. Ta’rif Had Tam adalah lafazh yang menggunakan lafazh jins qarib dan fashl, Seperti “manusia itu adalah hewan yang berlogika.” Sedangkan Ta’rif Had Naqish adalah ta’rif yang menggunakan jins ba’id dan fashl atau menggunakan fashl qarib saja, seperti “manusia itu adalah benda hidup yang berlogika” atau “manusia itu adalah yang berlogika”.
  2. Ta’rif Rasm: Ta’rif yang menggunakan jins dan irdhi khas. Ta’rif Rasm ada 2 macam; Ta’rif Rasm Tam dan Ta’rif Rasm Naqish. Ta’rif Rasm Tam adalah ta’rif yang menggunakan lafazh jins qarib dan fashl, seperti “manusia itu adalah seperti Muhammad, Ali, dan Shadiq.” Sedangkan Ta’rif Rasm Naqish adalah ta’rif yang menggunakan lafazh jins ba’id dan ‘irdhi khas atau menggunakan lafazh ‘irdhi khas saja, seperti “kata itu adalah kata benda, kata kerja, dan kata bantu.

[1] Baihaqi A.K, Ilmu Mantik, (Jakarta: Darul Ulmu Press, 2002), hlm. 56

[2] Ibid., hlm. 62

[3] http://www.al-shia.org

[4] Baihaqi A.K, Ilmu Mantik, …………, hlm. 47

[5] Baihaqi A.K, Ilmu Mantik, ……….., hlm. 48.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s