CAHAYA ILMU DAN IMAN

Oleh: Hikmah KK

“Cahaya” atau “nur” dalam al-Qur’an menjadi suatu kajian yang membutuhkan penelusuran yang menarik karena memiliki makna yang sangat luar biasa. Banyak para Penafsir al-Qur’an memaknai cahaya dengan beragam maksud yang berbeda-beda mengingat cahaya yang tertera dalam ayat al-Qur’an bukanlah sekedar cahaya biasa. Ia memiliki sebuah eksistensi yang sangat tinggi dan begitu transenden. Dalam al-Qur’an, cahaya atau “nur” disebut sebanyak 43 kali; “النور” (berbentuk ma’rifat) sebanyak 24 kali نور”” (berbentuk nakirahh sebanyak 9 kali, “نوركم”sebanyak satu kali, نورنا”” sebanyak satu kali, نوره”” sebanyak 4 kali, dan “نورهم” sebanyak 4 kali.[1]

Dalam filsafat Islam, cahaya diterapkan pada tingkatan eksistensi. Seperti dalam Hikmah Muta’aliyyah dalam filsafat Mulla Sadra bahwa eksistensi adalah sama dengan cahaya. Penerapan cahaya pada eksistensi merupakan perkara yang jelas dan tidak membutuhkan pembuktian terutama dengan keyakinan pada Ashalah al-Wujud.[2] Juga seperti dalam Hikmah al-Isyraq dalam filsafat Suhrawardi bahwa cahaya sebagai esensi-esensi sejati atau wujud hakiki dari segala sesuatu dan Tuhan adalah Cahaya dari segala Cahaya, dari-Nya wujud yang memancarkan cahaya ini pun juga memancarkan cahaya yang menyingkap seluruh eksistensi.[3]

Sedemikian eksklusifnya, pembahasan cahaya dikupas dengan begitu mendalam dari sisi filosofisnya terutama dalam filsafat Mulla Sadra dan Suhrawardi yang sering kita jumpai. Berawal dari ayat al-Qur’an pada QS. al-Nur: 35, cahaya sebagai suatu dzat yang Maha Tinggi yakni Nur ‘ala Nur. Yang patut ditelisik secara mendalam yakni seperti apakah wujud Nur itu yang sebenarnya sehingga menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam pengalaman mistis bagi manusia? Adakah kaitannya dengan ilmu dan iman? Dalam essay yang singkat inilah, saya akan membahas cahaya dari sisi filosofis juga dilihat dari beragam penafsiran al-Qur’an dan Hadits yang berhubungan dengan “nur” atau cahaya.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS.an-Nur: 35)

Berawal dari “اللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ”, Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. Telah jelas cahaya yang dimaksud dalam ayat ini adalah Tuhan. Tuhan sebagai penerang seluruh alam semesta baik di langit maupun di bumi. Dalam tafsir Mulla Sadra, cahaya itu diibaratkan dengan kebenaran yang membimbing manusia. Cahaya itu menyinari dirinya sendiri dengan jelas dan berkemilau. Nur (cahaya) tersebut dapat ditujukan kepada al-Qur’an, karena ia yang menjelaskan kebenaran, yaitu petunjuk Allah atas ciptaan dengan kalam-Nya yang agung dan menjadi kebenaran yang nyata. Ia pun merupakan cahaya penghias hati orang-orang beriman. Kebenaran itu ada pada cahaya sedang al-Qur’an sebagai perumpamaannya. Jika al-Qur’an diumpamakan dengan ‘lampu’, maka lampu tersebut adalah kalam Allah. Dan yang menjadi kacanya adalah hati para ‘arif dengan cahaya-cahaya maknawi, dan pelitanya adalah permukaan hatinya.[4]

Tak jauh berbeda dengan tafsir Ibnu Katsir, perumpamaannya cahaya-Na yaitu orang Mukmin yang Allah resapkan keimanan dan al-Qur’an kedalam dadanya.[5] Namun, yang menjadi pertanyaan apakah cahaya adalah Tuhan itu sendiri? Bagaimana mungkin Tuhan dapat diserupakan dengan cahaya sebagai suatu entitas selain-Nya? Merujuk pada perkataan Imam Khomaeni bahwa penerapan cahaya pada Tuhan akan lebih jelas ketika berperan sebagai sifat fi’li. Penerapan cahaya pada Tuhan sebagai sifat fi’li lebih jelas ketimbang sifat dzati, karena dalam konsep ini terdapat sisi ketampakan bagi yang lain.[6]

Ibnu Arabi mengemukakan enam pendapat ulama tentang makna nur yang menjadi sifat Allah, yaitu: 1. Pemberi hidayah (penghuni langit dan bumi), 2. Pemberi cahaya, 3. Penghias, 4. Yang zhahir, 5. Pemilik cahaya, 6. Cahaya tetapi bukan cahaya yang dikenal.[7] Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. M. Quraish Shihab bahwa kata nur disini bukan berarti cahaya, karena itu jangan menganggap Allah adalah cahaya. Sebab jika demikian, ada yang serupa dengan-Nya. Kata “nur” disini berbentuk Mashdar yang salah satu maknanya, seperti disini adalah pelaku, yakni Allah Pemberi Cahaya.[8] Allah menurunkan kebutuhan hidup duniawi dan ukhrawi manusia karena Allah adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi baik cahaya yang bersifat material yang dapat dilihat dengan mata kepala, maupun immaterial berupa cahaya kebenaran, keimanan, pengetahuan dan lain-lain yang dirasakan dengan mata hati.[9] Cahaya dalam ayat surah al-Nur tersebut dapatlah terbagi dalam dua sisi yakni dari sisi material dan immaterial. Cahaya yang immateri inilah yang dapat merasuk kedalam hati orang-orang yang berilmu dan beriman. Cahaya ini memiliki makna yang sedemikian luas dan menjadi tugas manusia bagaimana cahaya itu dapat hadir dan dirasakan melalui pengalaman batinnya.

Pengalaman batin tentu berhubungan dengan ilmu dan iman seseorang, ilmu dan iman ini akan hadir dalam diri manusia tergantung dengan kesadaran diri manusia. Berkaitan dengan kesadaran diri manusia, menurut para filosof bahwa pikiran manusia seperti ceruk cahaya yang karena konjungsinya dengan api transenden eksternal, memperoleh pencerahan dan merefleksikan dalam dirinya sendiri segala sesuatu yang diberikan kepadanya. Dan pikiran itu sesuai dengan derajatnya kemampuan mendekati api itu, menjadi lebih dekat kepada sumber cahaya yang merupakan pengetahuan intelektual.[10] Dengan demikian, cahaya dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dimana ilmu menjadi penghubung untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka meningkatlah derajat keimanan seseorang.

Dalam konteks ini, kata cahaya dalam teks-teks agama juga bisa diterapkan pada hakikat ilmu dan keimanan. Hakikat ilmu dan iman berdasarkan ilmu adalah cahaya. Hal ini merupakan penerapan hakiki dan dengan makna yang jelas bahwa ada keselarasan cahaya dengan ilmu dan iman.[11] Ilmu dan iman ini ditempuh dengan jalan menuju kepada Allah. Jalan menuju iman kepada Allah SWT itu dengan cara dengan mengenal Allah dan meyakini adanya Allah SWT adalah dengan perantara Allah itu sendiri.[12] Dan ilmu berada dalam wujud keberadaan dan kesempurnaan-Nya sebagai dzat atau hakikat bagi-Nya. Oleh karena itu, untuk mengenal Allah, jalan utama yang harus dilakukan adalah dengan cara bertauhid. Sebelum itu, kita harus terlebih dahulu mengetahui makna tauhid itu sendiri. Terdapat Hadits yang menjelaskan tauhid secara filosofis, yakni dengan perumpamaan cahaya. Dapat dikatakan cahaya dapat sebagai perantara jalan bertauhid untuk memperoleh ilmu dan meraih iman dari-Nya.

قال له عمران الصابي : أخبرني نوحد الله بحقيقة, أم نوحده بوصف؟ فقاله ص: إن النور البدىء الواحد الكون الأول واحدلا شريك له و لا شيئ معه. ولا معلوم ولا مجهول ولا محكم ولا متشابه ولا مذكور ولا منسى, ولا شىئ يقع عليه اسم شىئ من الأشياء كلها. فكان البديء قائما بنفسه, نور غني مستغن عن غيره, لا من وقت كان ولا إلى وقت يكون, ولا على شىء قام ولا إلى شىء استتر, و لا في شىء استكن ولا يدرك القائل مقالا إذا خطر بباله ضوء أو مثال أو شبح أو ظل, وذلك كله قبل الخلق في الحل التي لا شيء فيها غيره, و الحال أيضا في هذا الموضع, فإنما هي صفات محدثة و ترجمة من متوهم ليفهم. أفهمت ياعمران؟ قال: نعم.[13]

 

Hadits tersebut mengandung tentang penjelasan tentang tauhid dan cara bagaimana kita harus bertauhid kepada Allah. Untuk mengetahui jalan tauhid kepad aAllah dijelaskan dengan perumpamaan sifat cahaya dimana cahaya itu tunggal dan tidak ada yang menyamainya sebagaimana Allah, tidak terdiri dari beberapa bagian dan sifat murakkab, karena wujud setiap murakkab pasti membutuhkan bagian-bagiannya.[14] Allah itu Pemilik sekaligus Pemberi cahaya, Ia berdiri sendiri, dan tidak berada dalam ruang dan waktu. Tauhid ini dapat disebut sebagai tauhid sifat. Namun sebenarnya sifat-sifat yang kita nisbatkan kepada Allah SWT tak lain adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu bukanlah hal-hal lain dari Diri-Nya dan yang ditambahkan kepada-Nya.[15] Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits tersebut bahwa sifat-sifat Allah hanyalah dapat dipahami oleh orang-orang yang berpikir. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh ilmu sekaligus menambah keimanannya melalui ilmu tersebut. Namun, patutlah digaris bawahi bahwa orang-orang yang berilmu itu bukanlah yang memiliki ilmu, ilmu yang dimiliki itu adalah manifetasi dan bayang-bayang dari Ilmu Tuhan, karena pengetahuan yang sejati adalah milik Allah SWT.[16]

Allah merupakan Penganugerah ilmu dan kepahaman; singkatnya Tuhanlah Sumber Ilmu yang sebenarnya, sedangkan manusia merupakan penerima anugerah ilmu dan pengetahuan tersebut.[17] Antara ilmu kita dan ilmu Allah adalah sama, karena dari sumber yang satu yakni Allah. Karenanya, manusia selalu bergantung pada Allah karena Allah sebagai sumber ilmu. Dengan demikian, Allah sebagai entitas yang tidak terbatas yang dinamakan dengan wajib al-wujud, dan makhluknya yang bergantung dan terbatas itu dinamakan dengan mumkin al-wujud. Meskipun mengenal Tuhan dengan melihat sifat-sifat-Nya sebagai sesuatu yang tak terpisah dari dzat-Nya, tetap saja kita tidak bisa merepresentasikan Tuhan lewat Tasybih dan Tanzih karena yang terbatas tidak bisa mengetahui yang tidak terbatas. Tauhid yang hanya secara konsep inilah dapat mengantarkan manusia pada kemusyrikan karena tauhid konsep ini tidak bisa melihat yang tidak terbatas.

Sebagaimana menurut al-Ghazali bahwa tauhid itu adalah tidak hanya sekedar ucapan dengan lisan, tetapi juga pembenaran dalam hati, seperti sang sufi melupakan dirinya karena dia telah benar-benar tengelam didalam tauhidnya. Tauhid seperti inilah dianggap sebagai tingakatan ma’rifat yang tertinggi.[18] Prinsip tauhid merupakan fondasi utama untuk membangun kekuatan hati dalam menghadapi berbagai kegagalan. Kegagalan adalah kelalaian yang harus diperbaiki menuju keberhasilan yang diridhai oleh Allah SWT. Prinsip tauhid akan memunculkan kesadaran diri untuk menjadi yang terbaik, selalu berkreasi positif, tampil sebagai pelita yang bercahaya, dan ingin mengukir sejarah yang baik dan gilang gemilang.[19]

Untuk itu, telah menjadi kewajiban sebagai seorang hamba untuk bertauhid hanya kepada Sang Sebab dari Segala Sebab yakni Allah SWT. Tauhid sebagai dasar iman bagi seorang hamba karena terdapat kaitannya dengan perolehan ilmu dari prinsip-prinsip epistemologi. Dalam filsafat, tafsir keesaan Tuhan ini menurut Mulla Sadra disebut dengan ajaran “wahdah al-wujud”. Penjelasan wahdah al-wujud ini diadopsi dari ajaran Suhrawardi tentang cahaya, dimana cahaya pada hakikatnya adalah satu dengan berbeda tingkat dan intensitasnya. Semakin jauh sebuah cahaya dari sumbernya, yaitu Allah, Nur al-Anwar, maka akan semakin redup sinarnya.[20] Dengan demikian, inilah bagaimana dari sebuah cahaya dapat menjelaskan konsep ketauhidan sebagai jalan mengenal Allah SWT. Cahaya ini dapat meningkatkan keimanan sekaligus memperoleh ilmu dari percikan cahaya-Nya. Dengan kedua unsur yakni ilmu dan iman, jika diperoleh oleh manusia, maka jiwanya akan tenang dan tentram karena kita merasa bahwa Allah sangat dekat dengan kita.

Allah akan selalu bersama kita, melindungi dan membimbing kita sebagaimana cahaya yang mengiring kita dengan kebenaran. Allah adalah Pemberi cahaya itu yang dengannya manusia akan tercerahkan hidupnya menuju keimanan yang semakin tinggi juga memperoleh ilmu-Nya sebagai wujud meng-esakan-Nya. Allah senantiasa memberi petunjuk menuju kebenaran itu melalui cahaya. Cahaya inilah yang menjadi penghias hati orang-orang yang beriman. Semoga kita selalu senantiasa dalam rahmat cahaya-Nya yang mengantarkan kita pada golongan-golongan yang berilmu dan beriman. Amiiin Ya Robbal ‘Alamin. Maha Benar Allah atas segalanya ….

 

 

Referensi:

Al-Aqdam, Syekh al-tsiqah al-Jalil. Tuhaful ‘Uqul ‘anil Rasul. Beirut: al-‘alam lilmathbu’at, TT.

Al-Ghazali, Imam Abu Hamid. Setitik Cahaya dalam Kegelapan: Akhir Pergolakan Intelektual Sang Pencari Kebenaran. Surabaya: Penerbit Pustaka progresif, 2001.

Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid. 6. Terj. M. Abdul Ghoffar & Abu Ihsan al-atsari. (Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2008).

Al-Muta’allihin, Sadra. Tafsir al-Qur’an al-Karim. (in PDF)

Baqi, Muhammad Fu’ad Abdul. Mu’jam al-Mufahras li al-fadzil Qur’anil Karim. Bandung: Diponegoro, TT.

Kartanegara, Mulyadhi. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekontruksi Holistik. Bandung: Penerbit Arasy, 2005.

Khurasani, Ayatullah Al-Udzhma Syekh Husein Wahid. Mengenal Ushuluddin. Bekasi: Penerbit Pustaka Nabi, 2010.

Nasution, Ahmad Taufik. Metode Menjernihkan Hati.Bandung: Penerbit al-Bayan, 2005

Nia, Muhammad Reza Irsyadi. Antara Filsafat & Penafsiran Teks-Teks Agama: Pengaruh dan relasinya dalam pemikiran Imam Khomaeni. Terj. Iwan Setiawan. Jakarta: Sadra Press, 2012.

Shihab, M. Quraish. Kaidah Tafsir. Tangerang: Lentera Hati, 2013.

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Supadie, Didiek Ahmad. Pengantar Studi Islam. Ed. Revisi 1. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Tim Penyusun. Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Ed, Sahabuddin et. Al. (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 734

Yazdi, Mehdi H’iri. Menghadirkan Cahaya Tuhan: Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam. Ter. Husain Heriyanto. Bandung, Penerbir Mizan, 2003.

Yazdi, Muhammad Taqi Mishbah. Filsafat Tauhid: Mengenal Tuhan Melalui Nalar dan Firman. Terj. M. Habib Wijaksana. Bandung: Penerbit Arasy, 2003.

Ziai, Hossein. Suhwardi & Filsafat Iluminasi. Terj. Afif Muhammad. (Jakarta: Sadra Press, 2012)

 

 

 

[1] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mu’jam al-Mufahras li al-fadzil Qur’anil Karim, (Bandung: Diponegoro, TT), hlm. 895.

[2] Muhammad Reza Irsyadi Nia. Antara Filsafat & Penafsiran Teks-Teks Agama: Pengaruh dan relasinya dalam pemikiran Imam Khomaeni. Terj. Iwan Setiawan. (Jakarta: Sadra Press, 2012),. hlm. 142.

[3] Hossein Ziai. Suhwardi & Filsafat Iluminasi. Terj. Afif Muhammad. (Jakarta: Sadra Press, 2012), hlm. 13.

[4] Sadra al-Muta’allihin. Tafsir al-Qur’an al-Karim. (in PDF)

[5] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid. 6. Terj. M. Abdul Ghoffar & Abu Ihsan al-atsari. (Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2008). hlm. 299.

[6] Muhammad Reza Irsyadi Nia. Antara Filsafat & Penafsiran Teks-Teks Agama: Pengaruh dan relasinya dalam pemikiran Imam Khomaeni. Terj. Iwan Setiawan. (Jakarta: Sadra Press, 2012),. hlm. 142.

[7] Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Ed, Sahabuddin et. Al. (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 734

[8] M. Quraish Shihab. Kaidah Tafsir. (Tangerang: Lentera Hati, 2013), hlm. 132.

[9] M. Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. (Jakarta: Lentera Hati, 2002). hlm. 343

[10] Mehdi H’iri Yazdi. Menghadirkan Cahaya Tuhan: Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam. Ter. Husain Heriyanto. (Bandung, Penerbir Mizan, 2003), hlm. 55.

[11] Muhammad Reza Irsyadi Nia. Antara Filsafat & Penafsiran ……………………………, hlm. 143.

[12]Ayatullah Al-Udzhma Syekh Husein Wahid Khurasani. Mengenal Ushuluddin. (Bekasi: Penerbit Pustaka Nabi, 2010), hlm. 23

[13] Syekh al-tsiqah al-Jalil al-Aqdam. Tuhaful ‘Uqul ‘anil Rasul. (Beirut: al-‘alam lilmathbu’at, TT), hlm. 311

[14] Ayatullah Al-Udzhma Syekh Husein Wahid Khurasani. Mengenal Ushuluddin………………….., hlm. 37

[15] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Filsafat Tauhid: Mengenal Tuhan Melalui Nalar dan Firman. Terj. M. Habib Wijaksana. (Bandung: Penerbit Arasy, 2003). Hlm. 99

[16] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Filsafat Tauhid: Mengenal Tuhan …………………. Hlm. 107

[17] Didiek Ahmad Supadie. Pengantar Studi Islam. Ed. Revisi 1. (Jakarta: Rajawali Pers, 2011). Hlm. 231

[18] Imam Abu Hamid al-Ghazali. Setitik Cahaya dalam Kegelapan: Akhir Pergolakan Intelektual Sang Pencari Kebenaran. (Surabaya: Penerbit Pustaka progresif, 2001). Hlm. 19

[19] Ahmad Taufik Nasution. Metode Menjernihkan Hati.(Bandung: Penerbit al-Bayan, 2005). Hlm. 250

[20] Mulyadhi Kartanegara. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekontruksi Holistik. (Bandung: Penerbit Arasy, 2005). Hlm. 36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s