Goncangan Jiwa

Oleh: Hikmah KK

Riana, seorang remaja yang biasa akrab dipanggil Rina ini tengah dirundung kegoncangan jiwa yang mendalam. Ia bimbang, merisaukan hidupnya, mencoba menghempaskan diri, namun tak tau kemana ia harus mengadukan kerusuhan hatinya itu. Ya, ia merasa hampa dan kini ia begitu terpekur mengutuk dirinya. Dalam hidupnya selalu dikejar bayang-bayang ketakutan yang tak menentu. Bayang-bayang perbuatan maksiat itu terus-menerus menghardiknya. Ya, dia pezina, bukan karena ia menginginkan sesuatu secara finansial, namun ia terhanyut dalam nafsu kesenangan diri. Bagaimana selama ini hidupnya sering dirundung kepiluan, ia selalu jenuh dengan kondisi keluarganya yang selalu ramai dengan percekcokan. Ibunya pulang tengah malam, sementara Ayahnya pulang pagi. Setiap pagi, ia selalu gondok dengan kisah adu mulut mereka. Entah apa masalahnya, Rina tak pernah perduli dan tak mau tahu.

Kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarganya yang mulai kandas oleh waktu, hingga ia terjebak pada hiburan malam, pikirnya ia dapat melipur laranya. Namun, bukan malah melipur lara, kini hatinya bertambah kelu dan pilu, sebuah ketakutan yang sangat hebat menghampirinya, barangkali Allah menegurnya lewat hatinya. Betapa kalut pikirannya, senyap hatinya dipukul derita oleh tubuh dirinya yang kini tak lagi suci. Ia hanya butuh kebehagiaan hidup namun ia tak tahu jalan arah. Ia punya kekayaan uang berlimpah pemberian orang tua, namun ia tak tahu cara menukarnya dengan kebahagiaan. Jalan yang dipilih nya semakin menjeratnya, semakin gelap dan membuntu.

Dalam keheningan malam, hatinya tertunduk berucap: “Ya Tuhan, akankah Engkau pun tak sudi mendekati diriku? Hatinya berucap ketika bibirnya seakan mati rasa untuk berucap. Tubuhnya pun seakan-akan tak mampu tergerakkan. Fisiknya terasa tak berdaya lagi, bukan karena ketiadaan kekuatan fisiknya, barangkali pikirannya sudah tak muat lagi menampung masalah yang semakin menyesak.”

Sepenggal cerita ilustrasi itu merupakan sebuah gambaran seorang hamba yang tengah mengalami goncangan jiwa yang mendalam. Jalan kesenangan yang dipilih Rina membuatnya lupa dan semakin jauh dengan Sang Maha Pencipta. Kebimbangan pun merenggut jiwanya dan membuatnya hidup dalam kesendirian. Kesendirian yang ia sadari, tentu akan membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya memang benar-benar sendiri? Sebuah pertanyaan-pertanyaan kecil hadir dalam hatinya menandakan bahwa manusia memang memiliki fitrah pada Tuhannya. Disaat manusia berada dalam kesempitan, barulah manusia merasa membutuhkan akan kehadiran Tuhannya.

Sekecil apapun yang diperbuat manusia, tentu Allah pasti akan memberikan ganjarannya. Tak ada satupun manusia yang terlepas dari-Nya, manusia akan selalu membutuhkan-Nya dan inilah yang memanandakan bahwa manusia hanyalah makhluk yang amat kecil di hadapan-Nya, sebagaimana kita dapat lihat dalam QS. Al-Fathir [35] 15:

Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia pasti selalu membutuhkan dan bergantung kepada Allah. Telah menjadi tugas bagi seorang hamba bahwa ia harus senantiasa beribadah hanya kepada-Nya. Dengan demikian, segala masalah yang menimpa, akan dapat kita temukan jalan lapangnya dengan jalan mengingat Allah dalam beribadah. Kita harus yakin bahwa Allah pasti memberikan jalan keluar dari segala permasalahan yang menimpa kita karena Dia-lah yang Maha Kaya dan Maha Pemberi.

Pada hakikatnya manusia tidaklah ada satupun yang abadi, karena yang abadi hanyalah milik Allah. Oleh karena itu, kebahagiaan maupun penderitaan yang dialami manusia di dunia tidaklah ada yang abadi. Manusia terkadang merasakan kebahagiaan, terkadang manusia merasakan penderitaan dan begitulah terus berputar. Dengan cara demikianlah Allah memberikan pelajaran bagi manusia agar manusia dapat memahami bagaimana ia harus melangkah dalam hidupnya dengan cara yang baik.

Belajar dari kisah Riana, bahwa memang kesenangan dalam dunia kemaksiatan yang ia rasakan hanyalah sementara, bukan kebahagiaan yang ia temukan, ia bahkan mengalami penderitaan yang semakin hampa. Riana tak memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Setiap manusia pun tak ada yang mau terbelenggu dalam masalah yang menderitakan. Namun, yang patut kita soroti adalah bagaimana kita harus mampu menyelesaikan sebuah masalah dengan jalan dan cara yang jernih. Kita lihat, sebuah gambaran yang dialami Rina sebuah kehampaan diri dan kebuntuan hidup karena ia memilih jalan pintas yang menurut dia akan terbebas dari masalah yang menimpanya. Namun, nyatanya, kesenangan sementara itu berbuah penderitaan. Karena itu, Allah SWT berfirman bahwa kelalaian dan kenafsuan merupakan sebagai pangkal dari keburukan, seperti dalam QS. al-Kahfi ayat 28:

dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Jalan penyelesaian memang membutuhkan kesabaran dan ketenangan dalam menemukannya. Jalan penyelesaian membutuhkan pikiran yang jernih sehingga kita akan menemukan jalan dan cara yang jernih pula. Inilah pelajaran yang dapat kita terima kisah hidup Riana. Pada tahap selanjutnya jika ia ingin mencari kebahagiaan yang sesungguhnya, ia harus melalui proses penyucian diri dan akan penulis sajikan dalam bagian-bagian kisah berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s