Ilmu Pengetahuan menurut Perspektif Al-Qur’an

ilmupDalam kehidupan, manusia selalu menjalani aktivitasnya dengan berbagai kepentingan yang bereda-beda dan proses yang berbeda-beda pula. Namun, pada hakikatnya, manusia layaknya memiliki satu kunci yang sama dimana kunci ini sangat menentukan kedudukan manusia apakah ia terhormat atau rendah, baik atau buruk, bahagia atau menderita. Kunci itu adalah ilmu pengetahuan, ia laksana cahaya bagi manusia, karena tanpa ilmu pengetahuan manusia akan tersesat dan tak terarah dalam kegelapan dunia. Inilah mengapa Allah SWT menurunkan anugerah akal dan pikiran bagi manusia untuk mencari ilmu pengetahuan yang tak lain sebagai penerang dalam kehidupannya.

Sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, kapan saja dari sejak lahir hingga mati, dimanapun. Hal ini tertera sebagaimana perintah Allah dalam ayat al-Qur’an yang turun pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah SAW menyangkut perintah membaca sebagai unsur pertama dalam pengambilalihan ilmu, yakni surah al-Alaq ayat 1-5:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam perbincangan sehari-hari terdapat beberapa kata yang semakna yaitu pengetahuan, ilmu, dan ilmu pengetahuan. Namun, tentu menjadi pertanyaan dalam benak kita pengetahuan, ilmu, ilmu pengetahuan seperti apakah yang dimaksud? Adakah perbedaannya dalam konsepsi al-Qur’an? Bagaimana proses manusia memperoleh ilmu pengetahuan? Inilah mungkin yang menjadi banyak pertanyaan dalam benak kita. Terkadang kita berusaha menjalani proses pencarian ilmu pengetahuan tanpa tahu hakikat ilmu pengetahuan itu. Bahkan banyak diantara kita yang begitu acuh dan malas bergumul dengan ilmu dan lebih memilih mencari harta, padahal mencari harta pun akan lebih mudah dan cepat jika kita menggunakan ilmu. Dengan demikian, ilmu pengetahuan adalah sebagai bekal utama bagi manusia dalam menggapai urusan baik di dunia maupun di akhirat sebagaimana ajaran Islam

Untuk itu, dalam makalah ini, kami akan mencoba menggali tentang ilmu pengetahuan baik secara umum maupun dalam pandangan Islam. Tak hanya dipandang dalam segi pengertiannya, namun akan disuguhi pula dengan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan urgensinya bagi manusia. Dengan demikian diharapkan manusia dapat memahami kedudukan dirinya, menyadari potensi dirinya yang sangat luar biasa serta mengangkat derajat dirinya dihadapan Allah SWT.

 

Sebelum beranjak pada makna ilmu pengetahuan sendiri, penulis akan terlebih dahulu mengungkap antara makna pengetahuan, Ilmu, dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan, Ilmu dan ilmu pengetahuan memiliki perbedaan yang mendasar. Penjelasan mengenai perbedaan ini akan diuraikan baik dalam sisi etimologi (makna kata) maupun terminologinya (istilah). Untuk itu, hal ini sangat menentukan bagaimana memahami makna ilmu pengetahuan sendiri secara umum.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan diartikan sebagai “segala sesuatu yang diketahui/kepandaian; ataupun segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran) di sekolah.[1] Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris “knowledge”. Pengetahuan merupakan suatu istilah yang dipergunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Pengetahuan selalu terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenal hal yang ingin diketahuinya itu.[2]

Pengetahuan diperoleh dari hasrat ingin tahu. Semakin kuat hasrat ingin tahu manusia akan semakin banyak pengetahuannya pengetahuan itu sendiri diperoleh dari pengalaman manusia terhadap diri dan lingkungan hidupnya. Cara memperolehnya adalah melalui gejala (fenomena) yang teramati oleh indera. Semuanya terkumpul dalam diri manusia, sejak ia sadar akan dirinya hingga ke usia lanjut atau sepanjang hayat. Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman ini berbeda dengan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan kenyataan yang dialami manusia, pengetahuan memiliki dua macam: pengetahuan yang diperoleh melalui persetujuan, dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung atau observasi. Pengetahuan pertama diperoleh dengan cara mempercayai apa yang dikatakan orang lain karena kita tidak dapat belajar segala sesuatu melalui pengalaman kita sendiri.[3] Pengetahuan menurut Machlup, dibagi kedalam lima kelas utama:

  1. Pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan yang berguna untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan.
  2. Pengetahuan Intelektual, yaitu pengetahuan yang dapat memuaskan “keingintahuan” (curiosity) intelektual.
  3. Pengetahuan ringan atau hiburan yang dapat memuaskan keingintahuan non-intelektual atau untuk memenuhi kepuasan sejenak dan stimulasi emosional, seperti berita tentang kejahatan, kecelakaan, lawakan, dan sebagainya.
  4. Pengetahuan spiritual, yaitu pengetahuan yang dihubungkan dengan pengetahuan keagamaan tentang Tuhan dan cara-cara untuk keselamatan jiwa.
  5. Pengetahuan yang tidak diinginkan, yaitu pengetahuan yang tidak diminati, tetapi tiba-tiba saja diketahui tanpa senagaja.

Meskipun beragamnya pengetahuan, tetapi ada satu hal yang mesti diingat, bahwa setiap tipe pengetahuan mengajukan tuntutan agar orang membangun apa “yang diketahui” itu menjadi sesuatu yang “sahih” (valid) atau benar (true). Kesahihan pengetahuan banyak tergantung pada sumbernya. Ada dua sumber pengetahuan yang kita peroleh melalui agreement: tradisi atau autoritas. Sumber tradisi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan atau transmisi dari generasi ke generasi (al-tawatur). Pengetahuan ini diketahui oleh setiap orang. Dapat dikatakan, Pengetahuan adalah informasi kumulatif dan dapat diwariskan atau ditransmisikan sehingga memungkinkan berkembangnya ilmu.[4]

Adapun sumber pengetahuan yang kedua adalah autoritas (authority), yaitu pengetahuan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan baru oleh mereka yang mempunyai wewenang dan keahlian di bidangnya. Penerimaan autoritas sebagai pengetahuan bergantung pada status orang yang menemukannya atau menyampaikannya. Misalnya: kita akan lebih percaya pada pernyataan seorang dokter yang mengatakan bahwa “penyakit AIDS dapat menular melalui transfusi darah” dari pada kepada pernyataan yang sama tetapi disampaikan oleh bibi kita tidak pernah belajar di pendidikan kedokteran.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ilmu disamakan dengan pengetahuan. Ilmu dalam bahasa inggris biasanya disepadankan dengan arti “science” dan peralihan dari kata Arab “Ilm”. Sedangkan dalam pengertian sehari-hari tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam arti se­sungguhnya yang dirujuk dari konsep Al Qur’an. Dalam pengertian sehari-hari ilmu adalah pengetahuan yang telah disistematisir, disusun teratur mengenai suatu bidang tertentu yang jelas batas-batasnya mengenai sasaran, cara kerja, dan tujuannya. Ilmu (sains) diperoleh dan disusun tidak cukup hanya dari perenungan melainkan berkembang melalui pencerapan indera dan penginderaan (sensation), pengumpulan data, perbandingan data, penilaian jumlah berupa perhitungan, penimbangan, pengukuran, dan penakaran meningkat dari data-data yang bersifat khusus menuju ke kesimpulan yang umum (induksi) atau sebaliknya, dari data yang bersifat umum menuju yang bersifat khusus (deduksi). Ilmu (sains) sepenuhnya bersifat empirik Sesuatu yang tidak bisa diindera, diukur, ditimbang atau dilihat tidak bisa menjadi obyek ilmu (sains). Kumpulan dari ilmu (sains) disebut dengan pengetahuan Isi.

Ilmu dalam arti science adalah tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Menurut Carles Siregar, ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan. Ilmu dalam arti science dapat dibedakan dengan ilmu dalam arti pengetahuan (knowledge).[5] Ilmu adalah pengetahuan yang sistematik. Ilmu mengawali penjelajahannya dari pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Ilmu dalam pengertian ini tidak mempelajari ihwal surga maupun neraka karena keduanya berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Hal-hal seperti itu menjadi objek kajian agama. Ilmu memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Ilmu berfungsi sebagai alat bantu manusia dalam mengatasi masalah sehari-hari. Ilmu diharapkan membantu kita memerangi penyakit, membangun jembatan, mendidik anak, dsb. Konsep ilmu dari yang telah diuraikan diatas adalah konsep yag didasarkan atas empirik yaitu sesuatu yang mesti dialami manusia dengan inderanya. Akan tetapi, konsep empirik ini masih dipertanyakan keabsahannya.

Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah, yakni melalui “pendekatan yang sistematik, terkontrol dan bersifat empiris atas suatu fenomena alam.[6] Ilmu pengetahuan atau sains adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengajian dan dapat diterima oleh rasio, artinya dapat dinalar. Dapat dikatakan, bahwa sains merupakan himpunan rasionalitas kolektif insani.[7] Jika dikaitkan dengan kealaman, maka metode ilmu pengetahuannya dengan mengadakan pengamatan atau observasi, pengukuran atau pengumpulan data pada alam sekitar kita, baik yang hidup seperti manusia, binatang, dan tumbuhan, maupun yang tak bernyawa, seperti bintang, matahari, gunung, lautan, dan benda-benda yang mengelilingi kita. Data-data tersebut dikumpulkan kemudian diambil kesimpulannya yang dapat diterima dalam penalaran. Jerih payah yang dijalani selama ratusan tahun oleh beberapa generasi akhirnya dapat membuka apa yang sebenarnya telah lama diwahyukan di dalam al-Qur’an, sehingga orang dapat memahami apa makna dari ayat-ayat yang bersangkutan.

  1. Kedudukan Ilmu Pengetahuan menurut Islam

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Dalam pandangan Islam, ilmu yang paling mencakup, paling bermanfaat, dan paling sehat ialah ilmu-ilmu yang paling mendekat dan menyerupai apa yang teruraikan dalam Kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya, serta yang paling banyak sekali sebutan dan pengulangannya pada kedua-duanya. Yaitu, seperti pengetahuan tentang Allah, sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, tindakan-tindakan-Nya, perintah-perintah-Nya, serta sebutan tentang sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan manusia yang mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu-ilmu ini adalah pokok segala ilmu, tujuan utamanya serta inti saripatinya. Sering merenungi dan mempelajari ilmu-ilmu di atas akan membuahkan tambahan iman dan keyakinan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari akhir; mendorong untuk tetap dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT, serta meninggalkan perbuatan kejahatan dan kemungkaran yang mendatangkan murka-Nya.[8]

Penekanan terhadap pengetahuan secara langsung dapat dilihat dari kedudukan orang-orang yang mencari, memiliki, mengajarkan, dan mengamalkannya (‘ulama). Al-Qur’an secara tegas membedakan antara mereka yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui, sebagaimana az-Zumar: 9:

“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

Allah Swt pun meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu sebagaimana dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut Ilmu, dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Fathir ayat 28: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu).”

Takut kepada Allah yang positif, akan membentuk prinsip utama dalam kehidupan Islam dapat dicapai oleh mereka yang berpengetahuan (35: 28), karena mereka bersama para malaikat mampu menyaksikan wujud dan keesaan Tuhan (3: 18) melalui bukti-bukti penciptaan. Hanya orang-orang yang berpengetahuan yang akan memahami arti hikmah Tuhan melalui perumpamaan-perumpamaan (amtsal), yang Ia tunjukkan kepada mahasiswa.[9]

Semakin manusia mengamalkan aturan dan undang-undang Ilahi, semakin terbuka pula pintu hatinya. Saat itu, ia akan mampu menyaksikan berbagai perkara yang tidak dapat disaksikan orang lain. Dengan demikian, setiap orang yang berjalan dan mengembara menuju Allah, sesuai kadar potensi dan kemampuannya, akan merasakan kelembutan dan mereguk ilham ilahiah. Dan dalam hal ini, terdapat perbedaan antara mengetahu dari belajar dan usaha dengan mengetahui dari anugerah dan karunia Ilahi. Pengetahuan hasil usaha masih diliputi keraguan, sementara pengetahuan yang dihasilkan lewat penyucian hati dan jiwa merupakan ilmu hakiki dan sejati, yang sama sekali tidak dicemari keraguan dan kebimbangan.[10]

Oleh karena itu, Ilmu pengetahuan yang diraih hanya lewat perdebatan dan argumentasi, tanpa diiringi penyucian jiwa, tak akan terbebas dari kegelapan dan kekotoran, serta tidak menghasilkan keimanan dan keyakinan. Ilmu disertai keykinan (hakiki) akan memancarkan cahaya, kesenangan, dan kebahagiaan. Selain pula akan memisahkan kita dari selain Allah, serta menenggelamkan kita dalam lautan keagungan dan kebesaran.

 

–          Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

Semua yang berasal dari Tuhan, termasuk pengetahuankarenaDia-lah Tuhan yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Konsep kekuasaannya meliputi pemeliharaan terhadap ciptaannya, dengan membentuk mekanisme tertentu di dalamnya sesuai dengan sifat atau instinknya, sebagaimana juga melalui wahyu langsung seperti dalam kasus manusia. Gagasan bahwa Dia-lah satu-satunya yang mengajarkan manusia sering digambarkan (al-Baqarah:31, ar-Rahman:2, al-Alaq: 4-5, al-Baqarah: 239, 5: 1-4). Dalam ar-Rahman: 1-4, al-Qur’an mengatakan: “Dia telah mengajarkan al-Qur’an kepada manusia dan mengajarinya penjelasan (bayan).

Wahyu yang diterima oleh semua Nabi yang berasal dari Tuhan, merupakan pengetahuan yang pasti. Al-Qur’an juga menunjukkan sumber-sumber pengetahuan yang lain, kajian dan orientasi penting yang dapat melengkapi kebenaran pengetahuan wahyu. Pada dasarnya sumber-sumber itu juga diambil dari sumber yang sama, yaitu Tuhan, asal segala sesuatu. Namun, karena pengetahuan yang tidak diwahyukan tidak diberikan langsung oleh Tuhan kepada manusia, dan karena mudah dibantah keterbatasan metodologis dan aksiologisnya, maka tidak mempunyai kedudukan yang sama dengan pengetahuan wahyu. Hlm. 39

Sumber-sumber pengetahuan lain adalah fenomena alam, psikologi manusia dan sejarah. Al-Qur’an, disamping menunjukkan sumber-sumber pengetahuan eksternal, ia sendiri merupakan sumber utama pengetahuan. Penunjukannya pada fenomena alam dan peristiwa historik, metafisis, sosiologis, alami, dan eskatologi mesti benar.[11] Karena al-Qur’an bukan uraian filosofis, juga bukan uraian akademis tentang epistemologi, maka al-Qur’an tidak menggambarkan suatu definisi pengetahuan sekalipun secara singkat. Namun, sifat penting ajaran al-Qur’an tentang pengetahuan dapat dilihat secara jelas dari lembaran-lembarannya.

Karena al-qur’an sebagai sumber pengetahuan, tentu Didalam al-Qur’an kita dituntut untuk melakukan intizhar[12] dengan menggunakan akal dan pikiran, seperti dalam QS. Yunus: 101:

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Juga penggunaan akal pikiran untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda kekuasaan Allah ditegaskan dalam ayat 11-12 surah an-Nahl:

Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya).

Dari uraian-uraian tersebut dapatlah diambil kesimpulan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini, kita diperintahkan untuk berintizhar ke alam fisis untuk dapat mengetahui sunnatullah yang berlaku didalamnya, sehingga sains dapat dikuasai dan teknologi dapat dikembangkan agar kita dapat mengelola dan memanfaatkan alam fisis ini sebagai layaknya khalifah di bumi didasarkan atas niat ibadah kepada Allah untuk mempersiapkan diri bagi hari depan di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qashash: 77:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ilmu pengetahuan kealaman sebenarnya justru dapat digunakan untuk mempertebal iman atau keyakinan, sedangkan agama sebaliknya dapat memberikan bimbingan dalam hal-hal dimana akal manusia tidak dapat menghasilkan penalaran.Jika manusia mendapatkan ilmu maka terkuaklah sebagian besar rahasia alam dan kehidupan di hadapannya. Cukup jelas bahwa kata ilmu dalam Al Qur’an tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam pengertian sehari-hari. Sedangkan dalam pengertian sehari-hari tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam arti se­sungguhnya yang dirujuk dari konsep Al Qur’an. Ilmu menurut konsepsi Islam tidak melihat keterpisahan antara yang riil dan yang gaib, sedangkan sains yang telah tereduksi tidak menambah kedekatan kepada Sang Pencipta sehingga menimbulkan kerusakan kehidupan.

Ilmu menurut konsepsi Islam secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, termasuk yang dapat disaksikan oleh indera manusia maupun yang tidak bisa disaksikan oleh indera (gaib) yang hanya bisa diketahui oleh manusia lewat wahyu. Kedua adalah ilmu manusia meliputi ilmu perole­han dan ilmu laduni. Ilmu perolehan yang dapatkan lewat berbagai perenungan dan pembuktian, sedangkan ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang tertentu yang dipilih-Nya. Dalam hal ini, hanya mereka yang bersih dan suci hatinya yang berpel­uang mendapatkan ilmu ini.

Sebenarnya, didalam diri kita terdapat setumpuk konsep dan gambaran, dan tidak diragukan lagi bahwa banyak pendapat yang mendekati konsensus mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat banyak hal yang muktasabah (diperoleh melalui usaha), sebagaimana yang dijelaskan oeh ayat al-Qur’an dalam QS. An-Nahl: 78.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Sebagian pemikir bersandar pada ayat ini guna menegaskan bahwa semua pengetahuan yang kita miliki adalah muktasabah (diperoleh melalui usaha), sekalipun terlihat bahwa ada pengetahuan-pengetahuan yang bersifat fitrah. Pengertian lahiriah ayat tersebut mengatakan, “Sesungguhnya ketika kamu sekalian dilahirkan, kamu sekalian belum mengetahui suatu apapun.” Artinya lembaran hati masih bersih dan belum ada goresan apapun. Lalu kalian diberi pendengaran, penglihatan, dan kalbu, agar dengan itu kalian dapat menuliskan berbagai hal di lembaran hati kalian.[13]

 

  1. Ilmu Pengetahuan Menurut Perspektif al-Qur’an

Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan yang didasarkan pada penelitian dan perenungan manusia, melainkan merupakan kitab petunjuk bagi manusia yang dapat mengajarkan apa-apa yang tidak dapat diketahui manusia karena berada di luar jangkauan penelitian dan perenungan.

Ilmu dalam bahasa Arab diambil dari kata ‘ilm yang artinya kejelasan atau al-fahm yakni memahami sesuatu. Kata ilmu dalam al-Qur’an disebut sebanyak 854 kali dalam berbagai bentuk. Kata ilmu itu sendiri sering disandingkan dengan kata pengetahuan. Masing-masing memang memiliki arti tersendiri. Namun keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.[14]

Ilmu pengetahuan dalam Q.S. az-Zumar [39]: 9

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ (الزمر: 9)

Artinya : “Katakanlah :”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)

M. Quraish Shihab menafsirkan ayat di atas, bahwa ada ulama yang memahami kata يعلمون sebagai kata yang tidak memerlukan objek. Maksudnya, siapa yang memiliki pengetahuan, apapun itu jenis pengetahuannya, pastilah tidak sama dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan. Jika kita menggunakan makna ini, maka harus digarisbawahi ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bermanfaat, yang mana pengetahuan itu yang menjadikan seseorang mengetahui hakikat sesuatu, lalu menyesuaikan diri dan amalnya dengan pengetahuan itu. Kata يتذكّر berasal dari kata ذكر yaitu pelajaran/peringatan. Penambahan huruf ( ﺘ ) ta’ dalam ayat ini mengisyaratkan banyaknya pelajaran yang diperoleh oleh Ulul Albāb. Yang memperoleh pengetahuan bukan hanya Ulul Albāb saja, selain mereka pun juga dapat memperoleh pelajaran, akan tetapi tidak sebanyak Ulul Albāb.[15]

Ath-Thabari menafsirkan ayat di atas, bahwa Allah swt berfirman, ”Katakanlah wahai Muhammad kepada kaummu, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui balasan untuk mereka dari Tuhan mereka atas ketaatan mereka dan pembalasan terhadap perbuatan maksiat mereka dengan orang-orang yang tidak mengetahui semua itu sehingga mereka berbuat semau mereka, tidak berharap kebaikan atas perbuatan baik mereka, dan tidak takut terhadap kejelekan dari perbuatan mereka? Apakah kedua golongan itu sama’?”[16] Lalu lanjutan ayat tersebut adalah إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الأَلْبَابِ yakni, “Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”, maksudnya hanya orang yang berakal yang mengambil i’tibar dan pelajaran dari apa yang dipelajarinya lalu diamalkannya.

Al-Qurthubi menafsirkan ayat tersebut, bahwa jangan berhenti pada firman-Nya, رَحْمَةَ رَبِّهِ “Rahmat Tuhannya”. Barangsiapa yang membaca a man huwa qaanit tanpa tasydid, maka bermakna seruan, sebab firman-Nya: قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” itu bersambung, kecuali jika dikatakan bahwa ada lafadz yang tidak disebutkan di dalam sebuah kalimat, dan ini lebih mudah dipahami sebagaimana yang telah dijelaskan. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi mengutip perkataanya az-Zujjaj bahwa, “Sebagaimana tidak sama antara orang yang –orang mengetahui dan yang tidak mengetahui, demikian pula tidak sama antara orang-orang yang taat dan pendosa”. Ulama lainnya berkata, “Orang-orang yang beriman adalah mereka yang dapat mengambil manfaat dari ilmunya dan mengamalkannya, siapa yang tidak mengamalkan ilmunya, maka sama dengan orang yang tidak berilmu.”[17]

Dari ketiga tafsir tersebut, yakni Tafsir al-Mishbāh, Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi penafsirannya sama, bahwa Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Dan pemerolehan ilmu tidak hanya dibatasi hanya kepada Ulul Albāb saja, akan tetapi siapa saja bisa memperoleh ilmu, hanya saja tidak seluas apa yang didapatkan oleh Ulul Albāb.

Q.S. al-Mujādalah [58]: 11

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (المجادلة: 11)

Artinya:  “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujādalah: 11)

M. Quraish Shihab menafsirkan ayat di atas, bahwa ayat tersebut tidak menyebutkan secara tegas bahwa Allah swt akan meninggikan derajat orang berilmu. Akan tetapi menegaskan mereka yakni orang-orang yang berilmu itu memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman saja. Kata meninggikan tersebut tidak mengisyaratkan bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu. Yang dimaksud dengan الّذين أوتوا العلم yakni yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut membagi kaum beriman ke dalam dua kelompok besar, yang pertama mereka yang sekadar beriman dan beramal shaleh, dan yang kedua mereka yang beriman dan beramal shaleh serta memiliki pengetahuan. Dan kelompok yang kedua itulah yang mendapatkan derajat yang lebih tinggi, bukan hanya mereka memiliki nilai ilmu yang disandangnya, akan tetapi pengamalan mereka terhadap ilmu yang mereka miliki kepada orang lain, baik itu secara lisan, tertulis maupun dengan keteladanan. Ilmu yang dimaksudkan bukan hanya ilmu agama, akan tetapi ilmu apapun yang bermanfaat.[18]

Sedangkan Ath-Thabari menafsirkan ayat di atas, bahwa Allah swt mengangkat derajat orang beriman yang diberi ilmu dan mereka mengamalkan ilmunya, dari pada orang yang beriman akan tetapi tidak memiliki ilmu. Dan yang dimaksud dengan والله بما تعملون خبير “Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”, bahwa Allah punya pengetahuan tak terbatas tentang semua perbuatan makhluk-Nya, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Dan semua perbuatan tersebut pasti ada balasannya masing-masing.[19]

Al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas, bahwa yang lebih tepat yang dimaksud dalam ayat tersebut, bahwa Allah swt mengangkat derajat orang beriman karena dua sebab: pertama, karena imannya, dan kedua karena ilmunya.[20]

Dari ketiga tafsir tersebut di atas, dan ditambah satu tafsir lagi Tafsir Ibnu Katsir menghasilkan penafsiran yang sama, hanya saja berbeda dalam bahasa. Intinya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu, dimana dia mengamalkan ilmunya itu untuk orang lain, sehingga ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

 

[1] KBBI offline versi 1.1

[2] Surajiyo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia, Ed. 1, Cet. 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 26.

[3] H Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 1.

[4] Juhaya S. Praja, Filsafat Mtodologi Ilmu dalam Islam, (Jakarta Selatan: Penerbit Teraju, 2002), hlm. 3.

[5] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Ed. 1, Cet. 1, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 91.

[6]Aceng Rahmat dalam H. Jalaluddin, op. cit., hlm. 83.

[7] A. Baiquni. Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern. (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), hlm. 1.

[8]Al-‘Allamah ‘Abdullah Al-Haddad, Meraih Kebahagiaan Sejati. Ter. Al-Fushul Al-Ilmiyyah wa al-Ushul Al-Hukmiyyah. (Bandung; Mizan Pustaka, 2005),, hlm. 74.

[9] Wan Mohd. Nor Wan Daud, Konsep Pengetahuan dalam Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1997), hlm. 37.

[10] Majid Rasyid Pur, Penyucian Jiwa, (Bogor: Cahaya, 2003), hlm. 72

[11] Wan Mohd. Nor Wan Daud, op. cit., hlm. 39

[12]Suatu kata yang ada hubungannya dengan nazhar, yang bunyinya dekat dengan nalar.

[13] Murtadha Muthahhari, Fitrah: Menyingkap Hakikat, Potensi dan Jati diri Manusia, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 46.

[14] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an,(Bandung: Mizan, 1996), Hal. 434

[15] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol: 12.,(Jakarta: Lentera Hati, 2002), Hal: 197

[16] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari; jil. 22, penerjemah, Misbah, Abdul Somad, Abdurrahim Supandi; ed, Besus Hidayat Amin, Edy Fr, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Hal: 312

[17] Syaikh Imam Al-Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi; jil. 15; penerjemah, Muhyiddin Mas Rida, Muhammad Rana Mengala, Ahmad Athaillah Mansur; ed, Mukhlis B Mukti, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Hal:559-560

[18] M. Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Vol: 14….. Hal: 79-80

[19] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari; jil. 24….. Hal: 807-808.

[20] Syaikh Imam Al-Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi; jil. 18….. Hal: 181-180.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s