Resensi: Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam

nalar2Judul Buku: Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis: Husain Heriyanto
Penerbit: Mizan Publika
Terbit: Cetakan 1, Juni 2011

Tebal Halaman: xxxii + 376 Halaman

Ukuran: 15,5 × 23,5 cm

Sejarah masa klasik telah mengukir peradaban ilmu pengetahuan yang berkembang begitu pesat. Sebuah masa pencerahan yang menjadikan Islam mampu berpijak sebagai ladang subur tumbuhnya aktivitas-aktivitas keilmuan. Peradaban gemilang yang diusung oleh Para Ilmuan Muslim Klasik berhasil melahirkan sumbangsih terbesar bagi khazanah ilmu pengetahuan bahkan menjadi bahan rujukan hingga abad 21. Namun, suatu kenyataan pahit bagi nasib umat Islam bila akhirnya harus jatuh tersungkur setelah peradaban Barat bangkit menghegemoni era modern. Tak hanya itu, sebagian penemuan sains Ilmuan-ilmuan Muslim pun diklaim oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Sungguh pun demikian, umat Islam semakin terpuruk dan menjadi bangsa yang jauh tertinggal dari kemajuan Barat. Kemanakah tradisi intelektual Ilmuan Muslim Klasik yang semestinya dipertahankan dan dijunjung tinggi oleh generasi Muslim?

Berbicara mengenai tradisi, buku yang bertajuk “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” ini, kiranya begitu relevan dihidangkan sebagai santapan menilik era kegemilangan peradaban Islam abad 8-14 M. Buku yang dikarang oleh Husain Heriyanto ini telah berhasil mendedah bagaimana tradisi intelektual para Ilmuan Muslim Klasik yang telah dibangun berabad-abad berhasil melahirkan sebuah imperium besar nan berperadaban tinggi hingga mampu mendominasi tradisi intelektual sebagian besar dunia dalam jangka waktu yang lama. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat terutama teori-teori ilmu pengetahuan Islam seperti Ilmu Ulumul Qur’an, Hadis, Fiqh, Ushl Fiqh, Teologi, Filsafat, Sains dan Tasawuf, menjadi tradisi keilmuan Islam. Sains yang diwariskan oleh peradaban-peradaban pra-Islam seperti astronomi, alkimia fisika, kedokteran, dan geometri, tak hanya dipaparkan dengan landasan teori dan contoh-contoh yang amat kaya dari khazanah ilmu pengetahuan Muslim, melainkan juga dipaparkan dengan suatu jenis ilmu pengetahuan yang tidak hanya bersifat empiris dan rasional, melainkan juga etis dan estetis. Dari sini kita dapat menemukan pandangan filosofis ilmuan-ilmuan muslim seperti Ikhwan al-Shafa’, al-Farabi, Ibn Sina, al-Biruni, Jabir b. Hayyan, Zakariyyah ar-Razi, Nashir al-Din al-Thusi, dan Umar Khayyam sebagai pelopor peradaban yang berfondasi utuh pada intelektualitas, integritas, orisinalitas, dan keterbukaan tanpa memandang sekularitas.

Dalam buku ini, Husain mengajak kita untuk bangkit ditengah gempuran modernitas yang memiskinkan akal sehat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang dipandang secara materialistik. Sebagaimana perkataan Haidar Bagir (Hal. xxvi) “Upaya penulisnya yang mendekati ilmu pengetahuan secara fenomenologis dan hermeneutis kiranya sebagai suatu upaya “pembuka mata” bahwa ilmu pengetahuan bukan semata-mata persoalan “fakta-fakta empiris keras”, melainkan juga bersifat budaya (humaniora)”. Islam harus mampu bangkit untuk menghidupkan kembali nalar kritis sebagai langkah awal membangkitkan apa yang pernah dicapai oleh para Ilmuan Muslim terdahulu. Sebagai umat muslim, kita patut menghargai masterpiece-masterpiece besar para Ilmuan Muslim Klasik untuk membangkitkan kesadaran akan keterbelakangan kita yang begitu jauh dari tradisi intelektual. Tradisi membangun nalar yang telah lama dijunjung tinggi selama berabad-abad oleh Para Ilmuan Muslim Klasik, semakin lama semakin sirna ditelan hegemoni tradisi ilmiah modern yang sekuler. Hingga akhirnya peradaban Barat pun berhasil memutar kedudukan umat Islam menjadi umat yang jauh tertinggal.

Inilah sebuah karya yang telah berhasil menghidupkan kembali salah satu bentuk khazanah intelektual Islam dalam keterkaitannya dengan kondisi dan kebutuhan zaman modern. Buku sebagai sumbangan orisinal ini, kiranya dapat memuaskan dahaga umat Islam ditengah kondisi yang mengancam persatuan dan kesatuan internal umat islam sekarang ini. Generasi Muslim harus banyak belajar dari para kreator peradaban “Sarjana Muslim” yang tidak memandang sekularitas keilmuan dan menghargai akal sehat serta membangun nalar. Inilah tradisi intelektual yang patut dijunjung tinggi dari para pelopor sarjana Muslim yang nampak begitu kreatif dan inovatif diperkenalkan sebagai fondasi utama dalam kemajuan umat.

Saatnya umat Islam harus bangkit dari  keterlelapannya. Kiranya bagi pemuda yang antusias bergumul dengan filsafat merupakan sebagai bentuk langkah awal dalam mengidupkan nalar. Tentu, buku ini lah sebagai pintu gerbang dalam membuka kesadaran akan pentingnya menghidupkan kesadaran umat Islam dalam membangun akal sehat dan nalar sebagaimana yang telah diwariskan oleh sarjana Muslim Klasik. Harapan besar bila setelah membaca buku ini, umat Islam dapat kembali menemukan kecerahan sebagaimana masa-masa pencerahan Islam terdahulu. Selamat Membaca! :)  [Hikmah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s