FILSAFAT MATEMATIKA; Menuju Matematika Fisik ke Metafisik

(Terinspirasi dari Buku “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” karya Husain Heriyanto)

matematikBagi teman-teman yang senang bergelut dengan matematika mungkin tak pernah tau menau ataupun menyadari bagaimana matematika memiliki korelasi yang begitu erat dengan realitas fisik bahkan metafisik sekalipun. Sebuah paradigma pandangan dunia Barat modern yang telah menafikan metafisika dalam disiplin ilmu, menyebabkan ilmu pasti ini hanya sebagai ilmu alat dalam ilmu-ilmu seperti fisika, astronomi, kimia, teknik maupun komputasi. Kita tak pernah diperkenalkan matematika sebagai ilmu alat untuk memahami metafisika termasuk didalamnya sebagai ilmu-ilmu Ketuhanan dan kebijaksanaan (hikmah). Kita hanya diperkenalkan matematika hanya sebatas angka-angka sebagai pengetahuan empiris, sehingga tak heran kedudukan matematika itu tak lebih hanya sebagai pelayan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dunia fisik.

Sedikit beranjak ke belakang, sebuah era dimana kejayaan Islam begitu maju dengan peradaban ilmunya, kita akan disingkapkan oleh tabir tentang bagaimana posisi matematika dalam pandangan sarjana muslim klasik. Menurut Nasr, matematika dalam perspektif Islam dipandang sebagai gerbang dari dunia indra menuju dunia intelligible, tangga antara dunia perubahan dan dunia arketip abadi. Seorang fisuf muslim, al-Kindi, menyebutkan bahwa telaah matematika merupakan latihan kemampuan intelektual seseorang untuk memasuki dunia metafisika. Dengan telaah matematika, intelek seseorang telah terlatih untuk berpikir abstrak yang tidak lagi bergantung pada benda-benda indriawi sehingga keterlatihan itu memudahkan seorang pelajar untuk menekuni ilmu-ilmu intelligible seperti filsafat, metafisika, dan teologi. Dengan demikian, matematika memiliki peran dalam pengembangan potensi intelek manusia yang merupakan amanat Tuhan yang harus dipertangggungjawabkan (Husain Heriyanto, 2011).

Matematika dalam pandangan filosofis, adalah sebagai induk ilmu-ilmu. Matematika memilki sebuah korelasi manusia sebagai subjek dengan prinsip-prinsip matematika sebagai objek. Maka dapatlah dikatakan bahwa prinsip-prinsip matematika bukan sesuatu yang asing dan terisolasi dari realitas, melainkan berkorelasi erat dengan kesadaran subjek dan kehidupan nyata. Bilangan-bilangan dalam matematika yang biasa kita geluti dengan makna kuantitatif yang bercorak materialistik, terdapat makna kualitatif dimana ia memiliki esensi tersendiri didalamnya. Bilangan memiliki status dan peran masing-masing dalam membangun rangkaian tangga bilangan yang saling berkorelasi erat atau saling berhubungan. Sedikit memaparkan tentang riwayat Sayyidina Ali r.a terhadap pertanyaan dua pendeta Yahudi mengenai makna bilangan-bilangan dalam Kitab Suci (dalam Husain Heriyanto, 2011).

“Menurut Ibn Abbas, mereka bertanya kepada Sayyidina Ali r.a tentang satu yang tiada duanya, tentang dua yang tiada tiganya, sampai seratus yang mereka dapatkan di Taurat dan yang kaum muslim baca didalam al-Qur’an. Sayyidina Ali segera menjawabnya:

Adapun satu adalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Adapun yang dua adalah Adam dan Hawwa. Adapun yang tiga adalah Jibril, Mikai, Israfil; mereka adalah pemimpin malaikat. Adapun yang empat adalah Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur’an. Adapun yang lima adalah shalat yang Allah turunkan atas Nabi kami dan umatnya dan yang tidak pernah diturunkan atas nabi sebelumnya atau umat kami sebelumnya

Adapun yang enam adalah Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari. Adapun yang tujuh adalah tujuh langit yang bertingkat-tingkat. Adapun yang delapan adalah: Dan yang memikul ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka saat itu delapan (malaikat) (QS. Al-Haqqah: 17). Adapun yang sembilan adalah tanda-tanda Musa yang sembilan. Adapun yang sepuluh adalah: Maka itulah sepuluh hari yang sempurna (QS. Al-Baqarah: 196). Adapun yang sebelas adaah perkataan Yusuf kepada ayahnya, Sungguh aku melihat sebelas bintang (QS. Yusuf: 4). Adapun yang dua belas adalah setahun itu sebanyak dua belas bulan. Adapun yang tiga belas adalah perkataan Yusuf kepada ayahnya, Dan matahari dan Bulan aku lihat mereka bersujud kepadaku (QS. Yusuf: 4). Sebelas bintang adalah saudara-saudaranya sedangkan Matahari adalah ayahnya dan Bulan adalah ibunya.

Adapun yang empat belas adalah empat belas pelita dari cahaya yang bergelantungan dilangit ketujuh. Yang lima belas adalah kitab-kitab yang diturunkan secara garis besar dari Lauh al-Mahfuzh kelangit dunia pada lima belas Ramadhan. Sedangkan yang enam belas adalah enam belas barisan para malaikat yang berbaris di sekitar ‘Arsy. Sementara itu, yang tujuh belas adalah tujuh belas nama dari nama-nama Allah yang tertulis diantara surga dan neraka, karena jika tidak ada itu maka akan terpecik satu percikan yang akan membakar langit dan bumi. Adapun yang delapan belas adalah delapan belas hijab dari cahaya yang bergelantungan anatara ‘Arsy dan al-Kursiyy, karena andaikan itu tidak ada, maka gunung-gunung yang tinggi akan hanacur dan langit dan bumi serta di antara keduanya akan terbakar cahaya ‘Arsy.

Adapun yang sembilan belas adalah sembilan belas melaikat penjaga jahannam. Yang dua puluh adalah Allah telah menurunkan Kitab Zabur atas Daud a.s. pada hari kedua puluh Ramadhan. Sedangkan yang dua puluh satu adalah Allah memberikan Daud a.s. kemampuan melunakkan besi pada hari yang kedua puluh satu. Sementara itu, yang dua puluh dua adalah selesainya perahu Nabi Nuh a.s. Yang dua puluh tiga adalah hari kelahiran Isa a.s. dan turunya hidangan atas Bani Israil. Adapun yang dua puluh empat adalah Allah mengembalikan mata Nabi Ya’qub a.s. Yang dua puluh lima adalah Allah berbicara dengan Nabi Musa a.s. di lembah yang suci selama dua puluh lima hari. Adapun yang dua puluh enam adalah tinggalnya Nabi Ibrahim a.s. di dalam api, namun api itu menjadi dingin dan beliaupun selamat. Yang dua puluh tujuh adalah Allah mengangkat Idris a.s. ke tempat yang tinggi dalam usia dua puluh tujuh tahun. Yang dua puluh delapan adalah Yunus as tinggal didalam perut ikan. Adapun yang tiga puluh adalah: Maka Kami menjanjikan kepada Musa sesudah tiga puluh malam (QS al-A’raf: 142). Sementara itu, yang empat puluh adalah sempurnanya perjanjian Musa a.s. Adapun yang lima puluh adalah lima puluh ribu tahun. Yang enam puluh adalah kafarat berbuka, Maka yang tidak mampu, hendaknya memberi makanan kepada enam puluh orang miskin (QS al-Mujadilah: 4). Yang tujuh puluh adalah: Tujuh puluh orang dari kaumnya yang memohon taubat dari Kami (QS al-A’raf: 55). Adapun yang delapan puluh adalah: Maka pukullah mereka dengan pecut sebanyak delapan puluh kali (QS al-nur: 4). Yang sembilan puluh sembilan adalah: …maka dia mempunyai sembilan puluh sembilan ternak (QS Shad: 23). Adapun yang seratus adalah: Maka pukullah masing-masing dari mereka dengan pecut sebanyak seratus kali (QS al-Nur: 2).

Dari paparan kisah tersebut dapat dipahami bahwa bilangan dalam konteks kualitatif bahwa bilangan bersifat referensial: bahwa bilangan  mempunyai korelasi dengan berbagai dimensi fenomena-fenomena kehidupan seperti spiritual, sosial, dan alamiah. Dengan demikian dapatlah kita telisik bahwa matematika dalam khazanah ilmu pengetahuan modern dihubungkan dengan bidang-bidang ilmu yang bersifat empiris seperti fisika, kimia, astronomi, atau teknologi seperti elektronik digital, komputer. Matematika telah menjadi alat atau budak dari sains empiris-mekanistik yang pada gilirannya juga sains terakhir itu pun sekedar menjadi budak hasrat imperalisme Barat untuk menghegemoni dunia. Padahal sebelumnya pada peradaban Islam, matematika menempati posisi penting sebagai pintu gerbang untuk memasuki dunia metafisika. Matematika disebut ilmu pasti, ilmu apriori yang kebenarannya tidak bergantung pada pengalaman empiris, namun semata-mata kebenaran konsistensi-rasional-jiwa. Selain itu, matematika pun memiliki hubungan yang erat dengan Tauhid, Etika, Estetika.

Matematika memiliki dua konsep primer yang lahir dari realitas yakni; bilangan dan bentuk. Konsep bilangan dan bentu tidaklah dilekatkan pada realitas namun disingkap dari realitas itu. Konsep kedua itu melambangkan keragaman, kejamakan, pluralitas wujud realitas. Namun, yang menjadi pertanyaan disini dari manakah muncul keragaman itu? Mengapa keragaman maujud di alam itu saling berkorelasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memabawa kita berpikir bahwa dibalik keragaman terdapat ketunggalan. Semua bilangan dalam tangga bilangan-bilangan merupakan manifestasi bilangan satu. Begitupun dengan keragaman maujud di alam semesta yang merupakan manifestasi Yang Esa dengan segala atribut-Nya; Mahaindah, Mahakuasa, Maha Penyayang, dst. Itulah uraian bagaimana matematika dihubungkan dengan Teologi.

Berkaitan dengan etika, matematika dipandang dapat melatih kecakapan-kecakapan jiwa manusia yang berhubungan dengan pembinaan karakter. Sikap yang terbina melalui etos matematika adalah keterlatihan bersikap dan berwatak jujur, orisinal, dan autentik serta benci kepada kepalsuan, manipulasi, dan kecurangan. Sehingga tak hanya membina kecerdasan, matematika dapat membina untuk terbiasa dengan kejujuran, mampu menanggung beban pikiran, menyukai kebenaran, menghindari perbuatan batil, dan membenci kebohongan. Kemudian, matematika juga dapat membawa pada kecintaan kebenaran universal. Prinsip-prinsip matematika berlaku universal, seperti penjumlahan 1+1= 2, berlaku dari dulu sampai sekarang. Etos-etos yang lain diantaranya: (1) etos kesederhanaan,  dimana peneyelesaian soal-soal matematika pun pada esensinya mengerah kepada perumusan yang lebih sederhana dengan menghilangkan vaiabel-variabel yang tidak perlu, (2) etos konsisten dan tanggung jawab, (3) etos tekun dan sabar, (4) etos disiplin, dalam proses penyelesaian matematika harus digunakan sistematika penalaran, tahapan-tahapan (algoritma), dan ketertiban alur berpikir.

Telaah matematika mendorong seseorang untuk berpikir jernih dengan kepala dingin dan tenang tanpa emosi yang impulsif. Belajar matematika adalah belajar ketenangan, keheningan, kesunyian, tanpa keterlibatan hasrat, syahwat, dan emosi yang biasanya meledak-ledak dan reaktif. Pelajar yang menekuni matematika harus siap sedia untuk hidup dalam dunia yang sunyi dari hiruk pikuk keramaian, kehebohan, sensualitas, dan aksesoris. Mungkin inilah yang menyebabkan rendahnya minat pelajar dalan menekuni matematika sebagaimana mereka enggan hidup dalam kesunyian, kemandirian, dan kurangnya kehangatan emosional. Dengan demikian, matematika menuntun seseorang untuk tidak mudah impulsif, tidak mudah tergoda, tidak tergiur dengan pesona gaya hidup eksesori dan gengsi, tidak mudah terpesona oleh hiruk pikuk keramaian, dan tidak larut dalm kehebohan dunia massa. Matematika melatih seseorang untuk tabah dan sabar dalam menjalani kehidupan yang hening, tenang dan sunyi. Matematika dapat mempertajam penalaran dan kemampuan kecerdasan emosional seseorang. Matematika berperan sebagai alat uji ketabahan mental dan kekuatan jiwa.

Berkaitan dengan estetika, matematika memiliki hubungan yang erat dengan musik sehingga musik pada akhirnya digolongan ilmu-ilmu matematis. Menurut Nasr, bahwa keterkaitan musik dengan estetika karena musik bekerja pada keseimbangan dan proporsionalitas (dalam aspek ontologis dari kesatuan). Berkaitan dengan ini, tangga-tangga nada musik merupakan bentuk proporsionalitas yang dapat diekspresikan dengan perbandingan antara bilangan-bilangan. Tinggi rendahnya nada dapat dirumuskan dala hukum matematis. Maka, secara dialektis, matematika pun dianggap oleh sarjana Muslim sebagai seni. Dengan demikian, prinsip keseimbangan merupakan sebagai kunci dalam hubungan eratnya antara matematika dan musik sebagai estetika. [Hikmah]

One thought on “FILSAFAT MATEMATIKA; Menuju Matematika Fisik ke Metafisik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s