KATA TAKDIR DALAM AL-QUR’AN

destinyManusia tak dapat luput dari takdir, baik itu takdir buruk maupun baik. Allah SWT telah menetapkan kepada manusia yang diciptakannya didunia ini dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Terkadang manusia menganggap dirinya buruk namun sejatinya terdapat kebaikan yang Allah berikan dibalik yang buruk itu, sedangkan manusia tidak menyadari akan hal itu. Begitupun sebaliknya, terkadang sesuatu yang dianggap baik oleh manusia, ternyata buruk dimata Allah. Disisi lain, terkadang pula manusia mengeluh atau memprotes ketetapan yang dianggap buruk oleh dirinya. Hal inilah yang menyebabkan manusia tidak pernah bersyukur terhadap dirinya dengan dalih ketidakadilan Allah dan ia pun selalu menuntut keadilan-Nya. Patutlah kita ketahui bahwa takdir adalah anugrah dari–Nya dan segala yang telah dianugrahkan oleh Allah pasti mendatangkan kebaikan. Dengan ketetapan yang telah ditentukan oleh-Nya itu, maka manusia tak dapat melampaui batas ketetapannya. Dengan takdir pula, Allah menuntun dan menunjukkan manusia kearah yang seharusnya ia tuju.

Banyak ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang takdir, takdir yang diperuntukkan bagi seluruh makahluk-Nya tanpa terkecuali. Dari ayat-ayat takdir, kita akan temukan bahwa Allah-lah sebagai Sang Maha Penetap Takdir itu sedangkan makhluk harus bisa menerimanya. Meskipun demikian, takdir tidak menghalangi manusia untuk menentukan masa depannya sendiri namun tetap membutuhkan bantuan-Nya dalam segala urusan apapun dan kapanpun. Oleh karena itu, untuk mengenal lebih jauh mengenai takdir, perlulah kita telusuri kata-kata takdir dalam al-Qur’an yang mungkin memiliki arti yang berbeda dari setiap ayatnya. Namun, sebelum itu kita harus ketahui akar dari kata “takdir”.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa takdir berasal dari kata “قَدَّرَ- يُقَدِّرُ- تَقْدِيْرٌ ” yang berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Adapun kata-kata yang berhubungan dengan ketetapan Allah diantaranya: قدر, قضى, خلق, عمل, شاء, الأمر, اراد . Namun, dalam tulisan ini, akan lebih difokuskan pada akar kata “قدر” yang memiliki banyak arti selain daripada ketetapan. Tentu, banyaklah kita dapat temukan kata “قدر” tersebut dalam al-Qur’an, namun diperlukan kejelian dalam menelitinya apakah kata tersebut benar-benar menunjukkan ketetapan Allah atau bukan. Berikut ini beberapa ayat al-Qur’an yang mengandung kata “قدر”:

  1. 1.         Al-Fajr: 16
  1. 2.         Al-Mursalat:23
  1. 3.         Al-Isra’: 30
  1. 4.         Al-an’am: 91

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia

  1. 5.      Al-Anbiya: 87
  1. 6.      Ath-Tholaq: 7
  1. 7.      Al-Mudatsir: 18
  1. 8.      Al-A’la: 3
  1. 9.      Al-waqi’ah: 60
  1. 10.     Al-Insan: 16
  1. 11.     Ath-Tholaq: 3

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

  1. 12.     Al-Mumtahanah: 7

…………………

“..dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  1. 13.    Al-Ahqaf: 33
  1. 14.    Al-Furqon: 2

…………

“…Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

  1. 15.  As-Sajdah: 5

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

  1. 16.    As-Saba’: 13

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).……………………………..

Selain dari beberapa ayat diatas, masih banyak lagi kata-kata mengenai takdir dalam al-Qur’an yang tidak penulis cantumkan karena memang sangat banyak sekali. Namun, meskipun demikian, ayat-ayat yang disebutkan telah mewakili dari sekian ayat yang memiliki arti yang sama. Oleh karena itu, jika dilihat dari beberapa ayat diatas, kita dapat ketahui bahwa terdapat kata-kata yang berakar pada “قدر “didalam al-Qur’an, diantaranya:

“قُدُوْر, مِقْدَارُهُ, تَقْدِيْرٌ, قَدِيْرٌ, قَدْرًا, قَدَّرْنَا, قَدَّرَ, قُدِرَ, نَقْدِرَ, قَدَرُوا, يَقْدِر, قَدَرْنَا”

Dari kata-kata tersebut terdapat beberapa yang memiliki arti ketetapan sebagaimana makna kata “takdir” seperti yang disinggung sebelumnya dan ada pula yang memiliki perbedaan arti. Pada surah al-Fajr ayat 16, “qadara” diartikan sebagai “membatasi”. Sedangkan pada surah al-Isra’ ayat 30, ath-Tholaq ayat 7, dan al-Anbiya’ ayat 87 memiliki arti “sempit”. Dilain sisi, pada surah al-An’am ayat 91, “qadaruu” diartikan menghormati dan pada surah al-Mumtahanah ayat 7 dan al-Ahqaf ayat 33, “qadiirun” diartikan Maha Kuasa. Sedangkan ayat surah yang memiliki arti “ketentuan, kadar, atau ukuran” yaitu pada surah al-Mursalat ayat 23, al-Mudatsir ayat 18, al-A’la ayat 3, al-Waqi’ah ayat 60, al-Insan ayat 16, ath-Tholaq ayat 3, al-Furqon ayat 2, as-Sajdah ayat 5, dan as-Saba’ ayat 13. Sehingga terdapat empat pengertian berbeda kata dari “qadara”, yakni: menentukan/ukuran, membatasi /menyempitkan, menghormati/mengagungkan, dan Maha Kuasa.

Sesuatu yang harus kita telisik mengapa ayat-ayat dari akar kata yang sama ternyata memiliki arti yang berbeda. Mungkinkah menunjukkan kandungan arti yang sama? Pertama, “qadara” dalam arti “membatasi”. “Membatasi” dalam arti ayat dapat dimaknai sebagai menentukan kadar. Menentukan kadar dalam arti memberikan pengurangan kadar rizqi kepada hamba-Nya. Tentu, membatasi rizqi hamba-Nya tentu disamakan arti dengan ketentuan kadar rizqi dari-Nya. Kedua, qadara” dalam arti “sempit/menyempitkan”. “Sempit/menyempitkan” dapat dimaknai sebagai “menyulitkan”, sehingga “menyulitkan” mengindikasikan bahwa Allah mengurangi ketentuan-Nya pada hambanya. Dengan demikian arti “membatasi” dan “menyempitkan”, mengindikasikan atau berhubungan dengan ketentuan/kadar Allah.

Ketiga, “qadara” dengan arti menghormati/mengagungkan. Pada surah al-‘an-am ayat 91, arti “menghormati” berhubungan atas orang-orang yang dimaksud dalam ayat yang tidak melakukan penghormatan ketika mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu padanya. Keempat, qadara” dalam arti “Maha Kuasa”. Maha Kuasa disini tentu diperuntukkan untuk Tuhan. Tuhan sebagai Sang Maha Kuasa, tentu Dia-lah pula yang menentukan segala sesuatu. Dia-lah yang menentukan/menetapkan apa yang hendaknya diperoleh bagi hamba-Nya dengan kadarnya masing-masing. Oleh karena itu, kata “qadara” pada surah al-Mumtahanah ayat 7 dan al-Ahqaf ayat 33 tidaklah berbeda dengan makna takdir sebagai ketentuan.

Sehingga dapatlah disimpulkan secara keseluruhan bahwa tidak semua kata “qadara” dalam ayat al-Qur’an memiliki arti “ketentuan/kadar/ukuran” sebagaimana arti harfiahnya. Hal ini menunjukkan bahwa memang al-Qur’an memiliki variasi arti dan kekayaan bahasa, seperti pembahasan tentang takdir yang jika dilihat dari akar kata “قدر” ternyata memiliki empat arti yakni menentukan/ukuran, membatasi /menyempitkan, menghormati/mengagungkan, dan Maha Kuasa. Oleh karena itu, meskipun terdapat empat arti yang berbeda dari kata “قدر”, secara umum menunjukkan keterkaitannya terhadap arti takdir secara harfiahnya, meskipun memang tidak benar-benar menunjukkan makna “ketentuan” secara langsung. [Hikmah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s