PERHATIAN BESAR AL-QUR’AN TERHADAP MANUSIA

quran1Sebagaimana yang kita tahu bahwa Al-Qur’an sebagai sumber utama yang memberikan petunjuk bagi manusia. Sebagai petunjuk bagi manusia, tentu secara logis ditujukan langsung kepada manusia. Perhatian besar al-Qur’an terhadap manusia terbukti dalam konteks keadilan bahwa al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip yang menekankan kejujuran, kesamaan dan kesederhanaan dimana hal itu tidak dimiliki agama lain. Perhatian besar terhadap al-Qur’an itu juga ditandai bahwa al-Qur’an menerangkan lebih banyak prinsip kemanusiaan dan hanya setengah saja yang berkaitan dengan wujud Tuhan.

Seperti dalam hal penciptaan manusia, al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia yang memang tak ada satupun manusia yang mengetahui asal dirinya sendiri. Al-Qur’an berbicara mengenai Tahap penciptaan manusia ada dua:

  1. Tahap ghaib (tak terlihat), yang terjadi pada zaman primordial atau azali, dan hanya diketahui melalui pengetahuan wahyu. Pada tahap ini, berulang kali disbeutkan bahwa manusia diciptakan dari tiada, dari substansi organik yang rendah dengan sebutan tanah liat (tin), debu dan lumpur (turab) dan dari tanah liat gelap, yang dibentuk oleh Tuhan melalui tangan-Nya sendiri. Dan setelah berbentuk sempurna, Tuhan meniupkan kepadanya ruh-Nya, sebagaimana dalam Qs. Shaad ayat72. Ruh Ketuhanan inilah, dijadikan dalam “bentuk yang paling sempurna” kedalam organisme manusia yang telah siap. Dalam arti, Tuhan memindahkan unsur-Nya kedalam susunan fisik bentuk manusia yang lebih sederhana dan menjadikan manusia makhluk yang paling mulia dari makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Ini, barangkali, satu alasan mengapa Tuhan memerintahkan malaikat agar bersujud kepada manusia pertama, Adam.
  2. Tahap proses biologis alami, yang manusia sendiri dapat mengatahuinya melalui pengalaman atau pengetahuan ilmiah. Sperma disimpan dalam rahim yang kokoh, kemudian diubah menjadi segumpal darah yang kemudian dibungkus dengan tulang dan daging.

Terdapat banyak sekali al-Qur’an yang menerangkan tentang manusia seperti mengenai proses penciptaan manusia dan hal-hal lain yang berhubungan dengan manusia. Sebutan-sebutan manusia dalam al-Qur’an pun terdapat bermacam-macam yang tentunya terdapat maksud yang menjelaskan konsep manusia itu sendiri. Sebutan-sebutan tersebut diantaranya; Basyar, Insan, an-Naas, Nafs, Fu’ad, Aql, Qalb, Ruh, Bani Adam, dan Abd Allah.

  1. A.    Al-Basyr (البشر)

Kata basyar berakar dengan huruf-huruf ba’ (باء), syin (شين), dan ra’ (راء), yang bermakna pokok ‘tampaknya sesuatu dengan baik dan indah’. Kata kerja basyara (بشر) yang berarti ‘bergembira’, ‘menggembirakan’, dan ‘menguliti’ (misalnya buah); dapat pula berarti ‘memerhatikan’ dan ‘mengurus sesuatu’. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 37 kali, yakni 36 kali didalam bentuk mufrod dan sekali didalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Pengertian ini ditemukan didalam QS. Al-Kahfi [18]: 110, tepatnya ketika Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk menyampaikan, ‘اِنَّمَا أَنَاْ بَشَرٌ مِثًلُكُمْ يُوْحَى إِلىَّ’ (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia [basyar] seperti kamu, yang diberi wahyu kepadaku).

Selain itu, kata basyar dalam QS. Ar-rum [30]:20 yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap sehingga mencapai kedewasaan. Kata ‘’bertebaran’ dalam ayat tersebut, M. Quraish Shihab mengartikannya disini dengan berkembang biak akibat hubungan seksual dan bertebaran mencari rezeki. Hal ini tidak dilakukan manusia kecuali oleh mereka yang memiliki kedewasaan dan tanggungg jawab. Abd Muin Salim menjelaskan bahwa ayat diatas menunjukkan adanya perkembangan kehidupan manusia karena didalamnya terdapat kata min (من) yang bermakna ‘mulai dari’ dan kata tsumma (ثم) yang bermakna ‘perurutan dan perselangan waktu’. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kejadian manusia diawali dari tanah dan secara berangsur-angsur mencapai kesempurnaan ketika mereka telah menjadi dewasa.

Dalam QS. Ali-Imran [3]: 47 ,: ‘قَالَتْ رَبِّ اِنَّى يَكُوْنُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ  (Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang manusia laki-laki [basyar]’). Dalam ayat ini, Maryam mengungkapkan keheranannya betapa mungkin ia dapat memperoleh anak padahal ia belum pernah ‘disentuh’ oleh basyar, yakni dewasa yang mampu melakukan hubungan seksual.

Disamping itu, ditemukan pula kata basyiruhunna (بَشِيْرُوهُنَّ), yang juga berakar dari kata basyara (بشر) dengan arti ‘hubungan seksual’. Kata basyiruhunna disebutkan dua kali didalam satu ayat, yakni al-Baqarah [2]: 187.[1]

Dalam konsep basyar, manusia adalah makhluk biologis. Sebagai makhluk biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan manusia dalam bentuk fisik material (Hasan Langgulung dalam Jalaluddin, 2002: 19). Dalam konsep al-Basyr, manusia merupakan makhluk jasmaniah yang secara umum terikat kepada kaidah-kaidah umum dari kehidupan makhluk biologis seperti berkembang biak, mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan (dorongan mengembangkan diri), memerlukan makanan dan minuman untuk hidup, memerlukan pasangan hidup untuk melanjutkan keturunannya (dorongan seksual), dorongan mempertahankan diri, sebagai dorongan primer makhluk biologis.[2]

Adapun penjelasan al-Qur’an tentang proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis adalah:[3]

  1. Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pertemuan sel dengan sperma) didalam rahim, pembentukan fisik janin (QS. Al-Mu’minun: 12-14).
  2. Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. Al-Ghafir: 67)

Selain itu, sebagai makhluk biologis, manusia pun mengalami proses akhirnya secara fisik, yaitu mati. Segala pemenuhan kebutuhan manusia telah diatur oleh Penciptanya karena manusia juga sebagai makhluk ciptaan. Sang Pencipta memberikan tata cara dan ketentuan agar manusia dapat menjalankan peran dalam hidupnya secara benar, sesuai dengan hakikat penciptaannya. Oleh karena itu, diharapkan manusia akan selalu berada dalam kondisi kehiudupan yang selamat.

Al-Qur’an mengatur peran manusia selaku makhluk biologis ciptaan Allah. Dengan adanya hukum tata aturan didalamnya, pertumbuhan dan perkembangan, serta dorongan biologisnya akan berjalan secara harmonis dan terarah. Mengenai kebutuhan makan dan minum, dibuat tata aturan agar manusia dapat memenuhi kriteria halal (absah) dan baik (bergizi) agar sesuai dengan kebutuhannya (QS. An-an-Nahl:65-69), mengenai air (QS. An-Nahl:65), susu (QS. An-Nahl:66), buah-buahan (QS.an-Nahl:67) dan air madu (QS. An-Nahl:69). Sedangkan untuk menyalurkan dorongan seksual, dibuat aturan pernikahan (QS. Ar-Ruum:21). Demikian pula untuk menjaga keturunan, diatur tanggung jawab orang tua terhadap anak dan usaha untuk memeliharanya agar terhindar dari azab neraka (QS. At-Tahrim:6). Sebaliknya diatur pula tata krama anak terhadap orang tua (QS. Al-Isra’: 23-25).[4]

Dengan demikian, dalam konsep al-Basyr ini, manusia memiliki peran sebagaimana manusia sebagai makhluk biologis. Manusia dibedakan dari makhluk biologis lainnya seperti hewan, yang pemenuhan kebutuhan primernya dikuasai dorongan instingtif. Oleh karena itu, segala pemenuhan kebutuhan biologis manusia diatur dalam syariat agama Allah.

  1. B.    Al-Insan (الإِنْسَا نُ)

Al-Insan terbentuk dari kata nasiya yang berarti lupa (M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin, 2003: 21). Al-Insan terulang 65 kali dalam al-Qur’an. Kata al-insan mengacu kepada potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia berupa potensi untuk bertumbuh dan berkembang secara fisik (QS.al-Mu’minun: 12-14) dan juga potensi untuk bertumbuh dan berkembang secara mental spiritual. Perkembangan tersebut antara lain, meliputi kemampuan untuk berbicara (QS.ar-Rahman:4), menguasai ilmu pengetahuan melalui proses tertentu dengan mengajarkan manusia dengan kalam (baca tulis) dan segala apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-‘Alaq: 4-5), kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar perjanjian awal dialam ruh, dalam bentuk kesaksian (QS. Al-A’rof:172). Dari potensi manusia ini (yang positif) memberi peluang manusia untuk mengembangkan kualitas sumber daya insaninya.

Selain memiliki potensi yang positif, manusia juga memiliki potensi yang mendorongnya kearah tindakan, sikap serta perilaku negatif dan merugikan. Potensi tersebut yakni bentuk kecenderungan manusia untuk berlaku zalim dan mengingari nikmat (QS. Ibrahim:34), tidak berterima kasih dan putus asa (QS. Huud: 9), sombong bila telah berkecukupan, hingga mereka sanggup mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya” (QS. Al-Imran :181). Perilaku manusia seperti ini cenderung menjadikan manusia lupa diri dan melupakan harkat serta martabat dirinya sebagai makhluk ciptaan. Menurut M. Quraish Shihab, setidaknya ada tiga kecenderungan fitrah manusia yaitu: benar, baik dan indah. Mencari yang indah, melahirkan seni; mencari yang baik, menimbulkan etika dan mencari yang benar menghasilkan ilmu. (Quraish Shihab dalam Jalaluddin, 2002: 23).

Oleh karena itu, konsep al-Insan mengacu kepada bagaimana manusia dapat memerankan dirinya sebagai sosok pribadi yang mampu untuk mengembangkan dirinya, agar menjadi sosok llmuan  yang seniman, serta berakhlak mulia secara utuh. Konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berekreasi dan berinovasi. Dengan demikian, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian ataupun benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang.[5]

  1. C.    An-Naas (النَّاسُ)

Dalam al-Qur’an kata Al-Nas umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam QS. Al-Hujurat: 13, manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa, untuk saling kenal-mengenal. Sebagai makhluk sosial, manusia secara fitrah senang hidup berkelompok, sejak dari bentuk satuan yang terkecil (keluarga) hingga kepalig besar dan kompleks, yaitu bangsa dan umat manusia.

Kehidupan sosial memang diprioritaskan dalam ajaran islam, bahwa konsep al-Nas terulang sekitar 24 kali dalam al-Qur’an. Kemampuan untuk memerankan diri dalam kehidupan sosial, sehingga dapat mendatangkan manfaat, sebagaimana Nabi menyatakan: sebaik-baik manusia, adalah mereka yang banyak memberi manfaat bagi sesama manusia (khair al-Nas anfa’ li al-Nas). Dengan demikian konsep al-Nas mengacu kepada peran dan tanggung jawab manusia sebagi makhluk sosial dalam statusnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Sebagai makhluk ciptaan Allah bagaimanapun manusia dituntut untuk beriman kepada Penciptanya (اَمَنُوْا). Kemudian dalam kehidupan sosial mereka dituntut untuk berbuat kebaikan (عمِلُوْا الصَّالِحَاتِ). Adapun terdapat tiga kerangka pokok peran manusia yang digariskan Penciptanya (lihat QS.al-Imran:110); 1) mengajak masyarakat berbuat baik (setelah dirinya terlebih dahulu melakukan kebaikan, 2) mencegah masyarakat berbuat kemungkaran (sebelum perbuatan mungkar terjadi), dan 3) atas dasar iman kepada Allah. Jika ketiganya dapat dilakukan manusia secara konsisten dan berkesinambungan serta dapat dijadikan tradisi dalam kehidupan sosial, maka kelompok masyarakat tersebut sebagaimana yang dijanjikan Allah, akan berpeluang mencapai peringkat terbaik, yaitu predikat khair ummat (خَيْرَ اُمَّةٍ). Preringkat ini telah dicapai oleh Nabi dan para sahabat pada periode awal perkembangan masyarakat Islam, khususnya diperiode Madinah dalam suatu Baldat Thayyibat wa Rabb Ghafur (negara yang aman tentram dibawah naungan pengampunan Tuhan.[6]

  1. D.    Ruh

Perbedaan mengenai istilah dikarenakan pembendaharaan bahasa yang memiliki berbagai sumber, begitu pula mengenai kata ruh.biasanya kata ruh sering kali disandingkan dengan jasmani, kedua kata ini merupakan aspek-aspek yang tidak bisa dipisahkan.

Ruh dalam al-Qur’an:

Kata ruh berasal dari kata روح sehingga timbul kata raha (keberangkatan), rih  (angina), rahya-n (kesenangan), ruh  (semangat. Daya.Hidup). Makna kata-kata yang berkaitan dengan ruh bisa dilihat dalam firman Allah Swt : Qs saba’ 34: 12

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)[1235] dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Dalam ayat di atas dipetik dua kata yakni rih yang berarti angina dan  rawah yang dalam ayat tersebut dimaknai sebagai perjalanan sore.

Selain penjelasan dari ayat di atas  dari kata ruh  timbul istilah roh kudus (ruh al-Quds) yang menggandeng kata al-ruh dan al-quds, istilah ini terdapat dalam Qs. al-Baqarah : 87

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus[69]. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Ayat diatas menyebutkan istilah  ruh al-quds  “dan kami memperkuatanya dengan ruh al-quds”, menurut departemen Agama menjelaskan bahwa  kalimat itu dikaitkan dengan kejadian Nabi Isa  yang luar biasa yakni beliau lahir tanpa bapak  dengan tiupan ruh al-quds oleh Jibril kepada Mariam.

Mengenai hakikat ruh, kita bisa menemui jawabannya melalui firman Allah Swt dalam Qsal-Isra:85:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Departemen Agama memaknai kata ruh disini sebagai roh manusia.

Kata ruh atau roh dalam al-qur’an yang memiliki predikat kudus atau suci, roh adalah malaikat yakni malaikat Jibril. Selain itu ruh juga berarti sesuatu yang menyebabkan manusia itu hidup, dalam hal ini ruh ditiupkan pertama kali oleh Allah dalam bentukan yang disebut dengan badan. Dalam hal ini kata ruh memiliki dua pendapat yakni kata ruh yang pertama berarti ia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sedangkan yang kedua ruh ini sebagai ruh Allah sendiri.

Ruh juga bisa dipandang sebagai wahyu misalnya mengenai Nabi Isa a.s .[7]

  1. E.     Nafs

Di dalam Al-Qur’an kata Nafs beserta segala bentuknya diulang sebanyak 313 kali sedangkan kata nafs yang berdiri sendiri disebutkan sebanyak 72 kali.

Secara bahasa kata nafs berasal dari kata nafasa yang berarti bernafas, artinya nafas keluar dari rongga, namun seiring perkembangan zaman kata nafs  ini sering kali diartikan sebagai melahirkan, bernafas, jiwa, ruh, darah, manusia, diri dan hakikat. meskipun memiliki beragam arti namun tidak menghilangkan makna arti aslinya. Misalnya ungkapan seseorang digambarkan dengan ungkapan bahwa Allah menghilangkan kesulitan dari seseorang digambarkan dengan ungkapan naffasa Allah kurbatahu, karena kesulitan seseorang itu hilang bagaikan embusan nafasnya. Kata an-nafs  juga diartikan darah dengan argumentasi bahwa apabila darah sudah tidak beredar lagi di badan dengan sendirinya  nafasnnya hilang. Demikian juga ketika nafas diartikan sebagai jiwa atau ruh, itu dikarenakan bila jiwa sebagai daya penggerak hilang dengan sendirinya nafas juga hilang.

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an kata nafs atau anfus menunjukan bermacam-macam pengertian, diantaranya:

  1. Hati, yaitu salah satu komponen terpenting di dalam diri manusia sebagai day penggerak emosi dan rasa, seperti di dalam Qs. Al-isra: 25 Rubbukum a’lamu bima fi nufusikum (Tuhanmu lebih mengeahui apa yang ada di dalam hatimu).
  2. Jenis atau species, dalam QS At-Taubah: 128 laqad ja’akum rasulun min anfusikum (sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri).
  3. Nafsu,

Secara  umum kata nafs jika dikaitkan dengan pembahasan manusia, ia lebih menunjukan kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Terdapat beberapa perbedaan pandangan mengenai nafs menurut Al-Qur’an dan terminologi Sufi.Menurut Al-Qusyairi di dalam risalahnya menyatakan bahwa nafs dalam pengertian kaum Sufi adalah sesuatu yang melahirkann sifat tercela dan prilaku buruk. Selain hal ini mengenai nafs diperoleh isyarat lain bahwasannya nafs merupakan wadah, firman Allah Qs. A-Rad: 11 yang mengatakan bahwa (Allah tiddak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang terdapat di dalam diri mereka). Maksudnya yaitu apa yang ada di dalam nafs di dalm konteks ayat ini, adalah ide dan kemauan yang sangat keras.

  1. F.     Fu’ad

Kata fu’ad berasal dari kata fa’aa yang berarti mengenai atau menimpa karena panas yang membakar. Sering kali kata fu’ad  digunakan untuk menyebut “hati”  dari makhluk hidup, pengertian kata fu’ad yang seperti ini dikaitkan dengan kata tafa’ud yang berarti ‘menyala’ atau “bergelora” kenapa demikian, dikarenakan panas merupakan sumber energi yang dapat memberikan perasaan segar dan dapat pula menghanguskan benda-benda lain di sekitarnya. Begitu pula mengenai hati manusia bisa membangkitkan  semangat dan bisa pula melemahkannya.

Kata fu’ad di dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak lima kali yakni di dalam Qs. Al-Isra : 37, Qs. Al-Qashash: 10, Qs. An-Najm: 11, Qs. Al-Furqan: 32, Qs. Al-Hud: 120. Di dalam beberapa surah seperti Qs. Al-Isra: 36, Qs An-Nahl: 78 penyebutan kata fu’ad sering kali diiringi dengan penyebutan kata as-sama, al-bashar atau al-abshar, itu menunjukan begitu erat kaitannya antara hati manusia dengan pendengaran serta penglihatan mereka sehingga apa yang didengar dan dilihat dapat mempengaruhi gelora hatinya.[8]

  1. G.    Qalb

Kata qalb bermakna membalik karena qalb itu berpotensi untuk tidak konsisten, maka sering kali ia berbolak-balik, sekali senang sekali susah. Dalam Al-Qur’an juga menggambarkan qalb sepertin itu, sesuai dengan firman Allah Swt Qs. Qaf :37:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Qs. Ali Imran : 151

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.

Berdasarkan ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kalbu merupakan suatu wadah dari pengajaran, kasih saying, takut dan keimanan, sehingga bisa diartikan kalbu itu mampu   menampung hal-hal yang disadari oleh pemilikya.

Perbedaan mengenai kalbu dan nafs yakni kalau nafs itu menampung apa yang berada di bawah sadar atau sesuatu yang tidak dinginkan, sedangkan kalbu ia menampung sesuatu yang disadari oleh pemiliknya. Dari sini dapat dipahami mengapa yang dituntut untuk dipertanggungjawabkan hanya isi kalbu bukan isi nafs.

Qs. Al-Baqarah: 225

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu.Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Qs. Al-Isra: 25

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.

Dalam beberapa ayat,  kataqalb yang merupakan wadah itu terkadang difahami sebagai alat seperti dalam firman-Nya:

Mereka mempunyai kalbu tetapi tidak digunakan untuk memahami (Qs. AL-A’raf: 179).

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai.

  1. H.    Aql

Mengenai kata aql yang bersifat individual tidak ditemukan dalam al-qur’an, yang ada hanya bentuk kata kerjanya, masa kini dan lampau saja.Dalam segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang, dalam Al-Qur’an kata aql digunakan bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumusdalam kesalahan dan dosa. Yang dimaksud sesuatu itu Al-Qur’an tidak menjelaskannya seca eksplisit, namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata aql dapat dipahami sebagai berikut:

  1. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu

Qs.Al-Ankabut: 43

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu

  1. Dorongan moral

Qs. Al-An’am: 151

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]“. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

  1. Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah.

Qs. Al-Mulk: 10

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

  1. I.       Konsep Bani Adam (بنى أدم)

Manusia sebagai  Bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam al-Qur’an. Dalam konteks ayat-ayat yang mengandung konsep Bani Adam,  manusia diingatkan agar tidak  tergoda oleh Syaitan sebagai mana dalam (QS.Al-A’raf: 26-27), seperti pencegahan dari berlebih-lebihan baik itu makan dan minum dan tata cara yang berpakaian yang pantas saat beribadah (QS.Al-A’raf: 31), bertaqwa dan mengadakan perbaikan( QS. Al-A’raf: 35).  Bani Adam dalam (QS: Al-A’raf: 172), menjelaskan tentang kesaksian manusia terhadap Tuhannya , dan terakhir peringatan  agar manusia tidak terpedaya  hingga menyembah setan,  dengan mewanti-wanti manusia mengenai status setan sebagai musuh yang nyata  yang tertera (QS. Yasin: 60).

Penjelasan ayat-ayat diatas  mengisyaratkan bahwa, manusia selaku Bani Adam dikaitkan dengan gambaran peran Adam as. aat awal diciptakan para malaikat seakan menghawatirkan kehadiran makhluk ini. Mereka memperkirakan dengan penciptaanya, manusia akan menjadi biang kerusakan dan pertumpahan darah. Kemudian  terbukti  bahwa Adam As.  dan istrinya Siti Hawa karena kekeliruan akhirnya terjebak oleh hasutan setan hingga oleh Allah, Keduanya dikeluarkan dari surge dsebagi hukuman atas kelalaian yang mereka perbuat. sebagaimana dikisahkan dalam (QS. Al-Baqarah: 35-36). Tampaknya manusia selaku Bani Adam memang termasuk makhluk bermasalah. memiliki peluang untuk digoda setan.

Dalam  penjelasan  Al-Gharib al-ishfahany, bani berarti keturunan (dari darah daging ) yang dilahirkan ( Al-Ishfahani.tt 20-21).  Menurut penafsir RI   mengartikannya segagai  “Umat manusia”(panitia penafsir, 1971: 224,) catatan kaki No 530).

Jadi “Khalifah” untuk itu selalu diperingatkan oleh Allah agar manusia selalu waspada dan  sebagai preventif (peringatan dini) bagi dirinya. Selain Itu Bani Adam, dalam bentuk menyeluruh mengacuh kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan. meskipun dari berbagai  latar belakang  sosio-kultural, agama, bangsa dan bahasanya harus dihargai dan dimuliakan.Dan pada hakekatnya kita adalah bersaudara dari nenek moyang sama. Yaitu Nabi Adam as.

  1. J.      Abd Allah  (عبد الله)

Al-Qur’an juga menamakan manusia dengan Abd Allah yang berarti abdi  atau hamba Allah. Menurut Prof Quraish Shihab, seluruh makhluk  memiliki potensi berperasaan dan berkehendak  adalah Abd Allah  dalam arti dimiliki Allah. Kepemilikan Allah terhadapa makhluk tersebut merupakan kepemilikan mutlak dan sempurna. Dengan demikian  Abd Allah tersebut tidak  dapat  berdiri sendiri  dalam kehidupan  dan seluruh aktifitasnya  dalam kehidupan  itu.

Al-Ishfahani memaknai kata Abd juga berarti ibadah,sebagai pernyataan kerendahan diri. Kemudian ibadah itu sendiri hanya diperuntukkan  kepada Allah semata (QS. Yusuf: 40)yang menunjukkan  sikap kerendahan diri paling puncak dan sempurna dari seorang hamba.[9]

Kesimpulan yang dapat kita ambil sebagai hikmah ialah bahwa ternyata manusia mempunyai kedudukan yang tinggi dimata Allah. Dikatakan demikian karena memang Allah memberikan banyak petunjuk kepada manusia dalam Firman-Nya. Banyak sekali dapat kita temukan konsep manusia dalam al-Qur’an. Untuk itu, kita sebagai manusia tentunya haruslah tetap bersyukur menjadi hamba-Nya, selalu mengingat Allah dan teruslah mengkaji al-Qur’an yang tentunya bermanfaat bagi manusia yakni kita sendiri.


[1] Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 137-138.

[2] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm. 20

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hal. 23.

[6] Ibid., hal. 25-26.

[7]M.Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an, 2002, Paramadina: Jakarta

[8] Ensiklopedia Al-Qur’an jilid 1

[9]  H.Jalaluddin, op. cit., hlm.26-29

2 thoughts on “PERHATIAN BESAR AL-QUR’AN TERHADAP MANUSIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s