Urgensi Perjalanan Spiritual Di Era Modern

perjalananDewasa ini, seiring dengan berjalannya waktu, dimana dunia modern semakin mengarahkan dan menarik perhatian manusia pada kenikmatan dunia materi. Kebanyakan manusia telah disibukkan dengan mencari kepuasan materi dan kurang mencurahkan perhatiannya pada masalah spiritual. Hal ini akan semakin mengurung manusia dari kebenaran mutlak yang sebenarnya atas turutan hasrat dan keinginan hati manusia. Manusia yang telah terjerembab dan terkukung pada lubang materi, tentu kehampaan dan kekosongan akan melanda batinnya. Oleh karena itu, manusia yang ketika dihadapkan dengan multi-masalah modern ini, ia akan selalu merasakan ketidakberdayaan dan kehampaan jiwa yang mendalam bahkan menjadi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Ketidakstabilan manusia dari hakikat yang sebenarnya, haruslah ditumpas dengan jalan menuju Allah, jalan yang dapat membimbing manusia menuju kebenaran dan kebahagiaan mutlak sebagaimana yang telah diraih oleh kaum sufi.

Dalam ilmu tasawuf, terdapat jalan spiritual yang dapat mengantarkan kita menuju persatuan yang tak terbatas, dimanapun kita berada. Tasawuf sebagai jalan untuk membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak dan mencapai maqam ihsan. Bagi kaum sufi, pembersihan jiwa merupakan suatu hal yang paling utama dalam kehidupan spiritualnya dalam menapaki kehidupan yang lebih baik dan bijak. Mereka melakukan segala ritual spiritualnya yang tak pelak lagi agar senantiasa berada dekat dengan kekasih sejatinya yakni Sang Khaliq.

Manusia pada hakikatnya memiliki potensi untuk mengarahkan diri pada jalan spiritual. Sebagaimana ‘Allamah Thabathaba’iy mengatakan bahwa kekuatan pasif manusia manakala dibangkitkan dalam diri sebagian orang dan muncul ke permukaan, pastilah akan membuahkan sejumlah pengetahuan spiritual.Dalam hal ini, mereka telah merasakan nikmat ruhaniah yang tak dapat dijangkau diluar kemampuan indera dan akal dari refleksi potensi ruhaniahnya terhadap kedekatan Allah Swt. Dengan demikian, setiap manusia dalam kondisi apapun pasti mampu mencapai derajat yang tinggi dimata Allah melalui perjalanan spiritual atau sayr wa suluk­. Dengan perjalanan spiritual, manusia dapat mencapai tahap dimana dia tidak melihat sesuatu yang lain kecuali Allah. Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Insyiqaq: 6). Gerak dan perjalanan spiritual memiliki derajat dan tingkatannya yang harus dilewati dan ditapaki. Dengan demikian, melalui perjalanan spiritual, dapat mengantarkan manusia pada hakikatnya sebagai hamba Allah.

A.    Tentang Perjalanan Spiritual

Kebanyakan manusia lebih cenderung pada urusan dunia sehingga ia tak begitu tergugah hatinya untuk menelusuri perjalanan rohani atau spiritual. Manusia merasa tak membutuhkan sesuatu apapun selain materi karena ia merasa terpuaskan dengan kesenangan dunia yang sejatinya hanyalah akan memperbudak dirinya. Padahal, rohani manusia sangatlah jauh lebih fundamental dan tentu akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan yang jauh lebih tinggi dari kebahagiaan duniawi. Manusia yang cenderung pada dunia materi, tentu materi akan menutupi dirinya dari hakikat kebahagiaan sebenarnya.

Di zaman modern, dimana materi lebih sebagai orientasi dan pusat hidup yang utama, kejernihan hati pun telah mulai sirna. Manusia bergerak semakin permisif dan norma kehidupan kian melonggar. Oleh karena itu, hanya jalan spiritual inilah dapat sebagai jalan penjernihan hati yang mampu mengatasi budaya modern yang kian menjauh dari nilai-nilai agama. Untuk memberikan arahan manusia pada perjalanan spiritual, tentu sangat lazim bagi manusia untuk mengenal terlebih dahulu arti ‘perjalanan spiritual’ itu sendiri.

Perjalanan spiritual (sair wa suluk) adalah salah satu bagian dari ilmu irfan ataupun tasawuf. Dari sudut pandang seorang arif, jalan spiritual adalah jalan hakiki serta bukan jalan figurative dan fenomenal. Dalam pandangan tasawuf ataupun irfan, manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual. Ia kembali ke tempat asalnya dengan kedekatan kepada-Nya serta mengabadikan dirinya dengan kebersamaan dengan-Nya. Perjalanan spiritual ini sangatlah penting, dimana manusia berupaya untuk mendekati Tuhan. Untuk itu, mendekati Tuhan itu tidaklah mudah, manusia harus menyucikan dirinya dengan melepaskan roh dari kukungan materi. Banyak tahap-tahap perjalanan spiritual yang ditawarkan oleh kaum sufi dimana manusia yang hendak melakukan perjalanan spiritual haruslah mengikuti tahapan tersebut. Oleh karena itu, dalam prosesnya, haruslah dilakukan dibawah bimbingan seorang pembimbing spiritual yang benar-benar berpengalaman yang mungkin akrab dan sangat mengetahui prosedur perjalanan serta pernah melewati sendiri semua tahap dalam perjalanan tersebut. Dikatakan demikian, karena tanpa bimbingan seorang syaikh yang berpengalaman, sang salik bisa kehilangan jalan dan tersesat.

B.    Tahap-tahap Perjalanan Spiritual

Seorang yang ingin menempuh perjalanan spiritual haruslah mampu melewati setiap tahap-tahapnya. Oleh karena itu, sangatlah penting melewati setiap tahap dan mustahil bagi seseorang sampai pada tahap berikutnya tanpa melewati tahap-tahap sebelumnya.

Kaum sufi menawarkan upaya untuk mendekatkan diri pada Allah, manusia haruslah melalui dua tahapan :

1.    Melalui berbagai amal yang dapat menjernihkan kalbu.

Manusia yang akan melakukan perjalanan spiritual, dalam tahap ini ia harus berupaya menyucikan kalbunya dari segala bentuk ikatan duniawi. Tasaawuf dalam bentuk ini biasa disebut tasawuf akhlak. Disini salik akan terbebas dari belenggu-belenggu material, sehingga dia benar-benar merasakan hidup bersama Tuhan.

Kaum sufi dapat mencapainya hanya dengan mengekang berbagai keinginan rendahnya serta melakukan perjalanan spiritual. Untuk memasuki jenjang spiritual yang indah, para sufi menganjurkan kita untuk melewati Sembilan tangga (maqam) yakni: wara’, zuhd, shabr, faqr, syuk, khauf, raja’, tawakkal dan ridha.

Dari kesembilan maqam tersebut, kita bisa lihat bagaimana manusia hidup hanya untuk Allah. Tentu untuk menjalani maqam-maqam kehidupan tersebut, manusia harus siap menghadapi rintangan dan resiko apapun. Akan tetapi, di zaman mutakhir ini, agaknya manusia sangat sulit untuk mengaplikasikannya. Padahal, maqam-maqam tersebut merupakan jalan spiritual dalam upaya pendakian ruhani menuju ridha Allah.

Disini salik akan berupaya menjalani segala bentuk amal dalam tiga disiplin:

1.    Syari’at (syari’ah)

Syari’at adalah ajaran yang bersumber dari Al-qur’an dan sunnah berkenaan dengan akidah, ibadah, akhlak, sosial, ekonomi, pemerintahan, dan berbagai aspek kehidupan, baik lahir maupun batin. Tak ada satupun tokoh tasawuf sepanjang sejarah yang pernah menyatakan menyepelekan syari’at. Syari’at justru merupakan suatu ciri yang menonjol tasawuf. Bahkan, dalam pandangan mereka, tak ada jalan lain untuk menempuh tasawuf (thariqah) kecuali melalui penyelenggaraan ibadah-ibadah syar’i.

2.    Tarekat (thariqah)

Tarekat adalah jalan untuk menempuh tasawuf. Dalam pengertian lusa, yaitu pengalaman syariat secara benar dan utuh. Tarikat tidak lebih dari penyempurnaan pengalaman syari’at secara utuh, sehingga syariat tak hanya sebagai ajaran yang teoritis, tetapi merupakan praktik keagamaan yang dapat mengantarkan pemeluknya kepada kesempurnaan hidup.

3.    Hakiki (haqiqah)

Haqiqah adalah kebenaran sejati. Hakikat merupakan puncak pencapaian setelah melalui tarekat yang didahului dengan syari’at. Jika dibandingkan dengan  tarekat, tarekat adalah kulit dari hakikat dan hakikat adalah isi. Hakikat menjadi tujuan pencapaian yang paling penting dalam perjalanan spiritual.

Syari’at adalah sarana untuk mencapai tarekat. Tarekat adalah sarana untuk mencapai hakikat. Ketiga istilah tersebut menunjukkan bagaimana tahap keimanan tertinggi dapat dicapai manusia yang benar-benar beriman. Pondasi utamanya adalah syariat sebagai asas, manakala tarekat adalah wasilah dan hakikat ialah buah atau hasilnya. Bagi yang berpegang dengan syariat, akan melalui tarekat, dan seterusnya akan sampai kepada hakikat. Oleh karena itu, manusia sepatutnya haruslah mampu mencapai hakikat untuk lebih mengenali dirinya dan Tuhannya.

2.         Menemukan Pengalaman Rohani

Ketika perjalanan rohani salik telah mencapai tahap-tahap puncak. Melalui tahap ini, ia akan menemukan pengalaman rohani yang unik, yang sebagiannya dapat diungkapkan pada khalayak, sementara yang lain tidak karena keterbatasan bahasa untuk mengungkapkannya. Akibat kesukaran pengungkapan itu, maka pada tahap ini sufi hanya bisa berdiam diri atau mengatakan, “Rasakan sendiri baru anda bisa mengerti.” Tasawuf tahap ini disebut tashawwuf nazhari (tasawuf teoritis) atau tashawwuf falsafi (tasawuf filosofis), dimana salik telah mencapai pertemuan rohani dengan Tuhan, merasakan kehadiran Tuhan, dan mendapatkan pengalaman rohani yang begitu kaya bersama-Nya. Manusia yang telah merasakan maqam demikian, ia akan mengetahui hakikat kehidupan dan tentu ia akan jauh dari persepsi manusia yang selalu memandang kehidupannya lebih pada urusan materi.

Adapun disisi lain, mengenai perjalanan spiritual, kaum sufi membagi dua tahap berbeda dalam perjalanan spiritual:

1.    Iradah (Kehendak dan Kemauan)

Tahap pertama dalam perjalanan spiritual disebut kaum arif sebagai iradah (kehendak dan kemauan). Iradah bermakna munculnya hasrat dan keinginan yang kuat serta ingin berpegang teguh pada jalan yang membimbing menuju kebenaran serta menstimulasi jwa untuk mencapai tujuannya yang hakiki. Tahap pertama dalam perjalanan spiritual ini merupakan suatu dasar seluruh struktur irfan. Ibnu Sina mendefinisikan iradah yakni kerinduan yang dirasakan manusia tatkala serta ingin bersatu dengan kebenaran sehingga dia tidak lagi merasa kesepian dan tak berdaya.

2.    Riyadhah (Latihan Spiritual)

Tahap kedua adalah tahap persiapan. Menurut madzhab-madzhab pemikiran tertentu, riyadhah bermakna memperlakukan diri sendiri dengan keras atau memaksa diri mengalami sakit secara fisik. Dalam bahasa Arab, riyadhah semula berarti memecahkan dan mendidik seekor kuda yang masih muda. Kemudian kata ini digunakan dan sampai sekarang masih dipakai dalam bahasa Arab dalam pengertian latihan fisik dan atletik. Dalam penerapannya, riyadhah harus dilakukan dalam melaksanakan segala amal guna mempersiapkan jiwa untuk menerima pencerahan.

C.      Spiritual dan Dunia Modern

Telah nampak secara jelas dalam mata penglihatan kita bagaimana tuntutan zaman modern telah mempengaruhi akal sehat manusia. Tidak bisa kita pungkiri bahwa kemodernan telah menuntut manusia mengikuti skenario sosial demi memenuhi trend modern yang sedang berlaku. Tuntutan penampilan, pergaulan, dan pola beradaptasi telah menggeser jati diri hakikat manusia yang sesungguhnya. Manusia tidak sadar akan dirinya bahwa ia telah dibutakan oleh dunia materiil. Ya, dunia materiil ini menjadi pandangan pertama dan utama bagi manusia modern. Maka begitu ironisnya jika kita telisik lebih dalam bagaimana dunia modern ini dipenuhi dengan pandangan manusia akan dunia materiil. Fasilitas modern yang kian maju dan mencengangkan mata dunia telah membuat manusia tidak sadar akan Tuhannya bahkan akan dirinya sendiri sekalipun. Dapat dikatakan bahwa kemodernan telah berhasil memajukan segala hal yang materiil namun tidak mampu memajukan harkat dan martabat manusia untuk menuju manusia yang sempurna. Islam memang tidak melarang kita bergumul dengan urusan-urusan duniawi, tetapi jangan kira dengan keberhasilan duniawi itu telah menemukan kebahagiaan sejati.

Melihat kehidupan manusia yang begitu berkecamuk dengan permasalahan kemewahan dunia materi. Maka, ketika manusia dihadapkan pada permasalahan, manusia akan mengalami keputusasaan bahkan ia frustasi dan benci terhadap kehidupan. Dikatakan demikian, manusia yang dilingkupi dunia materi, selalu memandang materi adalah segala-galanya dan ia pun lalai dari kedudukannya sebagai hamba dan khalifah Allah.

Namun, dibalik kelalaian manusia, setiap manusia secara ruhani akan mengalami perkembangan kearah tingkatan spiritualitas yang lebih tinggi. Manusia memiliki potensi untuk melampaui kualitas-kualitas diatas manusia atau yang disebut dengan kesempurnaan manusia. Kesempurnaan ini hanya dapat dilakukan dengan suluk (perjalanan spiritual). Dengan demikian, manusia dalam kondisi di zaman apapun, pasti mampu menempuh perjalanan spiritual. Ditengah hiruk pikuk kesibukan manusia dengan urusan dunia, manusia dapat melakukan perjalanan spiritual dengan menyingkirkan urusan dunia sejenak. Memang dirasa sangat sulit karena manusia harus siap menghadapi rintangan dan resikonya. Namun, dengan tahapan-tahapan seperti yang telah diuraikan diatas, selangkah demi selangkah kita mencobanya, kita akan benar-benar merasakan keindahan disetiap langkah tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui pada tahap pertama yakni dengan menyucikan diri terlebih dahulu. Tentu dalam penyucian diri ini, haruslah didahului dengan iradah (kemauan). Tanpa adanya kemauan, manusia tidak akan berhasil melakukan penyucian diri. Dalam penyucian diri ini, seperti yang telah diterangkan sebelumnya, manusia harus mampu meyerahkan diri sepenuhnya hanya pada Allah. Dalam hal ini, manusia akan menyadari bahwa kebahagiaan yang tertinggi adalah bersama atau dekat dengan Allah, bukan materi yang hanya memberikan kenikmatan sesaat.

Jika manusia telah menerapkan spiritualitas melalui perjalanan yang telah ditempuhnya, tentu mereka tidak akan mudah terjebak dengan pengaruh dunia khususnya di dunia modern yang semakin menarik manusia untuk jauh dari spiritualitas. Meskipun terkukung pada fasilitas modern yang kian maju, namun manusia tetap menempatkan dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah. Inilah yang harus diterapkan oleh manusia-manusia modern, manusia yang maju namun tidak mementingkan nafsu.

Kesimpulan: Perjalanan spiritual adalah jalan hakiki dimana manusia berupaya untuk menedekatan diri pada Allah. Seperti yang telah kita ketahui, kini manusia telah dilingkupi dengan fasilitas-fasilitas modern yang kian maju yang semakin menarik manusia pada kelalaian spiritualitas. Melihat kondisi manusia yang semakin memprihatinkan, tentulah perjalanan spiritual dalam tasawuf ini menjadi sangat urgen untuk mengembalikan manusia pada hakikat yang sebenarnya. Banyak tahap-tahap perjalanan spiritual yang ditawarkan oleh banyak kaum sufi, salah satunya adalah melalui Iradah (kehendak dan kemauan) dan Riyadhah (latihan spiritual). Tahapan-tahapan tersebut mengantarkan manusia pada maqam pencapaian spiritual yakni haqiqah (hakikat) yang sebelumnya didahului dengan syari’at dan tarekat, dimana ia hanya melihat Allah dan akan selalu bersama Allah. Dengan demikian, manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritualnya, manusia akan menyadari bahwa kebahagiaan yang tertinggi adalah kebahagiaan bersama atau dekat dengan Allah, bukan kebahagiaan duniawi yang membawa kenikmatan yang sesaat.

5 thoughts on “Urgensi Perjalanan Spiritual Di Era Modern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s