RINGKASAN SIRAH NABAWIYYAH

NabiManfaat Mempelajari Sirah Nabawiyyah

  1. Dengan mempelajari Sirah Nabi, kita akan mengetahui kemuliaan Nabi Muhammad  Saw. Dimana karena mulianya beliau, banyak sahabat yang selalu mengikuti jejak Nabi melangkah dan menelitinya. Sebagaimana yang kita tahu bahwa tak ada tokoh manusia pun yang memiliki riwayat hidup tertulis yang sedetail dan selengkap Nabi Muhammad Saw, seperti bagaimana paras wajah beliau, kepala, leher, dan rambut beliau, postur tubuh, cara berjalan, suara dan cara bicaranya. Ini membuktikan banyak sahabat-sahabat dizaman Nabi yang tertarik dan mengagungkan sosok Nabi Saw, maka teruntuklah catatan sejarah yang diabadikan dalam karya yang dikenal dengan sebutan “Sirah Nabawiyyah” yang mengupas keagungan sosok pribadi Nabi Muhammad Saw. Kisah perjalanan Nabi tak hanya mengundang perhatian dari kalangan muslim saja, namun juga dari kalangan non-muslim.
  2. Dengan mempelajari Sirah, kita akan mengetahui bagaimana kegigihan perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan risalah yakni addinul Islam. Maka dengan kegigihan beliau tersebut menjadi bekal yang bermanfaat untuk mempertajam dan mendongkrak semangat dan memperkuat  tekad dalam menyebarkan Islam dan mempertahankan Islam. Kita akan mengetahui kalau yang kita lakukan sekarang ini belum sebanding dengan perjuangan Rasulullah Saw dan para sahabatnya.
  3. Mempelajari Sirah ini akan menjadikan Sirah menjadi manhaj/metode/tatanan kehidupan pribadi dan bermasyarakat muslim yang paling benar dan paling baik yang dibawa oleh Muhammad  Saw.

Perbedaan  Sirah dengan Tarikh

–  Sirah hanya teruntuk khusus bagi Nabi Muhammad Saw sedangan Tarikh berisi sejarah-sejarah Islam meskipun tidak lepas pula dengan perjalanan Nabi Muhammad Saw namun tidak sekhusus dalam sirah.

–  Sirah lebih memberikan kandungan Hikmah dalam setiap perjalanan Nabi Muhammad Saw sedangkan Tarikh hanya berisi sejarah-sejarahnya saja tidak secara lebih dan langsung mengungkap hikmahnya.

Kondisi Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Mekah adalah sebuah kota kecil di Jazirah Arab yang tandus dan dikelilingi oleh bukit-bukit yang gersang. Mekah sebagai sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota dinegeri Arab.  Hampir seluruh penduduk Mekah bermata pencaharian sebagai pedagang karena kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman diselatan dan Syria di utara.

Bangsa Arab ketika itu terbagi atas tiga kaum diantaranya: kaum Ba’idah (Keturunan Nabi Hud), kaum ‘Aribah (garis keturunan kaum Qahthan), dan kaum Musta’ribah (keturunan Nabi Isma’il). Arab Ba’idah Yaitu bangsa arab yang telah musnah yaitu, orang-orang arab yang telah lenyap jejaknya. Jejak mereka tidak dapat diketahui kecuali hanya terdapat dalam catatan kitab-kitab suci. Arab Ba’idah ini termaksud suku bangsa arab yang dulu pernah mendiami Mesopotamia akan tetapi, karena serangan raja namrud dan kaum yang berkuasa di Babylonia, sampai Mesopotamia selatan pada tahun 2000 SM suku bangsa ini berpencar dan berpisah ke berbagai daerah, di antara kabilah mereka yang termaksud adalah: ‘Aad, Tsamud, Ghasan, Jad. Arab Aribah Yaitu cikal bakal dari rumpun bangsa Arab yang ada sekarang ini. Mereka berasal dari keturunan Qhattan yang menetap di tepian sungai Eufrat kemudian pindah ke Yaman. Suku bangsa arab yang terkenal adalah: Kahlan dan Himyar. Kerajaan yang terkenal adalah kerajaan Saba’ yang berdiri abad ke-8 SM dan kerajaan Himyar berdiri abad ke-2 SM. Arab Musta’ribah Yaitu menjadi arab atau peranakan. Disebut demikian karena ketika Jurhum dari suku bangsa Qathan mendiami Mekkah, mereka tinggal bersama nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Nabi Ismail yang bukan keturunan Arab, mengawini wanita suku Jurhum. Arab Musta’ribah sering juga disebut Bani Ismail bin Ibrahim ismail (Adnaniyyun).

Sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar penduduk mekah ialah menyembah patung dan berhala. Kaum penyembah berhala itu mengklaim berhala sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan. Inilah yang menjadi penyebab pendekatan mereka kepada Tuhan menjadi berkurang dan tidak langsung. Awalnya, sebagian besar bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il a.s. yang menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim a.s., yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya. Lama kelamaan banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran agama Isma’il meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim. Ada pula yang menjadi penganut Yahudi dan Nasrani.

Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah meskipun ditempat-tempat lain juga ada. Terdapat 360 berhala yang mengelilingi berhala utama dan dapun berhala-berhala yang terpenting bagi mereka diantaranya Hubal, Latta, Uzza. Selain itu, mereka juga senang berjudi, percaya pada ramalan, mabuk, maksiat, dan merendahkan derajat wanita. Dari kondisi masyarakat Mekah yang begitu terpuruk dengan watak mereka yang begitu keras itu, lahir Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi seluruh alam di kota ini. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa Nabi Muhammad SAW diutus di Mekah untuk membangun ketertinggalan mekah dari peradaban bangsa lain yang lebih maju.

Adapun alasan mengapa Allah menurunkan Risalah abadi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw itu di negeri Arab adalah sebagai berikut:

1.      Jazirah Arab adalah posisi yang sangat strategis

Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia. Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia adalah posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah dari pusat peradaban dunia. Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri timur seperti Persia. Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan Yaman di Selatan. Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat strategis dan tepat berada di pertemuan semua peradaban. Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat. Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah. Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia.

2.      Arab adalah negeri tanpa kemajuan material sebelumnya.

Sebelum datangnya islam, peradaban bangsa arab masih berada dalam ketertinggalan dibanding dengan bangsa-bangsa lain terutama dalam hal sistem pemerintahan yang teratur. Dalam kondisi hal ini, secara otomatis bangsa arab pun belum memiliki kemajuan secara material. Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba berhasil membangun peradaban materialis itu di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah makhluq yang hanya berperadaban ruhaniyah saja. Islam adalah sebuah ajaran yang multi dimensi. Islam mengandung masalah materi dan rohani. Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materialis yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju. Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, maka tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit.

Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Lahirnya Nabi Muhammad tak lama setelah peristiwa yang sangat menggemparkan di kota suci Mekah. Nabi Muhammad lahir yang di tahun yang dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”. Dinamakan Tahun Gajah karena terjadi peristiwa penyerangan pasukan Abrahah secara besar-besaran di Ka’bah dengan menempatkan seekor Gajah dibaris terdepannya.

Awal penyebab peristiwa perang Gajah diawali saat Yaman yang berada dibawah kekuasaan Abyssinia dengan Gubernur yang bernama Abrahah membangun katedral megah di Shan’a dengan harapan akan menyaingi Ka’bah. Berita ini mengundang kemarahan suku-suku yang tersebar di seluruh Hijaz dan Najd. Sehingga seorang dari suku Kinanah yang memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, pergi ke Shan’a dengan maksud untuk meruntuhkan gereja itu. Mendengar kejadian ini, tentu Abrahah menjadi sangat marah. Dengan rasa kemarahannya, ia pun akan membalas dendam akan menghancurkan Ka’bah.

Abrahah pun menyiapkan pasukan secara besar-besaran untuk menyerang Ka’bah dengan menempatkan seekor Gajah dibaris terdepannya. Orang-orang penduduk Mekah segera menyiapkan dirinya agar terhindar dari serangan pasukan Abrahah. Abd al-Muththalib menyarankankan agar mereka menyelamatkan diri ke atas bukit didekat kota. Sedangkan beberapa anggota keluarga beserta pemuka masyarakat lain pergi ke Ka’bah dan memohon perlindungan kepada Tuhan untuk melawan Abrahah dan pasukannya.

Nampak dari jangkauan pandangan mereka, langit dipenuhi beribu-ribu burung, burung ini disebut burung Ababil (telah dikisahkan dalam Surah al-Fiil). Masing-masing burung itu membawa 3 batu kecil yang membara. Satu batu diparuhnya dan dua batu dijepitkan di kedua belah cakar kakinya. Dengan izin Allah SWT, batu-batu yang dibawa burung itu memiliki kedahsyatan yang luar biasa karena dapat menewaskan dan mengalahkan pasukan Abrahah.[1] Sejak peristiwa itu, Quraisy dikenal di jazirah Arab sebagai keluarga Tuhan karena Tuhan mengabulkan doa-doa mereka untuk melindungi Ka’bah dari serangan yang akan menghancurkannya Tak lama setelah peristiwa perang Gajah ini, terdapat peristiwa agung di tahun yang sama yakni lahirnya sesosok manusia suci yang membawa cahaya kehidupan bagi seluruh umat manusia dibumi ini. Dialah Nabi Muhammad SAW, pemimpin yang telah membentangkan peradaban umat manusia dengan peradaban yang begitu luar biasanya dari zaman ke zaman.

Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad Saw dilahirkan ditengah-tengah Bani Hasyim di Mekah, pada Senin pagi, 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan dengan tahun 571 M. Namun disisi lain, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Nabi Saw lahir pada 17 Rabi’ul Awwal. Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim, dimana ayahanda Nabi Muhammad, Abdullah wafat sebelum kelahiran Nabi Muhammad dalam perjalanan perniagaan ke Madinah dan Syam. Disebutkan bahwa ketika Aminah, Ibunda Nabi Muhammad melahirkan, terpancar cahaya dalam diri Aminah. Hal inilah yang menandakan bahwa telah lahirnya sesosok manusia penerang bagi seluruh umat manusia.

Tertulis dalam sejarah, bahwa wanita pertama yang menyusui Rasulullah Saw setelah sang ibu ialah Tsuwaibah. Kebiasaan di kalangan masyarakat ketika itu apabila mempunyai bayi, maka bayi yang baru lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan. Dengan tujuan agar dapat menghirup udara segar dan bersih serta untuk mendidik lisan yang baik. Tak lama berselang beberapa hari, Nabi disusui oleh Halimah Sa’diyah. Awalnya, Nabi Muhammad Saw ditawarkan kepada semua para perempuan dari Bani Sa’ad ibn Hawazin yang datang untuk mencari anak-anak yang hendak susui. Namun, mereka menolak karena beliau yatim. Ada seorang perempuan bernama Halimah binti ibnu Dzuwaib yang tidak mendapatkan anak susuan dan kemudian mengambil Rasulullah Saw.

Dengan menyusui beliau, Halimah selalu mendapat keberkahan sampai sepanjang keberadaan Rasulullah didalamnya. Diantara keberkahan itu diantaranya keledai tunggangannya yang awalnya berjalan begitu lambat karena lemas dan membuat Halimah selalu tertinggal dari rombongannya ternyata berjalan begitu cepat. Tak hanya itu, ia juga dikagetkan dengan unta betina yang dibawanya ternyata mengandung kantong susu yang dipenuhi susu yang melimpah.

Hingga setelah masa penyusuan, Halimah harus menyapih Nabi Muhammad dan membawanya kembali kepada sang ibu. Dengan keberkahan yang dirasakannya selama penyusuan, Halimah memohon diizinkan kembali untuk tinggal bersamanya dan Aminah pun mengijinkannya. Dikisahkan bahwa kemudian terjadi peristiwa aneh pada Nabi Muhammad Saw. Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad Saw dan mengeluarkan hati lalu mengeluarkan segumpal darah darinya dan dicucinya dalam sebuah bejana sehingga hati Nabi Muhammad menjadi bersih dari setan. Anak-anak kecil yang bersama beliau tersebut berlari memberitahu Halimah, sehingga membuat Halimah dan suaminya takut sehingga mereka mengembalikan Nabi Muhammad Saw kepada Aminah.[2]

Nabi Muhammad tak lama berada dalam dekapan ibunya, Aminah menderita sakit keras dalam perjalanan pulang dari ziarah ke Madinah dan wafat di Abwa. Sehingga Nabi Muhammad lantas ditemani pelayannya, Ummu Aiman ke Makkah dan diantarkan kepada kakeknya yaitu Abdul Muthhalib yang kemudian  menyusul ke mekah. Nabi Muhammad diasuh oleh kakek yang sangat menyayangi cucunya ini. Namun, karena umur kakeknya yang tak cukup lama, pada usia 8 tahun kemudian Nabi Saw diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Dengan kehidupan pamannya yang sederhana, Nabi Muhammad Saw harus membantu pamannya untuk menggembala. Pada usia 12 th Nabi diajak Abu Thalib berdagang ke Syam lantaran Abu Thalib tidak tega meninggalkan Nabi Muhammad Saw sendiri di rumah. Ketika rombongan dagang singgah di kota Bushra, sebuah pinggiran di kota Syam, pendeta Buhaira menghampiri mereka. Pendeta inilah yang melihat tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad Saw yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab Injil yang dibawanya. Buhaira itu memohon kepada Abu Thalib untuk memulangkan dan tidak membawa Nabi Muhammad ke Syam karena khawatir akan adanya gangguan orang-orang Yahudi dan Romawi. Abu Thalib pun membawa beliau kembai ke Mekah.

Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya Nabi Muhammad Saw terlahir sebagai seorang yatim yang tumbuh dewasa dalam pengasuhan kakeknya, kemudian pamannya. Rasulullah tidak diwariskan harta yang bisa membuatnya kaya. Maka, ketika Beliau menginjak usia dewasa yang membuatnya mampu bekerja, beliaupun bekerja menggembala kambing bersama saudara-saudara sesusu dikalangan bani sa’ad.

Ketika tumbuh menjadi seorang pemuda, Nabi Muhammad sudah rutin berdagang. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdagang dengan al-Sa’ib ibn Abi al-Sa’ib yang merupakan rekan bisnis beliau. Dalam berdagang, beliau tidak pernah menyakiti ataupun menipu orang lain. Dalam berinteraksi pun, Nabi Muhammad Saw dikenal terpercaya, jujur dan menjaga diri dari hal-hal buruk, sehingga beliau dijuluki al-amin (yang terpercaya). Dengan predikat baik pada Rasulullah Saw ini, mengundang ketertarikan Khadijah, seorang wanita Quraisy yang sangat terpandang dan kaya-raya menawarkan beliau untuk menjalankan perdagangannya ke Syam dan memberi imbalan yang lebih banyak. Rasulullah pun lalu berangkat menuju Syam bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Beliau melakukan transaksi jual beli dan mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

Sifat amanah dan keberkahan dan perniagaan yang dilakukan Rasulullah membuat Khadijah sangat bahagia. Tak pelak, Khadijah merasa tertarik dengan dengan kepribadian Nabi. Lalu, ia mengutus salah seorang sahabat untuk mengemukakan hasratnya menikahi beliau. Nabi Muhammad pun menyetujuinya dan mereka pun menikah dengan usia Nabi 25 tahun dan Khadijah 40 tahun dengan mas kawin 20 ekor unta.

Menjelang Pengangkatan sebagai Nabi

Sebagaimana yang kita ketahui mengenai kepribadian mulia Nabi Muhammad, dimana baliau memiliki perangai baik, tidak pernah meminum khamr dan masuk ketempat-tempat hiburan yang menjadi tempat bersenang-senangnya para pemuda. Beliau memiliki kekhawatiran terhadap orang-orang yang hidup dengan kesengsaraan dan kerusakan, sehingga beliau lebih senang mengsingkan diri dari mereka dan menyendiri dari keramaian. Rasulullah Saw secara rutin berkhalwat di Gua hira untuk beribadah kepada Allah dengan syari’at agama Nabi Ibrahim as selama sebulan penuh setiap tahunnya pada bulan Ramadhan.

Ketika Nabi berusia 40 tahun, mulailah tanda-tanda kenabian dan kabar kebahagiaan. Beliau bermimpi dengan mimpi yang baik yang kemudian menjadi nyata. Beliau melihat suatu cahaya dan mendengar suara batu-batu yang memberi salam kepada beliau. Pada bulan ramadhan, ketika Nabi Muhammad saw berkontemplasi di Gua hira untuk berdzikir kepada Allah, tiba-tiba malaikat Jibril mendatangi beliau dengan menurunkan Risalah kepadanya. Malaikat itu berkata: “Bacalah!” Kemudian Rasulullah menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Jibril memegangi dan merangkul Rasulullah hingga beliau merasa sesak. Kemudian Jibril melepaskan beliau kemudian berkata: “Bacalah!”. Rasulullah Saw menjawab lagi: “Aku tidak bisa membaca”.  Jibril memegangi dan merangkul beliau lagi hingga ketiga kalinya, hingga Nabi merasa sesak. Jibril kemudian melepaskan beliau, lalu berkata ayat 1-5 dalam surah al-Alaq.

Nabi Muhammad begitu gemetar mengulang bacaan tersebut kemudian pulang menemui Khadijah dan meminta diselimuti. Nabi pun kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialami baliau kepada Khadijah. Dalam riwayat dikatakan bahwa khadijah membawa beliau pergi menemui Waraqah ibn Naufal, seorang pendeta nasrani semasa Jahiliyah. Waraqah mengatakan bahwa Muhammad adalah nabi, dan tak seorangpun yang pernah membawa seperti apa yang telah Nabi Muhammad bawa, melainkan mereka akan memusuhimu. Disisi lain, ada sebagian pendapat yang menolak riwayat ini, mereka mengatakan bahwa tidak mungkin seorang Nabi meminta bantuan kepada Nasrani dan mungkin kisah ini ada campur tangan israiliyat untuk memberitahukan adanya campur tangan dari kelompok nasrani. Inilah kisah mengenai permulaan kenabian dan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw.

Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa ketika nabi diselimuti oleh Khadijah, turunlah wahyu kedua yakni al-Mudatsir: 1-5. Namun, dalam vers lain mengatakan bahwa sepulang dari Waraqah bin Naufal, Rasulullah kembali ke Gua Hira untuk melanjutkan ibadah. Ketika menuruni lembah, Rasulullah mendengar suara dari malaikat dan dengan cepat-cepat Rasulullah menemui Khadijah untuk diselumuti. Disaat inilah, turunnya wahyu surah al-Mudatsir: 1-5. Turunnya surah al-Mudatsir ini, mengenai perintah menyampaikan risalah Rasulullah dan peringatan sehingga dalam hal ini sekaligus sebagai penunjukkan kenabian, sebagaimana bunyi ayat: “Bangunlah, lalu berilah pringatan!”. Selain itu, turunnya wahyu kedua itu sebagai perintah untuk merealisasikan seluruh perintah Allah, sebagaimana bunyi ayat “Dan Tuhanmu agungkanlah” “Dan pakaianmu bersihkanlah” “Dan perbuatan dosa tinggakanlah”. Sedangkan bunyi ayat “Dan perbuatan dosa tinggakanlah” Maksudnya hindarilah hal-hal yang mendatangkan kemurkaan dan siksa Allah dengan jalan taat dan meninggalkan kemaksiatan.

Setelah menjadi Rasul

Setelah turunnya wahyu kedua yang mengisyaratkan Nabi untuk berdakwah mengajak manusia kepada Allah SWT, Nabi bangkit untuk melaksanakan misi tersebut. Tentu Nabi harus menghadapi kaum-kaumnya yang berkarakter kasar dan tidak memiliki agama selain menyembah patung dan berhala. Oleh karena itu, Allah menetapkan kepada Rasulullah untuk melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi, dengan mengarahkan dakwah hanya kepada orang-orang baik yang mencintai kebaikan, terpercaya, dan suka kedamaian. Ini untuk menghindarkan akan terjadinya reaksi jahat pada kaum-kaumnya yang belum menerima ajaran beliau.

Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Nabi berdakwah sembunyi-sembunyi selama 3 tahun diantara orang beriman yang pertama ialah Ummul Mukminin Khadijah r.a. dialah yang mengetahui segenap kabar gembira dan melihat kenabian, serta menyaksikan risalah. Maka, dia pun meyakini bahwa Rasulullah Saw adalah nabi bagi umat manusia. Dengan demikian, sudah sewajarnya dia menjadi orang pertama yang beriman.

Kemudian Rasulullah segera menemui sahabat terdekat beliau, Abu Bakar ash-Shidiq r.a, untuk mengabarkan tentang kenabian dan risalah yang diturunkan Allah kepadanya dan mengajaknya menuju keimanan kepada Allah. Maka, Abu Bakar adalah orang pertama yang beriman dari kalangan laki-laki dewasa. Kemudian, orang-orang yang pertama beriman ialah Ali bin Abi Thalib r.a yang berada dalam pengasuhan Rasulullah. Ketika itu, Ali menginjak usia 10 tahun dan senantiasa mengikuti seluruh aktivitas Rasulullah. Maka, Ali adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan remaja. Juga Zaid bin Haritsah, Pembantu Rasulullah Saw. dia sempat mejadi tawanan di pasar Ukazh. Hakim bin Hizm yang membeli Zaid dan menghadiahkannya kepada Khadijah lalu memberikannya kepada Rasulullah Saw. sempat ayah dan paman Zaid meminta Nabi untuk membebaskannya dengan tebusan. Namun, Zaid lebih memilih tinggal bersama Rasulullah Saw.

Abu bakar begitu semangat dalam berdakwah pada ajaran Allah Swt. Abu bakar ikut menyeru orang-orang dari kaumnya yang dikenal baik dan terpercaya kepada Islam. Orang-orang yang memiliki keutamaan di kalangan Quraisy pun merespon baik ajakan Abu Bakar, diantaranya: Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah. Abu bakar membawa mereka menemui Rasulullah hingga mereka semuanya masuk Islam. Ada pula bukan dari kalangan kabilah Quraisy yang pertama masuk Islam. Orang yang terdahulu/pertama masuk Islam, serta orang-orang yang bersama mereka dikenal dengan sebutan as-Sabiqul Awwalun.

Dikatakan bahwa surah pertama setelah surah al-Mudatsir adalah surah al-Fatihah yang menghimpun pujian dan doa. Peribadatan pertama yang diperintahkan Allah swt kepada Nabi Muhammad Saw adalah dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada sore hari juga perintah wudhu sebelum shalat. Walaupun dakwahnya masih diarahkan secara perorangan, belum dilakukan secara terang-terangan ditempat perkumpulan kaum Quraisy. Kendati demikian, kaum Quraisy telah mengetahui dakwah Rasulullah Saw. Namun sebagian dari mereka bersikap tidak perduli dengan dakwah Islam tersebut. Selain itu, dikarenakan karena mereka sangat menghormati Abu Thalib, Paman Nabi Saw yang sebagai tokoh terhormat bagi kaum Quraisy disaat itu, jadi mereka tidak berani untuk mengganggu Nabi Muhammad Saw.

Dakwah Terang-Terangan

Dengan memiliki pengikut yang mendengarkan dakwahnya, ketika jalan telah kondusif untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan, Allah Swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw yakni Qs. Al-Syua’ara: 214-216. Baliau melakukan dakwah terang-terangan kepada kerabat dekat terlebih dahulu dengan mengumpulkan para kerabat dekat beliau dari Bani Hasyim dan sekelompok orang dari Bani Muththalib dan membaca alhamdulillah dan syahadat tauhid.

Sementara itu, Allah Swt mnurunkan firman-Nya yakni dalam Qs. Hijr: 94 yang berisi perintah untuk dakwh secara terang-terangan secara meluas dengan langkah awal naik ke bukit shafa, lalu berteriak dengan lantang untuk menyeru Bani-Bani yang ada di Mekah untuk memberi peringatan. Disisi lain, ada kaum Quraisy yang merasa muak dengan semua yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Ketika kaum Quraisy tahu bahwa Nabi Muhammad Saw sama sekali tidak menghentikan dakwahnya, mereka kembali berkonsultasi, berpikir, dan memilih beragam cara untuk menghadang dan membrangus dakwah tersebut. Meraka menghina dan mengolok-olok dengan tuduhan dan ejekan keji.

Tak hanya kepada Nabi Muhammad Saw, orang-orang kafir Quraisy menyiksa kaum muslimin dengan berbagai siksaan yang membuat hatinya getar. Ada yang diikat lehernya dengan tali kasar, ada pula yang diletakkan batu panas diatas dadanya. Menghadapi suasana genting, Rasulullah mengambil dua manuver penting:

  1. Langkah pertama, Nabi Muhammad Saw menjadikan rumah Al-Arqam sebagai sentra dakwah dan ibadah, serta pusat tarbiyiyah. Mengingat, dar al-Arqam terletak diatas bukit Shafa yang luput dari pengintaian orang-orang kafir. Dengan demikian, Rasulullah Saw melindungi para sahabatnya dari penyiksaan dan penganiayaan.
  2. Langkah kedua, Rasulullah Saw menginstruksikan kaum muslimin untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia) setelah dipastikan bahwa raja Najasyi (Negsu) adalah seorang raja yang adil. Rombongan pertama kaum musliminyang terdiri dari 12 laki-laki dan 4 perempuan diketuai Usman bin Affan beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Saw.

Da bulan Ramadhan tahun ke-5 kenabian, 2 bulan setelah hijrahnya kaum muslimin, Rasulullah Saw pergi ke Masjid Al-Haram. Saat itu di Ka’bah berkumpul sejumlah besar kaum Quraisy. Ketika itu, turunlah surah an-Najm: 62, secara tiba-tiba Rasulullah melantunkan ditengah-tengah mereka sehingga mereka dengan terdiam dan penuh khidmat seakan mengetuk hati mereka . beliau bersujud dan yang lain pun ikut bersujud.

Berita tentang sujudnya kaum Quraisy sampai dielinga kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah dan kembali ke Mekah dengan penuh kegembiraan. Namun, setelah peristiwa mengenai sujudnya kaum Quraisy tersebut. Penindasan dan penyiksaan kaum Quraisy yang merasa menyesal karena dipaksa bersujud semakin dahsyat. Siksaan tersebut juga menjadi bentuk balas dendam karena mengetahui bahwa raja Najasyi memperlakukan dengan baik kaum muslim yang berhijrah. Mempertimbangkan keadaan yang semakin genting tersebut, Rasulullah Saw memerintahkan sahabatnya untuk kembali ke Habasyah. Sekitar 83 laki-laki dan 18 wanita berhijrah. Hijrah kedua ini serasa lebih sulit daripada hijrah yang pertama. Pasalnya, kaum musyrik Quraisy sudah mengantisipasi dan mengawasi setiap pergerakan kaum muslimin.

Mengetahui kaum muslimin berhasil melarikan diri, hati kaum Quraisy dipenuhi dengan amarah dan membuat strategi terencana dengan mengirim dua orang yang paling cerdik yakni: ‘Amr bin Ash dan Abdullah ibn Rabi’ah, diantaranya:

  1. Keduanya menemui uskup dan mempersembahkan beberapa hadiah dengan menyebutkan tujuan kedatanganya dan membeberkan argument yang bisa mengusir kaum muslimin dari darah tersebut.
  2. Menemui raja Najasyi dan memberikan hadiah dengan memfitnah tentang kedatangan kaum muslimin.

Namun, raja Najasyi begitu bijak dan sangat hati-hati, ia mengumpulkan kedua pihak untuk memberikan penjelasan masing-masing. Raja Najasyi begitu tertegun mendenar penjelasan dari keum muslimin, maka ‘Amr bin Ash dan Abdullah ibn Rabi’ah pun beranjak pergi dari hadapan raja Najasyi.

Tahun Kesedihan

Kaum muslimin selalu tak henti-hentinya mendapat cerca dan hinaan dari kaum Quraisy, tak henti-hentinya pula mereka membuat siasat yang keji dengan memboikot total dan memblokade akses. Kaum Quraisy sepakat tidak menikahi Bani Hasyim dan Bani Muththalib, tidak melakukan jual beli, tidak berkumpul dan berbaur dengan mereka, tidak berbicara dengan mereka sampai mau menyerahkan Rasulullah Saw untuk dibunuh.

Seluruh bani Hasyim dan Bani Muththalib baik yang muslim maupun kafir kecuali Abu Lahab menepi di kediaman Abu Thalib sampai mereka un kehabisan perbekalan dan bahan makanan. Terdengar suara wanita dan anak-anak menngis karena kelaparan. Setelah sekitar 3 tahun berakhirlah pemboiotan kaum Quraisy, Allah Swt mengirim rayap untuk menggerogoti lembaran boikot.

Tak lama setelah berakhirnya boikot itu, Abu Thalib jatuh sakit dan wafat. Belum lagi sembuh dari duka cita atas wafatnya paman beliau. Istrinya, Khadijah pun kemudian wafat pada tahun yang sama. Sebulan setelah Khadijah wafat, tepatnya pada bulan Syawwal, Rasulullah Saw menikahi Saudah. Setelah beberapa tahun menikah, Saudah secara sukarela memberikan bagian kepada Aisyah.

Ditengah kondisi dengan intimidasi dan penganiyaan, Rasulullah Saw. pergi ke Thaif dengan harapan para penduduknya mau menerima dakwah Islam atau memberikan pertolongan kepada beliau. Kedatangan beliau dengan membawa ajaran Islam direspon dengan tanggapan yang negatif dan perlakuan kasar dari penduduk Thaif. Mereka menghina dan mencaci beliau, melempari dengan batu.

Kemukjizatan Rasulullah Saw.

Kaum musyrik Quraisy memandang bahwa Nabi Saw. tidak sanggup memenuhi permintaan mereka mendatangkan mukjizat yang nyata. Mereka memutuskan untuk meminta Rasulullah Saw. agar mendatangkan suatu tanda mukjizat. Demikian mereka mencari kelemahan Nabi Muhammad Saw. kemudian Nabi memohon kepada Allah Swt agar menampakkan kepada mereka suatu mukjizat. Lalu Allah Swt menampakkan kepada mereka bulan yang terbelah menjadi dua keeping. Sehingga orang-orang yang melihatnya dengan penuh keheranan.

Lantas mereka tetap saja tidak percaya dan menuduh Nabi mengggunakan sihir. Namun, didatangkan seorang pendatang dan ternyata pendatang itu juga melihat bulan yang terbelah dua tersebut. Maka, dapat dinafikanlah tentang tuduhan sihir tersebut. Peristiwa terbelahnya bulan tak ubahnya sebuah prolog bagi satu peristiwa yang lebih besar dan penting yaitu Isra’ Mi’raj.

Isra’ Mi’raj

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Mekah al-Mukarramah ke Bait al-Maqdis pada malam hari. Sementara mi’raj adalah naiknya beliau ke atas langit. Peristiwa Isra’ disebutkan dalam Qs. Al-Isra’: 1. Adapun mengenai Mi’raj memiliki banyak perbedaan pendapat ada yang menyebutkan dalam surah an-Najm: 7-18, dan adapula yang menyebutkan bahwa surah itu bukanlah tentang mi’raj. Mengenai waktu terjadinya Isra’ Mi’raj juga banyak memiliki perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan isra miraj terjadi ketika Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul. Ada yang mengatakan tahun 5 kenabian, ada yang mengatakan tahun 10 kenabian, ada yang mengatakan taun 12 kenabian, ada yang mengatakan tahun 13 kenabian.

Dikisahkan mengenai Isra’ Mi’raj, bahwa malaikat Jibril datang mengendarai Buraq, sejenis hewan yang lebih tinggi daripada keledai dan lebih pendek daripada kuda. Nabi Muhammad Saw. saat itu sedang berada di Masjidil Haram. Beliau menaiki Buraq bersama malaikat Jibril hingga sampai ke bait al-Maqdis. Rasulullah lalu masuk ke Masjid al-Aqsha melaksanakan sholat dua raka’at. Dikatakan bahwa beliau mengimami para nabi.

Rasulullah saw selanjutnya melaksanakan perjalanan Mi’raj, naik dari Bait al-maqdis ke langit dunia. Nabi Muhammad saw melewati langit pertama sampai langit ketujuh. Sepanjang perjalanan, beliau bertemu dengan para Nabi. Hingga sampai di Sidratul Muntaha, Nabi bertemu dengan Allah Swt dan menetapkan sholat pada beliau dan umatnya. Dikatakan bahwa terjadi tawar-menawar dalam menetapkan jumlah sholat dalam sehari sampai kemudian Allah menetapkan lima kali sholat sehari semalam.

Penyebaran Islam

–          Semenjak Allah memerintahkan Rasulullah Saw berdakwah secara terang-terangan, selama beberapa hari beliau selalu keluar pada musim haji, ke pasar-pasar Arab (seperti Ukazh, Majinnah, Dzu al-Majaz) hingga ke kabilah untuk menyeru kepada Islam.

–          Diantara Kabilah-kabilah yang didatangi Rasulullah, tidak satupun yang menerima ajakan beliau. Mereka menolak ajakan Dakwah Rasulullah. Diantara mereka ada yang menolah dengan cara santun, ada pula yang menolak beliau dengan penolakan yang sangat kasar yakni Bani Hanifah yang juga kabilah Musailamah Al-Kadzdzab.

–          Namun, terdapat 5 orang beriman selain penduduk mekah yang menrima dakwah beliau ditengah fase sulit dakwah di mekah juga 6 orang dari penduduk Yastrib yang berasal dari kabilah Khazraj

–            Baiat Aqabah Pertama dan Baiat Aqabah Kedua => Pada musim haji berikutnya-Pada tahun ke-12 kenabian

–            Setelah baiat, Rasulullah Saw meminta agar dipilih dua belas orang kepala kaum untuk mengemban tanggng jawab dalam melaksankan point baiat tersebut

–            Setelah baiat aqabah kedua, seluruh kaum muslimin hijrah ke madinah secara bergiliran. Namun, Nabi menahan diri untuk tidak berhijrah dan ditemani Abu Bakar.

–            Amarah Kaum quraisy semakin memuncak ketika mereka mengetahui bahwa kaum muslimin mendapatkan negeri tempat berhijrah yang aman dan terindungi karena memandang bahaya akan hijrah ke madinah yang membahayakan eksistensi agama, kekuasaan, dan perniagaan mereka.

–            Kaum Quraisy pun brkumpul di dar Al-Nadwah untuk mnyikapi bahaya tersebut dan membuat konspirasi membunuh Rasulullah antara lain: mengepung Rumah Rasulullah dan ternyata mereka mendapati Ali tidur diranjang Rasulullah. Ketika Rasulullah keluar Rumah, Allah menghalangi penglihatan mereka sehingga mereka tidak melihat Rasulullah. Raulullah dan Abu bakar keluar sebelum fajar, keduanya sampai di Gua tsur 5 mil kearah Yaman.

–            Rasulullah dan Abu bakar bersembunyi di Gua tsur selama tiga malam

–            Pencarian kaum Quraisy sampai juga di pintu Gua tsur,

–            Pada 8 rabiul awwal I H, Rasulullah Saw sampai di Quba. Ketika mendengar kabar hijrahnya beliau dari mekah, para penduduk Mekah berduyun-dyun keluar setiap pagi menuju pebtasan untuk menunggu kedatangan nabi

–            Rasulullah singgah di quba dan tinggal selama 4 hari di kediaman Kulsum ibn al-hadm ada juga yang menyebutkan bahwa beliau singgah dikediaman Sa’ad ibn khaitsamah. Dalam rentan waktu tersebut, beliau mendirikan masjid quba dan melaksanakan Shalat didalamnya.

–            Hari kelima-tepat hari jumat, Rasulullah berangkat kembali meuju kota madinah. Orang-orang telah berkumpul untuk menyambut beliau. Rumah-rumah dan lorong-lorong bergemuruh dengan pekikan takbir dan taqdis sebagai ekspresi kegembiraan dan sukacita.

–            Aktivitas Rasulullah Saw di Madinah al-Munawwarah: Selain menjalankan aktivitas dakwah menyeru manusia kepada allah Swt, Rasulullah juga menyusun berbagai urusan keagamaan dan keduniaan.

  1. Langkah pertama yakni membangun masjid Nabawi; mereka mulai shalat lima waktu berjama’ah dan berusaha konsisten tepat pada waktunya.
  2. Berkumandangnya Adzan; sebagian dari mereka ada yang datang terlalu cepat dan ada juga yang datang terlambat. Oleh sebab itu, Rasulullah bermusyawarah menciptakan suatu tanda untuk mengetahui tibanya waktu shalat. Sebagian dari mereka mengusulkan untuk menyalakan api, meniup terompet, memukul kentungan. Umar dan Abdullah bin Zaid pernah bermimpi tentang azan. Lalu Rasulullah mmerintahkan untuk memberi tahu Bilal sebagai muazin, karena Bilal adalah orang yang paling keras suaranya.
  3. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar
  4. Pembentukan Masyarakat dan umat Islam; setelah membentuk suatu komunitas masyarakat madinah, mereka membutuhkan suatu organisasi sosial, pengenalan terhadap kewajiban-kewajiban dan hak-hak sosial serta nilai-nilai yang mendorong persatuan umat, merdeka dari bangsa lain. Saat itu di madinah terdapat dua kelompok lain selain kaum muslimin yakni kaum musyrik dan kaum Yahudi. Nabi kemudian membuat suatu perjanjian dianatara kaum muslimin mengenai hak Ukhuwwah Islamiyah, satu perjanjian dengan kaum musyrikin, dan satu perjanjian lagi antara mereka dengan kaum Yahudi.

Disyariatkannya Perang

–          Dalam kondisi genting, Allah Swt menurunkan izin untuk memerangi kaum kafir Quraisy.

–          Rasulullah mengatur pengiriman ekspedisi dan patrol militer. Dalam suatu opersai militer, beliau memerintahkan salah seorang sahabat untuk memimpinnya. Operasi militer tersebut dikenal dengan sebutan Sariyyah. Namun, jika operasi militer itu diikuti langsung oleh Rasulullah, hal ini disebut Gazwah.

–          Pada bulan sya’ban tahun 2 hijriyah, Allah Sswt menurunkan perintah agar memindahkan kiblat Bait al-Maqdis ke Ka’bah. Hal ini sangat disenangi dan dinanti-nanti Raulullah. Peristiwa perpindahan kiblat menyingkap topeng beberapa orang penipu dari kalangan munafik dan Yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Peristiwa perpindahan ini mengandung hikmah yakni bahwa baitul haram lebih baik daripada baitul maqdis.

Perang Badar

–          Latar Belakang Perang Badar

–       Perang Badar merupakan perang ang berkecambuk pada bulan Ramadhan , tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H. perang badar menjadi perang terbesar yang terjadi antara kaum Quraisy dengan kaum muslimin.

–          Penyebab perang Badar bermula ketika para rombongan kafilah Bani Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan akan balik dari Syam setelah berdagang, namun dagangan yang mereka bawa adalah harta para kaum Muhajjirin yang ditinggal di Mekkah ketika pergi untuk berhijrah.

–          Rasulullah mengutus Thalhah ibn Ubaidillah dan Sa’ad ibn Zaid untuk menyelidiki informasi tentang rombongan dagang Quraisy yang lolos itu di daerah Haura di negeri Syam. Ketika rombongan tersebut lewat, keduanya bergegas ke Madinah dan mengabarkan hal itu kepada Rasulullah Saw.

–          Mendengar kabar tersebut, Rasulullah Saw kemudian mempersiapkan kaum muslimin untuk mencegah kafilah dagang Quraisy. Pasukan muslimin yang berjumlah 313 pasukan yang sekaligus dikomandoi oleh Nabi sendiri, 70 pasukan penunggang unta serta 3 ekor penunggang kuda yang itupun ditunggangi secara bergiliran.

–          Pasukan musuh berjumlah 600 pasukan infantry berbaju besi, 100 kaveleri pasukan berkuda, serta 200 pasukan cadangan sebagai pasukan penghibur  dalam music. Juga:

  1. Kafilah itu besar dan semua orang mekkah mempunyai bagian dalam barang-barang dagangannya.
  2. Pemimpin kafilah adalah Abu Sofyan dan pengawalnya sekitar empat puluh orang.
  3. Barang dagangan diangkut oleh seribu unta yang barang dibawa sekitar 50.000 dirham.

–          Maka ketika Rasulullah saw. mendengar bahwa kafilah yang dikomandoi oleh Abu Sofyan kembali dari Syam, beliau bermaksud menghadang rombongan tersebut untuk. Karena para rombongan tersebut harus melewati Madinah sebagi jalan yang wajib ke Syam (Madinah ada diantara Mekkah dan Syam). Kemudian beliau pergi keluar dan mengajak para sahabat untuk bersiap-siap menghadang para rombongan kafilah Quraisy tersebut.

–          Rasulullah bergerak dari Madinah menuju Badar, sebuah tempat yang terletak sekitar 155 km sebelah barat daya Madinah yang dikelilingi pegunungan tinggi kesegala arah. Terdapat tiga jaur untuk masuk ketempat tersebut, sangat mudah bagi kaum muslimin untuk memblokade ketiga jalur masuh tersebut, sehingga akan membuat mereka menyerah.

–          Ketika Rasulullah saw telah mengetahui bahwa para penduduk Mekah telah keluar dan kini tengah berada dalam perjalanan menuju kawasan Badar. Kamudian Rasulullah Saw bergerak menuju Badar. Beliau sampai pada malam ketika kaum musyrikin sampai ketempat tersebut.

–          Kemudian beliau turun ke lapangan Badar yang dekat dengan tepi lembah Al-Dunya. Lalu Al-Habbab ibn Al-Mundzir mengusulkan beliau agar bergerak menempati tempat air yang terdekat dengan musuh dengan membuat telaga-telaga untk mengumpulkan persediaan air.

–          Perang Tanding; Ada sebuah teradisi Arab kuno sebelum memulai pertempuran umum yang sesungguhnya, dilakukan terlebih dahulu perang tanding. Dilakukan oleh beberapa orang yang saja yang dianggap sebagai pasukan pemberani.

–          Tiga perajurit Quraisy yang kenamaan keluar dengan persenjataan lengkap dan menantang kaum Muslimin untuk bertanding duluan. Yaitu, ‘Uthbah bin Rabiyyah, Sayibah bin Rabiyyah dan Walid bin ‘Uthbah. Di barisan kaum Muslimin keluar ‘Auf, Mu’az dan ‘Abdullah bin Rawahah, namun mereka ditolak karena ‘Utbah menyadari mereka adalah golongan Anshar. Dia meminta agar lawannya sesama mereka juga. Atas seruan seorang laki-laki Quraisy meminta nabi untuk mengutus lawan tanding, Nabi lalu berpaling kepada ‘Ubaidah, Hamzah dan ‘Ali. Hamzah berhasil mmbunuh Syaibah, Ali sukses membunuh Al-Walid. Ubaidah dan Utbah terjadi pertarungan yang sengit. Kemudian Hamzah dan Ali berbalik menyerang Utbah dan berhasil membunuhnya. Hamzah dan Ali membopong Ubaidah yang terpotong kakinya.

–          Hasil duel itu meniptakan kesedihan dan kepiluan di kubu pasukan musyrikin. Mereka kemudian menyerang kaum muslimin.

–          Pertempuran pun dimulai, hingga akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin.

–          Perang kali pertama yang dilakukan oleh kaum muslimin ini menjadikan 14 muslim syahid, di kalangan Quraisy 70 orang tewas termasuk ketua mereka yang paling tegar dengan kesyirikannya, Abu Jahal. dan 70 orang lainnya tertawan, termasuik para tokoh mereka. Yaitu Nazar bin Haris, Uqbah bin Mu’ith, Abu Ghurrah, Suhail bin ‘Amar, ‘Abbas dan Abu al-Ash.

–          Pasca Perang; Dengan kekalahan yang di derita dalam perang badar, jelaslah bahwa kaum musyrikin Quraisy kehilangan gengsi, kerugian politik, kemerosotan politik dan wibawa, dan yang terparah ialah di bidang ekonomi. Jalan pintas bagi kafilah-kafilah dagang mereka melalui jalur lalu lintas Madinah tertutup. Mereka terpaksa melalui jalan lain yang sangat jauh untuk sampai ke negeri Syam, seperti yang dilalui kafilah Abu Sufyan

–          Rasulullah Saw membagi seluruh Ghanimah menjadi lima bagian (khumus), lalu membagikannya secara merata kepada pejuang yang bertempur.

–          Mengenai tawanan; rasul menetapkan untuk mengambil fidyah (uang tebusan), namun bagi tawanan yang bisa membaca dan menulis, beliau menetapkan fidyah berupa mengajarkan baca-tulis kepada 10 anak dari kaum muslimin.

–          Setelah mendengar kemenangan pasukan Muslimin pada perang Badar, kebencian kaum yahudi terhadap Islam makin menjadi-jadi. Mereka makin berani menawarkan teror-teror kepada kaum Muslimin, baik di tempat umum maupun sembunyi-sembunyi. Beberapa saat setelah perang Badar, Rasulullah mendatangi orang-orang Yahudi Qainuqa’ di tempat perniagaan mereka. Beliau mengajak mereka kembali ke jalan yang benar dan lurus, serta menaati peraturan yang telah mereka sepakati dalam perjanjian. Ternyata ajakan beliau tidak ditanggapi oleh Yahudi, malah rasul ditantang dengan ajakan perang oleh mereka.

–          Kemudian terdapat perang Al-Sawiq, berawal dari penyusupan pasukan Quraisy dan kemudian dilakukan pengejaran. Namun, sayang mereka telah menghilang. Ketika pasukan Qurasiy melarikan diri, mereka membuang kantong sawiq (tepung gandum) dan perbekalan untuk meringanan pergerakan mereka.

–          Juga terdapat Sariyyah al-Qaradah; kaum kafilah dagang mereka ke negeri Syam melalui jalur Irak, meempuh kawasan Najed hingga ke Syam. Rasulullah mengutus Zaid ibn Haritsah bersama 100 orang berkuda dengan melewati sumber mata air di Najed yang bernama Qaradah. Zaid berhasil menguasai kafilah dan seluruh dagangan. Namun ada yang melarikan diri, penunjuk jalan, yaitu Furat ibn Hayyan berhasil ditawan.

 

Perang Uhud

–          Kemarahan kaum Quraisy semakin memuncak atas kekalahan di Perang Badar dan juga didera bencana lainnya di Al-Qaradah.

–          Kaum Quraisy memobilisasi kekuatan di kalangan al-ahabisy (kabilah Arab diluar kabilah Qurasiy). Mereka akhirnya berhasil menggalang kekuatan perang yang terdiri dari 3.000 prajurit, 3.000 unta, 200 kuda, dan 700 baju perang. Pasukan tersebut digiring kesebuah lapangan luas yang terletak ditepi lembah dekat bukit Ainain dan Uhud pad Jumat, 6 Syawwal tahun 3 H.

–          Seminggu sebelum pasukan Quraisy tiba, berita mengenai pesukan tersebut sudah sampai kepada Rasulullah Saw. beliau kemudian membentuk berbagai patroli militer untuk mngantispasi tersebut. Beliau membagi pasukan brigade: brigade muhajirin yang panjinya dioegang Mush’ab ibn Umair, brigade Aus yang panjinya dibawa usaid ibn Hudhair, dan brigade khazraj yang panjinya diemban oleh Al-Habbab ibn Al-Mundzir.

–          Setelah melaksanakan shalat Ashar, pasukan kaum muslimin bergerak ke Bukit Uhud. Ketika sampai di suatu tempat yang disebut Al-Syaikhain, Rasulullah Saw menginspeksi pasukan dan menolak keikutsertaan prajurit yang usianya masih muda. Beliau hanya mengijinkn rafi’ ibn Khudaij yang masih sangat muda karena mahir menembakkan panah. Namun, Samurah ibn Jundab mengajukan protes bahwa ia lebih kuat daripada Rafi’karena dia pernah mengalahkannya.

–          Rasulullah Saw pun mengijinkan untuk keduanya bertanding dan samurah berhasil mengalahan Rafi’. Beliaupun mengijinkan Samurah untuk berperang.

–          Kedua pasukan pun mendekat. Pasukan kaum musyrikin yaitu Thalhah ibn Abi Thalhah Al-Abdari mengajak duel satu lawan satu. Akhirnya Zubair ibn Al-Awwam maju dan secara tiba-tiba melompat kearah Thalhah sehingga berada diatas unta Thalhah kemudian menusukkan pedangnya ke tubuh Thalhah.

–          Dalam serangan pasukan Kaum Muslimin memfokuskan serangan kepada pemegang panji pasukan kaum musyrikin. Kaum muslimin pun berhasil dan panji pasukan Quraisy tersungkur jatuh.

–          Ditengah-tengah penyerangan dan kemenangan kaum muslimin, Hamzah ibn Abdul Muththalib yang merupakan singa Allah dan singa rasulullah terbunuh di medan perang. Dia dibunuh oleh Wahsyi ibn Harb, seorang hamba sahaya dari Habasyah (Ethiopia).

–          Kaum Muyrikin akhirnya harus menderita kekalahan. Mereka terpaksa kabur melarikan diri. Pasukan kaum muslimin (yang merasa sudah menang) kemudian mengambil harta rampasan. Melihat pasukan pemanah berebut ghanimah, kesempatan ini tidak disia-siakan Khalid ibn al-Walid. Khalid mulai menyerang pasukan muslimin. Salah seorang dari kavaleri berkuda yang dipimpin Khalid lalu berteriak dengan lantang sehingga didengar oleh kaum musyrikin yang mencoba melarikan diri. Kaum musyrikin lalu berkumpul di sekitar Khalid dan memobilisasi kekuatan. Dengan demikian, kaum muslimin menjadi terjepit dan terkepung dari segala arah.

–          Kaum musyrikin pun sangat gencar melawan kaum muslimin dengan serangan hebat. Ketika orang ketujuh tewan terbunuh, sehinga yang tersisa hanyalah yang bersama Nabi Muhammad Saw. Rasulullah mengalami banyak hantaman dari kaum musyrikin. Pada saat demikian, Abu Dujanah, Mush’ab ibn Umair, Umar ibn Al-Khathhab, Ali bin Abi Thalib. Namun, jumlah kaum musyrikin semakin bertambah.

–          Saat itu panji pasukan dipegang oleh Mush’ab ibn Umair. Orang-orang musyrik berhasil menyabet tangan kanan Mush’ab hingga terputuslah tangan kanannya. Lalu ia memindahkan panji pasukan itu dengan tangan kirinya. Lagi-lagi, orang musyrik menyabetkan pedang ketangan kirinya. Kemudian ditelungkupkan k dada dan lehernya hingga dia terbunuh oleh Abdullah ibn Qami’ah. Ketika Abullah ibn Qmi’ah membunuh Mush’ab, dia menyangka bahwa dirinya telah berhasil membunuh Rasulullah Saw karena Mush’ab memang mirip dengan Rasulullah.

–          Tidak beberapa lama kemudian, tersebarlah berita bahwa Rasulullah Saw telah terbunuh. Tersiarnya rumor kematian beliau semakin mengurangi intensitas serangan kaum musyrikin. Namun, pasukan muslimin menjadi kehilangan kesadaran, lemah semangat, dan pesimis. Dalam keadaan demikian tiba-tiba Ka’ab ibn Malik melihat Rasulullah saw sedang berjalan. Sontak, Ka’ab pun berteriak memanggil kaum muslimin dengan lantang.

–          Kaum muslimin pun bergerak mendatangi Rasulullah Saw, hingga berkumpul dan berjalan meloloskan diri menembus diantara diantara pasukan Quraiy. Beliau pun berhasil menyelamatkan pasukannya yang dikepung, lalu menarik mereka mundur ke celah gunung.

–          Ketika Rasulullah Saw berada di selah bukit, ada beberapa orang dari kaum musyrikin yang dikomandoi Abu Sufyan dan Khalid ibn Al-Walid mendaki sebagian tepi. Umar bin Khaththab bersama beberapa orang muhajirin, memerangi mereka, sehingga mereka pun tergelincir dari bukit. Setelah upaya terakhir yang dilancarkan Abu Sufyan dan Khalid bin Al-Walid menemui kegagalan, pasukan kaum musyrikin pun bersiap untuk kembali ke Mekah.

–          Jumlah korban tebunuh dari pihak kaum musyrikin mencapai 22 orang. Ada yang menyebutkan 37 orang. Sedangkan jumlah korban terbunuh dari pihak pasukan  muslimin mencapai 70 orang: 41 orang dari suku Khazraj, 24 orang dari suku Aus, 4 orang dari golongan Muhajirin, dan 1 orang dari kaum Yahudi.

–          Pasca Perang Uhud

–          Peristiwa  Ar- Rajj’; Pada bulan Shafar  tahun ke-4 H sekelompok   kabilah  Adhl dan Qarah telah  datang menemui Rasulullah Saw. dengan mengatakan  bahwa  dikalangan mereka ada yang memeluk agama islam untuk itu   mereka meminta agar segera diutus beberapa orang untuk menyampaikan Firman-Firman Allah Swt. Atas permintaan mereka beliau  mengirim 6 orang – menurut Ibnu Ishaq atau  10 orang. Ketika tiba di ar-Raji’, delegasi Adhal dan Qarah mengkhianati para sahabat Nabi Saw dan berteriak meminta tolong kepada bani Lihyan dari perkampungan Hudzail. Terdapat sekitar 100 orang pemanah yang mengepung mereka dari tempat yang tinggi. Hingga para pengepung berhasil membunuh 8 dari 10 orang yang diutus Nabi tersebut. mereka pun bertolak ke Mekah bersama 2 orang muslim yang tersisa yang ditawan, yaitu Khubaib yang nantinya dibunuh juga oleh Uqbah al-Harits dan Zaid ibn Al-datsnah yang nantinya dibunuh juga oleh anak umayyah untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.

–          Tragedy di Bi’r Ma’unah

–          Bersamaan dengan terjadinya pristiwa raji’, terjadi pula tragedy lain yang lebih tragis. Abu Barra’ datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah Saw yang mengajaknya masuk Islam. Abu Bara’ tidak mau, tapi juga tidak menunjukkan permusuhan dan kebencian. Namun, dia menyampaikan harapan agar penduduk Najed mau memenuhi seruan beliau pada islam, seandainya beliau mengirim utusan juru dakwah kepada mereka.

–          Selanjutnya, Rasulullah Saw mengutus 70 orang juru dakwah dari pada sahabat beliau yang pandai.

–          Tiba di Bi’r Ma’unah, mereka memutuskan bermalam disana. Seketika itu, musuh Allah, Amir ibn Al-Thufail, mengajak Bani Amir untuk menghabisi orang-orang muslim. Amir kemudian mendatangi Bani Sulaim, mengajak mereka untuk memerangi rombongan utusan Rasulullah Saw.

–          Mereka berhasil membunuh sahabat Rasulullah kecuali Ka’ab dan Amr ibn Umayyah. Sementara Amr bin Thufail berhasil dibunuh oleh Al-Mundzir.

–          Perang Bani Al-Nadhir

–          Bani Nadhir melakukan konspirasi yang lebin keji daripada Adhal,Qarah, para pengkhianat lain thd sahabat-sahabat Rasulullah Saw di Bi’r Ma’unah.

–          Mereka meminta kepada Rasulullah Saw untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam dari beliau. Rasulullah Saw pun menyetujui mereka.

–          Orang-orang kafir bersepakat di antara mereka masing-maskng membawa pisau belati dibalik pakaian mereka. mereka berencana untuk membunuh Rasulullah Saw. namun, berita tersebut sampai kepada Rasulullah Saw an beliau pun memutuskan untuk mengusir mereka.

–          Bani Nadhir telah membunuh du orang laki-laki dari bani kilab, maka Nabi pun pergi ke bani Nadhir agar mereka mau membantu membayar tebusan bagi keluarga dua korban terbunuh.

–          Ketika Nabi duduk di pinggir tembok salah satu rumah mereka. Orang Yahudi pun membuat rencana jahat untuk membunuh Rasulullah Saw, namun malaikat Jibril turun untuk memberi tahu Nabi sehingga beliau bangkit dari duduknya dan segera kembali ke madinah.

–          Rasulullah saw kemudian mengutus Muhammad ibn Maslamah untuk menemui bani Nadhir untuk menyampaikan pesan bahwa mereka diusir dari Madinah

–          Sebagian dari Bani nadhir bersiap-siap selama beberapa hari. Namun, pemimpin munafik membuat pasukan gabungan untuk tetap bertahan di madinah.

–          Rasulullah saw mengintruksikan untuk mengepung Bani Nadhir. Semangat Bani Nadhir pun menciut dan ketakutan. Kemudian Rasulullah Saw membolehkan orang-orang Yahudi Bani Nadhir untuk membawa barang-barang dan harta benda .

–          Setelah diusir dari madinah, kebanyakan masyarakat dan pembesar bani Nadhir singgah di Khaibar. Selebihnya singgah dan menetap di negeri Syam.

–       Perang Badar Kedua

–          Sebelumnya telah disebutkan bahwa Abu Sufyan pernah berjanji di Uhud untuk berperang lagi tahun depan.

–          Ketika memasuki bulan Sya’abn tahun 4 Hijriyah, Rasulullah Saw. berangkat menuju Badar sesuai perjanjian. Beliau menetap selama 8 hari untuk menunggu Abi Sufyan, beliau membawa pasukan berjumlah 1.500 prajurit dan 10 pasukan berkuda. Sedangkan panji pasukan kepada Ali bin abi Thalib.

–          Sementara Abu Sufyan berangkat dengan membawa 2.000 tentara dan 50 pasukan berkuda. Sejatinya, Abi sufyan sudah dibayangi ketakutan sejak keluar dari mekah. Dia pun pulang dan tidak menunjukkan konfrontasi apapun pada kaum muslimin.

–          Selama 8 hari tinggal di Badar untuk menunggu pasukan musyrikin, kaum muslimin menjual barang-barang dagangan sehingga mereka mendapatkan uang hasil perniagaan dan keuntungan yang banyak. setiap jengkal madinah pun diliputi rasa aman. Hingga satu tahun lamanya tidak ada satu pun musuh yang berani mengusik ketenangan kaum muslimin

–          Pada suatu hari beliau menyempatkan diri pergi ke Daumatul Jandal untuk menyadarkaan para perampok orang-orang yang menggunakan jalan, tepatnya pada bulan Rabi’ul Awwal, tahun 5 H.  Keamanan pun meluas ke seantero negeri.

 

Umrah Hudaibiyah

–          Ketika di Madinah, Rasulullah Saw bermimpi beliau dan para sahabatnya memasuki masjid al-haram dalam kondisi aman.

–          Rasulullah mengajak orang-orang arab badui disekitar beliau untuk bergabung

–          Rasulullah Saw berangkat pada senin, 1 Dzulqa’dah tahun 6 H, bersama sekitar 1.400 orang beriman dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Beliau juga membawa hewan kurban agar orang-orang tahu bahwa beliau keluar untuk melaksanakan umrah, bukan berperang.

–          Saat itu kaum quraisy tengah berkumpul untuk berperang dan menghalangi kaum muslimin memasuki masjid al-Haram. Pasukan kaum Quraisy telah berangkat dan tiba di Dzu Thuwa. Mereka mengutus Khalid ibn Al-Walid bersama 200 pasukan berkuda ke Kurra al-Ghamim untuk melaksanakan pengadangan di jalur utama menuju mekah

–          Rasulullah Saw mengabil jalur yang lebih sulit dan berat. Beliau meniti jalan kea rah kanan dari sisi bawah kanan dari sisi bawah mekah, sehingga tiba di Tsaniyatul Mirar sebelum turun ke Hudaibiyah. Tiba di Tsaniyatul Mirar, unta rasulllah Saw menderum.

–          Budail bersama sekelompok dari bani Khuza’ah, mereka memberi tahu bahwa kaum qurasiy bersiap memerangi dan menghalangi beliau memasuki Masjid al-Haram.

–          Rasulullah saw pun memberi tahu Budail bahwa beliau datang untuk menunaikan umrah, bukan untuk berperang. Akan tetapi, apabila kaum quraisy bersikukuh untuk berperang, beliau juga siap untuk memerangi mereka.

–          Ketika dalam masa perundingan dan negosiasi, seelomok pemuda berandalan Quraisy yang berjumlah sekitar 70 sampi 80 orang menyusup pada malam hari. Pemuda-pemuda itu berupaya untuk menggagalkan rekonsiliasi. Akan tetapi, kaum muslimin berhasil menangkap para penjahat Quraisy tersebut.

–          Meskipun demikian, Nabi membebaskan dan memaafkan mereka. peristiwa tersebut menimbulkan ketakutan dihati kaum Quraisy sehingga mereka condong pada perdamaian.

–          Rasulullah Saw memutuskan untuk mengutus seorang utusn kepada kaum Quraisy untuk menegaskan kepada mereka bahwa kedatangan beliau dan kaum muslimin adalah untuk mengerjakan umrah. Beliau mengutus Usman bin Affan, Usman memasuki Mekah dengan ditemani Abban ibn Sa’id al-Umawi. Dia mngeirimkan surat Rasulullah hingga akhirnya orang-orang Quraisy mengijinkannya untuk melakukan thawaf. Akan tetapi, Usman menolak tawaf sendiriam sementara Rasulullah Saw dilarang bertawaf.

–          Kemudian kaum Quraisy menawam Usman di Mekah agar mereka bisa bermusyawarah. Karena cukup lama Usman tertahan, tersiarlah kabar di kalangan kaum muslimin bahwa Usman telah dibunuh.

–          Mendengar hal itu, Rasulullah tidak akan beranjak pulang sebelum mengalahkan mereka. beliau saat itu berada di bawah pohon memanggil orang-orang untuk mengambil sumpah berperang. Ketika proses baiat selesai, tiba-tiba datang Usman bin Affan. Baiat ini dinamakan Baiat Al-Ridhwan.

–          Ketik kaum Quraisy mendengar kabar tentang baiat tersebut, mereka pun dilanda ketakutan yang luar biasa. Dengan segera mereka mengutus Suhail ibn ‘Amr untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Dia pun datang dan berbicara panjangn dengan Rasulullah Saw hingga disepakati beberapa point:

ü  Rasulullah Saw bersama kaum muslimin harus segera pulang tahun ini dan tidak boleh memasuki Mekah kecuali pada tahun depan. Beliau diberi jangka waktu selama tiga hari untuk menetap di Mekah dan hany diperbolehkan membawa senjata pedang yang disarungkan.

ü  Genjatan senjata di antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun

ü  Barang siapa ingin bergabung dengan perjanjian Nabi Muhammad saw, diperbolehkan bergabung. Begitupula bagi mereka yang ingin bergabung dengan perjanjian Quraisy.

ü  Barang siapa dari pihak Quraisy yang datang meminta perlindungan kepada kaum muslimin, kaum muslimin harus mengembalikan orang tersebut kepada kaum Quraisy. Dan Barang siapa dari pihak muslimin yang datang meminta perlindungan kepada kaum Quraisy, kaum Quraisy tidak mengembalikan orang tersebut kepada kaum muslimin

–          Mengenai kesedihan kaum muslimin, hal tersebut disebabkan dua factor:

  1. Mereka harus pulang tanpa mengerjakan umrah. (point 1)
  2. Tidak adanya kesetaraan antara kedua belah pihak (point 4)

–          Perjanjian hudaibiyah terkesan menguntungkan pihak kaum Quraisy, namun memiliki pengaruh besar dlam memuluskan perkembangan dakwah Islam. Kaum muslimin jadi memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan mayoritas bangsa arab, berdakwah mengajak mereka pada allah. Sehingga banyak orang yang memeluk Islam.

–          Beberapa tokoh quraisy, seperti Amru ibn Al-‘Ash, Khalid ibn Al-Walid, dan Utsman Ibn Thalhah datang menemui Rasulullah Saw dengan penuh ketundukan dan kecintaan untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Mereka berbaiat untuk memeluk Islam.

–          Rasulullah Saw mengirim surat kepada sejumlah raja dan penguasauntuk menyeru mereka kepada islam.

  1. Kepada Raja Najasyi, Penguasa Habasyah

Raja Najasyi merespon baik lalu masuk Islam dan menulis balasan kepada Nabi Muhammad saw dengan perihal keislaman dan baiatnya. Raja Najasyi pula menghadiahkan Ummul Mukminin Ummu Habibah binti Abu Sufyan dengan Nabi Muhammad Saw

  1. Kepada Muqauqis, Raja Alexandria

Raja Muqauqia menyambutnya dengan baik. Muqauqis tidak masuk Islam, namun dia menghadiahkan beliau dua gadis yang membantunya juag beberapa lembar kain dan seekor Bagal (peranakan kuda dan keledai) bernama Duldul.

  1. Kepada Kisra Abrawaiz, Raja Persia

Setelah surat itu dibacakan, Kisra merobek-robek dan menghina.

  1. Kepada Kaisar Romawi

Merespon baik dengan banyak bertanya kepada Abu Sufyan mengenai Nabi Muhammad Saw.

  1. Kepada Al-Harits ibn Abu Syamr Al-Ghassani, Pemimpin Damaskus di bawah kekuasaan Kaisar Romawi.

Merespon jahat dan memerangi kaum muslimin.

  1. Kepada Penguasa Bushra

Utusan nabi, Al-Harits ibn Umair Al-Azadi yang membawa surat dicegat dan dipenggal lehernya. Nabi pun murka sehingga memicu terjadinya Perang Mu’tah.

  1. Kepada Al-Mundzir ibn Sawa, Raja Bahrain

Al-Mundzir dan sebagian penduduk Bahrain akhirnya masuk Islam. Sementara sebagian yang lain masih berpegang teguh dengan agama lama mereka .

  1. Kepada dua raja Oman: Jaifar dan Abd, keduanya anak Julandi.

Kedua raja ini akhirnya masuk islam, meskipun Jaifar sedikit lama memikirkannya.

–          Berkat perjanjian Point 2, Rasulullah aman daari ancaman musuh-musuh besar di jazirah Arab yaitu Quraisy. Juga memiliki waktu untuk focus melakukan perhitungan dengan musuh beliau yang paling keji, dalam hal konspirasi, tipu daya, dan pengkhianatan kepada golongan-golongan lain yaitu Yahudi. Mereka bermarkas di Khaibar dan kawasan dibelakangnya diarah utara.

–          Ketika Rasulullah Saw bersiap menyerang kaum Yahudi, terjadilah sebuah peristiwa ecil lainnya yaitu Perang Ghabah

Perang Ghabah

–          Perang Ghabah bertempat di Ghabah, sebuah kawasan pemerahan susu unta. Ketika itu terdapat Rabbah, seorang peggembala unta dan Salamah ibn Al-Akwa yang membawa kuda milik Abu Thalhah. Perang ini diawali dengan pengepungan unta-unta itu oleh Abdurrahman ibn Uyainah Al-Fazari. Dia membunuh penggembala lalu menghalau dan menggiring unta-unta itu ke kabilahnya.

–          Salamah menyerahkan kudanya kepada Rabbah memberitahu sesegera mungkin ke Madinah. Tidak lama kemudian, Salamah melihat pasukan berkuda yang dikirim Rasulullah Saw. yang berada didepan Akhram, lalu disusul Qatadah, lalu Al-Miqdad ibn Al-Aswad. Akhram berhadapan dengan Abdurrahman. Namun, Abdurrahman dapat menikam Akhram dengan tewas. Ketika berhadapan dengan Abu Qatadah, akhirnya Abdurrahman berhasil dibunuh.

–          Melihat kejadian tersebut, pasukan Abdurrhaman melarikan diri.

Perang Khaibar

–          Pada bulan Muharram tahun 7 H, Rasulullah berangkat menuju Khaibar. Orang-orang yang berangkat menuju Khaibar adalah orang-orang yang berpatisipasi dalam baiat Al-Ridhwan. Daerah Khaibar berada sekitar 171 km di sebelah utara Madinah. Erdapat 3 teritoial;

  1. Al-Nathah, terdapat tiga benteng; Na’im, Shu’ab, Zubair
  2. Al-Syaqq, terdapat dua benteng; Ubay dan Nizzar
  3. Al-Katibah; Al-Qamush, Al-Wathih, Al-Sulalim

–          Rasulullah Saw berjalan meniti jalan besar yang mengantarkannya ke Khaibar. Hingga kira-kira setengah perjalanan, beliau mengambil jalur lain. Ketika samapa setengah jalan beliau mengambil jalur lain yang menyambungkan ke khaibar dan arah Syam. Dengan demikian beliau dapat menghadang orang-orang yahudi yang mungkin akan melarikan diri ke Syam atau Ghathafan.

–          Mereka menetap disustu tempat yang dekat dengan Khaibar pada malam hari sebelum terjadi peperangan esoknya. Orang-orang yahudi masih belum menyadari kedatangan pasukan kaum muslimin. Esoknya beliau bergerak menuju perkampungan Khaibar. Dan seketika itu orang yahudi berlarian.

–          Rasulullah Saw mengambil tempat disebelah timur benteng-benteng Al-Nathah untuk dijadikan markas sehingga jauh dari jangkauan anak panah musuh.

–          Pertempuran dimulai ketika kaum muslimin mengepung benteng Na’im yang merupakan benteng terkokoh dan sangat tinggi didaki. Benteng tersebut juga menjadi garis pertahanan pertama bagi orang-orang Yahudi.

–          Dari benteng na’im, kaum muslimin berhasil mendapatkan banyak harta rampasan perang berupa makanan, kurma dan persenjataan.

–          Selama tiga hari, kaum muslimin mengepung benteng Al-Shu’ab di bawah komando Al-Hubab ibn Al-Mundzir. Kaum muslimin terus melancarkan serangan dan berlangsung dengan sengit dan berakhir dengan kekelahan kaum Yahudi. Dai benteng Shu’ab, kaum banyak mendapatkan harta rampasan perang berupa makanan. Ini karena benteng Shu’ab merupakan benteng dengan stok makanan dan hewan ternak paling banyak.

–          Setelah kaum muslimin berhasil menakluan benteng Na’im dan Shu’ab, orang-orang yahudi berpindah benteng Al-Zubair dan bertahan disana. Benteng tersebut adalah benteng terakhir yang ada dikawasan Nathah.

–          Selanjutnya, kaum muslimin kembali melakukan pengepungan. Pada hari keempat pengepungan ditempat pengambilan air yahudi di mata air yang ketika itu memang sebagai jadwal mengambil air.

–          Akhirnya, orang-orang yahudi keluar hingga terjadi pertempuran hebat dan lagi-lagi kaum yahudi menderita kekalahan.

–          Setelah itu, mengepung benteng dalam penaklukan Al-Syaqq, bentenag Ubay hingga ke benteng Nizzar

–          Kemudian berhasil menerobos al-qamush (benteng pertama di khatibah) benteng Wathih dan Al-Sulalim.

–          Di benteng Qomush, yakni benteng yang paling terkuat di Kalangan yahudi di Khaibar. Muncullah Marhab, yang kekuatannya setara dengan seribu orang, secara terang-terangan mengajak berduel. Amir ibn Al-Akwa maju untuk berhadapan dengan Marhab. Pedang Marhab menghantam Amir. Dengan pedang yang pendek, sabetan Amir tidak mengenai marhab dan malah berbalik ke arahnya menebas lututnya sendiri. Amir pun meninggal.

–          Marhab juga berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib. Ali berhasil menebas kepala Marhab. Keluarlah saudara laki-laki Marhab, Yasir yang menantang duel satu lawan satu. Al-Zubair ibn Al-Awwam kemudian maju untuk menghadapinya. Yasir akhirnya terbunuh.

–          Selanjutnya terjadilah pertempuran sengit yang menewaskan banyak orang yahudi. Sehingga daya juang mereka pun mengendur dan berlarian dari posisi mereka. kaum muslimin terus mengejar sehingga berhasil menerobos kedalam benteng dengan penuh kekuatan.

–          Dalam perjanjian damai disebutkan bahwa mereka memperkenankan kaum muslimin mengambil seluruh harta benda.

–          Jumlah korban jiwa dari pihak Yahudi mencapai 93 orang dan kaum muslimin 15 orang.

–          Ketika suasana telah kembali tenang dan rasa takut telah menghilang, orang-orang yahudi kembali berulah. Mereka merencanakan konspirasi untuk membunuh Nabi.

–          Salah seorang Wanita mengetahui menyukai paha domba, laliu membubuhkan racun kedalam bagian tersebut. beliau lantas menggigit dan mengunyahnya, namun kemudian memuntahkannya. Ini dilakukan wanita tersebut untuk menguji jika Muhammad adalah seorang raja.

–          Rasulullah Saw memaafkannya, namun Bisyr ibn Al-Barra’ ibn Ma’rur wafat disebabkan racun dari daging sehingga beliau memerintahkan agar wanita itu dibunuh sebagai bentuk qishash

–          Penduduk Fadak menyerahkan diri Karena mereka ketakutan. Hasil tanah diserahkan kemudian harus memberikan bantuan kepada orang-orang lemah Bani Hasyim dan menikahi janda mereka.

–          Menuju wadi al-Qura dan berhasil sukses walaupun penduduknya tak mau diajak masuk islam.

–          Ajakan damai penduduk Taima.

Penaklukan Kota Mekah (Fathul Mekah)

–  Pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Allah menaklukan kota Mekah Al-Mukarramah untuk Rasulullah Saw yang juga menjadi penaklukan besar dan melalui penaklukan mekah ini, Allah memuliakan agama dan Rasul-Nya, memberi kabar gembira kepada seluruh penduduk langit, dan manusiapun berbondong-bondong masuk agama-Nya.

– Latar belakang; bergabungnya Bani Bakr dan bersama kabilah Quraisy pada masa perjanjian Hudaibiyah. Pada masa jahiliyah, bani Bakr dan Khuza’ah sering terjadi pertumpahan darah dan peperangan. Namun, pihak bani Bakr menggunakan kesempatan gencatan senjata yang muncul dari Hudaibiyah untuk melampiaskan dendam.

– Kabilah Bani Khuza’ah bergabung bersama kaum muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah. Mereka mengabarkan penyerangan tersebut. Nabi pun murka dan orang quraisy menyadari dampak buruk dari perbuatannya. Mereka mengutus abu sufyan ke madinah untuk membuat perjanjian dan menambah temponya. Nabi tidak menanggapinya begitupula dengan 3 sahabat beliau.

– Pada 10 ramadhan tahun 8 H, Rasulullah Saw pergi meninggalkan Madinah menuju Mekah bersama sekitar 10 ribu orang kaum muslimin.

– Ketika sampai di Juhfah, Rasulullah bertemu dengan Abu sufyan dan anak bibi beliau, Abdullah ibn abu Umayyah. Namun, beliau menolak menemui mereka. beliaupun tidak menanggapi permintaan maaf dari Abu Sufyan.

-Disaat ini abu sufyan akhirnya masuk islam

– Beliau menumpas 360 berhala disekeliling ka’bah

– Menghancurkan berhala-berhala dan gambar-gambar didalam ka’bah dan beliau shalat 2 raka’didalamnya.

– Membaiat orang-orang yang masuk islam diantaranya; Abu Quhafah, Ayah Abu bakar Ash-Siddiq, Hindun binti Utbah, istri abu sufyan, ia engan cara sembunyi-sembunyi takut akan keselamatan dirinya yang telah berbuat keji terhadap jasad Hamzah ibn Abdul Muththalib.

– Diantara orang yang layak mendapat siksa berjumlah 5 atau 6 orang. Sedangkan yang masuk Islam ada 7 orang

 


[1] Martin Lings, Muhammad, (Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta, 1991), hlm.36

[2] Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabi, (Jakarta: PT. Mizan Pustaka, 2012), hlm. 30

2 thoughts on “RINGKASAN SIRAH NABAWIYYAH

  1. There are certainly a lot of details like that to take into consideration. That is a great point to bring up. I offer the thoughts above as general inspiration but clearly there are questions like the one you bring up where the most important thing will be working in honest good faith. I don?t know if best practices have emerged around things like that, but I am sure that your job is clearly identified as a fair game. Both boys and girls feel the impact of just a moments pleasure, for the rest of their lives.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s