YUKK…. SOROT TANGGAPAN MAHASISWA TERHADAP JAMINAN KESEHATAN KAMPUS!

Mengundang simpati yang cukup besar, melihat beberapa teman kita sedang tertimpa sakit keras apalagi hingga terbaring dirumah sakit. Tak hanya mengundang perhatian dari mahasiswa-mahasiswa STFI Sadra, tentu pihak kampus tak kalah ikut memberikan kontribusi yang besar mengingat kewenangannya terhadap setiap permasalahan yang menimpa mahasiswa. Berkaitan dengan keadaan ini, keadaan dimana penanganan kesehatan mahasiswa benar-benar menjadi sorotan yang sangat penting dimata mahasiswa. Maka, dalam konteks ini pun, tanggapan mahasiswa adalah hal yang sangat dibutuhkan mengingat suara mahasiswa diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan demi kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, dalam sajian tulisan kali ini, kita akan menemukan beberapa tanggapan dari mahasiswa yang berhasil kami sorot, dimana mereka telah menorehkan aspirasinya sebagai mahasiswa.

Sebagai sorotan pertama, kita akan memulai pada salah satu mahasiswa STFI Sadra yang akrab disapa “Teten”. Ia sebelumnya sempat mengalami sakit dan mendapat perawatan dari  rumah sakit. Mengenai kebijakan jaminan kesehatan STFI Sadra, Teten memberikan tanggapan;

Sebenarnya, tidak ada jaminan kesehatan untuk mahasiswa yang sakit. Namun, sebelum kebijakan itu muncul, kampus sendiri tidak bisa membiarkan mahasiswanya dalam kondisi sakit. Apabila kondisi ekonomi mahasiswa mencukupi, maka pembayaran biaya kesehatan terhadap rumah sakit itu dibagi dua: dari pihak orang tua dan pihak kampus. Namun, apabila kondisi ekonomi mahasiswa yang bersangkutan itu benar-benar kurang mampu, maka kampus sendiri yang membayar.“

Melihat situasi kampus kita yang belum menyediakan fasilitas kesehatan sepenuhnya seperti tempat penyedia pertolongan pertama bagi mahasiswa secara khusus. Teten pun mengungkapkan: ‘Kalo dibanding-banding dengan kampus lain pada umumnya, jaminan kesehatan yang ada sekarang belum memenuhi standar‘ (sembari tersenyum dengan nada yang terbatah-batah). Teten berharap agar ada kepastian kebijakan pasti mengenai kesehatan itu sendiri dari pihak kampus. ‘Mengenai pembayaran, kalau bisa sepenuhnya dari kampus lahh, sudah tahu kita kan mendapat beasiswa penuh; “ungkapnya sambil tertawa.“ Disamping itu, ia juga sangat mensupport jika kampus kita diadakan ‘Klinik Sadra‘ sebagai solusi kesehatan bersama.

Sebagai sorotan kedua, kami juga turut menyorot tanggapan ‘Mistra‘, selaku Ketua BEM STFI Sadra, yang mungkin ia dapat mewakili seluruh aspirasi mahasiswa. Mistra memberi tanggapan mengenai jaminan kesehatan STFI Sadra, dalam ungkapannya:

“Berhubung di kampus ini mahasiswa tidak membayar biaya, sehingga semua hal ditanggung oleh pihak kampus. Maka, apabila kita lihat di kampus negeri, mungkin ada tuntuntan ketika terkena penyakit dengan menyodorkan kartu mahasiswa ke rumah sakit dan pihak rumah sakit menghubungi kampus yang terkait dengan pasien tersebut untuk membayar biaya pengobatan. Namun, kampus STFI Sadra memiliki kebijakan yang berbeda mengenai masalah ini, mahasiswa STFI Sadra tidak menyodorkan kartu mahasiswa. Tetapi, ia cukup melapor ke kampus dan kampus akan membiayainya.

Sebagaimana desas-desus yang terjadi atas kekecewaan di kalangan mahasiswa STFI Sadra mengenai tunjangan kesehatan STFI Sadra yang dirasa kurang memberikan pemenuhan, ia pun meluruskan desas-desus tersebut dan dengan lugas ia mengatakan:

Ketika pihak kampus telah membiayai setengahnya, maka itu berarti pihak kampus telah bertanggung jawab atas kesehatan mahasiswanya. Bukan berarti ketika pihak kampus tidak membiayai sepenuhnya, kampus itu berlepas tangan atas kesehatan mahasiswanya.“

Mengenai ajuan ‘Klinik Sadra‘, sebagaimana tanggapan Teten, Ketua BEM kita ini pun mensupportnya pula meskipun dengan jawaban yang sangat singkat: “Iya, Boleh“.

Tak hanya menyorot mahasiswa STFI Sadra sendiri, kami juga menyorot tanggapan Mahasiswa luar yakni dari perguruan tinggi MH. Thamrin, Politeknik Negeri Jakarta, UNIMA, dan Akbid Prima Husada Bogor.

Seperti apa sih jaminan kesehatan dikampus mereka? Yukk… sorot apa tanggapan mereka!!!


Ekasya Ramadhani, Perguruan Tinggi Moh. Thamrin, Jurusan S1 Keperawatan

Di kampus saya, setiap mahasiswa diberikan kartu kesehatan. Jika ada mahasiswa yang sakit, bisa langsung diserahkan ke klinik kampus tanpa membayar uang seperserpun dan diberikan obat. Hal ini sangat efektif  bagi mahasiswa untuk membantu meringankan biaya mahasiswa dan mempermudah rujukan ke klinik kampus.

Jacklin Anastasia Marsel, UNIMA, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

Kalau di kampus saya belum ada, tapi saya rasa itu perlu untuk keringanan berobat karena kita ketahui sendiri pada umumnya mahasiswa dalam ksehariannya sangat rawan sakit. Dengan keringanan berobat itu, sangat membantu sekali apalagi pada mahasiswa yang jauh dari keluarganya. Oleh karena itu, perlu adanya fasilitas kesehatan di kampus.

Hilmi Azis, Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Sipil

Ya, paling semacam poliklinik dan itu gratis. Terdapat pemeriksaannya dan juga obat-obatan. Itu sangat membantu karena mahasiswa kan tidak semua pulang pergi, ada yang anak kos. Nah, itu bisa mengurangi beban anak kos, hehe…

Sri Ayu Purnamawati, Akbid Prima Husada Bogor, Jurusan Kebidanan

Kalau dikampus saya yang hanya sekolah kebidanan, tidak ada sarana kesehatan bagi mahasiswanya. Mengenai poliklinik, dikampus saya tidak ada, yang ada hanya laboratorium, itu pun hanya untuk praktek belajar. Jadi,  jaminan kesehatan dari masing-masing mahasiswa. Tetapi, kalau terjadi kecelakaan di dalam lingkungan kampus, mungkin pihak kampus yang bertanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s