Perang Khandaq

perangDalam pembahasan sebelumnya yakni mengenai perlakuan Bani Nadhir di Madinah, perang badar kedua dan ekspedisi-ekspedisi Gatafan dan Dumat al-Jandal telah dicapai kemenangan oleh kaum muslimin, maka tiba kaum muslimin merasakan hidup yang tenang di Madinah. Kaum muslimin tidak begitu memiliki banyak kesulitan berkat adanya rampasan yang mereka peroleh dari peperangan selama itu, sehingga mereka dapat mengatur hidupnya dengan tenang di Madinah. Disamping ketenangan itu, Nabi Muhammad Saw selalu tetap waspada dan siap siaga terhadap segala tipu muslihat dan gerak-gerik musuh setiap saat. Beliau mengatur kewaspadaannya dengan menyebarkan mata-mata keseluruh pelosok Semenanjung, kemudian mengumpulkan berita-berita kegiatan masyarakat yang hendak berkomplot terhadap dirinya. Naluri orang-orang Arab memang sangat besar untuk membalas dendam pada kaum Quraisy maupun Yahudi Bani Qainuqa’ dan Yahudi Bani Nadir, demikian juga kabilah-kabilah Arab Gatafan, Huzail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan dengan Syam.

Dibalik kewaspadaan Nabi Muhammad Saw, terdapat masyarakat Yahudi, masyarakat yang paling kritis memperhatikan Nabi Muhammad dengan ajaran-ajaran dan cara berdakwahnya, tetap menyimpan kedengkian dan dendam terhadap kaum Muslimin, lebih-lebih bila mereka teringat akna nasib kaum Yahudi Bani nadhir yang diusir keluar dari Madinah. Padahal, pengusiran Yahudi Bani Nadhir akibat mereka sendiri yang menghianati perjanjian dan bahkan mencoba hendak membunuh Rasulullah Saw. Nafsu kedengkian mereka untuk kehancuran kaum Muslimin sangat besar, tetapi mereka tidak memiliki daya upaya untuk mewujudkan niat mereka. Cara satu-satunya yang mereka pandang dapat digunakan untuk melancarkan pukulan terhadap kaum Muslimin adalah kekuatan musyrikin Quraisy di Mekah dan sekutu-sekutunya.[1]

Secara diam-diam kaum Yahudi di Madinah bersepakat dengan tokoh Yahudi bani Nadhir yang telah diusir keluar dari Madinah dan memilih pemukiman di Khaibar. Kedua kaum tersebut berangkat ke Mekah untuk menemui tokoh-tokoh Musyrikin Quraisy. Mereka mendesak agar kaum musyrikin mengerahkan kekuatannya semaksimal mungkin untuk menyerang Islam dan kaum muslimin di Madinah. Mereka berhasil menghasut kaum kafir Quraisy, dengan sikap lebih mengutamakan paganisme (agama keberhalaan kaum kafir Quraisy) daripada tauhid Muhammad. Disaat itu, terjadi dialog pada Abu Sofyan bin Harb beserta kawan-kawannya dengan pihak Yahudi: “Kalian adalah orang-orang ahlul-kitab, bagaimanakah menurut penilaian kalian yang sebenarnya, apakah agama kami lebih baik daripada agama Muhammad?” Pihak Yahudi dengan semangat tinggi menjawab: “Agama kalian jauh lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalianlah yang berhak menjunjung tinggi kebenaran!” Atas dasar jawaban tersebut, tokoh-tokoh musyrikin Quraisy menyatakan kesediaan berperang lagi melawan Islam dan kaum Muslimin. Perutusan Yahudi juga mendatangi tokoh-tokoh kabilah Gathafan untuk maksud yang sama.[2] Berawal dari seluk beluk ini, kemudian memunculkan peristiwa besar yakni Perang Ahzab (Khandaq) yang tentunya tak lepas dari perjuangan nabi Muhammad Saw beserta kaumnya yang mereka dihadapi dengan mencurahkan banyak siasat didalamnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui peristiwa selanjutnya secara lebih detail, maka dalam pembahasan  ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai perang Ahzab (Khandaq).

A. Kekuatan Pasukan Serangan ke Madinah

Setelah tokoh-tokoh Yahudi tadi menuju Ghathafan dan beberapa kabilah Arab lainnya untuk menghasut mereka, berkat kelicikan dan muslihat diplomasi Yahudi, baik musyrikin Quraisy maupun kabilah Bani Ghatafan untuk maksud yang sama, maka disambutlah hasutan Yahudi oleh mereka untuk menggalang kerja sama dalam gerakan bersama melancarkan serangan militer ke Madinah. Abu Sufyan bin Harb yang awalnya membatalkan rencana serangannya terhadap kaum muslimin dalam peristiwa perang Badr II dan pulang kembali ke Mekah dalam keadaan bingung ketakutan, atas hasutan Yahudi itu, kini muncul kembali keberaniannya.

Beberapa waktu kemudian setelah kaum musyrikin Quraisy dan sekutu-sekutunya telah siap, mulailah mereka bergerak menuju Madinah. Dari arah selatan bergerak pasukan gabungan yang terdiri atas kaum musyrikin Quraisy, Kinanah dan sekutu mereka, penduduk Tihamah. Kaum Quraisy dipimpin Abu Sufyan dengan 4.000 personil, 300 pasukan berkuda, dan 1.000 unta, lengkap dengan persenjataan dan perbekalan. Di tengah jalan turut bergabung pasukan bersenjata dari Bani Sulaim di Marr Adz-Dzahran. Dari arah timur bergerak pasukan bersenjata musyrikin dari kabilah-kabilah Ghatafan dan Fazarah, dibawah pimpinan Uyainah. Bergabung pula pasukan bersenjata Bani Murrah dibawah pimpinan Al-Harits bin Auf, pasukan bersenjata Bani Asyja’ dibawah pimpinan Mus’ir bin Rakhilah, dan pasukan bersenjata Bani Asad yang dipimpin kepala kabilahnya sendiri.[1] Kabilah Ghatafan dan para pengikut mereka di Najed datang dengan menggandeng kekuatan 6.000 tentara. Mereka membuat bermarkas di Dzanab Naqami, disamping Bukit Uhud.[2]

Kekuatan bersenjata musyrikin yang seluruhnya tidak kurang dari 10.000 orang, oleh sementara penulis sejarah Islam diperkirakan lebih banyak daripada semua penduduk Madinah dikumpulkan menjadi satu. Dalam waktu bersamaan bergerak, dan pada waktu yang telah ditentukan mereka harus sudah berada disekitar Madinah.

B. Strategi Parit dari Sahabat Salman al-Farisi

Kabar mengenai berhimpunnya pasukan musuh dalam jumlah besar dan maneuver yang mereka lakukan sampai juga ke Madinah. Rasulullah Saw tidak meragukan kebenaran berita yang beliau terima. Rasulullah Saw kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya. Salman al-Farisi mengusulkan untuk menggali parit. Para anggota musyawarah lainnya menganggap baik dan menyetujui usulan tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah Saw memerintahkan kaum Muslimin menggali parit-parit yang cukup dalam pada pinggiran-pinggiran kota yang rawan, atau mudah diterobos musuh.

Kota Madinah dikelilingi kawasan berbatu yang membentang dari timur, barat, dan selatan. Kawasan-kawasan ini tidak mungkin bisa dilalui oleh pasukan musuh berjumlah besar karena penuh dengan rintangan-rintangan yang sulit ditembus, kecuali lewat utara. Dikawasan utara itu, Rasulullah Saw memilih tempat sempit yang terletak diantara kawasan barat dan timur, panjangnya sekitar satu mil.[3] Membuat parit menjadi peristiwa pertama yang disaksikan oleh Arab dan umat Islam, karena mereka belum pernah menyaksikan sebelumnya parit sebagai sarana untuk berperang. Inilah asal muasal nama Perang Khandaq yang berarti parit. Mereka sangat kagum dengan usulan Salman al-Farisi tersebut, sehingga timbul percakapan mereka dari mulut ke mulut diantara mereka disaat pengalian parit dan sampai terdengar ditelinga Rasulullah Saw. menyatakan: “Salman dari kami ahlul-bait”.[4]

C.    Proses Penggalian Parit

Rasulullah Saw memulai proses penggalian parit dikawasan barat dari arah utara Gunung Sal’un kemudian melanjutkannya dikawasan timur dari pusat penggalian yang membentang dari areal bebatuan di puncak Bukit Al-Syaikhain. Nabi Muhammad Saw menugaskan setiap kelompok yang terdiri dari 10 orang untuk menggali parit seluas 40 hasta. Dalam pekerjaan yang melelahkan itu, beliau turut serta menggali parit dan mengangkat bebatuan. Semua penduduk madinah yang hampir seluruhnya kaum Muslimin turut bekerja meggali parit-parit. Lain halnya dengan kaum munafik dan sejumlah orang yang imannya masih mengambang dan amata lemah. Mereka tidak turut serta dalam pekerjaan itu dengan berbagai dalih dan alasan yang dibuat-buat. Adapula yang turut bekerja, tetapi setelah merasa berat dan letih, secara diam-diam mereka meninggalkan tempat dan pulang kerumah. Namun, adapula yang secara terang-terangan pergi meninggalkan tempat agar kepergian mereka itu diiluti pula oleh orang lain dan semakin banyak. Mereka melemahkan kedudukan Rasulullah Saw dan umatnya dalam menghadapi musuh pasukan Ahzab (sekutu).[5]  Padahal mereka tahu bahwa parit-parit pertahanan bukanlah kepentingan kaum Muslimin saja, tetapi kepentingan semua penduduk Madinah.

Dalam proses penggalian parit, kaum Muslimin mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan, seperti kedinginan dan kelaparan. Setiap orang diberi segenggam tepung gandum, kemudian ditanak dengan minyak samin hingga menimbulkan harum yang semerbak. Para penggali parit mengadukan rasa lapar mereka kepada Rasulullah Saw. mereka mencoba memperlihatkan kepada beliau satu batu yang diganjal diperut mereka untuk menahan rasa lapar. Beliau pun memperlihatkan kepada mereka dua batu yang diikat diperut beliau untuk mengganjal rasa lapar.

Menurut Ibnu Ishaq (dalam H.M.H. Al-Hamid, 2000: 557), dalam pekerjaan menggali parit-parit pertahanan itu terjadi beberapa khawariq, yakni kejadian-kejadian yang tidak lazim terjadi menurut kebiasaan, yang menunjukkan kenabian Muhammad Saw. diantaranya ialah mu’jizah kadyah (batu besar yang amat keras, granit). Jabir menyaksikan, saat kaum Muslimin menggali parit, mereka menemukan sebuah batu besar yang amat keras dan tidak mampu menghancurkannya meskipun dengan sekuat tenaga dan dengan peralatan yang ada. Beliau minta kepada mereka supaya mengambil sewadah air, lalu beliau ciprat-cipratkan ke atas permukaan batu tersebut seraya berdoa. Beberapa saat kemudian setelah sisa air ditumpahkan keatas batu itu, tiba-tiba batu yang sekeras itu menjadi hancur luluh dan berubah menjadi gundukan pasir. Dalam menyatakan kesaksiannya itu Jabir r.a bersumpah: “Demi Allah yang mengutus nabi-Nya membawa kebenaran!” Dalam buku Syaikh Shafiyyurrhaman al-Mubarakfuri terdapat sedikit perbedaan yakni “Rasulullah Saw turun ke galian dan memukul onggokan tanah itu dengan cangkulnya hingga hancur berkeping-keping menjadi pasir.”

Salman al-Farisi juga menyatakan kesaksiannya mengenai peristiwa berikut:

Pada saat aku menggali parit, Rasulullah berada didekatku. Beliau melihatku tak berdaya menghancurkan sebuah batu besar yang sangat keras dengan beliung besar. Beliung yang kupegang itu lalu beliau ambil dari tanganku. Ketika beliau mengayunkan pukulan pertama kulihat dibawah beliung itu sinar menyala sekejap. Demikianlah berulang-ulang hingga tiga kali. Ketika kutanyakan hal itu, beliau menjawab: “Sinar yang pertama itu menendakan bahwa negeri Yaman akan jath ke tangan kita, dan yang kedua itu menandakan bahwa negeri Syam dan Maghrib juga jatuh ke tangan kita. Sedangkan yang ketiga menandakan, bahwa Allah akan memperluas wilayah Islam hingga ke India dengan negeri Cina.[6] 

D.    Hidangan Keluarga Jabir bin Abdullah r.a

Ketika melihat dahsyatnya rasa lapar yang mendera Rasulullah Saw, Jabir Ibn Abdullah pun bergegas menyembelih seekor hewan untuk beliau. Ketika itu Jabir Ibn Abdullah mempunyai seekor kambing kecil dan kurus. Sementara istri Jabir menggiling satu sha’ tepung gandum. Setelah itu, Jabir memanggil Rasulullah Saw dan beberapa orang sahabat beliau secara diam-diam. Beliau kemudian berdiri di hadapan para pengggali parit yang berjumlah seribu orang. Mereka semua melahap makanan yang tak seberapa banyaknya itu hingga kenyang, dan diatas nampan masih banyak makanan tersisa, begitu pula adonan tepung untuk roti.

Percaya atau tidak, (dalam H.M.H. Al-Hamid, 2000: 559) dikatakan bahwa ketika makanan tersebut dihidangkan, ternyata makanan itu tiada habis-habisnya. Tiap diambil untuk dihidangkan makanan dalam wadah itu tidak makin berkurang bahkan banyak bertambah seperti semula. Hingga saat semua yang hadir selesai makan kenyang, makanan dalam wadah tetap tidak berkurang. Peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan tersebut pun merupakan salah satu mukjizat Allah Swt yang diperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk membuktikan kebenaran Nabi dan Rasul-Nya, dan untuk meneguhkan iman kaum Muslimin yang sedang menghadapi ancaman bahaya perang. Juga dapat diambil teladan bagi setiap pemimpin. Di saat umatnya menderita kelaparan, beliau turut merasakan kelaparan seperti mereka. beliau tidak mengutamakan kepentingan pribadi.

E.     Berlangsung Penyerbuan Parit dan Penghianatan Bani Qurayzhah

Dengan berbekal semangat yang tinggi dalam diri setiap pasukan Quraisy untuk segera menghacurkan umat islam serta membunuh Nabi Muhammad sang pembawa agama baru, ketika mereka telah mendekat ke kota Madinah, mereka sangat bergembira ketika melihat perkemahan musuh dihadapan mereka berada di luar kota. Sebelumnya mereka khwatir jika musuh berada didalam benteng pertahanan mereka, akan tetapi semuanya diluar perkiraan mereka, sehingga dengan sangat optimis kaum Quraisy beranggapan akan dengan mudah mengalahkan kaum muslimin. Namun ketika semakin mendekat, mereka terkejut melihat sebuah parit besar yang memisahkan mereka dengan pasukan pemanah kaum muslimin yang berbaris disepanjang tepinya. Dengan sangat kecewa dan menahan amarah, pasukan Quraisy tidak dapat mencapai pasukan muslimin, serta menyeberangi parit besar tersebut. kaum Quraisy berpikir dengan keras bagaimana agar mereka dapat menembus pertahanan kaum muslimin. Akhirnya pikiran mereka tertuju kepada Bani Qurayzhah, yang bentengnya membelokir jalan ke Madinah dari arah tenggara. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Huyay dari Bani Nadhir datang untuk bergabung dengan pasukan Quraisy. Ia menawarkan jasa kepada Abu Sufyan sebagai duta bagi orang-orang yahudi, dan meyakinkan Abu Sufyan bahwa ia dapat dengan mudah membujuk Bani Qurayzhah untuk melanggar perjanjian dengan Nabi Muhammad, sehingga dengan bantuan mereka, kota dapat diserang dari dua arah sekaligus. Abu Sufyan dengan senang hati menerima tawarannya dan mendesaknya agar tidak membuang-buang waktu.[7]

Orang-Orang Bani Qurayzhah takut kepada Huyay, Huyay dikenal sebagai seseorang yang berjiwa keras dan sulit untuk dilawan, jika ia menginginkan sesuatu, ia akan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Setelah ia mendapatkan persetujuan dari Abu Sufyan ia mendatangai benteng Ka’b ibn Asad, pemimpin Bani Qurayzhah (yang membuat perjanjian dengan Nabi Muhammad). Pada mulanya Ka’b tidak mau membuka pintu untuknya, Huyay Berkata “ keparat engkau Ka’b, izinkan aku masuk” dan ka’b  pun menimpali perkataan Huyay “ keparat engkau Huyay, aku telah membuat perjanjian dengan Muhammad, dan aku tidak akan melanggar kesepakatanku dengannya.” “ biarkan dulu aku masuk dan marilah kita berbicara,” desak Huyay, “ Aku tidak mau,” sahut ka’b.[8] Karena Huyay  merasa tidak berhasil membujuk Ka’b dan pada akhirnya ia menuduh Ka’b tidak mengizinkannya masuk hanya karena ia tidak mau membagi makanan kepadanya. Dan hal tersebut membuat Ka’b marah dan dengan terpaksa membuka gerbang untuknya. Huyay berkata “ Celaka engkau Ka’b, aku telah membawakanmu Quraisy, Kinanah, dan Ghathafan berikut para pemuka dan pemimpin mereka berjumlah sepuluh ribu orang serta seribu kuda. Mereka telah berjanji kepadaku bahwa mereka tidak akan berhenti sampai dapat menghancurkan Muhammad dan pengikutnya. Muhammad kali ini tidak akan lolos. Ka’b menjawab ” Demi Tuhan, engkau membawa aib bagiku selamanya, itu hanya awan mendung tanpa air, hanya guntur dan kilat, dan tidak ada selain itu, celaka engkau Huyay, Tinggalkanlah aku sendiri dan biarkanlah aku seperti semula.”[9] Ka’b mulai melemah dan Huyay tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mempengaruhinya, dengan  menjanjikan keuntungan besar yang akan diperoleh jika Islam di hancurkan, huyay bersumpah demi Tuhan, “ jika Quraisy dan Ghathafan kembali kedaerah mereka dan tidak memusnahkan Muhammad, aku akan masuk ke bentengmu, dan nasibku akan menjadi taruhanmu.”[10] Dengan kehliannya berbicara, pada akhirnya Huyay dapat meyakinkan Ka’b bahwa tidak ada harapan lagi bagi Muhammad dan pengikutnya untuk menang. Dan ia setuju  untuk menarik kembali perjanjian yang telah ia sepakati bersama Muhammad dan Huyay merobek dokumen perjanjian tersebut menjadi dua bagian. Kemudian Ka’b menemuin warga sukunya dan memberitahukan apa yang telah terjadi diantara mereka. Pada awalnya sebagian kaumnya tidak menyetujui apa yang telah dilakukan oleh Ka’b dan mereka enggan untuk melanggar perjanjian politik itu. Namun ketika beberapa orang munafik membawa berita yang menguatkan perkataan Huyay, dan ditambah dengan beberapa orang dari Bani Qurayzhah yang ikut serta untuk memastikan keadaan tersebut, pada akhirnya Bani Qurayzaha mendukung Quraisy dan sekutunya. Dan bekerja sama sepenuhnya dengan tentara Arab Musyrik untuk merusak islam. Rencana awal bani Qurayzhah adalah menjarah Madinah dan menakut-nakuti kaum wanita dan anak-anak muslim yang berlindung di rumah mereka. Untuk itu, mereka melaksanakan rencananya di Madinah secara berangsur-angsur. Penghianatan Bani Qurayzhah juga dapat dilihat dari bantuan mereka terhadap musuh-musuh islam, seperti Huyay yang mendapatkan kurma sebanyak muatan dua puluh ekor unta dari Bani Qurayzhah, tetapi semuanya disita kaum muslimin lalu dibagi-bagikan di kalangan tentara islam.[11]

Pada saat yang sama, Khalid dan Ikrimah mengamati parit dari kejauhan, bagian mana yang paling mudah untuk diseberangi. Namun upaya menyerang bagian tersebut tetap gagal total. Dan sejauh ini pertempuran tidak lebih dari perang hujan panah.  pada saat yang sama juga, telah terdengar berita bahwa Bani Qurayzhah telah menjadi musuh dalam selimut. Setelah adanya berita tersebut dan teruji kebenarannya maka kekuatan pasukan di parit dikurangi untuk menjaga pertahanan di dalam kota sendiri dan Nabi memilih seratus orang untuk tugas ini. Rasulullah mendengar niat busuk Huyay yang mendesak Quraisy dan Ghathafan untuk menyerbu dan menghancurkan benteng kaum muslimin. Dan ketika itu juga Nabi mengutus Zayd beserta tiga ratus pasukan berkuda untuk berpatorli di jalan-jalan dan bertakbir  kepada Allah sepanjang malam agar para wanita dan anak-anak merasa tenang.[12]

Ikrimah beserta pengikutnya selalu mencari celah untuk dapat menyeberangi parit. Ikrimah dan tiga orang pengikutnya hanya sekali saja berhasil melewati parit, karena bagian tersempit itu sedang tidak dijaga dengan ketat. Namun  setelah keempat orang tersebut berhasil melewati parit, Imam Ali beserta orang-orang yang menyertainya kembali menggali  bagian tersebut sehingga menutup kemungkinan keempat orang tersebut dapat kembali menyeberanginya. Salah seorang dari mereka “Amr” berteriak dan menantang untuk duel, semua umat islam terbungkam diam, walaupun Nabi terus meminta kaum muslimin agar bangkit melawan ‘Amr, dan kemudian imam Ali dengan gagah berani maju untuk memenuhi permintaan tersebut, dan kemudian imam Ali bertakbir menandakan ia telah memenangkan pertempuran. Setelah mengetahui Amr telah tewas, Ikrimah dan kawannya mengambil kesempatan untuk kabur, namun Nawfal dan Makhzum tergelincir dan jatuh ke parit bersama kudannya. Ketika imam Ali mendapatkan kehormatan mengahadap Nabi, beliau mengungkapkan nilai pukulan Ali kepada ‘Amr itu, “ Nilai pengorbanan ini lebih melibihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir tersebut itu maka kaum muslimin menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina.[13]

Pada keesokan hari nya, kaum Quraisy melakukan serangan di berbagai tempat, bahkan sebelum matahari terbit. Sepanjang hari, pihak musuh berkali-kali mencoba menyeberangi parit, namun gagal. Seperti hari-hari sebelumnya, pertempuran yang terjadi hanya sebatas perang hujan panah. Tidak ada yang tebunuh dari kedua belah pihak, namun Sa’d ibn Mu’adz terkena serangan panah, dan beberapa kuda pihak Quraisy dan Ghathafan terluka.[14]

Selama pengepungan dilakukan, persediaan makanan umat islam mulai menipis dan udara malam hari sangat dingin. Nabi menyadari sebagian besar kekuatan umatnya mulai berkurang, dan Nabi juga menyadari bahwa musuh pun mengalami hal yang serupa.

F.     Strategi Nu’aym bin Mas’ud

Nu’aym ibn Mas’ud adalah seseorang yang baru memeluk agama islam, ia datang kepada Nabi dan menyatakan keislamannya, tak ada seorang pun yang mengetahui keislamannya pada waktu itu, sehingga Nabi memerintahkannya untuk mencerai-beraikan orang-orang kafir tersebut. Nu’aym memikirkan hal itu beberapa lamanya. Kemudia ia pergi menuju Bani Qurayzhah, ia disambut dengan sangat hangat. Nu’aym mulai mempengaruhi Bani Quryzhah dengan mengatakan “ jika Quraisy dan Ghathafan gagal dalam melakukan serangan untuk mengalahkan Muhammad, mereka akan pulang dan meninggalkan orang Yahudi berada dalam kekuasaan Muhammad dan pengikutnya. Karena itu , kalian (orang-orang Yahudi), harus menolak memberi dukungan kepada Quraisy sebelum mereka menyerahkan seorang tokoh mereka sebagai sandera. Sandera itulah yang akan menjadi jaminan bahwa mereka tidak akan mengundurkan diri sampai musuh benar-benar telah ditaklukkan. Akhirnya Bani Qurayzhah menerima usulan dari Nu’aym serta berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun bahwa Nu’aym yang telah menasihati mereka.[15]

Setelah puas dengan usaha yang dilakukannya kepada Bani Qurayzhah, ia pergi ke perkemahan kaum Quraisy, ia berkata kepada Abu Sufyan “ Bani Qurayzhah sangat malu dan menyesal karena telah melanggar perjanjian dengan Muhammad, dan sekarang mereka hendak memulihkannya. Karena itu mereka telah memutuskan mengambil seseorang dari pihak anda untuk dijadikannya sandera lalu menyerahkannya kepada Muhammad. Dan Muhammad akan segera membunuh mereka, Bani Qurayzhah juga telah berjanji akan mendukung kaum muslimin sampai akhir hayat mereka. Untuk itu apabila Yahudi meminta sandera dari anda, jangan sekali-kali anda menyetujuinnya. Untuk mengetahui kebenarannya, anda besok meminta Bani Qurayzhah untuk ikut serta dalam pertempuran dan menyerang Muhammad dari dalam. Sama seperti pada Bani Qurayzhah, ia meminta untuk tidak menyebutkan namanya dalam hal ini.[16]

Kemudian ia pergi ke perkemahan Ghathafan dan mengatakan kepada mereka seperti apa yang ia katakan kepada kaum Quraisy[17], dan memperingatkan kepada mereka tentang kegiatan Bani Qurayzhah seraya mengatakan “ sebaiknya anda tidak memberikan jawaban positif kepada mereka, dalam keadaan bagaimanapun.[18]

Setelah melakukan tugasnya dengan baik, Nu’aym kembali kepada perekemahan kaum muslimin secara rahasia dan menyiarkan desas desus yang ada dikalangan tentara islam. Maksud dari penyiaran ini agar hal itu terdengar juga oleh pasukan Quraisy yang ada disebalah parit.

Para pemimpin dari Quraisy dan Ghathafan mengirim utusan mereka ke benteng Bani Qurayzhah, untuk memerintahkan mereka bahwa pada malam menjelang hari sabtu, Bani Qurayzhah harus menyerang kaum muslimin, namun perintah tersebut langsung ditolak oleh Bani Qurayzhah, mereka tidak mau berperang pada hari sabtu,  sekalipun mereka ikut serta dalam pertempuran, maka harus ada beberapa bangsawan dan pemimpin dari suku Quraish dan Ghathafan untuk mereka jadikan sandera. Dan masing-masing dari ketiga suku ini membenarkan apa yang Nu’aym telah katakan. Akhirnya tipu daya Nu’aym berhasil dengan sangat sempurna dalam memecah belah ketiga belah suku tersebut.

G.    Faktor-faktor yang membuat tentara Arab mundur

Sebulan sudah tentara Arab berkemah di seberang parit. Kekuatan pertahanan mereka semakin mengecil untuk tetap bertahan melawan pasukan muslimin dan membunuh Rasulullah. Di antara factor-faktor yang menyebabkan ciutnya mental mereka adalah:

  1. Terbunuhnya Ammar bin Abduwudd, seorang jagoan tanah Arab yang terbunuh ketika duel dengan Ali bin Abi Thalib. Ammar yang dikenal sebagian jagoan perang yang sulit untuk dikalahkan telah terbunuh dan jagoan-jagoan perang lainnya pun ikut melarikan diri seiring dengan terbunuhnya Ammar, hal ini menyebabkan pasukan sekutu diselimuti oleh rasa takut.
  2. Tipu muslihat Nu’im bin Mas’ud yang telah menyebabkan berseterunya kaum sekutu sehingga terjadi perpecahan di antara mereka.
  3. Faktor lainnya yang juga merupakan faktor utama yang menyebabkan kaum sekutu mengundurkan diri dan pulang ke rumah masing-masing adalah angin badai serta cuaca yang dingin. Pertolongan ini bisa dikatakan sebagai pertolongan Ilahi.[19] Badai besar menyebabkan sebagian besar kemah mereka hancur bahkan barang-barang mereka pun terbang terbawa angina dan hewan-hewan mereka tak lagi terkontrol. Bahkan dikatakan bahwa mata tak lagi dapat melihat dengan jelas akibat debu yang menyelimuti udara. Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufyan bin Harb memerintahkan semua pasukannya untuk berangkat pulang dengan berkata: “Demi Latta dan Uzza, kalian tahu sendiri sekarang kita menghadapi angin topan amat besar hingga periuk-periuk (kuali-kuali wadah makanan) berterbangan, api tak dapat menyala dan tak ada lagi kemah yang dapat dipertahankan. Karena itu hendaklah kalian siap berangkat pulang dan saya sendiri hendak pulang!”[20] Bahkan dikatakan bahwa kaki unta yang hendak ditungganginya masih terikat dan dia memukul-mukul unta tersebut untuk segera jalan, hal ini karena dia sangat ketakutan dengan situasi kala itu.[21]

Hingga akhirnya perang tersebut berakhir tanpa terjadinya perang besar, yang terjadi hanya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan Ammar bin Abduwwud. Dari perang Khandak itu, kaum musyrikin hanya dapat menewaskan seorang dari kaum muslimin, sedangkan dari pihak musyrikin terbunuh tiga orang.[22]

H.    Dampak kegagalan kaum musyrikin

Kekalahan sebelum perang yang dialami oleh pihak sekutu ini telah memberikan dampak buruk bagi mereka walaupun di lain sisi adalah dampak baik bagi muslimin. Di antaranya adalah:

  1. Mereka merasa takut untuk memerangi Rasul (islam) lagi, karena mereka tidak sanggup lagi mengerahkan kekuatan bersenjata sebanyak yang telah mereka kerahkan di perang Khandaq.
  2. Banyak di antara mereka yang kemudian masuk islam karena telah melihat tanda kekuasaan Tuhan secara nyata dan tiada lagi alasan bagi mereka untuk mengelak ajaran Muhammad serta keberadaan Tuhan Yang Esa.
  3. Kebencian kaum Yahudi semakin membara hingga tiada lagi tabir yang menutupi permusuhan mereka terhadap Rasul.

I.       Nasib bani Quraizhah

Penghianatan yang dilakukan oleh bani Quraizhah mengharuskan mereka menerima hukuman. Nabi telah diperintahkan Allah untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Suatu ketika malaikat Jibril datang pada Rasul dan bertanya:

“Wahai Muhammad, benar-benar engkau telah meletakkan senjata?”

Nabi pun menjawab: “Ya, benar”

Jibril melanjutkan: “Para malaikat tidak meletakkan senjata. Hai Muhammad, Allah memerintah mu berangkat melawan bani Quraizhah”.[23]

Mengenai perintah inipun kita bisa merujuk pada surat Al-Ahzab ayat 26-27.

Pasukan Muslim pun segera bergegas mengepung benteng bani Quraizhah setelah melaksanakan sholat Zhuhur berjamaah. Nabi mengutus Ali bin Abi Thalib sebagai komandan lapangan yang memimpin pertempuran.[24] Pengepungan pun berlalu selama 25 hari dan tiada pasukan bani Quraizhah yang turun benteng untuk melawan. Persediaan pangan mereka pun semakin menipis sedang mereka tidak bisa mencari bahan pangan tambahan karena pengepungan tersebut. Melihat situasi yang semakin krisis, kaum Yahudi bani Quraizhah melakukan rapat di dalam benteng yang menghasilkan 3 alternatif dari Ka’ab bin As’ad:[25]

  1. “Kita semua harus memeluk Islam, karena kerasulan Muhammad adalah benar dan telah disebutkan di dalam Taurat”. Usul ini jelas ditolak oleh kalangan mereka.
  2. “Kita harus membunuh wanita-wanita dan anak-anak kita, lalu keluar dan bertempur dengan pasukan Muhammad. Sehingga tiada lagi yang perlu kita khawatirkan setelah peperangan ini”. Usul ini pun ditolak karena jelas menentang nilai kemanusiaan dan sulit bagi mereka untuk melaksanakannya.
  3. “Ini adalah malam hari Sabtu, sehingga mungkin Muhammad lengah dalam penjagaan karena menyangka kita tak mungkin menyerang pada malam Sabtu, maka kita bisa melakukan penyerangan dan mengalahkan kaum Muslimin”. Usul ini juga ditolak karena mereka akan melanggar peraturan Tuhan dan akan mandapatkan azab dari Tuhan jika menodai malam Sabtu dan tidak menghormatinya.

Akhirnya, bani Quraizhah pun meyerah tanpa syarat. Dalam keadaan terkepung seperti ini, bani Quraizhah meminta Nabi agar mengirimkan Abu Lubabah seorang suku ‘Aus supaya mereka bisa berbicara dengannya.[26] Ketika abu Lubabah berada dalam benteng, ia melihat ratapan para lelaki serta raungan para wanita dan anak-anak. Suasana ini telah membuatnya iba. Ketika ditanya mengenai kelayakkan mereka untuk menyerah tanpa syarat, Abu Lubabah mengiyakan dengan membuat isyarat tangannya ke leher yang mengisyaratkan bahwa mereka akan dibunuh. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Abu Lubabah ini membuatnya menyesal karena telah menghianati kepentingan Islam dan memberi tahu pasukan sekutu perihal pembunuhan yang akan dilakukan. Abu Lubabah sangat menyesali perbuatannya sehingga menyebabkan ia meratap memukulkan kepalanya pada salah satu tiang masjid[27] dan bertekad untuk terus seperti itu hingga ia diampuni oleh Tuhan. Nabi pun tak dapat berbuat apa-apa karena perkara ini sudah menjadi permasalahan Abu Lubabah dengan Allah. Enam hari setelah ratapan Abu Lubabah itu, Jibril pun datang menyampaikan wahyu yang berisikan ampunan Allah terhadap Abu Lubabah. Nabi pun menyampaikannya dan Abu Lubabah pun mengakhiri ratapannya itu.

J.      Hukuman bagi bani Quraizhah

Pada awalnya, salah seorang dari sekutu, Syas bin Qais, mengajukan permintaan izin agar mereka diberi kesempatan untuk mengemas barang dan meninggalkan madinah selayaknya bani Nazir. Namun, permintaan ini ditolak oleh Rasul, karena pelanggaran yang dilakukan oleh bani Quraizhah lebih dari yang lainnya. Selain melanggar perjanjian, bani Quraizhah juga membantu musuh dengan memberi jalan untuk membunuh kaum muslim dan terutama Rasul.

Mengenai perkara ini, akhirnya disepakati bahwa keputusan hukuman atas bani Quraizhah akan ditentukan oleh Sa’ad bin Mu’adz dari suku ‘Aus yang kala itu terkena penyakit yang juga menyebabkannya tak bisa ikut serta dalam perang Khandaq. Nabi menyatakan akan menerima apapun yang ditentukan oleh Sa’ad.[28] Sa’ad pun hadir dan disambut oleh para hadirin. Suku ‘Aus mengajukan pada Sa’ad agar melepaskan bani Quraizhan atau setidaknya mengurangi hukumannya, begitu juga yang lainnya. Namun, dengan segala keadilan yang dimilikinya, serta ia juga dikenal ahli dalam syariat, dia mengambil keputusan agar para lelaki bani Quraizhah dibunuh dan para wanita serta anak-anak dijadikan hamba sahaya. Terdapat satu wanita yang dibunuh karena telah membunuh seorang muslim. Selain itu ada pula seorang lelaki bernama Zubair Bata dibebaskan atas saran kaum Muslim, juga Tsabit bin Qais bahkan istri dan anak-anaknya dibebaskan dan hartanya dikembalikan, ada pula empat orang[29] yang masuk islam.

Hasil harta yang diperoleh sebagian dibagikan, sebagian diberikan pada Baitul Mal dan sebagian lainnya dipergunakan untuk membeli peralatan dan senjata perang serta hewan-hewan.

KESIMPULAN

Perang Khandaq adalah perang umat Islam melawan pasukan sekutu yang terdiri dari Bangsa Quraisy, Yahudi, dan Gatafan. Perang ini melibatkan strategi perang yang begitu apik oleh kaum Muslimin terutama srategi pembuatan parit atas usulan dari sahabat Salman al-Farisi, sehingga perang ini disebut perang parit (khandaq). Perang Khandaq disebut juga Perang Ahzab, yang artinya Perang Gabungan. Proses penggalian parit dilakukan dengan perjuangan keras seluruh kaum Muslimin di Madinah, juga melibatkan kaum non-Muslim di Madinah meskipun mereka kemudian meninggalkan secara diam-diam sebelum selesai penggalian. Berkat strategi parit tersebut, dengan sangat kecewa dan menahan marah, serangan sekutu yang menyerbu kaum Muslimin di Madinah tidak dapat mencapai pasukan muslimin, serta menyeberangi parit besar tersebut. Dalam masa penyerbuan Khandaq ini, terjadi penghianatan Bani Qurayzhah yakni melanggar perjanjian dan membantu musuh-musuh islam untuk menghancurkn kaum Muslimin.

Selain, menggunakan strategi parit dari sahabat Salman, peristiwa ini juga menggunakan Strategi dari Nu’aym bin Mas’ud, seorang yang baru memeluk agama Islam dan tak ada seorangpun yang mengetahui keislamannya, dengan tipu muslihat yang sangat sempurna untuk memecah belah ketiga pihak suku dari sekutu. Kaum sekutu pun semakin mengalami kemunduran, apalagi dengan terpaan angin badai serta cuaca yang dingin, membuat mereka kembali pulang ke rumah, sementara Bani Quraizhah harus menerima hukuman dari kaum Muslimin karena telah melakukan penghianatan. Sehingga pada akhirnya perang ini berakhir tanpa terjadinya perang besar.


[1] Ibid., 553.

[2] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabi, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2011), hlm. 200.

[3] Ibid., hlm. 199.

[4] Al-Hamid al-Husaini, op. cit., hlm. 556.

[5] Disebut pasukan Ahzab (sekutu) karena mereka terdir atas berbagai kabilah Arab, baik yang di mekah dan di Luar Mekah, bahkan kaum Yahudi langsung melibatkan diri dalam peperangan itu (dalam Al-Hamid al-Husaini, 2000: 555).

[6] Ibid., hlm. 557

[7] Martin Lings , MUHAMMAD : Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, ( Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2004 ), Hal.346

[8] Ibid, Hal. 347

[9] Ibid, Hal.347

[10] Ibid, Hal.347

[11] Sirah al-Halabi, II, Hal. 345

[12] Ibid, Hal.350

[13] Bihar al-Anwar, XX, Hal. 216

[14] Ibid, Hal.351

[15] Ibid, Hal.354

[16] Ja’far Subhani, AR-RISALAH: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, ( Jakarta : Lentera,1996), Hal.441

[17] Martin Lings , MUHAMMAD : Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, ( Jakarta : Serambi Ilmu Semesta, 2004 ), Hal.355

[18] Ja’far Subhani, AR-RISALAH: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW, ( Jakarta : Lentera,1996), Hal.441

[19],Ja’far Subhani, Ar-Risalah, (Jakarta: PT LENTERA BASRITAMA, 1996), hal.442

[20]Al-Hamid Al-Husaini H. M. H., Membangun Peradaban Sejarah Muhammad SAW. Sejak Sebelum Diutus Menjadi Nabi, Bandung: PUSTAKA HIDAYAH, 2000, hal. 578

[21]Subhani, Ja’far, Ar-Risalah, op. cit., hal.443

[22]Al-Hamid Al-Husaini H. M. H, op. cit., hal. 579

[23] Ibid., hal.583

[24] Ibid., hal. 584

[25] Ja’far Subhani, op. cit., hal.445

[26] Ibid., hal. 447

[27] Ibid., hal. 446

[28] Ibid., hal. 449

[29] Ibid, hal,452


[1] Al-Hamid al-Husaini, Membangun Peradaban Sejarah Muhammad Saw, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), hlm. 551.

[2] Ibid., hlm. 552.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s