Don’t be Lazy!

malasMembahas mengenai sifat malas, sebagian dari kita mungkin tidak dapat melepaskan diri dari sikap malas. Ada yang memilki sikap malas yang sangat keterlaluan, ada pula yang memiliki sikap malas yang sedikit. Namun, apapun bentuk malas yang timbul dalam diri kita, pada hakikatnya malas bukan suatu ajaran Islam. Malas adalah kondisi dimana seolah-olah kita kehilangan energi. Rasa malas adalah penyebab tidak mampunya seseorang menggerakkan seluruh potensi diri. Kita hanya bisa pasrah pada keadaan, kita tidak mampu berjalan cepat, apalagi berlari bersaing dengan yang lainnya. Rasa malas hanya akan melemahkan potensi diri dan hanya akan menyisakan endapan pikiran yang membuat kreativitas diri menjadi terpasung. Semuanya menjadi jalan ditempat, hari demi hari tidak ada peningkatan atau kemajuan yang kita peroleh. Dengan kata lain, hati seseorang yang telah berurat akar dengan penyakit malas tentu tak mempunyai gairah hidup untuk berprestasi. Lawan dari sifat malas (كسلان) adalah نشاط)) yang bermakna rajin atau enerjik, dan beraktivitas dengan penuh kesungguhan yang disertai dengan maslahatnya.

Kita bisa lihat dalam realitas dimana orang malas itu lebih sering rehat dan berpangku tangan, menunda pekerjaan, dan beraktivitasnya pun tanpa kesungguhan. Dia  terlena dengan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dia hanya bersemangat dalam satu hal, yakni sesuatu yang sesuai dengan selera nafsunya yang cenderung kepada keburukan. Maka, menyia-nyiakan waktu dalam hal ini adalah sebuah tindak kriminal. Pelakunya adalah seperti mereka yang khusyuk duduk didepan kafe-kafe sambil menyeruput teh dan menghabiskan beberapa batang rokok. Mereka dengan santai duduk, sementara umat dalam kondisi sekarat.

Memang, mungkin saat ini begitu menyenangkan melewati waktu dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, bagaimana dengan waktu di masa depan nanti? Apakah masih memungkinkan bagi kita untuk memelihara rasa malas? Patut diketahui bahwa ‘rasa malas adalah awal kehancuran masa depan kita’. Lihatlah, bagaimana kegagalan pelajar bukan disebabkan mereka bodoh, tetapi karena kemalasan. Disamping itu, umat islam yang mengerjakan sholat dengan bermalas-malasan, tentu sholat tersebut tidak bernilai dan tidak ada gunanya. Dewasa ini pun, umat Islam yang malas mengkaji berbagai ilmu, ketika  menghadapi tantangan untuk memecahkan permasalahan yang baru, mereka terlebih dahulu berselisih bahkan saling mengkafirkan. Inilah yang menyebabkan terpuruknya kondisi umat Islam karena kemalasan.

Telah diterangkan dalam Firman Allah pada surah al-‘Ashr mengenai orang-orang yang menyia-nyiakan waktu akan mengalami penyesalan dikemudian hari. Dalam hal ini, menyia-nyiakan waktu diidentikan dengan sifat malas, Waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya justru dibuang sia-sia dengan kemalasan. Hal ini sebagai pelajaran bagi manusia bahwa waktu hanya berjalan sekali tak akan dapat kembali. Amru Khalid mengatakan bahwa “bencana yang menimpa umat kini adalah akibat yang lazim dari sebuah umat yang tidak menghargai waktu”. Betapa tidak, umat Islam akan lebih mudah dihancurkan oleh musuh-musuh Islam jika umat Islam tertutup hatinya untuk mengkaji dan menimba ilmu.

Dalam menganalisis sifat malas ini, tentu yang paling banyak menjadi sorotan penting adalah kalangan muda. Masa muda adalah masa yang paling banyak memiliki kelonggaran waktu sehingga besar kemungkinan bagi pemuda untuk berleha-leha dengan kemalasan. Padahal, disisi lain generasi muda sebagai aset terbesar umat karena peradaban dimasa mendatang berada ditangan pemuda. Tentunya, pemuda yang akan menopang besarnya beban tanggung jawab tersebut, haruslah dibekali dengan kesungguhan yang tinggi dan menumpas rasa kemalasan untuk menciptakan kader-kader pemuda yang berintelektual tinggi.

Dalam hal ini, jihad ilmu sangat diperuntukkan bagi umat Islam menanggapi pentingnya ilmu bagi keutuhan umat dan tentunya memberikan pelajaran untuk memerangi sifat malas. Namun, dewasa ini umat islam merasa malas dan enggan melakukan jihad sekalipun mereka memiliki bekal dan peralatan yang cukup. Mereka telah menutup rapat-rapat pintu ijtihad dan kesadaran, serta telah menutup pintu hati untuk mengkaji dan menimba berbagai ilmu. Mereka merasa cukup bahkan rela dengan kehinaan dan keterbelakangan dalam kehidupan dunia ini. Demikian juga para fuqoha, mereka menolak banyak kajian ilmu syari’at yang murni, dan pada akhirnya mereka berdiam diri. Apabila ada diantara mereka yang mengimbau agar segera bangkit untuk berijtihad, mereka menjawab: “Kita tidak mungkin akan sampai pada derajat para ulama’ kita yang terdahulu, sangat sulit menciptakan sesuatu yang baru dan baik.

Al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak manusia agar selalu mengadakan penyelidikan dan pengkajian. Allah SWT tidaklah menyenangi dan meridhoi orang-orang yang malas, statis, dan suka menghambat. Sebab semua hukum yang ditetapkan-Nya, perintah dan larangan-Nya membolehkan para mujtahid untuk berijtihad. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan perkembangan zaman dan alat teknologi yang semakin canggih, secara tidak langsung mengubah kebiasaan, terutama akhlak manusia. Inilah yang membuat manusia terlena dengan kemewahan dunia dan mulai mengabaikan apa yang telah menjadi kewajibannya terutama menuntut Ilmu.

Melatih sejak dini jiwa pribadi yang jauh dari sifat malas adalah cara terbaik untuk mananamkan keseriusan dalam belajar. Belajar dari keseriusan, kita dapat mencontoh keteladanan dari pribadi Rasulullah Saw. Pada permulaan dakwahnya di Mekah, keseriusan Rasulullah Saw jelas menyatakan dalam ungkapannya, “Demi Tuhan, sekiranya mereka meletakkan matahari dikananku, dan bulan dikiriku agar aku meninggalkan agama ini, sungguh aku tidak akan pernah meninggalkannya hingga Allah menyebarkannya atau aku syahid memperjuangkannya” (HR Thabari). Maka, dalam hal ini, kita bisa menerapkan pribadi Rasulullah Saw dalam hal menuntut ilmu. karena ilmu adalah hal yang paling penting bagi seorang pemuda sebagai bekalan masa mendatang. Bermuhasabah diri sendiri adalah langkah awal kita untuk menumpas rasa malas. Menyadarkan niatan hati untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, akan jauh dari pribadi yang malas. Dengan ilmulah seseorang itu menjadi orang yang rajin dan cerdas dalam hidupnya. Dengan demikian, adalah sumbangsih terbesar bagi umat bila pemuda mampu memerangi hawa nafsu kemalasannya dan bangkit menuju perubahan yang besar bagi umat dan negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s