2 Maret 2013

masjidSegarnya aroma Subuh ini …

Burung-burung bersahut-siul mengelilingi hamparan gedung dan pepohonan kota ini …

Suara khutbah masjid seakan menambah keceriaan burung-burung dengan terbangnya …

Tapi sayang tak terlihat satu manusiapun yang melangkahkan kaki dari sarangnya yang seceria burung itu …

Inilah sepenggal kalimatku yang aku rangkai seraya duduk di sebuah tempat jemuran baju, di atas rumah. Ya, inilah yang dapat aku lakukan untuk melihat hamparan rumah nan mewah, suatu impian bagi setiap orang untuk bisa memilikinya termasuk juga aku. Tak biasanya selepas sholat subuh aku berdiam cukup lama di atas rumah. Memang mula-mula niatku hanya untuk sedikit menggerakkan badan dan mengatur nafas untuk merasakan aroma udara pagi yang begitu menghangatkan sel-sel paru-paruku. Namun, hatiku tiba-tiba terseret bagai magnet akan suara khutbah masjid yang begitu jelasnya terdengar oleh telingaku. Aku bergerak menuju arah masjid itu untuk semakin memperjelas pendengaranku. Seraya mendengarkan ceramah dengan sajian hangat yang membuat setiap pendengarnya tak ingin memalingkan pendengarannya, aku melihat burung-burung terbang begitu cerianya mengitari rumah satu ke rumah yang lainnya, pohon satu kepohon lainnya. Aku berpikir, sungguh betapa bahagianya dapat terbang bebas bagai burung itu, ia bersahut siul saling menyapa teman-temannya dan mungkin pula menyapaku, tentu pula aku membalas sapanya dengan senyuman pertamaku untuk awal hari ini. Namun, ketika aku menorehkan pandanganku kebawah, nampak suasana kehidupan yang begitu berbeda dari suasana ceria yang ku lihat sebelumnya.

Begitu sepi, tak ada warna, seperti tak ada kehidupan, rumah mewah bagai tak berpenghuni. Sangat kontra sekali memang, tedapat sebuah kehidupan yang terkukung gelap nan sunyi dalam dunia yang Indah. Padahal kalau kita dapat belajar dari burung itu, kita dapat merasakan sensasi aroma keindahan alam dunia yang begitu mengindahkan setiap jiwa yang memaku bumi. Dilain sisi, merasakan indahnya alam berarti mampu menyanjung keberadaan Tuhan akan alam dunia yang begitu agung menyertai jiwa manusia yang sadar. Ya, inilah dunia manusia, tak banyak manusia dapat menyadari akan keberadaannya dalam dunia yang begitu mempesona indahnya. Manusia justru sibuk meraih kebahagiaan fana dalam dunia materiilnya sehingga membuat batu untuk hatinya. Lupa akan Tuhan dan menjadikan materiil sebagai Tuhannya adalah manusia batu yang tak dapat merasakan indahnya dunia dan seisinya. Ketahuilah, dunia ini lebih jauh harum semerbak dari bunga-bunga yang pernah kau cium, lebih berwarna dari warna-warna yang pernah kau lihat dan lebih merdu dari suara-suara yang pernah kau dengar. J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s