MENELISIK PEMIKIRAN ARISTOTELES TERHADAP PROBLEMA MANUSIA

aristotelesDalam sejarah dunia Barat, berawal dari alam pemikiran Yunani merupakan sebagai tonggak lahirnya filsafat di Barat. Filsafat Barat melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang tak pelak lagi dapat mengubah paradigma manusia dan terus berkembang dari masa ke masa. Bermula dari filsafat alam oleh filosof-filosof Grik pertama yakni Thales, Anaximandros dan Anaximenes yang mempelopori pemikiran mengenai alam besar. Kemudian dilanjutkan pada zaman sofistik, yang mengubah pandangan filosofi dari kosmos (alam besar) ke manusia. Pada zaman inilah merupakan zaman pembukaan pikiran yang memberikan sejarah filosofi penting dalam peralihan pandangan baru dan pada titik inilah lahirnya filosofi klasik.

Filsafat klasik bermula ditanam dasarnya oleh Sokrates kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat. Sokrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari kebenaran dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran kategoris dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.

Namun, sistem ajaran filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles. Sistem ajaran Plato dan Aristoteles ini berdasarkan ajaran Sokrates tentang pengetahuan etik beserta filosofi alam yang berkembang sebelum Sokrates. Dengan demikian Plato dan Aristoteles menjadi buah pikiran dalam titik persatuan pandangan yang berbeda. Namun karya yang paling gemilang adalah buah pikiran dari Aristoteles, dimana ia membangun sistem filosofi yang didalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial seperti fisika, biologi, etik, politik dan psikologi. Jadi filsafat Aristoteles adalah kumpulan dari segala ilmu pengetahuan yang diuraikannya satu per satu. Buah pemikiran Aristoteles begitu berbeda dari filosof-filosof lainnya sehingga inilah menjadi kajian sangat menarik dalam paper ini.

Namun, untuk pembahasan paper ini saya lebih menelisik pada sisi problema manusia. Beberapa filsuf pada masa itu, seperti halnya Aristoteles menyadari bahwa betapa pentingnya menjadi orang yang berbudi baik. Dengan adanya kenyataan-kenyataan yang ia cermati, tentu banyak problema-problema manusia yang menjadi objek pemikirannya. Entah itu dari segi bagaimana manusia berbudi baik dalam hubungannya dengan Tuhan, keluarga maupun terhadap negara (masyarakat) secara luas.

Kita dapat melihat bahwa problema-problema yang kita hadapi saat ini tentu sama seperti halnya masalah-masalah yang telah menjadi objek pemikiran manusia beberapa abad yang lalu. Meskipun keadaan manusia setiap zamannya berbeda, akan tetapi manusia tak lepas dari problema kehidupan politik baik perannya dalam bermasyarakat ataupun dalam berwarganegara yang pada hakikatnya sama.

Dengan mengikuti cara berpikir filsuf Yunani  terutama Aristoteles yang menjadi pembahasan utama pada paper ini. Tentu kita akan tahu bagaimana mengatasi problema-problema manusia tersebut yang tentunya pula didasari dengan pemikiran intelektual Aristoteles menuju kearah manusia yang baik dan bertanggungjawab. Adapun pertanyaan yang yang saya dalam pembahasan tulisan kali ini antara lain: Problem-problema apa saja yang selalu melingkupi kehidupan manusia  dalam pandangan Aristoteles? Bagaimana mengatasi problema-problema itu dalam pandangan Aristoteles? Bagaimana kondisi demokrasi negara Indonesia jika dibandingkan dengan cerminan Aristoteles?

A.  Pandangan Aristoteles dalam Problema Manusia

Setiap manusia dalam kehidupan pasti tak lepas dari kata problema, baik dimanapun maupun dimasa apapun. Problema yang terjadi pada zaman Aristoteles pun juga terjadi hal yang sifatnya sama dengan problema yang kita hadapi saat ini. Untuk itu, tak ada salahnya kita dapat melihat bahwa problema-problema yang kita hadapi saat ini menjadi obyek pemikiran manusia beberapa abad yang lalu di Yunani.

Problema selalu melingkupi kehidupan manusia karena menjadi suatu hal yang lumrah sebagai manusia politis atau sosial. Dengan kata lain, secara alamiah, sebagai makhluk politis, maka negara sebagai komunitas politis pun juga merupakan sesuatu yang ada secara alamiah. Aristoteles mengemukakan bahwa kehidupan politis sangat berhubungan erat dengan etika. Dengan etika inilah yang dapat mengatur kehidupan manusia untuk menuju kebahagiaan hakiki dalam menentukan keberhasilan suatu negara. Tanpa adanya etika, tentu kebebasan manusia tak dapat terkendalikan dan  segala problema manusia tak dapat terselesaikan dengan baik.

Dalam konteks ini, kita patut merujuk pada banyak pemikiran Aristoteles yang dapat mengalahkan pemikiran-pemikiran kita yang salah. Pemikiran yang salah akan mempengaruhi segala tindakan kita baik peran kita sebagai Makhluk Tuhan, anggota keluarga, maupun sebagai warga negara (masyarakat). Meskipun kita memiliki banyak peran dalam kehidupan, kita harus sadari bahwa betapa pentingnya tanggung jawab. Mengikuti cara berpikir filsuf Aristoteles merupakan langkah awal dalam mengatasi problema manusia dalam perannya. Ia merupakan tokoh filsuf intelektual yang memilki pernyataan-pernyataan logis dan brilian. Itulah mengapa ia menyandang gelar guru pertama logika[1] yang telah berhasil menghasilkan susunan teknik berpikir sistematis dan benar sesuai hukum-hukumnya. Berikut dibawah ini saya klasifikasikan beberapa problema manusia dalam peran kehidupannya dan cara mengatasinya baik berdasarkan teori logika, metafisika, etika dan politik dalam pandangan Aristoteles:

  • Makhluk Tuhan

Manusia sebagai Makhluk Tuhan, inilah predikat pertama yang disandang oleh seluruh manusia dipenjuru dunia. Sebagai makhluk Tuhan, tentu manusia sangat bergantung pada Tuhan. Manusia tak dapat bergerak sendiri tanpa memerlukan penyebab gerak. Sebab yang menggerakkan itulah adalah Tuhan. Sebagaimana pandangan Aristoteles bahwa sumber gerak (penggerak pertama) adalah Tuhan[2]. Pandangan ini menjadi pokok pembahasan dalam ajaran metafisikanya.

Dari pandangan ini, kita bisa lihat bagaimana Aristoteles sudah meyakini Tuhan karena cara pandang metafisiknya. Sejauh yang kita tahu bahwa segala sesuatu yang bergerak pasti memerlukan penyebab dan demikian seterusnya kebelakang. Namun, apakah Tuhan itu juga memerlukan penyebab gerak?

Dalam teologi[3] Aristoteles, dimana ia memberikan keterangan-keterangan mengenai Allah sebagai penggerak pertama yang tidak dapat digerakkan. Dia tidak memerlukan penggerak lain dan menjadi satu-satunya sebab bagi segala sesuatu yang bergerak. Untuk itu, Tuhan bersifat abadi dan cerdas dengan sendirinya karena sebagai penggerak pertama.

Dengan pandangan Aristoteles mengenai Tuhan inilah, akan memeberikan kepahaman yang mudah bagi manusia yang belum mengenal Tuhannya. Pandangan ini akan merubah pola pikir manusia dengan mengikuti logika-logika Aristoteles yang ia sajikan. Dari sini kita dapat renungkan apakah kita akan percaya pada Allah jika tak ada Al-qur’an yang sebagai bukti adanya Al-qur’an.

Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada problema orang-orang kafir yang tidak percaya Tuhan dan Al-qur’an sebagai wahyu-Nya untuk memberikan bukti adanya Tuhan. Tentu, kita tidak bisa dengan segera memperlihatkan Al-qur’an sebagai bukti adanya Tuhan kepada mereka karena jelas ia pasti tidak mungkin akan percaya akan bukti itu. Namun, kita bisa buktikan dengan cara berpola pikir atau berlogika mengikuti pandangan Aristoteles mengenai teori gerak tersebut karena pada dasarnya manusia akan percaya dengan logikanya sendiri.

  • Negara (masyarakat)

Manusia sebagai warga Negara, hal ini sangat lumrah dan menjadi kodrat alamiah manusia karena mengingat manusia dikatakan sebagai Zoon Politikon[4]. Saya sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa manusia berpolitis karena dorongan untuk menciptakan tata politik. Dengan hal ini, adanya Negara merupakan sesuatu yang alamiah karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk politis.

Dalam suatu Negara, tentu tak lepas dari problema kekuasaan dimana seorang pemimpin dalam suatu Negara memilki hak kekuasaan terhadap warga Negaranya. Pada titik ini menurut saya, Aristoteles memberikan argumen yang amat baik tentang hakekat kekuasaan, yakni pada hakekatnya dimana kekuasaan itu bersifat timbal balik. Jika kekuasaan tidak terorganisir dan teratur, maka segala problema seperti penindasan dan pengabaian kepentingan rakyat akan terjadi dalam suatu kekuasaan Negara.

Untuk itu penting untuk diperhatikan oleh para penguasa politis di seluruh dunia bahwa kekuasaan harus bersifat timbal balik. Dimana penguasa menjalankan kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhan (hak) warga negaranya. Maka, warga Negara pun akan menjalankan kewajibannya sebagi penentuan pengambilan kekuasaan penguasa yang merupakan sebagai hak penguasa pula. Jika suatu Negara telah menjalankan kewajiban dan hak perannya masing-masing, maka Negara tersebut akan meraih kebahagiaan hakiki[5] tentunya dengan mengutamakan moral dan intelektual.

  • Keluarga

Model kekuasaan selanjutnya yang dikemukakan Aristoteles bahwa suatu kekuasaan dalam pemerintahan dapat dianalogikan dalam model rumah tangga[6] yakni antara orang tua dan anaknya di dalam sebuah keluarga. Di dalam model ini, kekuasaan digunakan untuk memenuhi kepentingan semua pihak, terutama pihak yang dipimpin seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam timbal balik. Dimana Orang tua memimpin rumah tangga untuk kebaikan anak-anaknya, begitu pula anak-anaknya memberikan kebaktian terhadap orang tuanya. Dengan demikian secara otomatis kepentingan orang tua dan anak-anaknya sama-sama saling terpenuhi.

Model ini sangat menentukan kondisi sebuah Negara, jika sebuah rumah tangga dalam menejemen keluarga tidak bisa menjalankan perannya masing-masing tentu akan timbul banyak problema yang akan berdampak pula pada nasib suatu Negara. Dikatakan demikian karena keluarga merupakan bagian dari sebuah Negara. Inilah mengapa keluarga menjadi peranan penting dalam pembentukan Negara yang baik.

Dilihat dari penerapan model ini yang lebih mengutamakan kesetaraan antara manusia, maka menurut Aristoteles dikatakan bahwa model ini menerapkan sistem demokratis[7]. Jika model dengan tata politik demokratis ini diterapkan dalam suatu Negara, dimana penguasa tidak lagi dipilih berdasarkan darah ataupun kekuatan militer, melainkan dipilih oleh orang-orang terbaik yang ada di dalam masyarakat tersebut. Mereka dapat memilih penguasa yang dianggap bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat luas. Penguasa akan memperhatikan kepentingannya rakyat sama seperti ketika ia diperhatikan kepentingannya oleh pemimpin lain. Artinya penguasa memimpin rakyat untuk kebaikan rakyatnya, dan ketika ia menjadi rakyat kembali, ia pun akan diperhatikan kepentingannya oleh penguasa lain yang memimpin. Inilah politik yang ideal menurut Aristoteles.

Menurut hemat saya, gagasan ini merupakan pokok dasar dari teori demokrasi. Jika tidak dijalankan dengan baik, tentu akan menimbulkan banyak problema yang terjadi di dalam politik demokratis. Misalnya, sang penguasa ingin tetap berada sebagai penguasa, bukan karena untuk melayani kepentingan rakyatnya, melainkan untuk memperkaya diri. Inilah yang harus kita cermati bahwa pemimpin yang demikian akan dibenci rakyatnya setelah turun dari kursi pemerintahannya. Oleh karena itu, ia harus menjadi pemimpin yang baik dan adil demi kebaikan seluruh rakyat, dan kebaikan dirinya sendiri. Ini merupakan sesuatu yang amat logis dalam paradigma logika dunia demokrasi.

B.  Demokrasi  Indonesia

Menyorot kondisi Negara Indonesia ini, tentu banyak sekali kita dapati problema-problema yang mengecam negara kita. Namun, jika kita berbicara pada masalah sistem politik, apakah Indonesia bisa dikatakan sebagai negara demokrasi seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles? Ataukah, Indonesia kini telah menjadi sistem oligarki yang pemerintahannya ditangan beberapa orang kaya untuk kepentingan orang-orang kaya pula? Kalau begini benar adanya, demokrasi hanyalah sebuah nama atau simbol yang hanya sebagai sebuah pencitraan belaka. Para penguasa politik saling memperebutkan kursi kekuasaan dan berlomba-lomba memperbanyak modal yang tentunya dengan tujuan menarik perhatian banyak pendukung. Ironisnya semua itu semata-mata supaya mereka dapat memperoleh kekayaan yang lebih banyak setelah berhasil menjabat nanti. Maka tak heran jika kepentingan rakyatnya pun semakin terpinggirkan.

Kebebasan, inilah yang menjadi sistem utama dalam bentuk negara demokrasi. Seperti yang dikatakan Aristoteles bahwa demokrasi adalah komunitas dari orang-orang bebas. Namun, patut kita cermati apakah kebebasan ini bebas sebebas-bebasnya dimana orang dapat melakukan apapun yang diinginkan? Untuk menukil kesalahpahaman arti maka kita dapat telusuri pandangan konsep politik Aristoteles, kebebasan seperti apakah yang dimaksud oleh Aristoteles?

Berpijak pada konsep manusia menurut Aristoteles yakni sebagai makhluk rasional[8], atau hewan yang rasional, manusia dapat memutuskan tindakan apa yang akan ia lakukan sesuai dengan penilaian rasionalnya. Kebebasan dalam pandangan Aristoteles yakni dimana manusia memiliki kemampuan untuk menjaga jarak dari dunia sekitarnya. Artinya manusia harus mampu mengontrol dan membatasi diri dalam keberadaan lingkungan-lingkungan yang secara krusial dapat mempengaruhi dirinya.

Melihat dari segi konteks Indonesia dimana sistem pemerintahan demokrasi belum seperti yang diharapkan semua pihak. Mereka masih dipenuhi dengan hasrat untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Pandangan materialisme telah menutupi pandangan rasionalnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa demokrasi Negara Indonesia tidak sesuai dengan tindakan yang sebenarnya. Namun, jika masyarakat Indonesia mampu berpikir rasional yang dibarengi dengan sifat religius dan ekonomis, kita tidak akan menjadi komunitas orang-orang bebas seperti yang kita saksikan di realita sekarang.

  • Problema selalu melingkupi kehidupan manusia sepanjang zaman. Walaupun setiap zaman baik sejak zaman yunani hingga sekarang memiliki kondisi yang berbeda, akan tetapi problema manusia pada dasarnya memiliki sifat yang sama. Tentu kita dapat mengambil pemikiran filosof yunani Aristoteles yang pandangannya banyak dicurahkan pada realitas yang ada. Ia menciptakan teori logika yang teratur, etika manusia, metafisika, dan politik yang sesuai dengan realitas kehidupan.
  • Segala pemikiran Aristoteles adalah semata-mata demi menciptakan manusia yang berbudi, baik perannya sebagai makhluk Tuhan, maupun dalam komunitas negara dan keluarga. Namun, komunitas yang memiliki banyak kendala adalah negara dalam sistemnya. Kita ketahui bahwa filosof Aristoteles banyak menghasilkan buah pemikiran dari hasil pengamatannya mengenai sistem negara mulai dari monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Tentu jika negara Indonesia mampu merealisasikan sistem demokrasinya dengan teori yang sebenarnya, maka tujuan hidup seperti yang dikemukakan Aristoteles pun pasti akan tercapai.

[1] Logika yang diciptakan Aristoteles sebagai cara berpikir yang teratur, bukan bagian dari filosofinya, namun hanya sebagai didikan dan pelajaran pendahuluan dari filosofinya yang pertama.

[2] Gerak, ajaran Aristoteles yang dibahas baik dalam ajaran fisika maupun metafisika. Gerak bukan dalam arti pindah tempat, tetapi dalam arti perubahan. Adanya gerak itu ada yang menyebabkannya dan membentuk suatu rentetan hingga sampai pada gerak pertama. Gerak pertama ini bersifat immateriil, tidak bertubuh, cerdas dengan sendirinya, tidak bergerak dan tidak pula digerakkan.

[3] Teologi, Sebuah penamaan metafisika dalam pandangan Aristoteles.

[4]Zoon Politikon Sebagai makhluk yang hidup dalam polis, makhluk yang membentuk komunitas masyarakat tempat ia hidup dan berkembang. Namun dalam terjemahan terminologi diartikan sebagai makhluk sosial. Memang ada benarnya, namun Aristoteles bermaksud lebih daripada makhluk sosial. Menurut kodratnya, manusia hidup dalam polis sebagaimana dimengerti oleh masyarakat Yunani. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani,  (Yogyakarta: Penerbit Kansius, 1999), hlm. 200.

[5]Kebahagiaan (eudaimonia), barang yang tertinggi dalam kehidupan sesuai dalam pandangan etik Aristoteles yang pada dasarnya serupa dengan etik Sokrates dan Plato. Namun kebahagiaan yang dimaksud Aristoteles lebih kepada realis.

[6] Rumah tangga dalam arti kumpulan yang membentuk menjadi Negara, dengan kata lain negara terdiri dari banyak rumah tangga.

[7] Demokratis (polity), salah satu dari tiga bentuk konstitusi (bentuk negara) yang baik menurut Aristoteles, dimana seluruh rakyat mengambil bagian dalam pemerintahan dan didasarkan pada undang-undang dasar. Ibid., hlm. 203. & Jostein Gaarder, Dunia Sophie, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm. 136

[8] Rasio, daya intelektual nalar manusia, Aristoteles mengemukakannya dalam ajaran etika mengenai keutamaan intelektual. Dengan rasio, manusia dapat mengetahui kebenaran dan tindakan yang harus dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s