RINGKASAN PERKEMBANGAN TAFSIR DI INDONESIA

kumpulanPerkembangan Tafsir al-Qur’an

-          Abad 7-15: sulit dilacak, hanya terdapat terjemahan al-Qur’an dan penjelasan praktis.

-          Abad 15-17: Hamzah al-Fansuri (tafsirnya belum lengkap 30 juz, dengan corak tasawuf dan bahasa melayu yang indah), kemudian pada masa Sultan Iskandar Muda II muncullah Abdurrauf as-Sinkili.

-          Abad 18: mulai banyak ulama yang menulis tafsir dengan corak tasawuf. Di antara ulama tersebut adalah Abd Shamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abd Wahhab Bugis, Abd Rahman al-Batawi dan Daud al-Fatani yang bergabung dalam komunitas Jawa. Karya-karya mereka tidak berkontribusi langsung kepada bidang tafsir, akan tetapi banyak kutipan ayat al-Qur’an yang dijadikan dalil untuk mendukung argumentasi atau aliran yang mereka ajarkan.

-          Abad 19: perkembangan tafsir di Indonesia tidak lagi ditemukan seperti pada masa-masa sebelumnya. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, diantaranya pengkajian tafsir al-Qur’an selama berabad-abad lamanya hanya sebatas membaca dan memahami kitab yang ada, sehingga merasa cukup dengan kitab-kitab Arab atau melayu yang sudah ada. Di samping itu, adanya tekanan dan penjajahan Belanda yang mencapai puncaknya pada abad tersebut, sehingga mayoritas ulama mengungsi ke pelosok desa dan mendirikan pesantren-pesantren sebagai tempat pembinaan generasi sekaligus tempat konsentrasi perjuangan. Ulama tidak lagi fokus untuk menulis karya akan tetapi lebih cenderung mengajarkan karya-karya yang telah ditulis sebelumnya.

-          Sebenarnya ada karya tafsir yang ditulis pada abad ke-19 dalam bahasa Arab yaitu Marah Labid karya imam al-Nawawi al-Bantani al-Jawi, namun karya ini ditulis di Makkah.

-          Sejak abad 7-19 menggunakan metode isyari yakni pendekatan budaya dan psikologis masyarakat yang esoteris (mistik).

-          Pola yang unik justru terlihat di abad ke dua puluh. Pada periode ini, seolah melepaskan diri dari model-model sebelumnya yang cendereung statis, metode tafsir mencapai titiknya yang sangat dinamis. Saat itu, dalam interval waktu yang terbilang singkat, Indonesia melahirkan banyak pemikir-pemikir Muslim produktif. Model kajian dan metodologi pun berkembang dan lebih akademis.

Turjuman Al-Mustafid- Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili

-          Nama lengkap pengarang tafsir Tarjuman al-Mustafid adalah Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili.

-          Gelar al-Sinkili yang disandangnya menunjukkan bahwa ia hidup di sebuah kota kecil di Pantai Barat kepulauan Sumatera yang sekarang ini dikenal dengan bagian dari wilayah Aceh. Sedangkn gelar al-Fansuri yang disandangnya merujuk pada tempat kelahiran ayahnya, Shaykh Ali (namun hal ini masih dalam perdebatan).

-          Ia menuntut ilmu dari Persia kemudian ke Yaman => Jeddah => Mekah => Madinah => Indonesia

-          Sementara dalam tafsir Tarjuman al-Mustafid ini, Syeikh Abdurrauf menggunakan metode tahlili. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya ragam pendekatan dalam menafsirkan ayat al-Qur’an. Seperti: Qira’ah, penjelasakan suku kata, latar belakang turunnya ayat (asbab al-Nuzul), Nasikh Mansukh, dan Munasabah.

-          Selain metode tahlili yang digunakan pengarang, metode ijmali juga termasuk metode yang digunakan. Karena penjelasan yang pada ayat-ayat al-Qur’an itu bersifat global. Artinya tidak terlalu terperinci, hal ini sesuai dengan eksistensi tafsir Tarjuman al-Mustafid hanya satu jilid. Tafsirnya berbahasa melayu.

-          Syeikh Abdurrauf  menafsirkan ayat al-Qur’an secara tartib mushafi, yakni dari surat al-Fatihah hingga surat al-Nas. Sebagian ulama atau bahkan muhaqqiq kitab ini menyatakan bahwa tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan saduran dari tafsir al-Baydhawi. Adapula yang menyatakan rujukan dari Jalalain dan adapula dari terjemahan Baghdadi (Khazin)

-          Pada saat itu Syeikh Abdurrauf melihat kondisi masyarakat di sekitar mereka. Pemikiran yang bagaimanakah yang mudah diterima oleh masayarakat, serta pesan yang ingin disampaikan bisa sampai kepada masyarakat pada saat itu. Hal ini tidak bisa dinafikan mengingat kondisi masayarakat Indonesia memang lebih cenderung kepada persoalan tasawuf. Bukan hanya pada saat itu, akan tetapi saat ini kecenderungan masyarakat Indonesia pada hal-hal yang berbau mistik.

-          Tafsir ini pun pertama kali dicetak di Istambul pada tahun 1844 M,[1]  bukan di Indonesia-tanah air penulis itu sendiri.

-          Syeikh Abdurra’uf telah menggunakan metode tahlili dalam tafsirnya Tarjuman al-Mustafid. Tafsir ini cukup sistematis dan merupakan tafsir pertama di Nusantara yang menafsirkan al-Qur’an 30 juz secara lengkap. Dengan menggunakan pendekatan pada nilai-nilai kesufian (tasawuf).

 

Marah Labid – Syaikh Nawawi al-Bantani

-          Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi itulah nama lengkapnya atau yang lebih dikenal dengan Kiai Nawawi Banten itu sebetulnya bernama asli Muhammad bin Umar Ali bin Arabi. Beliau disebut sebagai Kiai Nawawi at-Tanari al-Bantani al-Jawi karena beliau berasal dari Tanara, Banten dan tergolong sebagai Ulama’ Jawi atau Ulama’ yang berbangsa Melayu

-          Salah satu karya Syekh Nawawi adalah “al-Munir li Ma’alim at-Tanzil” atau dalam judul lain “Marah Labid Likasyfi Ma’na Qur’an Majid”.

-          Tafsirnya yang berhalaman 985 atau 987 beserta daftar isinya. Tafsir al-Munir terdiri dari 2 jilid, jilid pertama berjumlah 510 atau 511 halaman beserta daftar isinya dan jilid kedua berjumlah 475 atau 476 halaman beserta daftar isinya dan diselesaikan pada rabiul akhir 1305 H.

-          Di lihat dari cover yang diterbitkan oleh penerbit dari Surabaya-Indonesia, tafsir ini memiliki dua nama, pertama al-munir dan kedua al-tafsir Marah Labid. Al-tafsir Munir diperkirakan diberikan oleh pihak penerbit. Sedangkan al-tafsir Marah Labid berasal dari Syekh Nawawi langsung.

-          Tafsir al-munir ini dapat digolongkan sebagai salah satu tafsir dengan metode ijmali (global). Dikatakan ijmali karena dalam menafsirkan setiap ayat, Syeikh Nawawi menjelaskan setiap ayat dengan ringkas dan padat, sehingga pun mudah dipahami. Sistematika penulisannya pun menuruti susunan ayat-ayat dalam mushaf. Tafsir al Munir li Ma’alim at Tanzil terlihat sangat detail dalam menafsirkan setiap kata per-kata pada setiap ayat

-          Pada jilid pertama marah labid ini di mulai dari surah al-fatihah sampai dengan surah al-kahfi dan jilid dua di mulai surah maryam sampai surah an-nas. Penafsiran yang terlihat dalam kitab marah labid terdapat di dalam garis, sedangkan di luar garis adalah kitab al-wajiz tafsir al-qur’an al-aziz oleh Imam Abi Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi. Dilihat dari cara penyusunan ayat, Syeikh Nawawi menggunakan metode secara tahlili, yakni berurutan dari surat pertama sampai surat terakhir dan tidak dikelompokkan sesuai tema tertentu.

-          Adapun ada sesuatu yang begitu unik pada Tafsir Marah Labid ini, sehingga inilah yang membuatnya berbeda dari tafsir-tafsir lainnya. Syekh Nawawi selalu membubuhkan “اي” hampir pada setiap permulaan penafsiran dan entah mengapa penafsiran selalu dimulai pada halaman kedua pada setiap jilidnya. Setiap ayat al-Qur’an selalu dibubuhi tanda kurung sehingga terlihat perbedaannya secara jelas mana yang termasuk ayat al-Qur’an dan mana yang termasuk penafsiran, hanya saja Syekh Nawawi tidak memberikan penomoran khusus pada ayatnya. Selain itu, pada setiap permulaan surah dan sebelum penafsiran, Syekh Nawawi menguraikan surah tersebut terlebih dahulu baik dari segi surah makiyyah dan madaniyyahnya, urutan surah, dan yang paling unik ialah disebutkan jumlah seluruh ayat surah.

 

Faidh Ar-Rahman  - Syekh Shaleh As-Samarani al-Jawi

-          Syekh Shaleh As-Samarani al-Jawi adalah seorang ulama pengasuh Pesantren Darat Semarang menjelang akhir abad ke-19 yang lalu. Syeikh Shaleh as-Samarani atau Kiai Shaleh Darat, terkenal sebagai ulama penulis dan penerjemah kitab-kitab kuning berbahasa Arab ke dalam Bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab Pegon (Arab Jawa). Beliau merupakan pelopor penerjemahan Al-Qur’an pertama kali ke dalam Bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon, yang sebelumnya tabu bagi ulama-ulama Jawa.

-          Sebagai seorang ulama penulis, Syeikh Shaleh Darat Semarang termasuk penulis produktif, baik karya terjemahan, saduran maupun karya asli. Lebih dari 90 buah judul kitab yang ditulisnya, kebanyakan kitab kuning berbahasa Arab karya ulama-ulama Timur Tengah, diterjemahkan dan disadur, ke dalam Bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab Pegon.

-          Dalam karya-karyanya, Syeikh Muhammad Shaleh as-Samarani secara konsisten mengikuti dan membela ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah dalam kerangka aliran Asy’ariyah dan al-Maturidiyah di bidang akidah dan mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali) di bidang fikih dan mengikuti al-Junaid, al-Ghazali, ‘Abdul Qadir al-Jaelani serta Ahmad ibn Athaillah dalam bidang tasawufnya.

-          Menurut keterangan Kiai Shaleh Darat, penulisan tafsîr Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan ini dilatarbelakangi oleh keinginan Kiai Shaleh Darat untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa sehingga orang-orang awam pada masa itu bisa mempelajari al-Qur’an karena saat itu orang-orang tidak bisa bahasa Arab11 dan sebagai jawaban bagi kegelisahan R.A.Kartini. Karena pada  waktu itu tidak ada ulama yang berani menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa karena al-Quran dianggap terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun dan melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa.

-          Dari segi bentuk dan kemasannya, kitab ini terdiri dari dua jilid dan diterbitan pertama di Singapura oleh percetakan Haji Muhammad Amin pada tanggal 27 Rabi’ul Akhir 1311 H/7 November 1893 M.  menurut informasi lebih dari 90 judul kitab karya terjemahan KH. Sholeh darat.

-          Jilid Pertama, diawali dengan muqaddimah kitab Tafsir Faidh al-Rahman. Kemudian dilanjutkan dengan muqaddimah Surat al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan penafsiran ayat 1 sampai ayat 7. Kemudian dilanjutkan dengan tafsir Surat al-Baqarah yang dimulai dengan muqaddimah Surat al-Baqarah kemudian penafsiran ayat 1 sampai ayat 286. Dengan jumlah isinya 503 halaman.

-          Jilid Kedua, dimulai dari muqaddimah dari penulis kemudian muqaddimah surat Ali ‘Imran dan dilanjutkan dengan penafsiran  ayat 1 sampai ayat 200. Kemudian dilanjutkan dengan tafsir surat al-Nisa’ yang dimulai dengan muqaddimah Surat al-Nisa’kemudian penafsiran ayat 1 sampai ayat 176. Dengan jumlah isinya 705 halaman.

-          Dari penjelasan diatas dapat ditarik  kesimpulan bahwa setiap  beliau ingin memulai menafsirkan suatu  surat dengan muqaddimah, yang terdiri dari 2 jilid,  jilid pertama ada  705dan jilid kedua  terdidri dari 305 halaman. yang hanya  menafsirkan  Surat al Fatihah, al-Baqarah, al Imran dan an-Nisa’ dengan mencantumkan tempat turunnya suatu surat dan faedah membacanya.

-          Dalam Tafsir  Faidh Ar- Rahman pembahasannya dimulai dengan mengarahkan  keterangan  tentang  identitas  surat yang meliputi sejarah Asbabu Nuzul suatu ayat, kemudian  melanjutkannya dengan penjelasan tentang nama surat, tujuan surat dan jumlah ayat-ayat.

-          Berbagai sumber  yan mendukung  terwujud penafsiran  Tafsir Faidh Ar-Rahman  bahwa dalam menafsirkan Al-Qur’an, Muhammad Shaleh Ibn Umar as-Samarani memanfaatkan berbagai sumber ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, pendapat sahabat dan tabi’in, pandangan para ulama sebelumnya, hikayat, dan asbaun nuzul.

 

Tafsir Qur’an Karim – Mahmud Yunus

-          Pengarang tafsir “Qur’an Karim” ialah Prof. Dr. KH. Mahmid Yunus

-          Tafsir Qur’an Karim ini menggunakan metode penafsiran tahlili, yaitu suatu metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dan seluruh aspeknya.

-          Akan tetapi ada yang mengatakan tafsir Qur’an Karim ini menggunakan metode ijmali, karena dilihat dari cara penafsirannya, yaitu menafsirkan ayat demi ayat, surat demi surat sesuai urutan mushaf, yang dilakukan secara singkat dan global,

-          Cara penafsiran tafsir Mahmud Yunus ini terkesan sederhana dan ringkas, karena beliau hanya menjelaskan pada ayat-ayat yang penting saja.

-          Bentuk penafsiran yang digunakan oleh Mahmud Yunus ini adalah bil Ra’yi yaitu pemikiran-pemikiran rasional yang mendominasi di dalam tafsirnya, meskipun ditemui juga beberapa riwayat hadits. Jadi, di dalam tafsirnya itu yang lebih banyak kita temui adalah pikiran rasional beliau sendiri dari pada riwayat hadits.

-          Tafsir Qur’an Karim ini tidak terlihat memakai corak khusus, seperti corak yang biasa digunakan oleh para mufassir lainnya, seperti corak tasawuf, fiqh, filsafat, sosial masyarakat, dll. Namun tafsir ini lebih bersifat umum, tidak ada corak yang dominan yang menjadi ciri khas tafsir ini

-          Tafsir Qur’an Karim ini bercorak lughawi dan al-adabi wa al-ijtima’i, yaitu penjelasan tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan al-Qur’an dari segi kelemahan-kelemahan orang Arab dalam bidang sastra. Bercorak lughawi karena dilihat dari cara penafsirannya yang menekankan akan suatu lafadz, lalu menjelaskannya secara rinci. Bercorak al-adabi wa al-ijtima’i karena dilihat dari penekanannya  terhadap kepentingan umat Muslim secara khusus dan umat manusia secara umum.

-          Tafsir yang dikarang oleh Prof. DR. H. Mahmud Yunus ini bernama Tafsir Qur’an Karim. Ada yang mengatakan bahwa tafsir ini terdiri dari 3 jilid yang mana dalam setiap jilidnya terdiri dari 10 juz. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa tafsir ini hanya ada satu jilid yang memuat juz 1 sampai 30. Tafsir al-Quran ini sistematika penafsirannya sama seperti isi al-Quran dan terjamahan disamping kanan ayat (setiap ayat) kemudian terjemahannya dibawahnya terdapat penafsiran. Sistematika penafsiran Mahmud Yunus menafsirkan seluruh ayat sesuai susunannya dalam mushaf al-Quran ayat demi ayat, surat demi surat, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas. Maka secara sitematika penafsiran tafsir ini menempuh tartib Mushaf.

-          Kitab ini juga populer dengan sebutan karya pelopor dikarenakan kitab ini merupakan Tafsir Indonesia pertama yang berbahasa Indonesia secara utuh sedang penafsiran-penafsiran sebelumnya  masih menggunakan bahasa Arab Melayu (Arab Jawi), bahasa Jawa dan bahasa Madura. Di sana disebutkan beliau pertama kali menerbitkan Tafsir Qur’an Karim ini pada tahun 1938.

-          Di dalam menafsirkan Alquran, Yunus bersumber pada ilmu-ilmu yang ia pelajari saat belajar di Timur Tengah, disertai sedikit pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Bersumber dari al-Qur’an, Hadist, sahabat, Tabi’in, Tafsir al-Qur’an dengan ilmu bahasa ‘arab bagi ahli ilmu lughah ‘arabiyyah dan Tafsir al-Qur’an dengan ijtihad bagi ahli ijtihad.

-          Dalam karyanya yang diterbitkan oleh CV. Al-Hidayah, terdapat beberapa perubahan diantaranya adalah;

a).Terjemahan Alquran disusun baru, sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia, serta mudah dipahami oleh pembaca. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa Arabnya.

b).Teks Alquran terjemahannya disusun sejajar. Dengan demikian mudah mengetahui nomor-nomor ayat Alquran dalam teks bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

c). Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan di dalam ayat yang bersangkutan, sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yang lain, seperti cetakan yang lama.

d).Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas, setengahnya berupa masalah-masalah ilmiah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa.

 

 

Tafsir Al-Furqon – Ahmad Hasan

-          Nama tafsir karya A. Hassan ini adalah Al-Furqon Tafsir Qur’an. Tafsir ini merupakan langkah awal penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Indonesia

-          Alasan mengapa A. Hassan menulis tafsir ini di antaranya adalah karena desakan keadaan yang membutuhkan ilmu demi memenuhi kepentingan umat Islam kala itu. Selain itu juga, A. Hassan diminta agar menuliskan kitab tafsir karena memang beliau memiliki kapasitas dalam melakukan hal itu. Dikatakan juga bahwa, anggota Persis ingin sekali memiliki pegangan kitab tafsir sehingga mereka lebih mudah memahami al-Quran

-          Tafsir al-Furqon ini merupakan tafsir yang simple namun mengandung banyak makna. Sistematika tafsir al-Furqon:

  1. Pada bagian covernya tertuliskan judul tafsir serta pengarang tafsir ini.
  2. Berikutnya dicantumkan nama tim penyunting serta penerbit.
  3. Selanjutnya pada halaman V adalah kata pengantar dari Prof. Dr. Ir. Zuhal Abdul Qadir, M.Sc.E.E. yang diikuti dengan kata pengantar dari tim penyunting hingga halaman IX. Pada halaman X dijelaskan mengenai huruf-huruf serta car abaca huruf Arab.
  4. Mulai dari halaman XI hingga XXX adalah pendahuluan dari A. Hassan sendiri yang terdiri dari 33 pasal di antaranya mengenai cara menerjemahkan, sejarah turunnya al-Quran, pengumpulan dan penyusunan al-Quran dan lain sebagainya.
  5. Pada halaman XXXI hingga XXXV adalah glosarium yakni makna dari beberapa kata penting dalam al-Quran. Seperti ‘Alamin yang diartukan alam semesta, Aku/-Ku yang merupakan kata ganti untuk Allah dan orang pertama tunggal.
  6. Halaman XXXVI sampai XL adalah penjabaran oleh Abdul Qadir Hassan mengenai tema-tema dalam al-Quran serta dituliskan nama surat serta ayat tentang tema tersebut. Kemudian penelusuran pokok-pokok ajaran Quran yang di tulis oleh Zuhal Abdul Qadir.
  7. Kemudian pada halaman LXXI adalah daftar isi yang juga terdapat nama-nama surat dalam bahasa Arab serta arti dari nama setiap surat tersebut dalam bahasa Indonesia mulai dari al-Fathihah sampai an-Nas serta tema-tema yang dibahas di dalam setiap suratnya sampai halaman XC.
  8. Hingga mulailah terjemahan (tafsiran) al-Quran dari halaman 1 sampai halaman 1099. Susunannya pada awal beliau menuliskan nama surat dengan bahasa Arab dan bahasa Indonesia yang disertai pula dengan artinya. Lalu urutan surat, jumlah ayat serta status surat tersebut (Makkiyah atau Madaniyah). Berikutnya adalah mukadimah dan bismillah kemudian redaksi Arab surat tersebut dengan terjemahannya (tafsirannya). Terdapat juga di bagian bawahnya catatan kaki walaupun tidak semua surat terdapat catatan kaki seperti surat Quraisy yang tidak terdapat catatan kaki.
  9. Pada halaman terakhir dituliskan tanda tashih dengan bahasa Arab pegon.

-          Tafsir al-Furqan Ahmad Hassan ini memiliki perbedaan yang menyolok dengan tafsir-tafsir klasik sebelumnya yang telah digolongkan masuk dalam kelompok tafsir ijmāliy,

-          Tafsirannya semuanya berbentuk catatan kaki. A.Hasan menggunakan lebih pada metode Ijmali (harfiah/kata perkata) juga secara mushafi diawali dengan surah al-Fatihah sampai surah an-Naas.

-          Beberapa point yang menggambarkan metode dalam Kitab Tafsir al-Furqan yang digunakan A.Hasan:

  1. Ijmali.
  2. Isi tafsirannya  diposisikan seperti catatan kaki.
  3. Tidak terikat dengan mazhab manapun dari sang Penafsir.
  4. Focus kepada makna dari setiap kata yang dimaksud.
  5. Metode Maknawi disini, lebih kepada penjelasan secara lebih sederhana  tentang kata dari ayat yang dimaksud.

-          Pada umumnya,  kebanyakan para mufassir itu dalam menafsirkan al-Quran lebih dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya khususnya keilmuan yang (dominan) dimilikinya. Nah, dari sini kemudian melahirkan perbedaan dan macam-macam corak dalam menafsirkan al-Quran seperti tasawuf, figh, kalam, teologis, bahasa, ilmi dan sosial kemasyarakatan.

-          Selain itu, terdapat pula corak kebahasaan dalam tafsir ini. Hal ini dapat dilihat dengan penjelasan Ahmad Hasan mengenai ayat-ayat mutasyabihat serta penjelasan mengenai huruf diawal surat.

 

Tafsir An-Nur & Al-Bayan – Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddqi

-          Prof. Teungku Hasbi Ash-Shiddqi adalah salah satu ulama besar di Indonesia yang sudah tidak asing lagi dan menguasai berbagai disiplin Ilmu, seperti ilmu fiqih, tafsir, hadits dan ilmu kalam. Beliau dikenal sebagai seorang ulama mujaddid (pembaharu) pemikiran islam, dan seorang mujtahid dibidang hukum islam ataupun ilmu fiqih

-          Pada zaman demokrasi liberal, beliau pernah terlibat secara langsung dalam partai Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia), dan beliau juga aktif di keanggotaan Muhammadiyah.

Tafsir An-Nur

-          Tafsir Al-Quranul Majid atau lebih dikenal dengan Tafsir An-Nur ini ditulis oleh Teungku Hasbi Ash-Shiddqi sejak tahun 1952 sampai dengan 1961 (Sembilan tahun), disela-sela kesibukannya mengajar, memimpin fakultas dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan dambaannya untuk menghadirkan sebuah kitab tafsir dalam bahasa Indonesia, yang tidak hanya sekedar terjemahan, ia mendiktekan naskah kitab tafsirnya ini kepada seorang pengetik dan langsung menjadi naskah siap cetak.

-          Tafsir Al-Bayan

-          Disamping menulis Tafsir An-Nur Hasbi Ash-Shiddqi juga menulis tafsir yang ringkas yang diberi nama Tafsir Al-Bayan. Tafsir ini disiapkan pada tahun 1966 untuk memenuhi permintaan Rabithah Alam Islamy yang bermarkas di Mekkah dengan bermaksud membagikan tafsir ini secara Cuma-Cuma kepada masyarakat. Tafsir Al-Bayan sesuai dengan namanya merupakan tafsir terjemahan dan ringkas yang berfungsi untuk menjelaskan maksud dari pada ayat.

-          Maka setelah melihat perkembangan terjemahan Al-Quran akhir-akhir ini, serta meneliti terjemahan-terjemahannya secara tekun, nampaklah bahwa banyak terjemahan yang mesti diperbaharui. Oleh karena itu beliau menyusun sebuah terjemahan yang lain yang meliputi segala lafal. Bahkan meliputi terjemahan dari lafal-lafal yang diungkapkan menurut pendapat-pendapat ahli tafsir kenamaan.

-          Tafsir Al-Bayan merupakan sebuah kitab tafsir yang unggul dirantau ini. Kitab tafsir ini terdiri daripada dua jilid dan merupakan karya kedua setelah tafsir An-Nur. Asal kata Al-Bayan diambil dari serpihan ayat Al-Qur’an. Maka dari itu dinamakan tafsir Al-Bayan karena sebagai penjelas.

-          Maka beliau membuat dua tafsir ini dikarenakan beliau melihat dan menelaah tafsir-tafsir yang berada di nusantara khususnya menggunakan bahasa Arab, begitu juga kurang begitu difahami oleh masyarakat Indonesia khususnya. Maka beliau berkeinginan membuat tafsir dengan gaya bahasa yang mudah difahami oleh masyarakat yaitu dengan menggunakan bahasa Indonesia.

 

-          Metode

-          Beliau menggunakan dua jenis metode yang berbeda pada kedua tafsirnya. Pada tafsir an-Nuur, beliau menggunakan metode Tahlili, sementara pada tafsir al-Bayan, beliau menggunakan metode Ijmali.

-          Dalam tafsir an-Nuur ini, Teungku Hasbi as-Shiddieqy juga memberikan analisis yang cukup mendalam, itu terbukti dari banyaknya pedapat para tokoh yang beliau bandingkan dalam menjelaskan suatu ayat, agar lebih mendalam. Di setiap awal dari setiap surat, beliau selalu memberikan pengantar terlebih dahulu. Seperti ketika menafsirkan surat al-Baqarah, beliau juga memberikan pengantar yang isinya asal muasal nama surat al-Baqarah, sejarah turunnya, serta kandungan isinya. Beliau juga mencantumkan asbabun nuzul surat, seperti ketika beliau menafsirkan surat Ali Imran.

-          Pada tafsir al-Bayan ini beliau menerjemahkan al-Qur’an sebagaimana al-Qur’an terjemahan, dan hanya menambahkan sedikit catatan kaki dibagian bawah ayat tersebut, seperti ketika beliau menafsirkan ayat kedua dari surat al-Baqarah ini, selain memberikan terjemahannya, beliau juga menambahkan catatan kaki seperti ini. Pada tafsir ini, tidak ada asbabun nuzul sebagaimana tafsir an-Nuur. Hasby menyatakan dalm tafsiran yang kedua ini adalah untuk lebih menyempurnakan tafsir yang pertama yakni an-Nur. Kemudian dinamakan al-bayan oleh penafsir adalah sebagai “suatu penjelasan bagi makna-makna al-Quran”. Selanjutnya pada kitab ini terdiri dari dua jilid, dimana jilid pertama dimulai dari surah al-Fatihah sampai ayat 75 surah al-Kahf dan jilid kedua sisanya

-          Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy kami tidak menemukan corak dan orientasinya terhadap bidang tertentu, sebab kalau diperhatikan semua tafsirnya tidak memuat bidang ilmu tertentu, seperti bidang Bahasa, hukum, sufi, filsafat, fiqih, tasawuf dan sebagainya. Hasbi Ash-Shiddieqy membahasnya dengan mengaitkan bidang ilmu pengetahuan secara merata artinya tidak ada penekanan pada bidang tertentu. Ash- Shiddieqi menulis tafsir ini dengan harapan dapat memudahkan mereka yang tertarik mendalami tafsir Qur’an dan kesungguhannya dalam menekankan segi-segi kemasyarakatan dan kehidupan sosial. Dan kalau boleh kami menyatakan bahwa tafsir Ash-Shiddieqi ini lebih condong pada Al-adabi al- ijtima’i yaitu sosial budaya dan kemasyarakatan. sebab membahas dengan memfokuskan pada bidang tertentu menurutnya akan membawa para pembaca keluar dari bidang tafsir.

-          Dengan demikian tafsir An-Nur tidak mempunyai corak atau orientasi tertentu, namun bisa dikatakan komplit, artinya meliputi segala bidang.

 

Al-Azhar – Prof. Dr. Buya Malik Haji Abdul Karim Bin Abdul Karim Amrullah

-          lebih dikenal dikalangan muslim indonesia dengan sebutan Buya Hamka. Nama aslinya Abdul Malik

-          Sejak usia remajanya beliau senang menyingkat namanya dengan AMKA (Abdul Malik Karim Amrullah) dan setelah beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 namanya disingkat menjadi HAMKA dan nama tersebut terkenal hingga kini.

-          Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan pada pemerintahan Presiden Soekarno karena tuduhan beliau terlibat pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Tafsir al-Azhar terdiri dari 30 jilid yang masing-masing berisi 1 juz, yang meruppakan tafsir lengkap untuk 30 juz yang dibaginya menjadi 30 jilid besar. akan tetapi pada akhirnya beliau dibebaskan karena kesalahannya tidak bisa dibuktikan oleh pemerintah.

-          Terdapat beberapa surat yang didalamnya terbagi dalam beberapa bagian pembahasan.

-          Terdapat pendahuluan pada setiap juz.

-          Mengelompokkan ayat-ayat yang ada dalam suatu surat ke dalam sub-sub tema yang berbeda.

-          Menafsirkan ayat secara berkelompok.

-          Berdasarkan dari penelusuran yang telah kami lakukan, akhirnya dapat mengambil sebuah keputusan  bahwa metode Tafsir Al-Azhar adalah tahlili.

-          Dari cara menafsirkan dan gaya bahasa yang digunakan tampak jelas. Bahwa itu adalah metode tahlili, karena muallif menjelasakna secara gamblang dan konprehensip. Terlihat terdapat munasabah ayat, asabun nuzul dan ushul fiqih.

-          Dalam hal ini beliau memberikan penekanan khsusus pada ayat-ayat yang berkaitan dengan sosial. Karena meman pada saat itu adalah zaman orde baru yang sangat berpengaruh pada karyanya. Dimana beliau memandang anatara agama dan Negara tidak boleh dipisahkan. corak Tafsir Al-Azhar adalah al-adab al-ijtima’I (social kemasyarakatan)

 

Al-Ibris  – KH. Bisri Mustofa

-          KH. Bisri Mustofa merupakan salah satu dari sekian ulama hebat dari pulau jawa yang berhasil menorehkan banyak karya.

-          Sebagian besar karya-karya KH. Bisri Mustofa menggunakan Bahasa Jawa dengan huruf Pego (pegon) atau huruf Arab jawi, dan sebagian lainnya berbahasa Indonesia. Kitab-kitab yang di hasilkan oleh KH. Bisri Mustofa ini selain hasil karya asli dirinya sendiri, namun ada pula yang merupakan terjemahan dari kitab-kitab kuning untuk kalangan para santri di pesantren.

-          Dari sekian kitab hasil karya KH. Bisri Mustofa yang paling terkenal yakni adalah kitab tafsirnya yang bernama al-Ibriz. Tafsir al-Ibriz ini merupakan sebuah karya asli beliau untuk tafsir al-Qur’an dengan menggunakan Bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Arab pego. Alasan beliau menggunakan bahasa Jawa sebagai bentuk penafsirannya dengan tujuan agar  kaum muslim yang berbahasa Jawa dapat memahami makna al-Quran dengan mudah dan dapat memberi manfaat di dunia ataupun akhirat. Selain itu adalah sebagai bentuk khidmah beliau terhadap kaum muslimin, khususnya kaum muslim Jawa

-          Kitab tafsir al-Ibriz ini asal mulanya dari kumpulan ceramah yang beliau tulis saat dalam perjalan berangkat dan pulang dari memberikan ceramah (pengajian). Kemudian dari potongan-potongan tulisannya tersebut terkumpul menjadi sebuah kita`b tafsir yang besar yaitu al-Ibriz. Beliau menyusun kitab al-Ibriz ini selama 6 tahun yakni dimulai pada tahun 1954 sampai 1960. Kitab al-I`briz ini diselesaikan oleh KH. Bisri Mustofa pada hari kamis tanggal 29 rajab 1379 H atau 28 Januari 1960 M.

-          Berdasarkan paparan sebelumnya, metode penafsiran yang dipakai adalah metode tafsir bi al-ra’yi karena sumber penafsiran yang bersumber dari ijtihad pemikiran KH. Bisyri Mushthafa sendiri ataupun pengolahan pendapat para mufassir terdahulu

-          Tafsir al-Ibrîz jika ditinjau dari keluasan penafsiran ayat, maka terkategori ijmali, karena penafsiran ayat-ayat Alqurannya dituturkan secara global saja, tidak secara mendalam dan panjang lebar sehingga mudah dipahami.

-          Tafsir al-Ibriz tergolong bermetode tahlili, karena penafsiran ayatnya dilakukan secara keseluruhan mulai dari ayat dan suratnya sesuai urutan mushaf, mulai al-Fatihah hingga al-Nâs.

-          Corak kombinasi antara fiqih dan tasawuf pun bisa terlihat di kitab ini.

-          Kitab ini mencakup tafsiran al-Quran secara keseluruhan ayat yang dibagi menjadi 3 jilid. Melihat pada kitab tafsir ini dibagi dalam tiga jilid ternyata penulis tafsir memaksudkan untuk membaginya -masing-masing- jilid memuat 10 juz

-          Dalam Kitab tafsir ini ayat al-Quran terdapat dalam bentuk kotak persegi panjang yang memisahkan antara tafsir dan ayat-alQuran.

-          Ayat al-Quran yang dicirikan berada di dalam garis, yang mana seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kitab tafsir ini selain menafsirkan juga menerjemahkan. Terjemahannya di sini tetap menggunakan bahasa jawa yang mana terjemahannya ini masih dalam kolom yang memuat ayat al-Quran.

 

Ensiklopedia Al-qur’an – Dawam Rahardjo

-          Ia adalah orang ekonom Indonesia yang memiliki perhatian terhadap kajian-kajian keagaman, terlebih terhadap al-Qur’an. Hal ini dapat dipahami sebab sejak kecil ia sangat akrab dengan dunia keagamaan. Salah satu karya penting beliau adalah Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci

-          Buku ini muncul dilatar belakangi oleh perhatiannya yang besar terhadap al-Qur’an. Beliau menganggap bahwa al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia sekaligus penjelas petunjuk tersebut, sesuai pada surat Al-Baqarah/ 2:185. Dalam ayat itu, menurutnya ada tiga konsep yang terkandung:

  1. Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang berisikan petunujuk, pedoman, atau pimpinan, yang disebut hudan.
  2. Menurutnya, tidak hanya petunujuk yang mungkin dirumuskan dalam satu atau dua kalimat, tetapi Al-Qur’an memberikan pula penjelasan atau bayan mengenai petunujuk itu.
  3. Petunjuk itu sekaligus merupakan kriteria atau tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang buruk dan yang baik, yang seronok dan yang indah

-          Inilah alasan beliau mengatakan bahwa kita membutuhkan sebuah tafsir yang dalam pandangannya bahwa tafsir diberikan oleh yang ahli, atau yang biasa disebut mufassir. Namun, karena al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Maka menurutya, bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk mendapatkan petunjuk al-Qur’an. Namun semua itu memiliki syaratnya, salah satunya adalah memahami bahasa al-Qur’an yang mendalam, serta memiliki pengetahuan tentang syarat-syarat lainnya.

-          Metode yang digunakan Dawam Rahardjo dalam karyanya “Ensiklopedia al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci” adalah metode Maudhu’i, yakni metode menafsirkan dengan menghimpun semua ayat dari berbagai surah yang berbicara tentang satu masalah tertentu yang dianggap menjadi tema sentral.

-          Tema atau topiknya telah baku dan akrab di masyarakat dan sebenarnya merupakan istilah-istilah dalam al-Qur’an. Tema-tema itu dihadapkan dengan ilmu-ilmu sosial sesuai dengan latar belakang pendidikan ia jalani.

-          Dengan memandang realitas sosial yang ada, Dawam menerapkan penafsiran modern dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial dan uraian cukup panjang yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Sehingga, dengan metode ini mampu menghasilkan penafsiran dan pemahaman yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan kontemporer saat ini.

-          Dalam sistematika ensiklopedia al-Qur’an ini, sebagian besar setiap tema mencakup;

  1. Prolog
  2. Pengertian tema, baik secara bahasa maupun secara istilah,
  3. Menjelaskan konsep kunci berdasarkan ayat al-Qur’an, Hadis Nabi, perkataan Sahabat, atau kitab suci agama lain yang relevan sesuai dengan tema yang bersangkutan,
  4. Penafsirannya didukung dengan teori-teori sosial yang relevan sesuai dengan tafsirnya yang mengarah pada aspek sosial dalam judul tersendiri dalam tema.
  5. Kesimpulan.

-          Terdapat sedikit kelemahan dalam ensiklopedia al-Qur’an ini mengenai pembahasan munasabah ayat dan asbabul nuzul yang sangat minim. Dawam hanya menerangkan keterkaitan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tema sentral yang disajikan.

-          Ensiklopedi al-Qur’an karya Dawam Rahardjo ini memiliki corak unik yang merupakan refleksi keluasan pengetahuan dan pemahamannya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial dan budaya.

-          Secara formal, Ensiklopedi ini dimulai dengan memuat daftar isi sebanyak empat halaman, lalu diteruskan dengan pedoman transliterasi sebanyak satu halaman. Setelah itu, sebanyak lima halaman, penulis Ensiklopedi memberi kata pengantar. Sebelum memulai pembahasan dan penomoran halaman formal, Ensiklopedi diperkaya dengan sambutan dari (Alm) Dr. Nurcholish Madjid sebanyak empat halaman.

-          Sebagaimana tersebut di atas, Ensiklopedi ini agak berbeda dengan kitab-kitab tafsir yang biasanya tidak meletakkan pendahuluan pada tafsirnya. Di dalam tafsiran Dawam, penemoron halaman formal (hlm.1) dimulai dengan bab pendahuluan yang masing-masing memiliki sub-bab, seperti: Menciptakan Masa Depan dengan al-Qur’an, Munculnya Penafsiran Baru atas al-Qur’an, Membudayakan Nilai-nilai al-Qur’an dalam Konteks Indonesia, Al-Qur’an sebagai Ensiklopedi, Perlunya Penyusunan Ensiklopedi al-Qur’an. Kesemua halaman untuk bab pendahuluan ini adalah 35 halaman.

-          Setelah itu, barulah kegiatan penafsiran secara khusus dimulai. Dawam membagi tafsirannya ke dalam dua bagian: Dimensi Spiritual-Keagamaan, pada bagian pertama ini, Dawam Rahardjo mencantumkan 12 entri dan Dimensi Sosial-Keagamaan, pada bagian kedua, Dawam Rahardjo mencantumkan 15 entri yang berfokus pada kata-kata kunci aspek sosial keagamaan.

-          Jadi, kesemua halaman untuk konten pokok penafsiran adalah 27 entri yang dimulai dari halaman 39 hingga 643 yang totalnya adalah 604 halaman.

-          Selanjutnya, sebagai kerangka penutup, Dawam Rahardjo memberi judul khusus sebagai bab penutupnya, yaitu “Visi Sosial dan Fungsi Ulama

-          Selain itu, yang juga unik dari tafsir ini ialah adanya kesinambungan dalam pilihan entri, sebagai contoh, di akhir penafsiran pada entri fithrah, ia menyinggung satu sub-bab khusus yang mengaitkan antara fithrah dengan entri berikutnya, yaitu hanif. Kesinambungan ini konsisten dicantumkan di setiap akhir entri-entrinya. Contoh redaksi khas yang menandakan kesinambungannya ialah “Dari Fithrah ke Hanif” atau “Dari Rizq ke Riba.”

-          Ensiklopedi yang merupakan tafsir terhadap ayat al-Qur’an ini memiliki corak khas sosial atau ijtima’i dengan tujuan dakwah. Cara paling mudah untuk mengetahuinya adalah anak judul dari Ensiklopedi itu sendiri, yaitu Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep kunci. Di samping itu, dicantumkannya tema khusus dimensi sosial al-Qur’an juga merupakan bukti yang cukup jelas untuk menyatakan bahwa tafsirannya bercorak dominan sosial.

-          Contoh lainnya yang lebih gamblang ialah model menafsirkan entri ‘adl. Dalam menafsirkan kata ‘adl, beliau mengaitkan kata tersebut dengan pandangan pancasila, sila kelima. Kemudian, beliau juga mengaitkan konsep tersebut dengan sila-sila lainnya yang masih terkait dengan dimensi sosial, seperti persatuan Indonesia, dll

-          bentuk lain yang memperjelas corak ekonomi pada tasirannya ialah ketika beliau menafsirkan entri Rizq dalam al-Qur’an. Lafadz Ridzq yang memang erat hubungannya dengan ekonomi ditafsirkan dengan bentuk tabel namun lengkap dengan presentase masing-masing. Bahkan, ia memberi sub-sub tema khusus yang gamblang menyinggung ekonomi.

-          Karya tafsir Prof. Dr. Dawam Rahardjo yang berjudul “Ensiklopedia al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci” adalah sebuah karya tafsir yang di latarbelakangi oleh perhatiannya yang besar terhadap al-Qur’an. Dawam Rahardjo menganggap bahwa al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia sekaligus penjelas petunjuk tersebut. Meskipun beliau adalah seorang sarjana ilmu-ilmu sosial, namun beliau mempunyai keberanian untuk menafsirkan ayat al-Qur’an dengan paradigma baru sesuai dengan perkembangan zaman yang dapat menjawab persoalan kini.

-          Adanya penafsiran Dawam Rahardjo ini, turut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan khasanah baru dalam studi al-Qur’an di Indonesia. Sehingga dengan cara baru ini, diharapkan dapat menggugah cendekiawan muslim masa berikutnya untuk mengikuti jejak langkahnya.

Al-Mishbah – Quraisy Shihab

-          Ia mulai dikenal masyarakat Beliau merupakan Cendikiawan muslim Indonesia pada penghujung abad 20 dan awal abad ke-21. Ia banyak menghasilkan karya ilmiah baik berupa buku, artikel maupun kumpulan artikel yang dihimpun menjadi buku.

-          Model penelitian Tafsir yang dikembangkan oleh Quraish Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingan. Yaitu model  penelitian  yang berupaya  menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan oleh ulama-ulama Tafsir terdahulu  berdasakan  literatur tafsir  baik yang bersifat  primer, yakni yang ditulis oleh ulama Tafsir yang bersangkutan maupun lainnya data-data yang dihasilkan  dari berbagai literatur kemudian  dideskripsikan  secara lengkap  serta  dianalisis dengan menggunakan  pendekatan kategoris dan perbandingan

-          Nama tafsir Quraish Shihab itu adalah Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Tafsir ini terdiri dari lima belas volume, dan menafsirkan Alquran secara lengkap, 30 Juz Alquran.

-          Tafsir Quraish Shihab ini sangat berpengaruh di Indonesia. Bukan hanya menggunakan corak baru dalam penafsiran, yang berbeda dengan penafsir-penafsir terdahulu, namun beliau juga menyesuaikan dengan konteks ke-Indonesiaan. Sesuai dengan namanya, al-Mishbah yang berarti penerang, lampu, lentera, atau sumber cahaya, Quraish Shihab berharap dengan tafsirnya ini, masyarakat Indonesia akan tercerahkan, dan memiliki pandangan baru yang positif terhadap al-Quran dan Islam.

-          Dalam menulis tafsirnya, Quraish Shihab menyusun dengan susunan mushafi, yakni mulai dari surat al-Fatihah hingga surat al-Nas.

-          Dapat dilihat dari keterangan di atas dari segi tertib dan sasaran ayat yang ditafsirkan yaitu dengan menjelaskan ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai dengan yang terdapat dalam mushaf. Akan tetapi di sisi lain, Quraish Shihab mengemukakan bahwa metode tahlili itu memiliki banyak kelemahan, maka dari itu beliau juga menggunakan metode maudhu’i/tematik juga, yang mana menurut beliau metode ini memiliki beberapa keistimewaan, diantaranya metode ini dinilai dapat menyajikan pandangan dan pesan al-Qur’an secara mendalam dan menyeluruh menyangkut tema-tema pembahasannya.

-          Dengan demikian metode penulisan al-Misbah mengkombinasi antara metode tahlili dengan metode maudhu’i. Sebelum menafsirkan dengan metode tahlili terlebih dahulu ia menafsirkan ayat-ayat dengan menggunakan metode maudhu’i

-          Adapun corak tafsir atau aliran tafsir yang diikuti Quraish Shihab dalam tafsir al-misbahnya adalah corak tafsir Adabi al-Ijtima’i, yaitu corak penafsiran al-Qur’an yang tekanannya bukan hanya ke tafsir lughawi, tafsir fiqh, tafsir ilmi dan tafsir isy’ari akan tetapi penafsirannya ditekankan pada kebutuhan masyarakat dan sosial masyarakat

-          Menurut pakar tafsir al-Azhar University, Dr. Abdul Hay al-Farmawi, dalam penafsiran Alquran dikenal empat macam metode tafsir, yakni metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu’i. Tafsir Al-Mishbah secara khusus, agaknya dapat dikategorikan dalam metode tafsir tahlili. Namun, jika ditelaah lebih lanjut dalam tafsir ini beliau lebih menekankan metode tafsir maudu’i (tematik),

-          Dalam Al-Mishbâh, beliau tidak pernah luput dari pembahasan ilmu al-munâsabât yang tercermin dalam enam hal:

  1. Keserasian kata demi kata dalam satu surah;
  2. Keserasian kandungan ayat dengan penutup ayat (fawâshil);
  3. Keserasian hubungan ayat dengan ayat berikutnya;
  4. Keserasian uraian awal/mukadimah satu surah dengan penutupnya;
  5. Keserasian penutup surah dengan uraian awal/mukadimah surah sesudahnya;
  6. Keserasian tema surah dengan nama surah.

-          Tafsir Al-Mishbah bukan hanya menggunakan corak baru dalam penafsiran, yang berbeda dengan penafsir-penafsir terdahulu, namun beliau juga menyesuaikan dengan konteks ke-Indonesiaan. Dengan warna baru dan keringanan bahasa dalam  penafsiran ini, beliau berharap tafsir lebih dikenal dan dipahami oleh kalangan masyarakat awam sekalipun, terutama masyarakat Indonesia.

-          Menggabungkan dua metode penafsiran, yaitu Tahlili dan maudhu’i yang sesuai tema bahasan dan kontekstual dengan problematika masyarakat, mampu menjawab segala keraguan tatkala memaknai ayat secara leksikal. Dan metode tahlili sesuai urutan ayat dan surah dalam mushaf Al-Qur’an, sehingga tidak membingungkan pembaca untuk mengetahui maksud ayat secara berurutan yang kadang tidak berkolerasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya.

-          Bercorak al-Adabi al-Ijtima`i, tafsir ini terkonsentrasi pada pengungkapan balaghah dan kemukjizatan Alquran, menjelaskan makna dan kandungan sesuai hukum alam, memperbaiki tatanan kemasyarakatan umat, sehingga lebih menarik karena lebih mendekatkan makna dengan problema kontemporer.

-          Yang mana sebelum memulai penafsiran, beliau menjelaskan tentang arti nama surah, jumlah dan tempat turunnya ayat, maksud dan asbabun nuzuul surah tersebut. Dengan sistematika seperti ini, tetap berurutan sesuai mushaf dan dengan tematis, Tafsir Al-Mishbah mampu menembus pemahaman seluruh kalangan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s